13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Komang Adnyana by Komang Adnyana
December 12, 2021
in Cerpen
Lina dan Angsa Taman Kota | Cerpen Komang Adnyana

Salah satu karya dalam Pameran Seni Rupa Undiksha Singaraja, November 2019

Lalu. Tiba-tiba Lina mengatakan ingin melupakan masa lalu. Tubuh saya nyeri mendengarnya. Ia terkesan sungguh-sungguh. Seperti menjadi sangat dewasa dalam waktu yang singkat. Kemudian berceritalah ia kenapa memilih demikian. Kenapa menginginkannya mendalam. Ia bukan lagi itik kecil, ia angsa dewasa dengan leher jenjang yang menggairahkan.

“Karena hidup saya tidak di masa lalu”

“Kamu pandai mengatasi masalah”

“Kamu keberatan?”

“Berhentilah mengeluh dan saya akan mencoba memahaminya secara wajar”

Lina tersenyum ganjil. Seganjil langit biru yang sering kami saksikan ketika kota menyanyikan lagu asing di terik yang membakar hari. Lagu asing yang melulu sepi. Melulu jemu. Tetapi Lina menyukainya. Menjadi ganjil konon kebebasan yang tertinggi. Menjadi diri sendiri. Dan di bumi ini yang menjadi ganjil amatlah sedikit. Ia berharga. Dan Lina adalah salah satunya. Ia ingin seseorang mengejar keganjilannya yang satu. Untuk kemudian diajaknya bersenang-senang dalam keganjilan-keganjilan hubungan berikutnya.

Begitulah Lina bercerita di perjumpaan yang pertama.

“Kamu mau melakukannya?” ia bertanya dengan kelebatan cahaya kecil dimatanya.

“Menjadi ganjil seperti yang kamu suka?”

Ia mengangguk. Meremas jemari saya. Saya terperanjat. Entah kenapa semua terbuka dengan luas secara tiba-tiba dan menggetarkan. Perasaan berlebih. Ingin yang menderu. Apa saya terlalu sensitif?

Ah, bukan Lina namanya kalau tidak bisa menangkap segala perubahan. Sekecil apapun. Ia membaca dengan penuh kebanggaan saat wajah saya menyembul merah. Ada gugup yang ditiupkan dengan kencang oleh angin tengah hari. Mengisi lorong hati saya yang kosong. Yang dingin.

Lina mengeratkan genggamannya. Menarik tangan saya menuju tugu di perempatan kota. Di ujung bangunan kami bertengger seperti sepasang burung. Sepasang? Batin saya kembali menggerutu. Kali ini lebih pada menyesali telah diam-diam menyimpan harapan. Harapan kepada sesuatu yang ganjil.

Begitu juga saat Lina melemparkan pandangannya jauh-jauh ke langit. Biru yang menyapu dengan perkasa. Atap kota yang angkuh dan kaku. Katanya ia suka mual-mual dan ingin segera muntah dibuatnya. Tetapi sekali lagi ia katakan tetap menemukan kesenangan berlebih. Keganjilan yang nyaman.

“Perasaan ingin muntah itu membuat saya tenang”

“Saya tidak mengerti”

“Semula saya menyimpan sejumlah ketakutan. Termasuk mengawali pagi adalah rutinitas paling mengerikan dalam hidup saya. Setelah menemukan kebiasaan aneh itu saya merasa tidak takut lagi”

Saya tercenung. Apa yang dikatakan Lina baru saja sedikitpun tidak mampu membuat saya mengira-ngira. Tetapi setelah ia menyebutkan sebuah nama. Dan itu nama lelaki, saya perlahan tahu bahwa ini masalah perasaan. Apakah cinta?

“Kamu tidak sedang berpura-pura bodoh di depan saya kan?” ia bertanya dengan sungguh-sungguh pada saya.

“Tentu tidak. Ia kekasihmu?”

Sungai kecil yang mengalir dari matanya cukup memberi jawaban. Lelaki itu kekasihnya dan mereka baru saja berpisah.

Namun Lina menggeleng. Lelaki itu bukan kekasihnya. Katanya ia orang lain. Orang asing. Seseorang yang dibencinya tetapi juga dikehendaki. Aneh! Perkara hubungan yang pelik sekaligus mengesankan. Bagaimana bisa menyimpan rasa benci dan ingin kepada satu orang dalam waktu bersamaan?

“Tentu saja bisa. Kamu mencintainya dan tiba-tiba ia meninggalkanmu. Itu saja!”

Lina lebih mirip memekik ketimbang bercerita. Langit biru mungkin berubah hitam dan menjadi gerimis dimatanya.

***

Lina, perempuan sembilan belas tahun, sedang patah hati. Sedang mencoba melupakan masa lalu. Memilih menjalani kehidupannya sehari demi sehari. Meski banyak hal yang katanya berubah. Bahkan suara hujan yang ramai di atap rumahnya membuat degup jantungnya tak teratur. Kadang melihat daun-daun jatuh melayang dengan dingin sebelum menyentuh tanah memaksanya menangis. Sendirian. Kesepian.

Apa tidak kasihan dengan semua kenangan? Saya tidak berani menanyakan pertanyaan yang mungkin membuatnya merasa dihakimi itu. Hanya di pertemuan berikutnya ia bercerita sendiri tanpa saya minta.

