24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dunia yang Abu-Abu dari Cindhil

Diah Pramesti by Diah Pramesti
March 15, 2022
in Esai
Dunia yang Abu-Abu dari Cindhil

“Apa yang lebih sepi dari bercakap-cakap dengan mereka yang sudah mati,” ungkap narator dalam cerpen berjudul Hel, karya Gunawan Maryanto . Narator adalah Hel dengan suratnya yang begitu hangat melemparkan kenyataan-kenyataan tak diharapkan seperti orang-orang yang menemuinya, orang-orang yang mati dengan sia-sia. Hel tak sendiri namun kesendirian selalu menyelimutinya di kedalaman, kegelapan Hel.

Kegelapan seperti bagian darinya, bahkan sejak ia masih begitu murni hadir sebagai sesuatu yang hidup. Kelahirannya adalah ancaman bagi  para ‘makhluk baik’. Ketidakadilan ia terima, ia dan kedua saudaranya yang dipuntulkan kehidupannya.

“..buat apa mereka mesti susah payah berjalan jauh menempuh seluruh bahaya untuk menculik kami? Mungkin kami adalah mimpi buruk bagi mereka, dewa-dewa di Asgard.”

Mereka digelandang menjauh dari ibunya, menjauhi kedamaian yang sempat mereka rasakan, untuk membuat para dewa merasa damai.

Semenjak ‘penculikan’ itu, Hel memiliki istananya sendiri. Sunyi dan kelam, gelap tempat mereka yang mati putus asa, tua dan terserang penyakit. Mereka yang disebut meninggal sia-sia tak selamanya berasal dari kelompok yang terasingkan. Buktinya Balder, sang dewa paling bijak datang dan menerima hidangan malam Hel.

Dunia yang tak selamanya hitam putih digambarkan Gunawan Maryanto dari penyerangan terhadap Hel dan saudaranya serta hadirnya Balder di tengah kelamnya Hel. Kebaikan yang tidak selalu murni. Apa itu baik?

BACA JUGA:

Mencari Cindhil, Menemukan Papa
Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Gunawan Maryanto seakan membawakan suara-suara kelompok subordinat, mereka yang dianggap buruk oleh mayoritas dan dibuat pantas menerima ‘siksaan’. Ia menampilkan relasi kuasa antara Dewa-Dewa dari Asgard dengan para raksasa di Jotunheim. Begitu kuat dominasi kaum Asgard yang menimbulkan nihil perlawanan, ketika si kecil Hel dan kedua kakaknya diambil secara paksa dari ibunya.

Ketika Hel dipisahkan dari keluarganya, ia tak memperoleh berita apa pun tentang nasib mereka. Hanya dikurung dan dipaksa menerima segela ‘perintah’. Odin menghampirinya, penguasa jagad raya yang memperoleh berbagai doa dan puji. Bahkan untuk Hel sekalipun, ia menerimanya.

“…Aku mengangguk meski beberapa saat sebelum itu aku tak tahu siapa namaku. Aku mengangguk bukan karena aku setuju dengan nama pemberiannya. Tapi, memang entah kenapa pada saat pertanyaan itu meluncur, namaku adalah Hel.”

Hel menerima segala perintah Odin, meski menyadari adanya dominasi yang merasuk dalam pikirannya. Respon Hel menunjukan adanya masalah sosial yang begitu mengakar: hierarki. Dalam masyarakat hierarkis, dominasi tumbuh hingga ke alam bawah sadar. Seakan menjadi hal yang mutlak bahwa ia yang berkuasa adalah ia yang benar.

Melantangkan Suara-Suara Mereka yang Tak Didengarkan

Hel tidak sekedar raksasa yang mengancam, tapi dia adalah korban dari kuasa Odin yang absolut. Citra baik dan kekuatan yang ia miliki telah menghancurkan kehidupan para raksasa, kedamaian Hel dan keluarganya.

Kisah Hel seperti cerita mereka yang tak berdaya namun dianggap ancaman, seperti parasit, hama, dan segala yang mengancam kehidupan, meskipun ia sendiri bagian dari kehidupan. Padahal ancaman itu lahir dari mereka yang mendominasi, entah negara, kelompok mayoritas, atau individu yang berkuasa. Ancaman-ancaman itu kerap diterima oleh kelompok-kelompok marginal. Mereka yang rentan dan diserang.

Memilih Hel sebagai tokoh utama seakan memberikan ruang bagi kisah-kisah di balik  keagungan para dewa, mereka yang menguasai jagad. Gunawan Maryanto mengambil keberpihakan pada mereka yang tak didengar, mereka yang harus disingkirkan tanpa diberi ruang bersuara.

