6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
November 8, 2021
in Ulasan
Lintasan Orkestrasi Kalangan | Catatan Pentas “Hero on the Way #1 Be.Kas”

Pementasan Hero on The Way edisi #1 pada Festival Bali Jani di Taman Budaya Denpasar, Bali, Selasa 2 November 2021, bagai sebuah orkestrasi yang disuguhkan Teater Kalangan. [Foto Teater Kalangan]

Pementasan Hero on The Way edisi #1  pada Festival Bali Jani di Taman Budaya Denpasar, Bali, Selasa 2 November 2021, bagai sebuah orkestrasi yang disuguhkan Teater Kalangan. Segalanya tumpah ruah dalam bentuk pilihan pemanggungan teater yang menyentuh sejarah dan persoalan sosial. Penonton disiapkan untuk mengetuk pintu masa lalu tentang biografi pahlawan, konteks kolonial, serta kenyataan era kini. Eksplorasi diawali dengan mendedah skema lampau Jalan Veteran, Denpasar.

Jalan Veteran diusung pertama kali sebagai situs pertunjukan mengingat badan jalan ini terpahat sekelumit cerita. Mulai dari bentang jalan Hotel Inna, perempatan pusat kota, hingga perempatan Tain Siat yang menjadi ruang Puputan Badung. Bila melewati lajur satu arah ini, akan banyak ditemui warisan arsitektur sejarah yang masih dipertahankan, barisan café kekinian, hingga interaksi sosial di pasar burung. Kini, Teater Kalangan berupaya menyerap makna narasi Jalan Veteran secara verbal dan visual ke ruang pertunjukkan.

Kepingan-Kepingan Ingatan

Saya yakin ada banyak studi yang telah dilakukan oleh sutradara, juga perajut naskah. Hal-hal yang diulik adalah romantisme masa silam dan kaitannya dengan keriuhan saat ini. Riset yang tak sekadar riset. Kerja riset yang dilakukan adalah aset sejarah dan kebudayaan yang patut diingat dalam ranah pemanggungan teater.

Penonton disuguhkan oleh rentangan fakta sejarah dan data yang berarak-arakan diucapkan aktor. Orientasi semacam ini adalah pilihan yang relatif baru di Bali. Retorika-retorika pemain dikemas dengan oratoris. Di sinilah, ruang waktu diciptakan oleh Teater Kalangan. Kepingan-kepingan data tidak hanya menjadi kepatuhan dalam kerja riset teater, tapi mampu mengetuk dimensi lampau, melipat jarak antar generasi, dan studi historis yang efisien.

Teater Kalangan mementaskan Hero on the Way #1 dalam Festival Bali Jani III [Foto Teater Kalangan]

Siklus-siklus semacam ini adalah hasil dari sutradara menyadarkan aktornya. Aktor diberikan ruang untuk merespon fakta dan data yang telah diberikan. Respon berupa dialog atau idiom gerak tubuh yang akan menjadi piranti dalam kontruksi alur dan arah presepsi. Presepsi-presepsi itu kemudian disulam menjadi pertunjukan yang riuh dan padat informasi. Di sini juga sutradara perlu mengukur ketahanan penonton menguyah informasi-informasi tersebut.

Terdapat orator yang serupa raja membeberkan fakta-fakta sejarah di setiap adegan. Kemudian disusul aktor yang bermonolog menjelaskan pentingnya ‘burung’ dan kaitannya dengan pasar burung di Jalan Veteran. Selain itu, adegan yang paling mengesankan adalah ketika Jalan Veteran dikaitkan dengan masakan ibu. Aktor yang kehilangan peran domestik ibu mempu memberi ruang ekspresi baru pada pementasan ini, sehingga pementasan tidak hanya menyoal fakta sejarah, melainkan mampu menyentuh memori keseharian keluarga. Namun sayang, pada adegan ini tidak dipoles dengan lebih dalam, atau secara tersirat dikaitkan dengan Jalan Vetran. Justru saat puncak emosi yang berhasil dibangun sang aktor, pilihan sutradara justru menghancurkan adegan ini.

Jalur yang Dihancurkan

Sebenarnya, pementasan Kalangan kali ini terlepas dari konsep ‘kacau’. Di sini tidak ada tendensi untuk membuat hal-hal yang berantakan. Segala keriuhan masih terukur.  Konflik yang hadir dijelaskan dengan narator yang bermonolog ditemani idiom-idiom gerakan sebagai ilustrasi. Transisi demi transisi yang terjaga membentuk jalur emosi yang utuh. Namun, di saat jalur emosi terbangun, sutradara merobohkannya. Dekonstruksi yang disebuat Jacques Derrida sebagai pembuka kemungkinan tafsiran melalui pembongkaran. Sutradara memilih membongkar ruang pemanggungan agar memungkinkan tafsir penonton dapat masuk dan menjadi upaya dalam mengisi kekosongan sosial.

