14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
October 6, 2021
in Esai
Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

Ilustrasi foto: Jayen Photography | WA: 0815-5800-7393

Surat Keterangan Bebas Narkoba sering dipakai sebagai salah suatu syarat administratif untuk melamar pekerjaan, melamar sekolah, bahkan melamar menjadi pejabat tertentu. Saya berkesempatan berinteraksi dan berbagai cerita dengan calon lurah, camat, anggota KPUD, anggota DPRD, kepala instansi, mahasiswa, dan lain-lain. Banyak di antara interaksi ini memberikan kesan mendalam dan perenungan untuk saya.

Pada suatu siang yang tidak terlalu menyengat datang seorang remaja lelaki, mengenakan pakaian yang cukup sopan, kemeja, celana panjang dan sepatu kets. Ia membawa sebuah ransel yang segera diletakkan di bawah, duduk dengan agak buru-buru dan memandang ke arah saya dengan siaga, siap untuk menghadapi wawancara yang mungkin baru pertama dijalaninya. Saya memandangnya sekilas dengan perasaan biasa saja, tidak terkesan, tidak juga meremehkan, hanya biasa saja.

Melihat jurusan fakultas apa yang akan ia masuki, pikiran saya terpicu untuk membuat wawancara ini lebih dari sekedar biasa saja. Selama tigabelas tahun saya menjadi dokter dan hampir 4 tahun menjadi pskiater, baru kali ini saya mewawancarai seorang remaja yang memilih untuk kuliah di jurusan ini. Jurusan yang jarang diminati. Padahal ilmu yang mempelajari perkembangan manusia dan budayanya ini menurut saya sangat penting.

“Kenapa memilih jurusan Antropologi?”

 “Karena saya menyukai ilmu antropologi”

“Sudah pernah baca buku antropologi apa saja?”

“Belum sih, Pak, eh, Dok. Cuma kalau Dokter tanya saya tentang sejarah leluhur saya, maka saya yakin saya bisa menjawabnya!”

Saya agak mengernyitkan kening, mungkin dia menyadarinya, dia tampak bersemangat, kemudian malah mengambil kendali pembicaraan.

“Saya sangat tertarik membaca kisah-kisah yang terkait dengan silsilah keluarga, seperti pada babad-babad di Bali. Apakah Dokter juga suka membaca hal seperti itu?”

“Iya, saya pernah sangat tertarik membaca sejarah keluarga saya, sejarah desa saya, sejarah Bali secara umum, dan saya rasa antropologi lebih luas daripada itu.”

“Oh ya, tadi Dokter bicara soal buku antropologi, apakah Dokter juga tertarik untuk membacanya?”

“Saya sempat membaca satu buku tentang Bali yang memberikan gambaran tentang kondisi Bali di masa penjajahan dahulu. Buku yang sangat membuka wawasan ini ditulis oleh seorang warga negara asing (WNA) yang jatuh cinta terhadap Bali. Tadinya saya pikir, kamu sudah membaca buku itu.”

“Belum, Pak, eh, Dok. Saya belum membacanya, apa judul buku itu ya, Dok?”

“Buku tersebut berjudul The Island of Bali yang ditulis oleh Miguel Covarrubias dan sudah dipublikasikan pada tahun 1937”

Saat itu saya merasakan sikap skeptis terhadap keputusan yang diambil oleh remaja ini, ada berbagai praduga yang tetiba muncul. Saya tidak yakin apakah dia mendapatkan gambaran yang tepat tentang antropologi. Namun saya tidak mau membiarkan diri saya menghakimi, dan seperti sebuah kompulsi, saya terdorong untuk mendiskusikannya lebih lanjut.

“Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan dengan narasumber seorang antropolog yang membahas bagaimana orang-orang Aceh dapat bangkit pasca tsunami. Bagaimana mereka menggunakan nilai budaya untuk memaknai bencana, mengatasi rasa kehilangan, dan menemukan semangat untuk move on. Satu praktik yang terutama didiskusikan adalah gotong royong.”

Saya tidak tahu, apakah saya terlalu bersemangat, terlalu mendominasi, dan apakah remaja ini memahami ocehan saya. Dia nampak bengong sebentar, seakan menarik napas dan mengambil waktu sejenak untuk mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Saya ingin menambahkan sedikit efek dramatis.

