23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Oktaria Asmarani by Oktaria Asmarani
March 15, 2022
in Esai
Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Pertengahan tahun lalu, saya baru memahami jika manusia ternyata mampu menanggung kehancuran yang awalnya saya pikir tak akan terberi: ditinggal mati yang terkasih. Sebelumnya, dengan naif saya berpikir bahwa kematian tidaklah berjarak sedekat itu, terlepas dari berapa banyaknya saya menemukan manusia-manusia di sekitar yang kehilangan. Oleh sebab saya yakin ia tidak datang dalam waktu dekat, saya pikir tak perlu memusingkan diri terhadap apa-apa yang berkelindan dengan kematian.Hingga pada suatu waktu ia datang, perlahan-lahan mendekap untuk mengikat erat tubuh saya agar tak melawan; sembari mengajak Papa pergi, mengajak Papa mati bersamanya.

Saya begitu payah untuk menjelaskan perihal kehilangan; lebih-lebih rasa kehilangan Papa. Terlampau sulit atau terlalu personal atau entah adjektiva apa yang pas untuk membantu saya menjelaskannya, ia hanya timbul dengan isyarat yang hanya mampu dipahami diri sendiri. Kehilangan karena ditinggal mati begitu menghancurkan saya. Ia sejatinya tak terderita, tapi mau tak mau harus mampu saya ajak hidup bersama, berdampingan. Di luar itu, ada hal-hal lain yang menyeruak dari dalam, dari segala penjuru. Ada memori yang hanya bisa diaktifkan di kepala saya sendiri, ada medu yang tak pernah bisa dimuntahkan, ada langut yang bingung kemana harus ditumpahkan, ada gusar yang tak tahu dikarenakan oleh apa, ada sungkawa yang begitu menyesakkan.

“…dan ada yang tak pernah hilang selamanya
ada yang selalu kembali meski tak utuh lagi…”

Sejumlah Perkutut buat Bapak

Tiga belas tahun lalu, saya baru masuk ke tingkat satu sekolah menengah pertama. Papa kembali mengantar jemput saya sekolah setelah sekian lama, sebab Mama tengah mengandung si bungsu. Ia kerap menjemput saya lewat pukul enam sore karena terjebak rapat atau kunjungan entah kemana. Dengan setia saya menantinya sambil meminjam novel di taman baca dekat sekolah dengan menukarkan seribu rupiah. Saya lihat raut kelelahan di wajahnya ketika ia tiba, aroma pahit menguar dari mulutnya. Saya masih bocah kala itu. Ditinggal mati Papa belum hadir dalam daftar kekhawatiran saya. Mempersembahkan sesuatu yang besar dan bermakna untuk Papa juga bukan prioritas saya, selain menjadi juara satu di kelas. Satu hal yang niscaya, saya mencintainya.

Tiga belas tahun lalu, berbeda dengan saya, Gunawan Maryanto alias Cindhil atau Mas C telah menulis sebuah kumpulan puisi yang ia persembahkan untuk bapaknya, Sejumlah Perkutut buat Bapak. Kumpulan puisi ini lalu diterbitkan tahun 2010 oleh penerbit Omahsore dan kemudian menjadi peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa kategori puisi di tahun yang sama. Dua larik yang saya kutip di atas adalah bagian dari puisi pertama dalam kumpulan ini, “kayon gapuran”.

Kumpulan ini terdiri dari 44 puisi yang termaktub dalam tiga bagian: Bukak Kayon, Sejumlah Perkutut buat Bapak, dan Tutup Kayon. Bagian Sejumlah Perkutut buat Bapak yang terdiri dari 42 puisi berangkat dari ciri mathi atau ciri fisik dan suara dari burung perkutut, burung kegemaran Sumarto, bapak dari Mas C. Melalui ciri mathi-nya, orang-orang Jawa (atau yang melakoni kebudayaannya) mencoba untuk mengaji jenis-jenis perkutut untuk mencari laras makna yang cocok bagi kehidupan pribadi dan sosialnya. Kesemua puisi berangkat dari pendekatan penciptaan yang sama, berangkat dari imaji lalu dialihwahanakan ke dalam bentuk puisi. Nyandra namanya, jika disebut dalam Bahasa Jawa.

