24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Oktaria Asmarani by Oktaria Asmarani
March 15, 2022
in Esai
Mencari Cindhil, Menemukan Papa

Pertengahan tahun lalu, saya baru memahami jika manusia ternyata mampu menanggung kehancuran yang awalnya saya pikir tak akan terberi: ditinggal mati yang terkasih. Sebelumnya, dengan naif saya berpikir bahwa kematian tidaklah berjarak sedekat itu, terlepas dari berapa banyaknya saya menemukan manusia-manusia di sekitar yang kehilangan. Oleh sebab saya yakin ia tidak datang dalam waktu dekat, saya pikir tak perlu memusingkan diri terhadap apa-apa yang berkelindan dengan kematian.Hingga pada suatu waktu ia datang, perlahan-lahan mendekap untuk mengikat erat tubuh saya agar tak melawan; sembari mengajak Papa pergi, mengajak Papa mati bersamanya.

Saya begitu payah untuk menjelaskan perihal kehilangan; lebih-lebih rasa kehilangan Papa. Terlampau sulit atau terlalu personal atau entah adjektiva apa yang pas untuk membantu saya menjelaskannya, ia hanya timbul dengan isyarat yang hanya mampu dipahami diri sendiri. Kehilangan karena ditinggal mati begitu menghancurkan saya. Ia sejatinya tak terderita, tapi mau tak mau harus mampu saya ajak hidup bersama, berdampingan. Di luar itu, ada hal-hal lain yang menyeruak dari dalam, dari segala penjuru. Ada memori yang hanya bisa diaktifkan di kepala saya sendiri, ada medu yang tak pernah bisa dimuntahkan, ada langut yang bingung kemana harus ditumpahkan, ada gusar yang tak tahu dikarenakan oleh apa, ada sungkawa yang begitu menyesakkan.

“…dan ada yang tak pernah hilang selamanya
ada yang selalu kembali meski tak utuh lagi…”

Sejumlah Perkutut buat Bapak

Tiga belas tahun lalu, saya baru masuk ke tingkat satu sekolah menengah pertama. Papa kembali mengantar jemput saya sekolah setelah sekian lama, sebab Mama tengah mengandung si bungsu. Ia kerap menjemput saya lewat pukul enam sore karena terjebak rapat atau kunjungan entah kemana. Dengan setia saya menantinya sambil meminjam novel di taman baca dekat sekolah dengan menukarkan seribu rupiah. Saya lihat raut kelelahan di wajahnya ketika ia tiba, aroma pahit menguar dari mulutnya. Saya masih bocah kala itu. Ditinggal mati Papa belum hadir dalam daftar kekhawatiran saya. Mempersembahkan sesuatu yang besar dan bermakna untuk Papa juga bukan prioritas saya, selain menjadi juara satu di kelas. Satu hal yang niscaya, saya mencintainya.

Tiga belas tahun lalu, berbeda dengan saya, Gunawan Maryanto alias Cindhil atau Mas C telah menulis sebuah kumpulan puisi yang ia persembahkan untuk bapaknya, Sejumlah Perkutut buat Bapak. Kumpulan puisi ini lalu diterbitkan tahun 2010 oleh penerbit Omahsore dan kemudian menjadi peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa kategori puisi di tahun yang sama. Dua larik yang saya kutip di atas adalah bagian dari puisi pertama dalam kumpulan ini, “kayon gapuran”.

Kumpulan ini terdiri dari 44 puisi yang termaktub dalam tiga bagian: Bukak Kayon, Sejumlah Perkutut buat Bapak, dan Tutup Kayon. Bagian Sejumlah Perkutut buat Bapak yang terdiri dari 42 puisi berangkat dari ciri mathi atau ciri fisik dan suara dari burung perkutut, burung kegemaran Sumarto, bapak dari Mas C. Melalui ciri mathi-nya, orang-orang Jawa (atau yang melakoni kebudayaannya) mencoba untuk mengaji jenis-jenis perkutut untuk mencari laras makna yang cocok bagi kehidupan pribadi dan sosialnya. Kesemua puisi berangkat dari pendekatan penciptaan yang sama, berangkat dari imaji lalu dialihwahanakan ke dalam bentuk puisi. Nyandra namanya, jika disebut dalam Bahasa Jawa.

