22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Tanaman: Babat Dulu, Lestarikan Kemudian

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 15, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Ada satu hal yang Grudug hindari bila tinggal di kampung: terlibat dalam upacara adat. Bagi sebagian orang, upacara adalah tempat untuk bertemu saudara, berkumpul, dan bergibah—itu idealnya—tapi adalah suatu tekanan bagi Grudug yang pengetahuannya di bawah rata-rata tentang segala pernik upacara, sopan-santun yang harus dituruti, dan segala keperluannya; semua itu rumit, seperti benang kusut yang tiba-tiba muncul di kepala bila ruwet memikirkan sesuatu.

Upacara seperti sebuah kepastian, akan tiba dan tidak mungkin untuk menghindarinya. Grudug pun demikian. Suatu waktu, ia tidak bisa menghindar. Seperti ketika upacara digelar di rumahnya. Orang tuanya sibuk menyiapkan Banten dan keperluan lainnya. Ia sebagai anak tunggal, muda—dan sedikit tidak bisa diandalkan—mendapat tugas sederhana, layaknya anak muda yang tumben urun dalam kegiatan adat: mencari beberapa jenis tanaman sebagai pelengkap sarana upacara. Orang tua, paman, sepupu yang sibuk tidak memberinya rambu-rambu tentang tanaman yang mesti dicari untuk keperluan upacara.

“Pergi ke rumah Paman Anu, tanya jenis-jenis tanaman yang diperlukan di sana,” kata salah seorang saudara padanya.

Dengan berat hati, Grudug menghubungi teman untuk membantunya memburu keperluan. Salah satu hal yang menempel di kepalanya ialah babakan badung. Entah apa yang disebut “babakan”, entah apa yang disebut “badung”. Kata-kata itu begitu asing. Masa kecilnya rasa-rasanya tidak tersentuh oleh tanaman macam itu—pengetahuannya tentang tanaman dangkal betul, mungkin ia pernah melihat, hanya saja tidak tahu nama. Dan, setelah ia berkunjung dan berat hati bertanya pada orang yang ditunjuk oleh saudara, lagi-lagi ia dilempar ke rumah-rumah tetangga. Tampaknya telah menjadi pengetahuan umum, jika seseorang memiliki tanaman yang dibutuhkan untuk upacara, maka akan sering dikunjungi tetangga.

Sejak saat itulah, pengetahuan Grudug tentang tanaman mulai bertambah. Beberapa di antaranya sudah ia tahu karena masa kecil anak kampung seusianya pasti sempat bersentuhan dengan tanaman seperti itu, hanya saja ia belum tahu nama dan fungsinya dalam upacara. Ia berpikir sejenak. “Betul bila upacara adalah salah satu ritus untuk mempertahankan tanaman tertentu, betul bahwa upacara menjadi satu tempat penurunan pengetahuan tentang tanaman, tapi bagaimana jika suatu tanaman tidak masuk dalam daftar yang dibutuhkan? Bolehkan kita menambah kebutuhan tanaman dalam upacara agar lebih banyak tanaman yang bertahan?” bisik Grudug dalam hati.

Ia kagum. Kagum atas pertanyaannya sendiri. “Orang cerdas harus bertanya cerdas,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, beberapa tanaman yang ia butuhkan itu sesungguhnya pernah ada di rumahnya. Tapi, semua tanaman itu dianggap kuno, tak bernilai estetik—entah apa yang ia maksud estetik—tak mirip taman di hotel… tak mirip taman di hotel!

Bayangkan saja, Grudug bermimpi taman di rumahnya tertata dengan tumbuhan yang ia anggap enak dipandang seperti villa, bungalow, bahkan motel. Eh… Hotel!

Sebelum Grudug menjadi negara api yang menyerang tamannya sendiri, sesungguhnya di halaman rumahnya ditumbuhi tanaman yang semuanya berguna; katakan saja, tanaman bunga, tanaman dengan daun-daun yang akan selalu diperlukan, bahkan toga, alias tanaman obat keluarga. Meski berwarna, tanaman bunga yang ada di kebunnya tidak ada dalam daftar bagus menurut hotel, jadi harus dicabut. Lalu begitu seterusnya dengan tanaman-tanaman lain. Ia mencabut semua hingga halaman rumahnya mirip taman di hotel.

“Orang-orang dulu memang tak mengenal keindahan,” katanya. Padahal, jika diingat-ingat, dulu, halaman rumah tidak memerlukan perhatian khusus. Tanaman tumbuh dan dipotong seperlunya dan semua itu bisa bercampur: cabai, bunga, kencur, kunyit, dan sebagainya. Tapi, sekarang, taman di halaman rumahnya harus dirawat, sebab tak ada yang masuk dalam daftar tumbuhan yang digunakan dalam ucapara atau kebutuhan lainnya. Jadi, jika lewat beberapa bulan, rumahnya akan lebat, dan dia harus menata lagi, misal: beberapa bagian harus dicukur agar tetap simetris dan rapi, sebagian lagi agar bentuknya tetap bagus, sebagian lainnya agar berbunga dan subur.

Kebiasaan memang bukan suatu yang gampang diubah. Di taman yang rapi, dengan pot-pot tertata, tiba-tiba tumbuh segerombolan cabai, tomat, gemitir, dan sebangsanya itu. Grudug tahu siapa yang mempunyai perkerjaan itu: paman atau bibi atau orang tuanya. “Mereka memang tidak paham kerapian,” ungkapnya.

Kebiasaan lama itu sesungguhnya sangat memudahkan. Dulu, sebelum sebagian besar halaman dibeton, tanah yang agak luang belum diisi rumput berkelas yang tidak boleh dicampur tanaman lain, cabai bisa tumbuh di mana-mana. Jadi, cabai bukan suatu hal yang sulit dicari, jika bukan di dekat dapur, di halaman rumah, paling tidak bisa ada di belakang rumah. Maka, tak ada keluhan cabai mahal, sebab sebatang-dua batang cabai sudah cukup untuk beberapa waktu.

Mungkin, jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita melestarikan tanaman?” tidak penting lagi, sebab, paling tidak, upacara telah membuat Grudug menjadi tahu bahwa tanaman yang semasa kecil hanya dia makan atau permainkan adalah tanaman penting yang mesti dijaga karena selalu dibutuhkan. Dan, lebih dari itu, halaman rumah adalah tempat untuk mendapatkan tanaman itu sebelum keinginan menjadikan halaman rumah seperti halaman villa yang perlu dirawat, yang harus selalu ditata, diperhatikan, yang sesungguhnya merepotkan.[T]

Tags: adatbalidesa adattanaman obattanaman organiktanaman pangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ito Joyoatmojo Mengenang Eddy Soetriyono: Majalah Tempo, Edith Piaf, dan Warna Lukisan

Next Post

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

“Abug Glebug”, Jaja Bali dari Pedawa | Biasa Dibuat Saat Tumpek Wariga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co