4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

dr. I Ketut Arya Santosa by dr. I Ketut Arya Santosa
October 6, 2021
in Esai
Memikirkan Seorang Remaja yang Bercita-cita jadi Antropolog

Ilustrasi foto: Jayen Photography | WA: 0815-5800-7393

Surat Keterangan Bebas Narkoba sering dipakai sebagai salah suatu syarat administratif untuk melamar pekerjaan, melamar sekolah, bahkan melamar menjadi pejabat tertentu. Saya berkesempatan berinteraksi dan berbagai cerita dengan calon lurah, camat, anggota KPUD, anggota DPRD, kepala instansi, mahasiswa, dan lain-lain. Banyak di antara interaksi ini memberikan kesan mendalam dan perenungan untuk saya.

Pada suatu siang yang tidak terlalu menyengat datang seorang remaja lelaki, mengenakan pakaian yang cukup sopan, kemeja, celana panjang dan sepatu kets. Ia membawa sebuah ransel yang segera diletakkan di bawah, duduk dengan agak buru-buru dan memandang ke arah saya dengan siaga, siap untuk menghadapi wawancara yang mungkin baru pertama dijalaninya. Saya memandangnya sekilas dengan perasaan biasa saja, tidak terkesan, tidak juga meremehkan, hanya biasa saja.

Melihat jurusan fakultas apa yang akan ia masuki, pikiran saya terpicu untuk membuat wawancara ini lebih dari sekedar biasa saja. Selama tigabelas tahun saya menjadi dokter dan hampir 4 tahun menjadi pskiater, baru kali ini saya mewawancarai seorang remaja yang memilih untuk kuliah di jurusan ini. Jurusan yang jarang diminati. Padahal ilmu yang mempelajari perkembangan manusia dan budayanya ini menurut saya sangat penting.

“Kenapa memilih jurusan Antropologi?”

 “Karena saya menyukai ilmu antropologi”

“Sudah pernah baca buku antropologi apa saja?”

“Belum sih, Pak, eh, Dok. Cuma kalau Dokter tanya saya tentang sejarah leluhur saya, maka saya yakin saya bisa menjawabnya!”

Saya agak mengernyitkan kening, mungkin dia menyadarinya, dia tampak bersemangat, kemudian malah mengambil kendali pembicaraan.

“Saya sangat tertarik membaca kisah-kisah yang terkait dengan silsilah keluarga, seperti pada babad-babad di Bali. Apakah Dokter juga suka membaca hal seperti itu?”

“Iya, saya pernah sangat tertarik membaca sejarah keluarga saya, sejarah desa saya, sejarah Bali secara umum, dan saya rasa antropologi lebih luas daripada itu.”

“Oh ya, tadi Dokter bicara soal buku antropologi, apakah Dokter juga tertarik untuk membacanya?”

“Saya sempat membaca satu buku tentang Bali yang memberikan gambaran tentang kondisi Bali di masa penjajahan dahulu. Buku yang sangat membuka wawasan ini ditulis oleh seorang warga negara asing (WNA) yang jatuh cinta terhadap Bali. Tadinya saya pikir, kamu sudah membaca buku itu.”

“Belum, Pak, eh, Dok. Saya belum membacanya, apa judul buku itu ya, Dok?”

“Buku tersebut berjudul The Island of Bali yang ditulis oleh Miguel Covarrubias dan sudah dipublikasikan pada tahun 1937”

Saat itu saya merasakan sikap skeptis terhadap keputusan yang diambil oleh remaja ini, ada berbagai praduga yang tetiba muncul. Saya tidak yakin apakah dia mendapatkan gambaran yang tepat tentang antropologi. Namun saya tidak mau membiarkan diri saya menghakimi, dan seperti sebuah kompulsi, saya terdorong untuk mendiskusikannya lebih lanjut.

“Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan dengan narasumber seorang antropolog yang membahas bagaimana orang-orang Aceh dapat bangkit pasca tsunami. Bagaimana mereka menggunakan nilai budaya untuk memaknai bencana, mengatasi rasa kehilangan, dan menemukan semangat untuk move on. Satu praktik yang terutama didiskusikan adalah gotong royong.”

Saya tidak tahu, apakah saya terlalu bersemangat, terlalu mendominasi, dan apakah remaja ini memahami ocehan saya. Dia nampak bengong sebentar, seakan menarik napas dan mengambil waktu sejenak untuk mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Saya ingin menambahkan sedikit efek dramatis.