Sejumlah Perkutut buat Bapak dicetak ulang pada 2018 oleh penerbit Diva Press, beberapa bulan setelah bapak Mas C meninggal dunia. Kata Mas C dalam pengantarnya, ia berkeinginan untuk menerbitkan buku ini kembali sebagai sebuah persembahan untuk kepergian sang bapak. Mas C sendiri mengaku tidak bisa mengukur apakah ia berhasil melakukan nyandra untuk menulis puisi-puisi tersebut. Namun, satu hal yang pasti, bagi saya, ia berhasil melakukan apa yang saya sulit untuk lakukan setelah ditinggal pergi Papa: mendefinisikan perasaan-perasaan tak bernama yang saya alami.

Saya bukan penyair, saya bukan ahli puisi. Saya pikir saya pembaca puisi yang biasa-biasa saja. Tafsir saya tentu bisa jadi berbeda dengan apa yang hendak disampaikan Mas C, juga dengan teman-teman yang membaca tulisan ini. Akan tetapi, sependek yang saya pahami, tafsir kepada suatu karya itu melekat kepada konteks kesejarahan dan suasana dari penikmat karya tersebut. Maka dari itu, saya memilih untuk menafsirkan puisi-puisi Mas C dalam kumpulan ini sebagai bentuk isyarat-isyarat yang hendak disampaikan kepada pemilik perkutut–sang Bapak–alih-alih hanya sebagai penggambaran ciri mathi tiap-tiap jenis burung perkutut. Isyarat-isyarat yang juga ingin saya sampaikan pada Papa, tapi keterbatasan membuat saya sulit melakukannya. Mas C lah yang dengan sabar menuntun saya membahasakan yang buntu dari diri saya yang berduka melalui puisi-puisi ini.

Dada yang Terbelah

Dalam beberapa puisinya, Mas C menuliskan ciri mathi beberapa jenis perkutut yang memiliki garis di dadanya. Beberapa kali saya temukan frasa “dadamu terbelah” dan yang sejenisnya dalam kumpulan ini. Kerap kali, Mas C menggunakan terbelahnya dada perkutut ini sebagai sebuah demarkasi dikotomi atas suatu hal.

sirih

pada dadamu yang lebar
kutorehkan garis tengah
sebagai batas antara selamat
dan tak selamat
batas permainan dimulai
dan diakhiri
hingga terang dan jelas
dan tak ada yang merasa dirugikan
ini seperti sebuah janji
dan sebagaimana janji
kadang ia diingkari
tapi setidaknya
ada bekas yang tegas di dadamu
di mana segala sesuatu bisa kembali
meski tak akan pernah sama lagi

sendang ngembeng

pada dadamu yang lebar
kutorehkan 2 garis di tengah
satu garis adalah diriku
satunya lagi adalah dirimu
berdampingan seperti sungai kembar
tak pernah benar-benar ketemu
hanya suatu kali berpapasan
bersilangan, potong-memotong
dan meninggalkan delta-delta
di mana anak turun kita
tumbuh dan beranak pinak

Dalam puisi-puisi di atas, saya melihat batas yang tertoreh di tengah dada perkutut itu justru menunjukkan kerinduan yang dalam atas sesuatu–dalam hal ini pada sosok ayah, Papa saya. Garis yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang secara tak kasat mata memisahkan kami. Menjelaskan dengan definit bahwa saya dan Papa sudah terpisah oleh batas antara mati dan urip. Saya tidak akan pernah bisa menembus batas itu, kecuali jika saya mati nanti.

Saya ingat Papa berjanji pada saya untuk hidup hingga usianya seratus. Pada akhirnya ia mengingkarinya, walaupun saya tetap terus menerus menemukan dirinya dalam segala; dalam bentuk yang mungkin tak utuh lagi. Saya melihat garis-garis tengah dalam puisi Mas C sebagai titik temu yang juga menjauhkan saya dengan Papa. Saya jumpa dengannya, tapi tak lagi benar-benar berjumpa. Kadang dalam mimpi, kadang dalam sekelebat ingatan, kadang pula pada hal-hal yang tak pernah terpikirkan; kami hanya sesekali  kali berpapasan.

