7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Riki Dhamparan Putra

KABUPATEN Pali (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumsel, baru berusia tiga tahun pada bulan April 2017 mendatang. Namun warisan fisik  peradabannya terungkap sudah berusia lebih dari seribu dua ratus lima belas tahun. Perkiraan ini berdasarkan hasil penelitian para ahli purbakala terhadap situs-situs budaya abad 9-12 masehi yang ditemukan di “Bumi Serepat Serasan” ini.

Yang paling populer tentulah situs percandian Bumi Ayu seluas 110 ha yang berada di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, sebelah barat sungai Lematang, Kabupaten Pali. Kurang lebih lima jam dari kota Palembang, saat ini jalan menuju kawasan kompleks percandian Bumi Ayu boleh dikata sudah mulus. Baik melalui Simpang Belimbing, maupun jalan pintas melalui Cambai dan Modong hulu di perbatasan Kabupaten Muara Enim dan Pali.

Terdapat paling tidak sepuluh gugusan candi berupa bangunan bata yang sudah rusak di atas area seluas 7 ha yang sudah dibebaskan. Empat di antaranya, yakni Candi 1,2,3, dan 8 telah dipugar walaupun hanya bagian kakinya yang dapat direkonstruksi. Masing-masing tampaknya dibangun dari periode yang berbeda-beda.

Candi Bumi Ayu, Komplek Candi 3

Menurut dugaan dari Pusat Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi Nasional Palembang,   situs ini berkembang terutama pada abad 10-13 dan menjadi central place dari sebuah peradaban Hindu Sumatra kira-kira dua ratus tahun setelah Sriwijaya membangun pusat wanua–nya di Palembang.

Pengujian karbon yang dilakukan Pulitbang Arkenas terhadap sampel arang yang ditemukan pada kompleks percandian itu pada 2007, menghasilkan angka tahun 1110-1330 masehi. Hal ini berarti, Candi Bumi Ayu eksis bersamaan dengan periode akhir kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang kabarnya pernah menjadi kerajaan terkuat di Asia Tenggara kala itu.

Pemetaan awal pada 1991 memastikan bahwa situs Candi Bumi Ayu dikelilingi oleh sungai-sungai, sungai Piabung, sungai Tebat Jambu, sungai Tebat Tholib, Sungai Tebat Siku dan Sungai Tebat Panjang yang masuk ke Sungai Batanghari Siku untuk kemudian menuju aliran Sungai Musi melalui Sungai Lematang.

Posisi geografisnya yang berada di lintas tengah jalur transportasi budaya dan perdagangan antara kawasan hulu dan  hilir kala itu, rupanya mendorong kemajuan kawasan ini di masa lampau. Tak hanya kompleks percandian Bumi Ayu, temuan situs-situs hunian di Babat dan Modong di hilir Lematang makin meyakinkan fakta historis itu.

Bila diasumsikan kawasan hulu dan hilir Sumsel berada dalam kontrol kekuatan politik yang berbeda-beda dan masing-masing bersifat otonom, patut pula diduga kawasan Bumi Ayu merupakan sebuah inland port yang otonom pula. Sebuah ‘mandala perbatasan’ yang dibangun dengan sebuah konsep perbatasan yang canggih untuk memanfaatkan arus pertukaran ekonomi, antara kawasan-kawasan hulu dan hilir.

Apakah posisi dan peran ekonomi yang strategis itu memberi dampak pula bagi adanya kekuatan politik dan agama yang otonom di kawasan ini di masa lalu, masih menjadi pertanyaan para peneliti sampai saat ini. Namun demikian hasil-hasil pengkajian terhadap tinggalan fisik yang ada, menampilkan kekhasan kawasan Bumi Ayu sebagai kawasan budaya Hindu terbesar pada abad-abad yang tercitra sebagai era politik dan agama Budha di Pulau Sumatra.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Sondang M Siregar, memaparkan kawasan percandian Bumi Ayu merupakan bukti adanya kejayaan Hindu di Sumatra yang berlangsung pada abad ke 9 masehi. Kawasan itu, kata dia, dibangun sebagai sarana peribadatan umat Hindu yang terlihat dari prasasti dan estetika arca-arcanya.

