2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Komang Adnyana by Komang Adnyana
December 12, 2021
in Cerpen
Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Salah satu karya dalam Pameran Seni Rupa Undiksha Singaraja, November 2019

Lalu. Tiba-tiba Lina mengatakan ingin melupakan masa lalu. Tubuh saya nyeri mendengarnya. Ia terkesan sungguh-sungguh. Seperti menjadi sangat dewasa dalam waktu yang singkat. Kemudian berceritalah ia kenapa memilih demikian. Kenapa menginginkannya mendalam. Ia bukan lagi itik kecil, ia angsa dewasa dengan leher jenjang yang menggairahkan.

“Karena hidup saya tidak di masa lalu”

“Kamu pandai mengatasi masalah”

“Kamu keberatan?”

“Berhentilah mengeluh dan saya akan mencoba memahaminya secara wajar”

Lina tersenyum ganjil. Seganjil langit biru yang sering kami saksikan ketika kota menyanyikan lagu asing di terik yang membakar hari. Lagu asing yang melulu sepi. Melulu jemu. Tetapi Lina menyukainya. Menjadi ganjil konon kebebasan yang tertinggi. Menjadi diri sendiri. Dan di bumi ini yang menjadi ganjil amatlah sedikit. Ia berharga. Dan Lina adalah salah satunya. Ia ingin seseorang mengejar keganjilannya yang satu. Untuk kemudian diajaknya bersenang-senang dalam keganjilan-keganjilan hubungan berikutnya.

Begitulah Lina bercerita di perjumpaan yang pertama.

“Kamu mau melakukannya?” ia bertanya dengan kelebatan cahaya kecil dimatanya.

“Menjadi ganjil seperti yang kamu suka?”

Ia mengangguk. Meremas jemari saya. Saya terperanjat. Entah kenapa semua terbuka dengan luas secara tiba-tiba dan menggetarkan. Perasaan berlebih. Ingin yang menderu. Apa saya terlalu sensitif?

Ah, bukan Lina namanya kalau tidak bisa menangkap segala perubahan. Sekecil apapun. Ia membaca dengan penuh kebanggaan saat wajah saya menyembul merah. Ada gugup yang ditiupkan dengan kencang oleh angin tengah hari. Mengisi lorong hati saya yang kosong. Yang dingin.

Lina mengeratkan genggamannya. Menarik tangan saya menuju tugu di perempatan kota. Di ujung bangunan kami bertengger seperti sepasang burung. Sepasang? Batin saya kembali menggerutu. Kali ini lebih pada menyesali telah diam-diam menyimpan harapan. Harapan kepada sesuatu yang ganjil.

Begitu juga saat Lina melemparkan pandangannya jauh-jauh ke langit. Biru yang menyapu dengan perkasa. Atap kota yang angkuh dan kaku. Katanya ia suka mual-mual dan ingin segera muntah dibuatnya. Tetapi sekali lagi ia katakan tetap menemukan kesenangan berlebih. Keganjilan yang nyaman.

“Perasaan ingin muntah itu membuat saya tenang”

“Saya tidak mengerti”

“Semula saya menyimpan sejumlah ketakutan. Termasuk mengawali pagi adalah rutinitas paling mengerikan dalam hidup saya. Setelah menemukan kebiasaan aneh itu saya merasa tidak takut lagi”

Saya tercenung. Apa yang dikatakan Lina baru saja sedikitpun tidak mampu membuat saya mengira-ngira. Tetapi setelah ia menyebutkan sebuah nama. Dan itu nama lelaki, saya perlahan tahu bahwa ini masalah perasaan. Apakah cinta?

“Kamu tidak sedang berpura-pura bodoh di depan saya kan?” ia bertanya dengan sungguh-sungguh pada saya.

“Tentu tidak. Ia kekasihmu?”

Sungai kecil yang mengalir dari matanya cukup memberi jawaban. Lelaki itu kekasihnya dan mereka baru saja berpisah.

Namun Lina menggeleng. Lelaki itu bukan kekasihnya. Katanya ia orang lain. Orang asing. Seseorang yang dibencinya tetapi juga dikehendaki. Aneh! Perkara hubungan yang pelik sekaligus mengesankan. Bagaimana bisa menyimpan rasa benci dan ingin kepada satu orang dalam waktu bersamaan?

“Tentu saja bisa. Kamu mencintainya dan tiba-tiba ia meninggalkanmu. Itu saja!”

Lina lebih mirip memekik ketimbang bercerita. Langit biru mungkin berubah hitam dan menjadi gerimis dimatanya.

***

Lina, perempuan sembilan belas tahun, sedang patah hati. Sedang mencoba melupakan masa lalu. Memilih menjalani kehidupannya sehari demi sehari. Meski banyak hal yang katanya berubah. Bahkan suara hujan yang ramai di atap rumahnya membuat degup jantungnya tak teratur. Kadang melihat daun-daun jatuh melayang dengan dingin sebelum menyentuh tanah memaksanya menangis. Sendirian. Kesepian.