Saya menemukan dada yang terbelah lagi di puisinya yang lain,

raja wana

dadamu terbelah,
suatu waktu sebuah sungai pernah hadir
dan mengalir di sana
ketentraman tumbuh di sepanjang tepinya
seperti pohon gayam
menjulurkan dahannya ke atas sungai

dadamu terbelah
aku ingin istirahat di sana

Dalam puisi ini, belahan tersebut justru merupakan satu wilayah yang gani, wilayah yang tepat untuk bersandar. Bisa jadi pula sebagai tempat bertemu untuk menumpahkan rindu. Mungkin agak melenceng, namun ketika membaca puisi ini, saya mengingat salah satu prinsip permakultur: “gunakan tepian dan hargai yang marjinal.” Dalam pandangan permakultur, yang juga dapat kita temui dalam berbagai hal pada hidup, suatu tempat dimana dua ekosistem atau habitat bertemu justru merupakan tempat yang lebih kaya dibandingkan ekosistem dan habitat masing-masing. Kita bisa menemukan sesuatu yang lebih di dalam berbagai ceruk pertemuan. Mas C menggambarkan kelebihan itu dengan tidak berlebihan dalam puisi di atas.

Ada waktu-waktu dimana saya ingin beristirahat pada garis yang membelah saya dan Papa. Saya tak bisa jelaskan perihal garis itu, saya hanya membayangkan ada suatu tempat imajiner dimana kami bisa bertemu. Sebab pada ambang antara saya dan Papa, saya bisa merasa Papa lebih dekat sembari menyadari sepenuhnya bahwa batas tersebut membedakan buana kami.

Saya tak bisa menjelaskan perasaan-perasaan saya dengan lengkap, tetapi lewat puisi-puisi ini, Mas C membantu saya untuk membahasakannya. Tiga puisi ini, bagi saya, merupakan bentuk saudade; sebuah perasaan rindu, sebuah nostalgia yang mendalam, rasa melankolia yang berkepanjangan atas kehilangan orang yang dicinta.

Padahal puisinya berangkat dari garis di dada perkutut. Sialan!

Meraba Kepergian

Ketika Papa pergi, saya perlu sekian waktu untuk mencerna fakta bahwa ia benar-benar meninggalkan saya. Ini cuma mimpi buruk yang tak kunjung usai, pikir saya. Namun tentu, saya mau tidak mau harus menerima perasaan ini untuk pertama dan untuk selamanya.

lembu rowan

brumbun, kelabu gelap
demikian jalan
bapak yang kangen anak
anak yang kangen bapak
pohon melintang
lembu lumpuh
sukma hilang
ada yang lepas tanpa alamat

Sesaat setelah Papa benar-benar pergi, saya bertanya dalam hati, kemana jiwa pergi ketika ia meninggalkan tubuhnya? Atau apakah ia melayang-layang seperti gambaran hantu di kartun? Atau apakah ia pergi ke langit? Atau apakah ia bergerak semaunya sehingga bisa berdekatan dengan saya? Saya tidak pernah tahu, mungkin Mas C juga (sekarang kamu pasti sudah tahu, Mas?). Bedanya dia bisa menuliskan ketidaktahuannya itu dengan kata-kata, sedangkan saya tidak semahir itu. Puisi “lembu rowan” begitu pendek, lugas, tidak penuh metafora. Seperti Papa yang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, sama halnya dengan Mas C.

telaga tepung

sebentar, ada yang melingkar di lehermu
juga dadamu, seperti garis tepi telaga
membuatmu jadi terbelah-belah
dan tak pernah utuh selamanya
dan setiap kali aku hanya bisa bertemu
dengan salah satu dari dirimu
dan setiap kali aku harus menduga
dan kembali belajar mengenalimu

Melalui dua puisi di atas, Mas C seolah ingin menunjukkan betapa terbatasnya, betapa tidak tahunya kita, sebagai manusia yang masih hidup, dalam memahami kematian. Sepanjang hidup, kita menyaksikan satu per satu manusia mati, sembari menduga seperti apa keberangkatan itu berlangsung dari sisi yang mati.

