25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Dian Ayu Lestari by Dian Ayu Lestari
September 10, 2022
in Persona
Proses Kreatif Mekratingrum Hapsari: “Karya yang Jujur Adalah Karya yang Hadir dari Diri Sendiri”

Sekitar pukul sepuluh malam, saya dan Mekratingrum Hapsari (kerap disapa Mike) duduk berhadapan di meja resto sambil mengaduk teh hangat masing-masing. Kami ngobrol, setelah di pagi hari saya membisikinya: “Mbak Mike, nanti malam saya minta waktunya, ya, buat ngobrol.”

Perempuan dengan pembawaan diri yang tegas ini, dari awal pertemuan sebenarnya membuat saya tidak percaya diri untuk berbincang-bincang banyak hal. Takut canggung, takut kaku, takut nggak nyambung, dan takut-takut sejenisnya. Tapi nyatanya, malam itu, obrolan kami mengalir bahkan sampai tengah malam.

Mekratingrum Hapsari adalah salah satu koreografer muda asal Solo yang terpilih pada kegiatan Temu Seni Tari, serangkaian Indonesia Bertutur 2022, yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ia berkata bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kedua orang tuanya tidak memiliki darah seni. Namun, darah seni ternyata ada pada kedua kakaknya, yakni kakak pertama yang merupakan seorang pemusik dan kakak kedua yang merupakan seorang pengrajin kulit.

Mekratingrum Hapsari dalam Sesi Sharing Methode pada Temu Seni Tari 2022  

Ia sempat menekuni musik, berharap bisa seperti kakak pertamanya. Namun, walaupun ia berusaha mendalami dan mencintai musik, ia tetap merasa tidak berada di sana. Kehampaan dirasakannya, jauh berbeda dengan perasaan saat ia menari. Ketertarikannya terhadap tari tumbuh sedari ia kecil. Hingga pada ia menginjak bangku SMA, Mike akhirnya mengenal sebuah aliran tari yang berbeda yaitu, Hiphop. Sejak saat itulah, Mike menyadari bahwa Hiphop adalah aliran yang cocok dengan dirinya. Istilah gaulnya: Ini gue banget, Coy.

Mike menempuh pendidikan keseniannya di ISI Solo. Dijelaskan olehnya, bahwa seni tari yang ada di ISI Solo sangatlah kental oleh tari tradisi. Sambil nyengir kecil, ia mengatakan dengan jujur tentang nilainya yang kerap anjlok pada mata kuliah berbau tari tradisi. Ya, sekali lagi Mike mengatakan bahwa tubuhnya sudah terlanjur merasa nyaman dengan bentuk-bentuk gerak jenis Hiphop. Lebih jelasnya ia mengatkan bahwa ia suka kebebasan, dan tidak suka terikat oleh aturan-aturan dalam berkarya.

Sambil bergantian menyeruput teh hangat, saya kembali bertanya tentang isu yang ia pilih dalam penggarapan karyanya: “Teknologi sih. Aku lagi tertarik membahas teknologi,” sahutnya.

Mekratingrum Hapsari dan Peserta Temu Seni Tari Lainnya dalam Kegiatan Napak Tilas di Pura Samuan Tiga

Kemajuan teknologi yang ada, teryata menjadi daya tarik bagi Mike. Ia menyadari bagaimana kemajuan dan kemudahan yang diberikan dari perkembangan teknologi justru membuat lingkup gerak tubuh manusia menjadi sangat minim. Kebanyakan orang pada saat ini malah tidak memanfaatkan tubuhnya dengan maksimal, dan terlalu fokus terhadap apa pun yang menarik atensinya, semisal telepon genggam yang dimiliki hampir setiap orang.

Hal tersebut justru memberikan Mike sebuah pemikiran tentang bagaimana seharusnya kita “kembali ke rumah”. Rumah yang dimaksud di sini bukanlah rumah dengan makna denotasinya, melainkan rumah sebagai kesadaran untuk kembali pada diri kita sendiri; kembali menanyakan pada diri sendiri tentang memori-memori yang terpendam untuk lebih paham dan mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, apa yang kita mau, dan bagaimana harusnya memposisikan diri kita. Jawaban ini merupakan jawaban yang begitu dalam dari Mike bagi saya.

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Menciptakan karya dengan mengambil sebuah isu atau permasalahan yang tidak dialami oleh diri secara langsung, baginya adalah hal yang sangat sulit. Maka, hal tersebutlah yang membuatnya harus kembali ke pada diri sendiri. Karena bagi Mike, “Setiap orang memiliki sebuah perubahan masing-masing, lalu mengapa tidak kita resapi dan rasakan perubahan yang ada tersebut?” katanya.

    Saya semakin larut dalam obrolan. Saya tanyakan lagi karya-karya yang telah berhasil ia garap yang tentunya masih terkait dengan ketertarikan yang dijelaskan sebelumnya. Mike meminta ijin untuk menyulut rokoknya, kemudian melanjutkan obrolan dengan sangat tenang.

    “Aku sedang suka karya yang melibatkan partisipan. Bagi aku ini adalah hal yang baru, mungkin bagi yang lain tidak. Judulnya A Day To Remember.”

    Mike menceritakan bahwa karya ini adalah sebuah garapan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi partisipan untuk mengingat “pada satu hari tersebut”. Pada karya ini, ia berusaha mengadakan dua ruang: pertama, tentang bagaimana partisipan  menulis dan menjelaskan segala hal yang sudah terjadi di masa lampau dan yang diharapkan terjadi pada kehidupannya di masa mendatang. Kedua, memainkan imajinasi ketika melihat gerak yang dilakukannya ketika ia sudah membaca dan mengintepretasikan apa yang sudah dituliskan oleh partisipan. Secara impulsif, ide gerak itu muncul melalui apa yang ia rasakan melalui tulisan.