Apa tidak kasihan dengan semua kenangan? Saya tidak berani menanyakan pertanyaan yang mungkin membuatnya merasa dihakimi itu. Hanya di pertemuan berikutnya ia bercerita sendiri tanpa saya minta.

“Seseorang kadang menyimpan terlalu banyak hal tidak penting dalam kotak keramatnya”

“Kotak keramat?”

“Ya, kotak kenangan. Yang kadang kita buka sesekali jika rindu menyerang. Dan banyak nama yang tercerai berai dan akhirnya kita menyesal pernah mengingatnya”

Lina seperti lebih tahu hidup daripada saya. Raut mukanya selalu serius saat berbicara. Bagaimana bisa ada laki-laki yang sanggup meninggalkan perempuan matang sepertinya. Apa ada yang salah dengannya? Atau mungkin ada sebutir rahasia getir lainnya yang belum sempat ia ceritakan?

“Kamu menyesal pernah berhubungan dengannya?”

“Sisa hidup saya tidak ada dimasa lalu. Saya hidup sekarang. Saya tidak ingin mengingatnya lagi”

Lina terluka. Lebih dari itu. Sebagaimana sepasang kekasih yang jatuh cinta, mereka juga terjebak dalam permainannya sendiri. Namun saat kehamilannya baru dua bulan laki-laki itu menyuruhnya aborsi. Buah cinta itu membusuk. Jadi cairan tidak sedap yang menggenang di ruang ingatannya. Sekalipun telah dilupakannya dengan segala cara.

Ehm, jika ada cinta kenapa memilih saling melukai. Apa cinta membuat orang gila dan berbuat yang aneh-aneh. Kata Lina itu juga masih dipikirkannya sampai sekarang. Termasuk kenapa ada perasaan terluka kemudian. Bentuk akhir yang paling umum dari hubungan manusia. 

“Apa cabang bayi itu ada di kotak keramat yang kau sebutkan tadi?”

Lina tak segera menjawab. Wajahnya lebih mirip orang yang ingin muntah. Dan benar saja, ia mohon diri untuk pulang karena sudah tidak tahan memandang langit biru dari bangunan paling tinggi di kota ini.

“Langit akan segera hitam. Saya sama sekali tak menyukai hujan atau gerimis”

Suaranya terputus-putus. Mungkin bukan itu yang ingin ia ucapkan sebenarnya. Mungkin hatinya berteriak, “Saya tidak suka hujan atau gerimis yang mengingatkan saya untuk menangis”.

Benarkah begitu?

Jika begitu saya sadar kenapa jantungnya berdegup dengan kencang setiap kali mendengar bunyi hujan. Percik darah dari selangkangan waktu proses pengguguran itu ia bilang mirip suara air hujan yang menyentuh genting. Nyaring. Mengiris.

Kesiap daun yang tertiup pelan di udara seperti nafasnya yang naik turun menahan sakit. Maka ia mulai membenci suara halus dedaunan yang sesungguhnya bagi sebagian orang sangat meneduhkan. Lantas ia mencari-cari keganjilan-keganjilan lain yang menenangkan meski orang lain menganggapnya aneh. Ia perkenalkan dirinya pada banyak laki-laki, berpetualang dalam medan yang asing, tanpa sedikitpun terikat.

Kenapa seperti itu Lina? Apa tidak ada yang tersentuh dengan kisahnya?

***

Di pusat kota ada sebuah taman dimana sebuah danau buatan terdapat di dalamnya. Ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dangan bebas setiap hari. Lina mengunjunginya dua kali seminggu. Tepat tengah hari. Kenapa? Ia akan mengulangi kalimatnya dengan mantap berkali-kali, karena di siang hari dari taman itu langit biru terlihat sangat indah.

Ya, langit biru. Ia ingin suatu waktu terbang dalam keleluasaannya.

Saya baru mengetahui tentang kebiasaannya itu hari ini. Dari nyonya Nirmala, ibunya. Dan saya menyesal kenapa baru mengetahuinya sekarang. Menyesal kenapa  membiarkannya pulang sendirian siang itu. Saya terlihat bodoh dengan perasaan semacam ini. Entah tersakiti atau terluka.

Ke langit birukah Lina sekarang?

Saya tiba dirumahnya setengah jam sebelum pemakamannya dilakukan. Banyak orang yang menangis. Menurut cerita ibunya mayatnya ditemukan mengambang di danau itu kemarin sore. Lina tenggelam. Mungkin, banyak yang tidak berani mengucapkan kemungkinannya. Bahwa Lina menenggelamkan dirinya. Sengaja mengakhiri hidupnya. Tepat di bawah langit biru yang maha luas dan ganjil. Tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Beginikah caranya?

Ah, yang jelas ada yang melihat angsa-angsa itu menuntun tubuhnya ke permukaan, menyeruak diantara bunga-bunga teratai yang sedang mekar. [T]

Catatan:

  • Cerpen ini termuat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” (Mahima Institute Indonesia, 2020).

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN-CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Ida Ayu Putri Adityarini | Di Utara Aku Melihat Laut

Next Post

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co