Sejumlah Perkutut buat Bapak dicetak ulang pada 2018 oleh penerbit Diva Press, beberapa bulan setelah bapak Mas C meninggal dunia. Kata Mas C dalam pengantarnya, ia berkeinginan untuk menerbitkan buku ini kembali sebagai sebuah persembahan untuk kepergian sang bapak. Mas C sendiri mengaku tidak bisa mengukur apakah ia berhasil melakukan nyandra untuk menulis puisi-puisi tersebut. Namun, satu hal yang pasti, bagi saya, ia berhasil melakukan apa yang saya sulit untuk lakukan setelah ditinggal pergi Papa: mendefinisikan perasaan-perasaan tak bernama yang saya alami.

Saya bukan penyair, saya bukan ahli puisi. Saya pikir saya pembaca puisi yang biasa-biasa saja. Tafsir saya tentu bisa jadi berbeda dengan apa yang hendak disampaikan Mas C, juga dengan teman-teman yang membaca tulisan ini. Akan tetapi, sependek yang saya pahami, tafsir kepada suatu karya itu melekat kepada konteks kesejarahan dan suasana dari penikmat karya tersebut. Maka dari itu, saya memilih untuk menafsirkan puisi-puisi Mas C dalam kumpulan ini sebagai bentuk isyarat-isyarat yang hendak disampaikan kepada pemilik perkutut–sang Bapak–alih-alih hanya sebagai penggambaran ciri mathi tiap-tiap jenis burung perkutut. Isyarat-isyarat yang juga ingin saya sampaikan pada Papa, tapi keterbatasan membuat saya sulit melakukannya. Mas C lah yang dengan sabar menuntun saya membahasakan yang buntu dari diri saya yang berduka melalui puisi-puisi ini.

Dada yang Terbelah

Dalam beberapa puisinya, Mas C menuliskan ciri mathi beberapa jenis perkutut yang memiliki garis di dadanya. Beberapa kali saya temukan frasa “dadamu terbelah” dan yang sejenisnya dalam kumpulan ini. Kerap kali, Mas C menggunakan terbelahnya dada perkutut ini sebagai sebuah demarkasi dikotomi atas suatu hal.

sirih

pada dadamu yang lebar
kutorehkan garis tengah
sebagai batas antara selamat
dan tak selamat
batas permainan dimulai
dan diakhiri
hingga terang dan jelas
dan tak ada yang merasa dirugikan
ini seperti sebuah janji
dan sebagaimana janji
kadang ia diingkari
tapi setidaknya
ada bekas yang tegas di dadamu
di mana segala sesuatu bisa kembali
meski tak akan pernah sama lagi

sendang ngembeng

pada dadamu yang lebar
kutorehkan 2 garis di tengah
satu garis adalah diriku
satunya lagi adalah dirimu
berdampingan seperti sungai kembar
tak pernah benar-benar ketemu
hanya suatu kali berpapasan
bersilangan, potong-memotong
dan meninggalkan delta-delta
di mana anak turun kita
tumbuh dan beranak pinak

Dalam puisi-puisi di atas, saya melihat batas yang tertoreh di tengah dada perkutut itu justru menunjukkan kerinduan yang dalam atas sesuatu–dalam hal ini pada sosok ayah, Papa saya. Garis yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang secara tak kasat mata memisahkan kami. Menjelaskan dengan definit bahwa saya dan Papa sudah terpisah oleh batas antara mati dan urip. Saya tidak akan pernah bisa menembus batas itu, kecuali jika saya mati nanti.

Saya ingat Papa berjanji pada saya untuk hidup hingga usianya seratus. Pada akhirnya ia mengingkarinya, walaupun saya tetap terus menerus menemukan dirinya dalam segala; dalam bentuk yang mungkin tak utuh lagi. Saya melihat garis-garis tengah dalam puisi Mas C sebagai titik temu yang juga menjauhkan saya dengan Papa. Saya jumpa dengannya, tapi tak lagi benar-benar berjumpa. Kadang dalam mimpi, kadang dalam sekelebat ingatan, kadang pula pada hal-hal yang tak pernah terpikirkan; kami hanya sesekali  kali berpapasan.