Membaca keduanya membuat saya teringat pada paragraf penutup Bukan Pasar Malam (1951) karya Pramoedya Ananta Toer: “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…”

Mencari dan Menemukan

Saya tidak kenal secara personal dengan Gunawan Maryanto atau Mas C. Saya hanya membaca beberapa puisinya, menonton film-film yang dia bintangi, dan mendengarkan suaranya membacakan puisi-puisinya via dunia maya. Akan tetapi, saya sempat menyaksikan prosesi pemakamannya yang berlangsung pada 7 Oktober lalu–sehari setelah ulang tahun saya–secara langsung melalui saluran Instagram live Teater Garasi. Saya menyaksikan Yudi Ahmad Tajudin membacakan puisi “Jineman Uler Kambang” di depan nisan Mas C yang dipenuhi bunga. Rekan saya di kantor kemudian mendatangi  saya, “Kamu kenapa?”. Ternyata saya menangis. Saya merasa kehilangan sekali.

Beberapa waktu setelah kepergiannya, saya mencoba mencari karyanya dalam bentuk fisik. Saya menemukan Sejumlah Perkutut buat Bapak. Entah mengapa, saya percaya buku akan menemukan pembacanya, serupa seseorang yang menemukan jodohnya. Begitu pula pertemuan saya dengan buku ini. Sejatinya, saya ingin mencari Mas C dalam puisi ini, tapi saya justru menemukan Papa.

Membaca buku kumpulan puisi ini ketika ayah dari sang penulis yang padanya kumpulan ini dipersembahkan, ayah dari sang pembaca, dan sang penulis sendiri sama-sama telah pergi meninggalkan hidup ini, memberikan sensasi membaca yang berbeda. Di satu waktu, saya merasa senasib dengan Mas C karena dalam puisi ini saya temukan persembahannya untuk bapaknya yang sama seperti Papa, telah pergi. Di sisi lain, saya iri pada Mas C yang mampu mendefinisikan rasa cinta dan rasa ngelangut pada ayahnya dalam satu waktu dengan begitu paripurna. Di segala sisi, saya tak berhenti mengagumi kemegahan yang bersembunyi di balik kesederhanaan diksi yang ia pilih untuk puisi-puisinya. Di sisi yang tersembunyi, ada campuran sedih dan lega bahwa Mas C kini sudah bertemu dengan bapaknya.

Siapa sangka, buku puisi perihal perkutut justru membuat saya seolah pula menjadi burung yang lepas dan bebas mengudara bersama rindu pada Papa. Seorang lelaki yang semasa hidupnya lebih gemar melihat burung beterbangan di dekat pohon-pohon rimbun yang dia tanam dan rawat sepenuh hati, dibandingkan menyangkarkannya.

Mas C, kini sepertinya kamu tak lagi perlu memperhatikan garis yang membelah dada perkutut untuk memaknai perpisahan. Tak perlu lagi harus menduga, tak perlu lagi membayangkan ketidakutuhan. Sekarang lengkap sudah dirimu. Selamat melepas kangen bersama Bapak. Titip salamku untuk Papa, kalau-kalau kamu bertemu dengannya. Sampaikan terima kasihku padanya.

Dan saya pun berterima kasih padamu, Mas C. Sama seperti pada Papa, saya percaya bahwa kamu tidak akan pernah hilang. Sebab laiknya larik-larik terakhir dalam salah satu puisimu, “widah sana gasta”:

“…suaramu hanya jalan berlapis-lapis
yang tak akan pernah habis

jalan. bukan tujuan” [T]

______

Tulisan untuk mengenang #100HariGunawanMaryanto
Lingkar Studi Sastra Denpasar

Tags: PuisisastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etienne Decroux, Bapak Pantomim Modern Dunia

Next Post

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani

Berkuliah di Ilmu Filsafat UGM. Aktif di organisasi jurnalistik BPPM Balairung dan BPMF Pijar. Suka buku, mi instan, dan keliling kota sambil bernyanyi-nyanyi.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co