12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Wayan Purne by Wayan Purne
October 6, 2021
in Dongeng
Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Ilustrasi gambar: Fuse art

Seekor kelinci bernama Lansa. Lansa hidup di sebuah gua yang berada di tengah hutan rimba yang sangat besar. Lansa, seekor kelinci yang selalu ingin menjaga penampilannya tetap menawan dan rupawan. Lansa merasa yang paling rupawan di antara binatang-binatang yang ada di hutan itu.

“Apa yang harus aku pakai agar aku semakin menawan dan bercahaya?” pikir Lansa.

Lansa mulai membuka lemari pakaian dan memperhatikan semua koleksi pakaiannya. Lansa hanya bengong, ia kebingungan tidak tahu harus memakai pakaian yang mana. Lansa merasa kesulitan memilih pakaian yang cocok dengan dirinya.

“Ahh, aku pakai topi ini,” gumam Lansa tersenyum senang.

Lansa memakai topi itu. Topi yang berwarna merah. Ia keluar dari gua memakai topi merah itu. Ia ingin menunjukkan keindahan topi merahnya. Ia mulai menelusuri hutan mencari teman-temannya.

“Pada kemana tema-temaku? Mengapa hari ini sepertinya mereka menghilang tiba-tiba?” pikir Lansa bingung.

Si Lansa melanjutkan perjalanannya.

“Mau kemana, Lansa?” sapa Beruang mengagetkan Lansa. Beruang asik bersandar di bawah pohon menikmati madu.

“Ternyata kamu di sini, Beruang,” ucap Lansa.

“Kenapa memangnya Lansa?” sahut Beruang tanpa memperhatikan Lansa.

“Beruang, coba lihat topi di kepalaku! Cocok gak denganku yang rupawan?” ucap Lansa tersenyum.

Beruang mulai memperhatikan topi yang dipakai oleh Lansa. Ia bengong melihat kepala Lansa.

“Beruang, cocok gak topiku ini?” tanya lagi Lansa.

“Cooocok-cocok, kamu pakai topi itu,” sahut Beruang tergagap akan desakan Lansa.

“Ah, pasti kamu bohong, Beruang!” ucap Lansa tak percaya.

“Benar, aku tak bohong Lansa,” jawab Beruang menahan tawanya.

Lansa percaya dengan ucapan Beruang. Ia merasa semakin yakin dengan topi yang ia pakai sangat cocok.

“Beruang, lebih baik aku pulang saja. Aku lihat teman-teman lainnya tidak ada,” ucap Lansa bahagia.

Beruang hanya mengangguk saja sambil masih menahan tawanya. Lansa pergi semakin  menjauh dari Beruang. Beruang juga lari berlawanan menjauhi Lansa karena sudah tidak kuat menahan tawanya.

“Haaa, sangat lucu melihat Lansa sebagai seekor kelinci memakai topi. Ia hanya memakai topi menutupi telinga panjangnya dan tidak memakai apa-apa,” gumam Beruang tertawa.

Beruang terus tertawa sampai binatang lain yang baru datang dari menjelajah terheran-heran. Mereka heran melihat Beruang terus tertawa. Akan tetapi, mereka juga ikut tertawa ketika mendengar cerita Beruang.

Lansa sudah sampai rumah. Ia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia lantas berdiri di depan cermin. Ia memperhatikan dirinya.

“Oh, ternyata aku hanya memakai topi. Aku harus pakai sepatu dan sandal agar semakin terlihat tampan,”pikir Lansa.

Lansa mengambil sepasang sepatu dan sepasang sandal dari dalam lemari. Ia memakai sepatu di kaki belakangnya dan sandal di kaki depannya. Ia kembali ke cermin memperhatikan penampilannya.

“Sungguh sempurna penampilanku ini. Aku sungguh tampan,” ucap Lansa memuji-muji dirinya sendiri.

Lansa sudah puas memuji dirinya sendiri sebagai seekor kelinci yang menawan di depan cermin. Ia keluar dari rumahnya.

“Lebih baik aku menemui Beruang. Pasti ia setuju dengan penampilanku sekarang. Mungkin ia sekarang sudah di rumah,” pikir Lansa tersenyum.

Sedangkan di rumah Beruang, ada banyak teman-temannya berkumpul sedang asyik mendengar cerita tentang Lansa memakai topi merah.

“Tok tok tok,” Lansa mengetuk pintu rumah Beruang.

Seketika suasana di dalam rumah Beruang menjadi hening ketika mereka mendengar ketukan pintu.

“Mungkin itu Lansa yang datang. Jika itu Lansa, kalian tidak boleh ada yang tertawa,” ucap Beruang.