“Oh ya, saya lupa, antropolog ini juga seorang WNA yang terjun dan berinteraksi langsung ke masyarakat, melakukan suatu program dan meneliti keberhasilannya. Ia menuliskan lalu menyebarluaskan penelitiannya, hal yang perlu dijadikan budaya oleh orang Indonesia.”

Saya merasa kelewat bersemangat, lalu bertekad untuk memberinya kesempatan menanggapi apa yang saya sampaikan barusan. Namun saya seolah terdorong oleh entah semangat atau rasa narsisistik, tak ingin kehilangan momentum kesan tertegun di wajah polosnya.

“Kenapa bukan antropolog dari Indonesia yang dipilih untuk bicara pada workshop itu? Padahal kegiatan ini diadakan oleh sebuah institusi dalam negeri! Kenapa antropolog ini begitu fasih dan percaya diri bicara tentang Indonesia, kepada kami, para peserta dari Indonesia? Apa karena tidak ada antropolog Indonesia yang cukup kompeten? Masa sih seperti itu?”

“Maaf, Pak, eh, Dok. Saya ingin bertanya, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi?”

Ini adalah wawancara, kata nurani saya, perbincangan harus dialihkan karena saya yang seharusnya banyak bertanya, bukan sebaliknya.

“Apakah ada anggota keluargamu yang berprofesi sebagai antropolog?”

“Tidak ada, Dok, bahkan mereka mempertanyakan keputusan saya ini, dan berusaha untuk membatalkannya. Makanya saya ingin tahu, kenapa Dokter tertarik dengan antropologi. Saya ingin lebih percaya diri menjalani keputusan saya ini. Saya ingin menemukan alasan, agar saya bisa lebih semangat.”

Saya menarik napas panjang, memandang ke arah remaja ini dengan sudut pandang berbeda, saya merasa lebih mengenalnya ketika dia lebih jujur, tulus mengakui perasaannya. Di satu sisi ia sudah mengambil keputusan penting dalam hidup. Di sisi lain, keputusan ini tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga. Mungkin saja, suatu saat ketika ia kurang sukses dalam menjalani keputusan ini (sesuai standar kesuksesan pada umumnya), akan ada orang yang berkomentar. “Kubilang juga apa, kamu bandel sih!” Saya pikir kesadaran terhadap hal ini menimbulkan riak-riak rasa kurang percaya dirinya.

“Saya seorang psikiater, tentu saya memerlukan pengetahuan antropologi untuk lebih memahami pasien saya. Saya merasa antropolog perlu lebih banyak tampil dan menulis tentang Indonesia, tentang  Bali. Belajarlah yang baik, banyaklah membaca, buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah, kemudian mintalah bimbingan yang banyak, mentoring dari dosen-dosenmu. Kalau mereka membuat penelitian, ikuti mereka, gabung dalam timnya. Belajarlah menulis, karya ilmiah maupun populer, berikan pencerahan kepada masyarakat. Suatu saat keluargamu pun akan tercerahkan dan tidak lagi mempertanyakan keputusanmu. Saya rasa, memberi manfaat untuk profesi lain, masyarakat dan juga keluargamu, adalah alasan yang cukup bagus.”

Dia tercenung, posisi badannya relatif lebih condong ke depan dibandingkan saat pertama kali duduk tadi. Pandangan matanya pun terasa lebih tegas dan terkesan penuh tekad.

“Terimakasih, Dok, saya mendapatkan banyak pencerahan hari ini.”

Tidak terasa, sudah sekitar setengah jam kami berdialog. Dan setelah itu, pikiran saya masih melayang ke mana-mana, tentang bagaimana kira-kira masa depannya, tentang betapa bangganya saya nanti, ketika dia benar-benar menjadi seorang antropolog yang sukses.

Lalu saya tertegun, apa saya yakin dia akan menjadi seorang yang sukses? Kalau iya, kenapa pikiran saya tidak mencatat namanya? Lalu saya membatin, sambil menghibur diri. Kalau memang hari ini adalah hari yang sangat berarti buatnya, tentu sampai kapanpun dia akan ingat, dan suatu saat mungkin saja kami akan dipertemukan kembali. Dan entah bagaimana, dia akan mengingat saya. [T]

Tags: antropologantropologibaliPendidikansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Jaya dari Desa Les dan Bata Premium dari Desa Tulikup

Next Post

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

dr. I Ketut Arya Santosa

dr. I Ketut Arya Santosa

Lahir di Ulakan, Karangasem, 9 September 1983. Psikiater RS Jiwa Provinsi Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Kelinci Rupawan | Dongeng Pendidikan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co