3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
October 6, 2021
in Esai
Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

Ilustrasi foto: Jayen Photography | WA: 0815-5800-7393

Surat Keterangan Bebas Narkoba sering dipakai sebagai salah suatu syarat administratif untuk melamar pekerjaan, melamar sekolah, bahkan melamar menjadi pejabat tertentu. Saya berkesempatan berinteraksi dan berbagai cerita dengan calon lurah, camat, anggota KPUD, anggota DPRD, kepala instansi, mahasiswa, dan lain-lain. Banyak di antara interaksi ini memberikan kesan mendalam dan perenungan untuk saya.

Pada suatu siang yang tidak terlalu menyengat datang seorang remaja lelaki, mengenakan pakaian yang cukup sopan, kemeja, celana panjang dan sepatu kets. Ia membawa sebuah ransel yang segera diletakkan di bawah, duduk dengan agak buru-buru dan memandang ke arah saya dengan siaga, siap untuk menghadapi wawancara yang mungkin baru pertama dijalaninya. Saya memandangnya sekilas dengan perasaan biasa saja, tidak terkesan, tidak juga meremehkan, hanya biasa saja.

Melihat jurusan fakultas apa yang akan ia masuki, pikiran saya terpicu untuk membuat wawancara ini lebih dari sekedar biasa saja. Selama tigabelas tahun saya menjadi dokter dan hampir 4 tahun menjadi pskiater, baru kali ini saya mewawancarai seorang remaja yang memilih untuk kuliah di jurusan ini. Jurusan yang jarang diminati. Padahal ilmu yang mempelajari perkembangan manusia dan budayanya ini menurut saya sangat penting.

“Kenapa memilih jurusan Antropologi?”

 “Karena saya menyukai ilmu antropologi”

“Sudah pernah baca buku antropologi apa saja?”

“Belum sih, Pak, eh, Dok. Cuma kalau Dokter tanya saya tentang sejarah leluhur saya, maka saya yakin saya bisa menjawabnya!”

Saya agak mengernyitkan kening, mungkin dia menyadarinya, dia tampak bersemangat, kemudian malah mengambil kendali pembicaraan.

“Saya sangat tertarik membaca kisah-kisah yang terkait dengan silsilah keluarga, seperti pada babad-babad di Bali. Apakah Dokter juga suka membaca hal seperti itu?”

“Iya, saya pernah sangat tertarik membaca sejarah keluarga saya, sejarah desa saya, sejarah Bali secara umum, dan saya rasa antropologi lebih luas daripada itu.”

“Oh ya, tadi Dokter bicara soal buku antropologi, apakah Dokter juga tertarik untuk membacanya?”

“Saya sempat membaca satu buku tentang Bali yang memberikan gambaran tentang kondisi Bali di masa penjajahan dahulu. Buku yang sangat membuka wawasan ini ditulis oleh seorang warga negara asing (WNA) yang jatuh cinta terhadap Bali. Tadinya saya pikir, kamu sudah membaca buku itu.”

“Belum, Pak, eh, Dok. Saya belum membacanya, apa judul buku itu ya, Dok?”

“Buku tersebut berjudul The Island of Bali yang ditulis oleh Miguel Covarrubias dan sudah dipublikasikan pada tahun 1937”

Saat itu saya merasakan sikap skeptis terhadap keputusan yang diambil oleh remaja ini, ada berbagai praduga yang tetiba muncul. Saya tidak yakin apakah dia mendapatkan gambaran yang tepat tentang antropologi. Namun saya tidak mau membiarkan diri saya menghakimi, dan seperti sebuah kompulsi, saya terdorong untuk mendiskusikannya lebih lanjut.

“Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan dengan narasumber seorang antropolog yang membahas bagaimana orang-orang Aceh dapat bangkit pasca tsunami. Bagaimana mereka menggunakan nilai budaya untuk memaknai bencana, mengatasi rasa kehilangan, dan menemukan semangat untuk move on. Satu praktik yang terutama didiskusikan adalah gotong royong.”

Saya tidak tahu, apakah saya terlalu bersemangat, terlalu mendominasi, dan apakah remaja ini memahami ocehan saya. Dia nampak bengong sebentar, seakan menarik napas dan mengambil waktu sejenak untuk mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Saya ingin menambahkan sedikit efek dramatis.