Sastra Sebagai Ruang Alternatif

Ruang yang diciptakan Gunawan Maryanto dalam cerita pendek Hel membuktikan bahwa cerpen sebagai karya sastra mampu menjadi media alternatif untuk melawan wacana dominan. Melalui sastra, Gunawan Maryanto berupaya merefleksikan situasi sosial yang terjadi saat itu. Ketika penguasa membangun citra positif untuk memperkuat dominasinya dan disaat bersamaan ‘melenyapkan’ mereka yang mengancam kuasanya.

Upaya perlawanan terhadap wacana dominan juga ditunjukan Gunawan dengan melahirkan media-media alternatif seperti Newsletter BlockNote dari Teater Garasi atau On/Off (AKY). Media yang memberikan “kebaruan” dan berani melakukan dobrakan atas pakem serta pola-pola  yang sudah ada, termasuk hukum tata bahasa. Ruang eksperimen ini pun jika kita lihat berusaha menawarkan ekosistem yang lebih kreatif.

Gunawan Maryanto percaya bahwa pandangannya, terhadap segala bentuk kegelisahan, dapat disalurkan melalui berkesenian. Dalam wawancaranya bersama Puthut EA dari Mojok, pria yang kerap disapa Cindhil ini mengungkapkan, “Kesenian itu sebagai suatu ruang belajar, ruang pertemuan, ruang bersosial…Ini adalah sebuah ruang, sebuah alat yang di dalamnya ada agenda-agenda yang ingin kita sampaikan. Kita punya kegelisahan, tatapan apa, maka ada medium semacam ini untuk membicarakan hal tersebut.”

Realitas Dunia yang Abu-Abu

Tidak jarang melalui spirit dan sikap-sikap keberpihakan yang Gunawan Maryanto miliki, ia tuangkan hal tersebut dalam sebuah karya seni. Hal yang sama juga ia lakukan  dalam cerpen “Panji Reni”. Pertama-tama kisah ini diawali dengan cinta yang tidak direstui antara Panji Inu Kertapati dengan Angreni dan berujung pembunuhan. Bukan tentang siapa yang membunuh, namun alasan dari pembunuhan itu dan bagaimana ia meninggal.

Pada bagian awal, Gunawan Maryanto telah menampilkan siapa pembunuhnya, sebab perjalanan panjang baru saja dimulai. Narator diperlihatkan sebagai ia yang berusaha mencari cerita sebenarnya, alasan dibaliknya, dan peristiwa saat itu. Pencarian yang membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Dua hal yang mengantarkan Narator pada pengakuan sang “pelaku” yang disebut sosok paling bertanggung jawab atas segalanya.

BACA JUGA:

Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner
Tiga Cerpen Gunawan Maryanto | Tiga Pertunjukan Imajiner

Ia adalah Panji Kartala, orang-orang sebut “sang pembunuh keji”, adik dari Panji Inu Kertapati. Anak raja yang selama tiga tahun mengasingkan diri ke lereng Gunung Wilis, di gubuk gelap yang bahkan sinar matahari pun tak mampu menembusnya. Panji Kartala telah bertahun-tahun diselimuti rasa bersalah akibat kematian Angreni.

Rasa bersalah yang begitu dalam berusaha ditampilkan Gunawan, menunjukan sisi ‘humanis’ Kartala. Ia memberikan ruang bagi ‘si jahat’, bahkan dalam jumlah besar. Bahwa kejahatannya tidak murni sebagai sebuah keinginan untuk membunuh. Karena pembunuhan itu berawal dari Titah Sang Ayah, Raja Jenggala bernama Lembu Amiluhur. Sosok Ayah yang memiliki kekuasaan mutlak atas wilayah dan keluarganya, hingga perintah untuk membunuh pun tak terelakan.

“… perintah raja adalah perintah dewata. Mau tidak mau saya harus melaksanakannya,” kata Kartala dalam luapan kesedihan. Ia tak sanggup melawan.

Gunawan Maryanto merefleksikan bahwa dominasi sanggup mengontrol ‘segalanya’, bahkan membuat seorang adik menghancurkan hidup kakaknya sendiri. Sosok Ayah yang dalam lingkup patriarki menjadi pengendali dalam sebuah keluarga. Lebih luas lagi, Ayah sekaligus Raja yang berada pada tingkat tertinggi hierarki sosial Jenggala. Kuasanya menjadi tak terelakan, bahkan dendam tak sanggup menghadapinya.

Lembu Amiluhur yang tak ada dalam dialog, namun mengontrol setiap tindakan, membuat semua mengikuti perintahnya. Dari menerima langsung, menjadi perantara, dan tanpa sadar mengikutinya. Seperti realitas hierarkis yang ada saat itu dan masih bertahan hingga saat ini. Seolah ungkapan “para penguasa tak mau mengotori tangannya secara langsung” terus saja hidup. Ia berkuasa, ia dipatuhi perintahnya, ia memerintah.