“Seseorang kadang menyimpan terlalu banyak hal tidak penting dalam kotak keramatnya”

“Kotak keramat?”

“Ya, kotak kenangan. Yang kadang kita buka sesekali jika rindu menyerang. Dan banyak nama yang tercerai berai dan akhirnya kita menyesal pernah mengingatnya”

Lina seperti lebih tahu hidup daripada saya. Raut mukanya selalu serius saat berbicara. Bagaimana bisa ada laki-laki yang sanggup meninggalkan perempuan matang sepertinya. Apa ada yang salah dengannya? Atau mungkin ada sebutir rahasia getir lainnya yang belum sempat ia ceritakan?

“Kamu menyesal pernah berhubungan dengannya?”

“Sisa hidup saya tidak ada dimasa lalu. Saya hidup sekarang. Saya tidak ingin mengingatnya lagi”

Lina terluka. Lebih dari itu. Sebagaimana sepasang kekasih yang jatuh cinta, mereka juga terjebak dalam permainannya sendiri. Namun saat kehamilannya baru dua bulan laki-laki itu menyuruhnya aborsi. Buah cinta itu membusuk. Jadi cairan tidak sedap yang menggenang di ruang ingatannya. Sekalipun telah dilupakannya dengan segala cara.

Ehm, jika ada cinta kenapa memilih saling melukai. Apa cinta membuat orang gila dan berbuat yang aneh-aneh. Kata Lina itu juga masih dipikirkannya sampai sekarang. Termasuk kenapa ada perasaan terluka kemudian. Bentuk akhir yang paling umum dari hubungan manusia. 

“Apa cabang bayi itu ada di kotak keramat yang kau sebutkan tadi?”

Lina tak segera menjawab. Wajahnya lebih mirip orang yang ingin muntah. Dan benar saja, ia mohon diri untuk pulang karena sudah tidak tahan memandang langit biru dari bangunan paling tinggi di kota ini.

“Langit akan segera hitam. Saya sama sekali tak menyukai hujan atau gerimis”

Suaranya terputus-putus. Mungkin bukan itu yang ingin ia ucapkan sebenarnya. Mungkin hatinya berteriak, “Saya tidak suka hujan atau gerimis yang mengingatkan saya untuk menangis”.

Benarkah begitu?

Jika begitu saya sadar kenapa jantungnya berdegup dengan kencang setiap kali mendengar bunyi hujan. Percik darah dari selangkangan waktu proses pengguguran itu ia bilang mirip suara air hujan yang menyentuh genting. Nyaring. Mengiris.

Kesiap daun yang tertiup pelan di udara seperti nafasnya yang naik turun menahan sakit. Maka ia mulai membenci suara halus dedaunan yang sesungguhnya bagi sebagian orang sangat meneduhkan. Lantas ia mencari-cari keganjilan-keganjilan lain yang menenangkan meski orang lain menganggapnya aneh. Ia perkenalkan dirinya pada banyak laki-laki, berpetualang dalam medan yang asing, tanpa sedikitpun terikat.

Kenapa seperti itu Lina? Apa tidak ada yang tersentuh dengan kisahnya?

***

Di pusat kota ada sebuah taman dimana sebuah danau buatan terdapat di dalamnya. Ada beberapa angsa berbulu indah yang berenang dangan bebas setiap hari. Lina mengunjunginya dua kali seminggu. Tepat tengah hari. Kenapa? Ia akan mengulangi kalimatnya dengan mantap berkali-kali, karena di siang hari dari taman itu langit biru terlihat sangat indah.

Ya, langit biru. Ia ingin suatu waktu terbang dalam keleluasaannya.

Saya baru mengetahui tentang kebiasaannya itu hari ini. Dari nyonya Nirmala, ibunya. Dan saya menyesal kenapa baru mengetahuinya sekarang. Menyesal kenapa  membiarkannya pulang sendirian siang itu. Saya terlihat bodoh dengan perasaan semacam ini. Entah tersakiti atau terluka.

Ke langit birukah Lina sekarang?

Saya tiba dirumahnya setengah jam sebelum pemakamannya dilakukan. Banyak orang yang menangis. Menurut cerita ibunya mayatnya ditemukan mengambang di danau itu kemarin sore. Lina tenggelam. Mungkin, banyak yang tidak berani mengucapkan kemungkinannya. Bahwa Lina menenggelamkan dirinya. Sengaja mengakhiri hidupnya. Tepat di bawah langit biru yang maha luas dan ganjil. Tepat setelah ia mengatakan ingin melupakan masa lalu.

Beginikah caranya?

Ah, yang jelas ada yang melihat angsa-angsa itu menuntun tubuhnya ke permukaan, menyeruak diantara bunga-bunga teratai yang sedang mekar. [T]

Catatan:

  • Cerpen ini termuat dalam buku kumpulan cerpen “Luka Batu” (Mahima Institute Indonesia, 2020).

_____

KLIK UNTUK BACA CERPEN-CERPEN LAIN

Tunas | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Ida Ayu Putri Adityarini | Di Utara Aku Melihat Laut

Next Post

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Indonesia Fact-Checking Summit 2021 Akan Bahas Isu Krusial Periksa Fakta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co