Saya menemukan dada yang terbelah lagi di puisinya yang lain,

raja wana

dadamu terbelah,
suatu waktu sebuah sungai pernah hadir
dan mengalir di sana
ketentraman tumbuh di sepanjang tepinya
seperti pohon gayam
menjulurkan dahannya ke atas sungai

dadamu terbelah
aku ingin istirahat di sana

Dalam puisi ini, belahan tersebut justru merupakan satu wilayah yang gani, wilayah yang tepat untuk bersandar. Bisa jadi pula sebagai tempat bertemu untuk menumpahkan rindu. Mungkin agak melenceng, namun ketika membaca puisi ini, saya mengingat salah satu prinsip permakultur: “gunakan tepian dan hargai yang marjinal.” Dalam pandangan permakultur, yang juga dapat kita temui dalam berbagai hal pada hidup, suatu tempat dimana dua ekosistem atau habitat bertemu justru merupakan tempat yang lebih kaya dibandingkan ekosistem dan habitat masing-masing. Kita bisa menemukan sesuatu yang lebih di dalam berbagai ceruk pertemuan. Mas C menggambarkan kelebihan itu dengan tidak berlebihan dalam puisi di atas.

Ada waktu-waktu dimana saya ingin beristirahat pada garis yang membelah saya dan Papa. Saya tak bisa jelaskan perihal garis itu, saya hanya membayangkan ada suatu tempat imajiner dimana kami bisa bertemu. Sebab pada ambang antara saya dan Papa, saya bisa merasa Papa lebih dekat sembari menyadari sepenuhnya bahwa batas tersebut membedakan buana kami.

Saya tak bisa menjelaskan perasaan-perasaan saya dengan lengkap, tetapi lewat puisi-puisi ini, Mas C membantu saya untuk membahasakannya. Tiga puisi ini, bagi saya, merupakan bentuk saudade; sebuah perasaan rindu, sebuah nostalgia yang mendalam, rasa melankolia yang berkepanjangan atas kehilangan orang yang dicinta.

Padahal puisinya berangkat dari garis di dada perkutut. Sialan!

Meraba Kepergian

Ketika Papa pergi, saya perlu sekian waktu untuk mencerna fakta bahwa ia benar-benar meninggalkan saya. Ini cuma mimpi buruk yang tak kunjung usai, pikir saya. Namun tentu, saya mau tidak mau harus menerima perasaan ini untuk pertama dan untuk selamanya.

lembu rowan

brumbun, kelabu gelap
demikian jalan
bapak yang kangen anak
anak yang kangen bapak
pohon melintang
lembu lumpuh
sukma hilang
ada yang lepas tanpa alamat

Sesaat setelah Papa benar-benar pergi, saya bertanya dalam hati, kemana jiwa pergi ketika ia meninggalkan tubuhnya? Atau apakah ia melayang-layang seperti gambaran hantu di kartun? Atau apakah ia pergi ke langit? Atau apakah ia bergerak semaunya sehingga bisa berdekatan dengan saya? Saya tidak pernah tahu, mungkin Mas C juga (sekarang kamu pasti sudah tahu, Mas?). Bedanya dia bisa menuliskan ketidaktahuannya itu dengan kata-kata, sedangkan saya tidak semahir itu. Puisi “lembu rowan” begitu pendek, lugas, tidak penuh metafora. Seperti Papa yang pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, sama halnya dengan Mas C.

telaga tepung

sebentar, ada yang melingkar di lehermu
juga dadamu, seperti garis tepi telaga
membuatmu jadi terbelah-belah
dan tak pernah utuh selamanya
dan setiap kali aku hanya bisa bertemu
dengan salah satu dari dirimu
dan setiap kali aku harus menduga
dan kembali belajar mengenalimu

Melalui dua puisi di atas, Mas C seolah ingin menunjukkan betapa terbatasnya, betapa tidak tahunya kita, sebagai manusia yang masih hidup, dalam memahami kematian. Sepanjang hidup, kita menyaksikan satu per satu manusia mati, sembari menduga seperti apa keberangkatan itu berlangsung dari sisi yang mati.