Foto: Teater Kalangan

Bukan Teater Kalangan bila tidak memobilisasi penonton. Hal ini sudah menjadi signature pementasan. Semacam sudah menjadi format atau mungkin sudah menjadi kebakuan idealisme pemanggungan. Pilihaan-pilihan semacam ini tidak baru, semisal Teater Kalanari juga memilih konsep ini. Berinteraksi dengan penonton seperti ini adalah bentuk adaptasi dari drama gong yang lebih banyak menggunakan konsep impromptu atau improvisasi dialog. Penonton adalah bagian dari pemanggungan. Maka berisiaplah saat Teater Kalangan tampil, penonton tidak bisa pasif, kejutan-kejutan akan menggetarkan nalar kritis. Meski tidak banyak juga penonton yang siap dengan kejutan semacam ini.

Bagi Teater Kalangan, ini adalah strategi untuk mencairkan pikiran penonton yang terbiasa pasif saat menonton pertunjukan. Kini kehadiran mozaik-mozaik sejarah dan opini penonton menjadi sebuah jalur yang mencari kesimpulannya sendiri. Adanya forum diskusi di tengah pementasan sebagai ruang melebarkan batas penonton dengaan pemain, memperluas batas-batas pemanggungan, menyehatkan pikiran penonton, dan membangkitkan kesadaran publik.

Hal ini juga bisa dikatakan sebagai bentuk pemikiran postmodern yang sebagaimana dikatakan oleh Benny Yohanes adalah paradigma berpikir yang menyangkut pentingnya dekonstruksi terhadap teks. Adanya forum diskusi di tengah pementasan sebagai ruang mendobrak batas penonton dengan pemain. Yang dikhawatirkan pada proses dekonstruksi ini adalah tempo yang mengendur. Namun hal itu terbantahkan dengan gerakan penutup yang khusyuk.

Manisfestasi Pergerakan

Pergerakan-pergerakan panggung didekatkan pada penonton memang ciri khas Teater Kalangan, artistik yang langsung adalah tawaran dari skema-skema yang terencana dan terukur. Teater Kalangan sudah meremajakan format artistiknya. Kesukesan artistik muncul saat publik secara mental dan konseptual mendapatkan nilai-nilai. Jadi teater tidak hanya dipandangan sebagai hal-hal teknis belaka.

Skema artistik itu telah diupayakan Teater Kalangan melalui kehadiran tubuh yang menjadi mimesis dari dialog. Pengejawantahan kursi yang menjadi sarang burung, patung, jalan, dan hal-hal penguat ilustrasi. Kehadiran camera live yang ditampilkan di layar, membuka ruang pergerakannya tersendiri. Meski saya masih tidak tahu fungsi utama kehadiran camera live ini, karena tidak memperkuat pemanggungan, hanya sebagai bentuk tawaran baru.

Hal yang menarik sesungguhnya adalah pilihan membentangkan lakban marka jalan. Mulanya dibentangkan di muka panggung, kemudian dibentangkan di tengah bangku penonton. Relasi penggunaan benda seperti ini mendekatkan penonton dengan konteks narasi Jalan Veteran. Teater Kalangan tidak lagi terjebak pada konfrontasi ide. Namun sudah menyentuh replikasi yang eksploratif.

Selain itu bentuk penataan cahaya yang meningkatkan atmosfir pertunjukkan, serta gaya musikalitas yang konsisten. Segala unit-unit pertunjukan bergerak dengan jalur yang senada, satu jalur serupa Jalan Veteran. Pertanggung jawaban moral, sosial, dan sejarah dimunculkan dengan patriotisme.

Penataan artistik ini sangat berpotensi dipertahankan sehingga menjadi kehalusan emosi di tengah derasnya arus idelogi yang dipentaskan. Upaya mengajak penontonya berpikir krtisis bisa diimbangi dengan menggali stuktur batin, sehingga penonton diketuk kedalaman nuraninya untuk tergerak secara sadar.

Pementasan Hero on The Way edisi #1 adalah upaya menumbuhkan iklim intelektualitas yang kreatif. Masalah-masalah sosial diaktualisasi dengan fakta sejarah sehingga memantik respon aktif penontonya. Publik perlu membaca pementasan Teater Kalangan sebagai seni pertunjukkan yang historis dan menyegarkan. Nampaknya, tidak salah bila kita menempatkan Teater Kalangan sebagai harapan dan proyeksi teater yang menjanjikan di masa mendatang. Benar-benar work in pro-gress. [T]

Tags: Festival Bali JaniTeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hadiah Nobel Sastra 2021, Apresiasi Terhadap Sastra Kontekstual

Next Post

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani:  Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

“Furious Mother Earth” karya Arahmaiani: Warna Lain Ibu Pertiwi pada Dinding Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co