“Oh ya, saya lupa, antropolog ini juga seorang WNA yang terjun dan berinteraksi langsung ke masyarakat, melakukan suatu program dan meneliti keberhasilannya. Ia menuliskan lalu menyebarluaskan penelitiannya, hal yang perlu dijadikan budaya oleh orang Indonesia.”

Saya merasa kelewat bersemangat, lalu bertekad untuk memberinya kesempatan menanggapi apa yang saya sampaikan barusan. Namun saya seolah terdorong oleh entah semangat atau rasa narsisistik, tak ingin kehilangan momentum kesan tertegun di wajah polosnya.

“Kenapa bukan antropolog dari Indonesia yang dipilih untuk bicara pada workshop itu? Padahal kegiatan ini diadakan oleh sebuah institusi dalam negeri! Kenapa antropolog ini begitu fasih dan percaya diri bicara tentang Indonesia, kepada kami, para peserta dari Indonesia? Apa karena tidak ada antropolog Indonesia yang cukup kompeten? Masa sih seperti itu?”

“Maaf, Pak, eh, Dok. Saya ingin bertanya, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi?”

Ini adalah wawancara, kata nurani saya, perbincangan harus dialihkan karena saya yang seharusnya banyak bertanya, bukan sebaliknya.

“Apakah ada anggota keluargamu yang berprofesi sebagai antropolog?”

“Tidak ada, Dok, bahkan mereka mempertanyakan keputusan saya ini, dan berusaha untuk membatalkannya. Makanya saya ingin tahu, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi. Saya ingin lebih percaya diri menjalani keputusan saya ini. Saya ingin menemukan alasan, agar saya bisa lebih semangat.”

Saya menarik napas panjang, memandang ke arah remaja ini dengan sudut pandang berbeda, saya merasa lebih mengenalnya ketika dia lebih jujur, tulus mengakui perasaannya. Di satu sisi ia sudah mengambil keputusan penting dalam hidup. Di sisi lain, keputusan ini tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga. Mungkin saja, suatu saat ketika ia kurang sukses dalam menjalani keputusan ini (sesuai standar kesuksesan pada umumnya), akan ada orang yang berkomentar. “Kubilang juga apa, kamu bandel sih!” Saya pikir kesadaran terhadap hal ini menimbulkan riak-riak rasa kurang percaya dirinya.

“Saya seorang psikiater, tentu saya memerlukan pengetahuan antropologi untuk lebih memahami pasien saya. Saya merasa antropolog perlu lebih banyak tampil dan menulis tentang Indonesia, tentang  Bali. Belajarlah yang baik, banyaklah membaca, buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, kemudian mintalah bimbingan yang banyak, mentoring dari dosen-dosenmu. Kalau mereka membuat penelitian, ikuti mereka, gabung dalam timnya. Belajarlah menulis, karya ilmiah maupun populer, berikan pencerahan kepada masyarakat. Suatu saat keluargamu pun akan tercerahkan dan tidak lagi mempertanyakan keputusanmu. Saya rasa, memberi manfaat untuk profesi lain, masyarakat dan juga keluargamu, adalah alasan yang cukup bagus.”

Dia tercenung, posisi badannya relatif lebih condong ke depan dibandingkan saat pertama kali duduk tadi. Pandangan matanya pun terasa lebih tegas dan terkesan penuh tekad.

“Terimakasih, Dok, saya mendapatkan banyak pencerahan hari ini.”

Tidak terasa, sudah sekitar setengah jam kami berdialog. Dan setelah itu, pikiran saya masih melayang ke mana-mana, tentang bagaimana kira-kira masa depannya, tentang betapa bangganya saya nanti, ketika dia benar-benar menjadi seorang antropolog yang sukses.

Lalu saya tertegun, apa saya yakin dia akan menjadi seorang yang sukses? Kalau iya, kenapa pikiran saya tidak mencatat namanya? Lalu saya membatin, sambil menghibur diri. Kalau memang hari ini adalah hari yang sangat berarti buatnya, tentu sampai kapanpun dia akan ingat, dan suatu saat mungkin saja kami akan dipertemukan kembali. Dan entah bagaimana, dia akan mengingat saya. [T]

Tags: antropologantropologibaliPendidikansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Jaya dari Desa Les dan Bata Premium dari Desa Tulikup

Next Post

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co