26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
October 6, 2021
in Esai
Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

Ilustrasi foto: Jayen Photography | WA: 0815-5800-7393

Surat Keterangan Bebas Narkoba sering dipakai sebagai salah suatu syarat administratif untuk melamar pekerjaan, melamar sekolah, bahkan melamar menjadi pejabat tertentu. Saya berkesempatan berinteraksi dan berbagai cerita dengan calon lurah, camat, anggota KPUD, anggota DPRD, kepala instansi, mahasiswa, dan lain-lain. Banyak di antara interaksi ini memberikan kesan mendalam dan perenungan untuk saya.

Pada suatu siang yang tidak terlalu menyengat datang seorang remaja lelaki, mengenakan pakaian yang cukup sopan, kemeja, celana panjang dan sepatu kets. Ia membawa sebuah ransel yang segera diletakkan di bawah, duduk dengan agak buru-buru dan memandang ke arah saya dengan siaga, siap untuk menghadapi wawancara yang mungkin baru pertama dijalaninya. Saya memandangnya sekilas dengan perasaan biasa saja, tidak terkesan, tidak juga meremehkan, hanya biasa saja.

Melihat jurusan fakultas apa yang akan ia masuki, pikiran saya terpicu untuk membuat wawancara ini lebih dari sekedar biasa saja. Selama tigabelas tahun saya menjadi dokter dan hampir 4 tahun menjadi pskiater, baru kali ini saya mewawancarai seorang remaja yang memilih untuk kuliah di jurusan ini. Jurusan yang jarang diminati. Padahal ilmu yang mempelajari perkembangan manusia dan budayanya ini menurut saya sangat penting.

“Kenapa memilih jurusan Antropologi?”

 “Karena saya menyukai ilmu antropologi”

“Sudah pernah baca buku antropologi apa saja?”

“Belum sih, Pak, eh, Dok. Cuma kalau Dokter tanya saya tentang sejarah leluhur saya, maka saya yakin saya bisa menjawabnya!”

Saya agak mengernyitkan kening, mungkin dia menyadarinya, dia tampak bersemangat, kemudian malah mengambil kendali pembicaraan.

“Saya sangat tertarik membaca kisah-kisah yang terkait dengan silsilah keluarga, seperti pada babad-babad di Bali. Apakah Dokter juga suka membaca hal seperti itu?”

“Iya, saya pernah sangat tertarik membaca sejarah keluarga saya, sejarah desa saya, sejarah Bali secara umum, dan saya rasa antropologi lebih luas daripada itu.”

“Oh ya, tadi Dokter bicara soal buku antropologi, apakah Dokter juga tertarik untuk membacanya?”

“Saya sempat membaca satu buku tentang Bali yang memberikan gambaran tentang kondisi Bali di masa penjajahan dahulu. Buku yang sangat membuka wawasan ini ditulis oleh seorang warga negara asing (WNA) yang jatuh cinta terhadap Bali. Tadinya saya pikir, kamu sudah membaca buku itu.”

“Belum, Pak, eh, Dok. Saya belum membacanya, apa judul buku itu ya, Dok?”

“Buku tersebut berjudul The Island of Bali yang ditulis oleh Miguel Covarrubias dan sudah dipublikasikan pada tahun 1937”

Saat itu saya merasakan sikap skeptis terhadap keputusan yang diambil oleh remaja ini, ada berbagai praduga yang tetiba muncul. Saya tidak yakin apakah dia mendapatkan gambaran yang tepat tentang antropologi. Namun saya tidak mau membiarkan diri saya menghakimi, dan seperti sebuah kompulsi, saya terdorong untuk mendiskusikannya lebih lanjut.

“Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan dengan narasumber seorang antropolog yang membahas bagaimana orang-orang Aceh dapat bangkit pasca tsunami. Bagaimana mereka menggunakan nilai budaya untuk memaknai bencana, mengatasi rasa kehilangan, dan menemukan semangat untuk move on. Satu praktik yang terutama didiskusikan adalah gotong royong.”

Saya tidak tahu, apakah saya terlalu bersemangat, terlalu mendominasi, dan apakah remaja ini memahami ocehan saya. Dia nampak bengong sebentar, seakan menarik napas dan mengambil waktu sejenak untuk mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Saya ingin menambahkan sedikit efek dramatis.