Membaca keduanya membuat saya teringat pada paragraf penutup Bukan Pasar Malam (1951) karya Pramoedya Ananta Toer: “Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana…”

Mencari dan Menemukan

Saya tidak kenal secara personal dengan Gunawan Maryanto atau Mas C. Saya hanya membaca beberapa puisinya, menonton film-film yang dia bintangi, dan mendengarkan suaranya membacakan puisi-puisinya via dunia maya. Akan tetapi, saya sempat menyaksikan prosesi pemakamannya yang berlangsung pada 7 Oktober lalu–sehari setelah ulang tahun saya–secara langsung melalui saluran Instagram live Teater Garasi. Saya menyaksikan Yudi Ahmad Tajudin membacakan puisi “Jineman Uler Kambang” di depan nisan Mas C yang dipenuhi bunga. Rekan saya di kantor kemudian mendatangi  saya, “Kamu kenapa?”. Ternyata saya menangis. Saya merasa kehilangan sekali.

Beberapa waktu setelah kepergiannya, saya mencoba mencari karyanya dalam bentuk fisik. Saya menemukan Sejumlah Perkutut buat Bapak. Entah mengapa, saya percaya buku akan menemukan pembacanya, serupa seseorang yang menemukan jodohnya. Begitu pula pertemuan saya dengan buku ini. Sejatinya, saya ingin mencari Mas C dalam puisi ini, tapi saya justru menemukan Papa.

Membaca buku kumpulan puisi ini ketika ayah dari sang penulis yang padanya kumpulan ini dipersembahkan, ayah dari sang pembaca, dan sang penulis sendiri sama-sama telah pergi meninggalkan hidup ini, memberikan sensasi membaca yang berbeda. Di satu waktu, saya merasa senasib dengan Mas C karena dalam puisi ini saya temukan persembahannya untuk bapaknya yang sama seperti Papa, telah pergi. Di sisi lain, saya iri pada Mas C yang mampu mendefinisikan rasa cinta dan rasa ngelangut pada ayahnya dalam satu waktu dengan begitu paripurna. Di segala sisi, saya tak berhenti mengagumi kemegahan yang bersembunyi di balik kesederhanaan diksi yang ia pilih untuk puisi-puisinya. Di sisi yang tersembunyi, ada campuran sedih dan lega bahwa Mas C kini sudah bertemu dengan bapaknya.

Siapa sangka, buku puisi perihal perkutut justru membuat saya seolah pula menjadi burung yang lepas dan bebas mengudara bersama rindu pada Papa. Seorang lelaki yang semasa hidupnya lebih gemar melihat burung beterbangan di dekat pohon-pohon rimbun yang dia tanam dan rawat sepenuh hati, dibandingkan menyangkarkannya.

Mas C, kini sepertinya kamu tak lagi perlu memperhatikan garis yang membelah dada perkutut untuk memaknai perpisahan. Tak perlu lagi harus menduga, tak perlu lagi membayangkan ketidakutuhan. Sekarang lengkap sudah dirimu. Selamat melepas kangen bersama Bapak. Titip salamku untuk Papa, kalau-kalau kamu bertemu dengannya. Sampaikan terima kasihku padanya.

Dan saya pun berterima kasih padamu, Mas C. Sama seperti pada Papa, saya percaya bahwa kamu tidak akan pernah hilang. Sebab laiknya larik-larik terakhir dalam salah satu puisimu, “widah sana gasta”:

“…suaramu hanya jalan berlapis-lapis
yang tak akan pernah habis

jalan. bukan tujuan” [T]

______

Tulisan untuk mengenang #100HariGunawanMaryanto
Lingkar Studi Sastra Denpasar

Tags: PuisisastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etienne Decroux, Bapak Pantomim Modern Dunia

Next Post

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Oktaria Asmarani

Oktaria Asmarani

Berkuliah di Ilmu Filsafat UGM. Aktif di organisasi jurnalistik BPPM Balairung dan BPMF Pijar. Suka buku, mi instan, dan keliling kota sambil bernyanyi-nyanyi.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Bersakit-Sakit Dahulu Bersepakat Dengan Tubuh Kemudian

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co