    Pertunjukan “A Day to Remember” oleh Mekratingrum Hapsari di Mandala Wisata, Desa Bedulu

    Semakin lama berproses, ternyata mampu menumbuhkan sebuah kesadaran untuk semakin bergerak dengan jujur; bergerak sesuai apa yang ingin dilakukan oleh diri, tidak memaksakan segala sesuatunya, dan berusaha memberikan makna yang lebih mendalam pada setiap gerakan. Gerak tidak lagi hanya sebatas mementingkan keindahan bentuk, tetapi juga lebih fokus pada narasi melalui pikiran yang matang. Hal inilah yang kini menjadi sebuah metode baru dalam proses kreatifnya: mengesampingkan sejenak tubuh yang sudah terbentuk, dan mulai belajar untuk mengasah otak secara perlahan melalui kekuatan narasi.

    Rosas Danst Rosas Company merupakan salah satu inspirasinya dalam menentukan metode latihan ketubuhan. Memiliki model gerak repetisi dengan pendekatan hiphop yang di dalamnya memainkan dinamika, juga permainan tempo yang membuat karyanya menjadi menarik, dan tidak membosankan walau dengan gerakan-gerakan pengulangan. Hal-hal lain yang memberikan sebuah pelajaran, tentang bagaimana mereka bernapas dengan jujur. Tidak menahan napas yang ada, dan memilih untuk mengeluarkan secara los dan menjadikan itu sebagai ritme pementasan—musik internal.

    Pertunjukan “Tanda Baca”, kolaborasi Mekratingrum Hapsari, Bathara Saverigadi, Puri Senja, dan Alisa Soelaeman (dari kiri ke kanan)

    Selain Rosas Danst Rosas, Mike juga menyebut Melati Suryodarmo, seniman performance art, sebagai orang yang sangat mempengaruhi proses kreatifnya selama ini. Melatilah yang menyadarkannya untuk “kembali ke tubuh” ketika ia merasa terjebak dalam ide yang ada. Berkarya memerlukan motivasi yang kuat, dan Melati Suryodarmo adalah salah seorang yang bisa membangkitkan motivasi Mike yang selama ini mengendap.

    Setelah cukup lamanya ngobrol tentang proses kreatifnya, saya pun pada akhirnya menanyakan tentang apa yang ingin dicapainya kini. Perempuan yang sedang sibuk sebagai nail artist itu berkata bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan keseniannya di jenjang S2.

    “Belajar itu lebih enak dari pada nyari uang. Tapi, untuk bisa belajar juga perlu uang terlebih dahulu. Jadi aku masih cari uang dulu sebagai nail artist. Selain bisa memenuhi kebutuhan finansialku, pekerjaan ini juga sekaligus sebagai proses pengalaman baru tubuhku untuk mungkin membuat hal-hal yang lainnya ke depannya.” [T]

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Tags: Indonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Dari Jiwa Merdeka ke Jiwa Pemberani: Refleksi Pembelajaran Sastra di Era Merdeka Belajar

    Next Post

    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Dian Ayu Lestari

    Dian Ayu Lestari

    Lahir di Singaraja, 22 Juni 2000 dan sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja dengan prodi Manajemen. Kini aktif di Teater Kampus Seribu Jendela

    Related Posts

    Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

    by Made Adnyana Ole
    October 17, 2026
    0
    Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

    APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

    Read moreDetails

    Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

    by Wayan Jengki Sunarta
    October 9, 2026
    0
    Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

    APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

    Read moreDetails

    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    by Yohana Purnama Fajar
    September 2, 2026
    0
    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    “Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

    Read moreDetails

    Rumah Kata di Jalan Nangka

    by Angga Wijaya
    July 9, 2026
    0
    Rumah Kata di Jalan Nangka

    SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

    Read moreDetails

    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    by Jaswanto
    June 24, 2026
    0
    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

    Read moreDetails

    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    0
    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

    Read moreDetails

    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    by Dede Putra Wiguna
    May 30, 2026
    0
    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

    Read moreDetails

    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    by I Gede Made Surya Darma
    May 22, 2026
    0
    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

    Read moreDetails

    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    by Nyoman Budarsana
    May 20, 2026
    0
    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

    Read moreDetails

    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    by Dede Putra Wiguna
    May 4, 2026
    0
    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

    Read moreDetails
    Next Post
    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Aghumi: Tarot dan Teater, Menceritakan Simbol-simbol

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Menyulam Masa Depan Laut Lovina
    Liputan Khusus

    Menyulam Masa Depan Laut Lovina

    PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

    by Jaswanto
    October 24, 2026
    Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
    Pendidikan

    Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

    NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

    by Dede Putra Wiguna
    October 24, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    Selamat Datang di Negara “Clickbait”

    SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    October 24, 2026
    Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
    Pendidikan

    Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

    SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

    by Wahyu Mahaputra
    October 23, 2026
    Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
    Panggung

    Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

    KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

    by Nyoman Budarsana
    October 23, 2026
    Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
    Esai

    Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

    Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

    by Wayan Gde Yudane
    October 23, 2026
    Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
    Khas

    Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

    SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

    by Dede Putra Wiguna
    October 23, 2026
    Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
    Panggung

    Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

    GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

    by Dede Putra Wiguna
    October 22, 2026
    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
    Esai

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
    Panggung

    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

    DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

    by Nyoman Budarsana
    October 22, 2026
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
    Esai

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co