“Oh ya, saya lupa, antropolog ini juga seorang WNA yang terjun dan berinteraksi langsung ke masyarakat, melakukan suatu program dan meneliti keberhasilannya. Ia menuliskan lalu menyebarluaskan penelitiannya, hal yang perlu dijadikan budaya oleh orang Indonesia.”

Saya merasa kelewat bersemangat, lalu bertekad untuk memberinya kesempatan menanggapi apa yang saya sampaikan barusan. Namun saya seolah terdorong oleh entah semangat atau rasa narsisistik, tak ingin kehilangan momentum kesan tertegun di wajah polosnya.

“Kenapa bukan antropolog dari Indonesia yang dipilih untuk bicara pada workshop itu? Padahal kegiatan ini diadakan oleh sebuah institusi dalam negeri! Kenapa antropolog ini begitu fasih dan percaya diri bicara tentang Indonesia, kepada kami, para peserta dari Indonesia? Apa karena tidak ada antropolog Indonesia yang cukup kompeten? Masa sih seperti itu?”

“Maaf, Pak, eh, Dok. Saya ingin bertanya, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi?”

Ini adalah wawancara, kata nurani saya, perbincangan harus dialihkan karena saya yang seharusnya banyak bertanya, bukan sebaliknya.

“Apakah ada anggota keluargamu yang berprofesi sebagai antropolog?”

“Tidak ada, Dok, bahkan mereka mempertanyakan keputusan saya ini, dan berusaha untuk membatalkannya. Makanya saya ingin tahu, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi. Saya ingin lebih percaya diri menjalani keputusan saya ini. Saya ingin menemukan alasan, agar saya bisa lebih semangat.”

Saya menarik napas panjang, memandang ke arah remaja ini dengan sudut pandang berbeda, saya merasa lebih mengenalnya ketika dia lebih jujur, tulus mengakui perasaannya. Di satu sisi ia sudah mengambil keputusan penting dalam hidup. Di sisi lain, keputusan ini tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga. Mungkin saja, suatu saat ketika ia kurang sukses dalam menjalani keputusan ini (sesuai standar kesuksesan pada umumnya), akan ada orang yang berkomentar. “Kubilang juga apa, kamu bandel sih!” Saya pikir kesadaran terhadap hal ini menimbulkan riak-riak rasa kurang percaya dirinya.

“Saya seorang psikiater, tentu saya memerlukan pengetahuan antropologi untuk lebih memahami pasien saya. Saya merasa antropolog perlu lebih banyak tampil dan menulis tentang Indonesia, tentang  Bali. Belajarlah yang baik, banyaklah membaca, buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, kemudian mintalah bimbingan yang banyak, mentoring dari dosen-dosenmu. Kalau mereka membuat penelitian, ikuti mereka, gabung dalam timnya. Belajarlah menulis, karya ilmiah maupun populer, berikan pencerahan kepada masyarakat. Suatu saat keluargamu pun akan tercerahkan dan tidak lagi mempertanyakan keputusanmu. Saya rasa, memberi manfaat untuk profesi lain, masyarakat dan juga keluargamu, adalah alasan yang cukup bagus.”

Dia tercenung, posisi badannya relatif lebih condong ke depan dibandingkan saat pertama kali duduk tadi. Pandangan matanya pun terasa lebih tegas dan terkesan penuh tekad.

“Terimakasih, Dok, saya mendapatkan banyak pencerahan hari ini.”

Tidak terasa, sudah sekitar setengah jam kami berdialog. Dan setelah itu, pikiran saya masih melayang ke mana-mana, tentang bagaimana kira-kira masa depannya, tentang betapa bangganya saya nanti, ketika dia benar-benar menjadi seorang antropolog yang sukses.

Lalu saya tertegun, apa saya yakin dia akan menjadi seorang yang sukses? Kalau iya, kenapa pikiran saya tidak mencatat namanya? Lalu saya membatin, sambil menghibur diri. Kalau memang hari ini adalah hari yang sangat berarti buatnya, tentu sampai kapanpun dia akan ingat, dan suatu saat mungkin saja kami akan dipertemukan kembali. Dan entah bagaimana, dia akan mengingat saya. [T]

Tags: antropologantropologibaliPendidikansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Jaya dari Desa Les dan Bata Premium dari Desa Tulikup

Next Post

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co