13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Komang Adnyana by Komang Adnyana
December 12, 2021
in Cerpen
Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Salah satu karya dalam Pameran Seni Rupa Undiksha Singaraja, November 2019

Lalu. Tiba-tiba Lina mengatakan ingin melupakan masa lalu. Tubuh saya nyeri mendengarnya. Ia terkesan sungguh-sungguh. Seperti menjadi sangat dewasa dalam waktu yang singkat. Kemudian berceritalah ia kenapa memilih demikian. Kenapa menginginkannya mendalam. Ia bukan lagi itik kecil, ia angsa dewasa dengan leher jenjang yang menggairahkan.

“Karena hidup saya tidak di masa lalu”

“Kamu pandai mengatasi masalah”

“Kamu keberatan?”

“Berhentilah mengeluh dan saya akan mencoba memahaminya secara wajar”

Lina tersenyum ganjil. Seganjil langit biru yang sering kami saksikan ketika kota menyanyikan lagu asing di terik yang membakar hari. Lagu asing yang melulu sepi. Melulu jemu. Tetapi Lina menyukainya. Menjadi ganjil konon kebebasan yang tertinggi. Menjadi diri sendiri. Dan di bumi ini yang menjadi ganjil amatlah sedikit. Ia berharga. Dan Lina adalah salah satunya. Ia ingin seseorang mengejar keganjilannya yang satu. Untuk kemudian diajaknya bersenang-senang dalam keganjilan-keganjilan hubungan berikutnya.

Begitulah Lina bercerita di perjumpaan yang pertama.

“Kamu mau melakukannya?” ia bertanya dengan kelebatan cahaya kecil dimatanya.

“Menjadi ganjil seperti yang kamu suka?”

Ia mengangguk. Meremas jemari saya. Saya terperanjat. Entah kenapa semua terbuka dengan luas secara tiba-tiba dan menggetarkan. Perasaan berlebih. Ingin yang menderu. Apa saya terlalu sensitif?

Ah, bukan Lina namanya kalau tidak bisa menangkap segala perubahan. Sekecil apapun. Ia membaca dengan penuh kebanggaan saat wajah saya menyembul merah. Ada gugup yang ditiupkan dengan kencang oleh angin tengah hari. Mengisi lorong hati saya yang kosong. Yang dingin.

Lina mengeratkan genggamannya. Menarik tangan saya menuju tugu di perempatan kota. Di ujung bangunan kami bertengger seperti sepasang burung. Sepasang? Batin saya kembali menggerutu. Kali ini lebih pada menyesali telah diam-diam menyimpan harapan. Harapan kepada sesuatu yang ganjil.

Begitu juga saat Lina melemparkan pandangannya jauh-jauh ke langit. Biru yang menyapu dengan perkasa. Atap kota yang angkuh dan kaku. Katanya ia suka mual-mual dan ingin segera muntah dibuatnya. Tetapi sekali lagi ia katakan tetap menemukan kesenangan berlebih. Keganjilan yang nyaman.

“Perasaan ingin muntah itu membuat saya tenang”

“Saya tidak mengerti”

“Semula saya menyimpan sejumlah ketakutan. Termasuk mengawali pagi adalah rutinitas paling mengerikan dalam hidup saya. Setelah menemukan kebiasaan aneh itu saya merasa tidak takut lagi”

Saya tercenung. Apa yang dikatakan Lina baru saja sedikitpun tidak mampu membuat saya mengira-ngira. Tetapi setelah ia menyebutkan sebuah nama. Dan itu nama lelaki, saya perlahan tahu bahwa ini masalah perasaan. Apakah cinta?

“Kamu tidak sedang berpura-pura bodoh di depan saya kan?” ia bertanya dengan sungguh-sungguh pada saya.

“Tentu tidak. Ia kekasihmu?”

Sungai kecil yang mengalir dari matanya cukup memberi jawaban. Lelaki itu kekasihnya dan mereka baru saja berpisah.

Namun Lina menggeleng. Lelaki itu bukan kekasihnya. Katanya ia orang lain. Orang asing. Seseorang yang dibencinya tetapi juga dikehendaki. Aneh! Perkara hubungan yang pelik sekaligus mengesankan. Bagaimana bisa menyimpan rasa benci dan ingin kepada satu orang dalam waktu bersamaan?

“Tentu saja bisa. Kamu mencintainya dan tiba-tiba ia meninggalkanmu. Itu saja!”

Lina lebih mirip memekik ketimbang bercerita. Langit biru mungkin berubah hitam dan menjadi gerimis dimatanya.

***

Lina, perempuan sembilan belas tahun, sedang patah hati. Sedang mencoba melupakan masa lalu. Memilih menjalani kehidupannya sehari demi sehari. Meski banyak hal yang katanya berubah. Bahkan suara hujan yang ramai di atap rumahnya membuat degup jantungnya tak teratur. Kadang melihat daun-daun jatuh melayang dengan dingin sebelum menyentuh tanah memaksanya menangis. Sendirian. Kesepian.