Di tepi sungai Lematang, ditemukan prasasti emas (suwarnapattra) yang diperkirakan berasal dari abad 10-12 masehi. Prasasti yang ditulis pada kedua sisinya itu berisi konsep-konsep ajaran agama Hindu seperti terlihat pada pemakaian kata-kata prthwi, pageni, akasa, bayu, apah yang merupakan unsur-unsur tubuh manusia. Profil Candi 1 yang berbentuk bujur sangkar, hiasan pelipit kumuda, dan padma lazim ditemukan pada profil candi-candi tua di Jawa Tengah dari abad ke 9 – 10 masehi, di antaranya candi Badut.

Peneliti dari Balai Arkeologi Palembang, Sondang M Siregar

Selain itu, aspek agama Hindu juga tercermin dari arca-arca yang terdapat dalam kompleks candi Bumi Ayu seperti arca Siwa Mahadewa,  Agastya, Nandi, dan arca Sthamba yang terdapat dalam Candi 1 yang diduga merupakan bangunan pemujaan yang pertama didirikan di antara seluruh kompleks itu.

Walaupun demikian, kata Sondang pula, secara umum seni arca Bumi Ayu memperlihatkan akulturasi antara seni arca lokal dan seni arca Hindu. Ia mencontohkan salah satu arca unik yang ditemukan di kompleks Candi 1, sebuah arca singa menarik roda kereta. Penggambaran arca yang seperti itu, katanya, belum pernah ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Di Sarnath, bekas ibukota kerajaan Acoka India Selatan, terdapat arca singa yang agak mirip, yang berdiri di atas piring pipih bergambar roda kereta yang mengilustrasikan penghormatan kepada Budha Gautama sebagai singa pengajar rohani yang dihormati di empat penjuru dunia. Namun penggambaran roda kereta juga ditemukan pada candi Hindu Tantris di Orissa, India Utara yang didirikan pada rentang abad 13-14 masehi.

 

Singa Pali Singa Akulturasi

Pada arca candi Bumi Ayu 1 tampaknya dua latar belakang keagamaan mengalami akulturasi melalui kerja seni. Menurut Sondang, roda kereta yang ditarik oleh singa melambangkan ajaran agama Hindu yang senantiasa bergerak atau berputar untuk dijalankan penganutnya. Sementara singa melambangkan penuntunnya yang cemerlang seperti Budha.

Penggambaran arca singa lain yang ditemukan di kompleks candi Bumi Ayu sangat khas dan tidak pernah ditemukan pada candi-candi lain di Indonesia.  Ini misalnya tampak pada arca singa-gajah yang saling mendukung, singa yang menggenggam ular di tangannya dan singa yang tapakannya dihiasi kura-kura.

Kajian atas arca-arca ini makin memperkuat keunikan tampilan situs Bumi Ayu beserta koleksi yang terdapat di dalamnya. Baik dari segi rancang bangun, hiasan, maupun segi-segi non bangunan.

Dari segi prosesi ritual, para peneliti menemukan figur-figur yang tidak teridentifikasi dan digambarkan dalam karakter yang berbeda dengan figur-figur di candi Hindu lain di Pulau Jawa. Contohnya adalah pengiring Siwa yang berbeda dengan yang terdapat di arca candi-candi Jawa Tengah. Pengiring Siwa di Candi Bumi Ayu (Candi 1) bukan arca Ganesa dan Durga Mahesasuramardhini sebagaimana di Jawa Tengah, melainkan dua figur yang belum teridentifikasi.

Keragaman gaya dan bentuk pada ornamen hiasan di candi Bumi Ayu memberi tanda adanya keragaman kreatifitas seni berlatar belakang Hindu di Sumatra kala itu. Secara umum, hiasan yang terdapat di kompleks candi Bumi Ayu adalah kemuncak, menara hias, simbar dan bingkai. Kemuncak tidak terdapat dalam rancang bangun candi-candi Budha di Sumatra yang menggunakan stupa. Namun kemuncak pada candi-candi di Bumi Ayu, selain memperlihatkan kesamaan gaya dasar dengan candi-candi Hindu Mataram Kuno, sekaligus memperlihatkan penempatan dan fungsi arsitektural yang berbeda dengan candi-candi Hindu di Pulau Jawa.

Atas dasar itu, para peneliti berasumsi, wawasan dan praktek Hindu di candi Bumi Ayu lebih bebas dan lebih beragam dibanding di tempat lain.