Ia yang memerintah seakan nihil kesalahan, tentu menjadi yang paling benar, sehingga titahnya patut diamini dan dijalankan. Tak hanya Kartala, bahkan Angreni menerima segala yang menurutnya pantas ia terima, meski itu dari sang raja yang tak mementingkan perasaan anaknya sendiri.

“Lakukanlah apa yang mesti kau lakukan, Panji Kartala. Tugasmu adalah membunuhku. Dan jika memang benar kematianku akan membahagiakan Jenggala aku rela menyerahkan nyawaku.”

Dengan tegas Angreni menerima kematiannya sebagai titah Sang Raja yang ia terima dengan rasa ‘membahagiakan Jenggala’. Seakan keinginan raja adalah keinginan Jenggala.

Kuasa Kendalikan Hingga yang Paling Dalam

Kematian Angreni telah menghancurkan perasaan suaminya, Panji Inu Kertapati, begitu pula Panji Kartala yang dirundung rasa bersalah. Kematiannya juga menunjukan bahwa dominasi tidak hanya ada dalam sistem pemerintahan, tapi juga masuk ke ranah yang lebih personal–hubungan cinta.

Lembu Amiluhur tak perlu mengotori tangannya secara langsung, ia adalah raja sekaligus ayah yang sungguh memanfaatkan dominasinya dengan maksimal. Sosok ayah yang mengontrol. Bila ditarik pada pengalaman Gunawan Maryanto, sosok ayah seakan menjadi tokoh yang dominan dalam keluarga. Dalam wawancara yang sama bersama Puthut EA, ia pun sempat mengungkapkan “SMA itu aku udah pergi dari rumah, karena bapak itu engga seneng aku main teater,” lalu Gunawan Maryanto mengulang kalimat bapaknya, “kamu mau hidup dari mana, kok membadut terus?”

Sosok ayah yang digambarkan dalam kisah “Panji Reni” juga seakan memiliki hak untuk mengontrol kehidupan dan masa depan anaknya, menjadi ia yang lebih tahu apa yang terbaik. Ditambah sebagai seorang raja, ia meyakini bahwa tindakannya adalah yang terbaik untuk Jenggala. Namun justru menghancurkan hidup kedua putranya.

Menelaah Ulang Apa yang Diyakini

Persoalan pembunuhan ditampilkan dengan gamblang dari pengakuan Panji Kartala. Ia memiliki ruang yang banyak untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Bahwa perintah Raja yang keji berkamuflase menjadi strategi terbaik untuk banyak orang–Jenggala. Gunawan Maryanto pun seakan membuka ‘kedok’ sosok yang penuh puji dari sang Lembu Amiluhur.

Fakta-fakta di balik pembunuhan perlahan terbuka. Kebenaran terlihat di depan mata. Namun Narator dalam hal ini membalikan akhir cerita—bahwa segala pengakuan yang dihiasi rasa bersalah yang begitu dalam mendadak tidak menjadi akhir sebuah cerita.  “Tentu saja cerita ini bukanlah kebenaran tunggal yang layak untuk dipercaya begitu saja,” ungkap sang Narator. Maka, Gunawan Maryanto seolah mengingatkan kita tentang apa-apa yang kita yakini.

Sumber:

  • Maryanto, G. 2019. Hel. Jawa Pos. Diakses melalui: https://ruangsastra.com/5915/hel/
  • Maryanto, G. 2011. Panji Reni. Suara Merdeka. Diakses melalui: Panji Reni – Ruang Sastra
  • Dahlan, M. 2021. Obituari Gunawan Maryanto (1976—2021): Berdiri di Atas Dua Jembatan Gantung. Jawa Pos. Diakses melalui: https://muhidindahlan.radiobuku.com/2021/10/09/obituari-gunawan-maryanto-1976-2021-berdiri-di-atas-dua-jembatan-gantung/
  • Puthut EA. 2020. Gunawan Maryanto, Teater Garasi, dan Astronot Tanpa Dialog. Youtube, upload by mojokdoco. Diakses melalui: https://www.youtube.com/watch?v=bqw4NkFCX7E

______

Tulisan untuk mengenang #100HariGunawanMaryanto
Lingkar Studi Sastra Denpasar

Tags: Gunawan MaryantoPuisisastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lisna Baktiari dari Kaliasem | Perempuan Muda Juga Bisa Kelola Bank Sampah

Next Post

“Destination Branding”, Apa Pentingnya Untuk Buleleng?

Diah Pramesti

Diah Pramesti

Menyelesaikan studi Ilmu Komunikasi di Universitas Udayana dan saat ini bekerja sebagai staf media & publikasi Yayasan IDEP. Aktif di Lingkar Studi Sastra Denpasar dan tertarik terhadap isu-isu lingkungan, media, dan mode.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
“Destination Branding”, Apa Pentingnya Untuk Buleleng?

“Destination Branding”, Apa Pentingnya Untuk Buleleng?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co