Apa tidak kasihan dengan semua kenangan? Saya tidak berani menanyakan pertanyaan yang mungkin membuatnya merasa dihakimi itu. Hanya di pertemuan berikutnya ia bercerita sendiri tanpa saya minta.

“Seseorang kadang menyimpan terlalu banyak hal tidak penting dalam kotak keramatnya”

“Kotak keramat?”

“Ya, kotak kenangan. Yang kadang kita buka sesekali jika rindu menyerang. Dan banyak nama yang tercerai berai dan akhirnya kita menyesal pernah mengingatnya”

Lina seperti lebih tahu hidup daripada saya. Raut mukanya selalu serius saat berbicara. Bagaimana bisa ada laki-laki yang sanggup meninggalkan perempuan matang sepertinya. Apa ada yang salah dengannya? Atau mungkin ada sebutir rahasia getir lainnya yang belum sempat ia ceritakan?

“Kamu menyesal pernah berhubungan dengannya?”

“Sisa hidup saya tidak ada dimasa lalu. Saya hidup sekarang. Saya tidak ingin mengingatnya lagi”

Lina terluka. Lebih dari itu. Sebagaimana sepasang kekasih yang jatuh cinta, mereka juga terjebak dalam permainannya sendiri. Namun saat kehamilannya baru dua bulan laki-laki itu menyuruhnya aborsi. Buah cinta itu membusuk. Jadi cairan tidak sedap yang menggenang di ruang ingatannya. Sekalipun telah dilupakannya dengan segala cara.

Ehm, jika ada cinta kenapa memilih saling melukai. Apa cinta membuat orang gila dan berbuat yang aneh-aneh. Kata Lina itu juga masih dipikirkannya sampai sekarang. Termasuk kenapa ada perasaan terluka kemudian. Bentuk akhir yang paling umum dari hubungan manusia. 

“Apa cabang bayi itu ada di kotak keramat yang kau sebutkan tadi?”

Lina tak segera menjawab. Wajahnya lebih mirip orang yang ingin muntah. Dan benar saja, ia mohon diri untuk pulang karena sudah tidak tahan memandang langit biru dari bangunan paling tinggi di kota ini.

“Langit akan segera hitam. Saya sama sekali tak menyukai hujan atau gerimis”

Suaranya terputus-putus. Mungkin bukan itu yang ingin ia ucapkan sebenarnya. Mungkin hatinya berteriak, “Saya tidak suka hujan atau gerimis yang mengingatkan saya untuk menangis”.

Benarkah begitu?

Jika begitu saya sadar kenapa jantungnya berdegup dengan kencang setiap kali mendengar bunyi hujan. Percik darah dari selangkangan waktu proses pengguguran itu ia bilang mirip suara air hujan yang menyentuh genting. Nyaring. Mengiris.

Kesiap daun yang tertiup pelan di udara seperti nafasnya yang naik turun menahan sakit. Maka ia mulai membenci suara halus dedaunan yang sesungguhnya bagi sebagian orang sangat meneduhkan. Lantas ia mencari-cari keganjilan-keganjilan lain yang menenangkan meski orang lain menganggapnya aneh. Ia perkenalkan dirinya pada banyak laki-laki, berpetualang dalam medan yang asing, tanpa sedikitpun terikat.

Kenapa seperti itu Lina? Apa tidak ada yang tersentuh dengan kisahnya?

***

Di pusat kota ada sebuah taman dimana sebuah danau buatan terdapat di dalamnya. Ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dangan bebas setiap hari. Lina mengunjunginya dua kali seminggu. Tepat tengah hari. Kenapa? Ia akan mengulangi kalimatnya dengan mantap berkali-kali, karena di siang hari dari taman itu langit biru terlihat sangat indah.

Ya, langit biru. Ia ingin suatu waktu terbang dalam keleluasaannya.

Saya baru mengetahui tentang kebiasaannya itu hari ini. Dari nyonya Nirmala, ibunya. Dan saya menyesal kenapa baru mengetahuinya sekarang. Menyesal kenapa  membiarkannya pulang sendirian siang itu. Saya terlihat bodoh dengan perasaan semacam ini. Entah tersakiti atau terluka.

Ke langit birukah Lina sekarang?

Saya tiba dirumahnya setengah jam sebelum pemakamannya dilakukan. Banyak orang yang menangis. Menurut cerita ibunya mayatnya ditemukan mengambang di danau itu kemarin sore. Lina tenggelam. Mungkin, banyak yang tidak berani mengucapkan kemungkinannya. Bahwa Lina menenggelamkan dirinya. Sengaja mengakhiri hidupnya. Tepat di bawah langit biru yang maha luas dan ganjil. Tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Beginikah caranya?

Ah, yang jelas ada yang melihat angsa-angsa itu menuntun tubuhnya ke permukaan, menyeruak diantara bunga-bunga teratai yang sedang mekar. [T]

Catatan:

  • Cerpen ini termuat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” (Mahima Institute Indonesia, 2020).

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN-CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Ida Ayu Putri Adityarini | Di Utara Aku Melihat Laut

Next Post

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co