Tempat penyimpanan koleksi candi

Sayangnya, kata Sondang, referensi untuk membuat kesimpulan semacam itu masih terbatas. Pengkajian terhadap situs Bumi Ayu dan juga situs-situs dari masa yang sama, yang terdapat di kawasan hilir sungai Lematang, semasa selama ini masih terkendala oleh banyak hal. Salah satunya adalah dukungan dana yang terbatas dan partisipasi yang masih kurang, baik dari pemerintah daerah maupun dari masyarakat.

Ia mengakui, belum banyak yang diketahui perihal keberadaan situs-situs yang tersebar di tepi sungai Lematang hilir hingga hari ini. Dari 110 ha luas kawasan cagar budaya itu, baru 7 ha saja yang telah dibebaskan dan kini dijadikan taman wisata. Kadang proses pembebasan terkendala akibat situs berada di kebun milik masyarakat.

Padahal, kekayaan warisan budaya yang terpendam di wilayah ini adalah harta terbesar masyarakat yang tak akan habis dan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pemasukan ekonomi – misalnya melalui pariwisata budaya. Namun katanya, proses pengelolaan cagar budaya  dan proses perawatannya haruslah seimbang dan bersandar pada kriteria yang telah ditetapkan melalui Undang-Undang Cagar Budaya no 11 tahun 2010.

Pada satu sisi, Sondang menilai, upaya pemerintah Kabupaten Pali saat ini yang membangun jalan untuk memudahkan orang berkunjung ke situs Bumi Ayu, cukup menggembirakan. Namun ia juga mengeluhkan belum terlihatnya aspek edukasi dari proses turisme yang berlangsung.

Ia mencontohkan, kompleks Candi Bumi Ayu dikonsep dalam bentuk taman, sehingga kawasan itu dijadikan ajang rekreasi oleh warga sekitar. Sayangnya, pihak pengelola tidak menyediakan buku panduan atau semacam brosur yang dapat membantu pengunjung memahami apa yang terdapat dalam candi-candi itu. Akibatnya, rekreasi ke Candi Bumi Ayu seolah tidak berbeda dengan rekreasi ke taman-taman wisata yang bukan cagar budaya.

 

Perlu Museum Di Bumi Ayu

Hal lain yang menurutnya mendesak untuk dilakukan adalah memikirkan ruang penempatan yang memadai, bagi koleksi milik Candi Bumi Ayu yang selama ini terkesan alakadar. Kepingan artefak dan arca-arca yang telah ditemukan, saat ini dibiarkan berada pada sebuah balai terbuka di Candi 3. Hingga rawan untuk rusak dan dicuri. Padahal artefak itu bernilai tinggi dan masih sedikit yang telah dikaji peneliti.

Ia berharap, pemerintah (baik pemerintah propinsi dan kabupaten) mulai memikirkan hal ini. Seperti misalnya, memikirkan untuk membuat museum di Bumi Ayu, sehingga koleksi-koleksi di candi itu tidak perlu dibawa ke museum di Palembang.

Pendek kata, kekayaan warisan budaya di Bumi Ayu, katanya, akan lebih bermanfaat bagi warga sekitar bila tetap berada di wilayah itu dengan perawatan yang memadai. Untuk mencapai hal itu, perlu ada koordinasi yang lebih intens antara pihak suaka, pengelola, pemerintah dan masyarakat sekitar. Itulah yang selama ini dirasa masih kurang.

Bukan tanpa alasan kiranya, keluhan perempuan peneliti dari Balar Palembang ini. Pada satu sisi, ia melihat pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Pali khususnya, telah menjadikan situs Bumi Ayu sebagai kebanggaan. Sementara pada sisi lain, usaha untuk meningkatkan perawatan atas cagar budaya itu tidak menunjukkann peningkatan yang berarti. Ia berharap, ke depan koordinasi yang lebih intens antara pihak suaka, pengelola, pemerintah dan masyarakat sekitar dapat berlangsung lebih intens demi meningkatkan nilai guna warisan-warisan budaya yang ada di kawasan hilir Sungai Lematang. (T)

Tanah Abang Pali, Januari 2017

Baca juga:

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Tags: cagar budayacandihinduKabupaten PaliPariwisatasitusSumatra
Share387TweetSendShareSend
Previous Post

Pilkada Tak Cuma Jakarta, Bung! – Jangan-jangan Kita Tak Tahu Calon Bupati Sendiri…

Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post

Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co