“Oh ya, saya lupa, antropolog ini juga seorang WNA yang terjun dan berinteraksi langsung ke masyarakat, melakukan suatu program dan meneliti keberhasilannya. Ia menuliskan lalu menyebarluaskan penelitiannya, hal yang perlu dijadikan budaya oleh orang Indonesia.”

Saya merasa kelewat bersemangat, lalu bertekad untuk memberinya kesempatan menanggapi apa yang saya sampaikan barusan. Namun saya seolah terdorong oleh entah semangat atau rasa narsisistik, tak ingin kehilangan momentum kesan tertegun di wajah polosnya.

“Kenapa bukan antropolog dari Indonesia yang dipilih untuk bicara pada workshop itu? Padahal kegiatan ini diadakan oleh sebuah institusi dalam negeri! Kenapa antropolog ini begitu fasih dan percaya diri bicara tentang Indonesia, kepada kami, para peserta dari Indonesia? Apa karena tidak ada antropolog Indonesia yang cukup kompeten? Masa sih seperti itu?”

“Maaf, Pak, eh, Dok. Saya ingin bertanya, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi?”

Ini adalah wawancara, kata nurani saya, perbincangan harus dialihkan karena saya yang seharusnya banyak bertanya, bukan sebaliknya.

“Apakah ada anggota keluargamu yang berprofesi sebagai antropolog?”

“Tidak ada, Dok, bahkan mereka mempertanyakan keputusan saya ini, dan berusaha untuk membatalkannya. Makanya saya ingin tahu, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi. Saya ingin lebih percaya diri menjalani keputusan saya ini. Saya ingin menemukan alasan, agar saya bisa lebih semangat.”

Saya menarik napas panjang, memandang ke arah remaja ini dengan sudut pandang berbeda, saya merasa lebih mengenalnya ketika dia lebih jujur, tulus mengakui perasaannya. Di satu sisi ia sudah mengambil keputusan penting dalam hidup. Di sisi lain, keputusan ini tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga. Mungkin saja, suatu saat ketika ia kurang sukses dalam menjalani keputusan ini (sesuai standar kesuksesan pada umumnya), akan ada orang yang berkomentar. “Kubilang juga apa, kamu bandel sih!” Saya pikir kesadaran terhadap hal ini menimbulkan riak-riak rasa kurang percaya dirinya.

“Saya seorang psikiater, tentu saya memerlukan pengetahuan antropologi untuk lebih memahami pasien saya. Saya merasa antropolog perlu lebih banyak tampil dan menulis tentang Indonesia, tentang  Bali. Belajarlah yang baik, banyaklah membaca, buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, kemudian mintalah bimbingan yang banyak, mentoring dari dosen-dosenmu. Kalau mereka membuat penelitian, ikuti mereka, gabung dalam timnya. Belajarlah menulis, karya ilmiah maupun populer, berikan pencerahan kepada masyarakat. Suatu saat keluargamu pun akan tercerahkan dan tidak lagi mempertanyakan keputusanmu. Saya rasa, memberi manfaat untuk profesi lain, masyarakat dan juga keluargamu, adalah alasan yang cukup bagus.”

Dia tercenung, posisi badannya relatif lebih condong ke depan dibandingkan saat pertama kali duduk tadi. Pandangan matanya pun terasa lebih tegas dan terkesan penuh tekad.

“Terimakasih, Dok, saya mendapatkan banyak pencerahan hari ini.”

Tidak terasa, sudah sekitar setengah jam kami berdialog. Dan setelah itu, pikiran saya masih melayang ke mana-mana, tentang bagaimana kira-kira masa depannya, tentang betapa bangganya saya nanti, ketika dia benar-benar menjadi seorang antropolog yang sukses.

Lalu saya tertegun, apa saya yakin dia akan menjadi seorang yang sukses? Kalau iya, kenapa pikiran saya tidak mencatat namanya? Lalu saya membatin, sambil menghibur diri. Kalau memang hari ini adalah hari yang sangat berarti buatnya, tentu sampai kapanpun dia akan ingat, dan suatu saat mungkin saja kami akan dipertemukan kembali. Dan entah bagaimana, dia akan mengingat saya. [T]

Tags: antropologantropologibaliPendidikansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Jaya dari Desa Les dan Bata Premium dari Desa Tulikup

Next Post

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co