Mereka yang ada di dalam rumah Beruang hanya mengangguk melihat kearah pintu penuh rasa penasaran. Beruang melangkah ke arah pintu dan mengintip melalui lubang kecil yang ada di pintu. Benar saja, Lansa dengan topi merah di kepalanya berdiri di depan pintu. Beruang segera membuka pintu rumahnya.

“Bagaima penampilanku, Beruang?” tanya Lansa.

“Cocok cocok cocok,” jawab Beruang memperhatikan kaki Lansa.

Beruang bengong melihat kaki Lansa, tetapi sontak tawa terbahak-bahak riuh di ruang tamu mengagetkan Lansa. Lansa tidak tahu ada teman-teman yang sedang berkumpul di rumah Beruang.

“Mengapa kalian tertawa?” ucap Lansa kecewa.

“Tidak ada apa-apa, Lansa. Mereka hanya senang melihat topi merah mu,” ucap Beruang mewakili teman-temannya.

“Ah, lebih baik pulang saja. Aku pasti terlihat aneh,” ucap Lansa marah.

Lansa pulang berlari kencang, tetapi ia tidak menyadari berpapasan dengan Kelinci cantik yang juga akan ke rumah Beruang. Kelinci cantik itu bernama Kelen. Kelen mengenakan dress pink yang membuatnya semakin cantik bercahaya.

Kelen sampai ke rumah Beruang. Ia terheran-heran dengan keriuhan yang telah terjadi.

“Apa terjadi di sini? Mengapa aku lihat Lansa tampan itu berlari sedih?” tanya Kelen bingung.

“Sebenarnya tidak ada apa-apa, tetapi mereka hanya tertawa karena Lansa memakai topi merah dan sepatu sandal yang berbeda sehingga terlihat lucu,” jawab Beruang tersenyum.

“Mengapa karena yang ia kenakan terlihat lucu, kalian tertawakan. Semestinya, kalian memberi tahu dia kalau yang dipakainya tidak cocok,” kata Kelen terlihat kesal.

Beruang dan teman-temanya hanya tertunduk diam mendengarkan ucapan kekesalan Kelen. Mereka merasa bersalah telah mertawakanya.

Kelen meninggalkan rumah Beruang. Ia berkeinginan menemui dan menghibur Lansa.

“Semoga Lansa ada di rumah,” pikir Kelen.

Sampailah Kelen di rumah  Lansa. Ia berdiri di depan pintu rumahnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu. Karena tidak ada yang membukakan pintu, Kelen mengintip melalui lubang kecil pintu, tetapi tidak terlihat ada Lansa.

“Siapa kamu? Mengapa ada di depan rumahku?” ucap Lansa mengaget Kelen.

Kelen menoleh kebelakang. Sontak Lansa kaget melihat Kelen.

“Wau, sungguh sangat anggun,” pikir Lansa.

“Aku ingin membantumu,” ucap Kelen memperhatikan penampilan Lansa.

“Membatu apa?” tanya Lansa terlihat tak bersemangat.

“Lihatlah dirimu! Kamu memakai topi merah yang menutupi semua telinga panjang indahmu. Kamu memakai sepatu yang berbeda ukuran di kaki belakangmu, tetapi kaki depanmu memakai sandal yang berbeda ukuran. Di tambah lagi, kamu tidak pakai baju dan celana. Itu menyebabkan kamu ditertawai oleh teman-temanmu karena terlihat lucu,” ucap Kelen.

Lansa hanya mengangguk sambil memperhatikan penampilannya sendiri.

“Mengapa kamu hanya diam saja? Ayo masuk ke rumahmu! Kita cari pakaian yang cocok,” ucap Kelen menarik tangan Lansa. Lansa hanya mengangguk mengikutinya.

 Lansa menunjukkan lemari pakaiannya. Kelen memilih pakaian yang cocok untuk Lansa

“Nah, ini baru pakaian yang cocok untuk mu dan semua kakimu memakai sepatu,” kata Kelen.

Kelen menjelaskan cara memilih pakaian yang cocok kepada Lansa agar tidak salah lagi memakai pakaian. Lansa dengan serius mendengarkan penjelasan Kelen.

“Ya, aku mengerti sekarang,” sahut Lansa.

Mereka memilih semua pakaian dan sepatu maupun sandal yang cocok. Kemudian, menempatkannya kembali dalam lemari. Kini, Lansa memiliki kepercayaan diri dalam berpakaian. [T]

Tags: dongengdongeng pendidikanPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

Next Post

Chef Competition di Adiwana Arkara Resort | Lestarikan Kuliner Nusantara

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Chef Competition di Adiwana Arkara Resort | Lestarikan Kuliner Nusantara

Chef Competition di Adiwana Arkara Resort | Lestarikan Kuliner Nusantara

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co