6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Dian Suryantini by Dian Suryantini
July 26, 2021
in Khas
Mangrove Tumbuh Riang di Pejarakan: Ikan Senang, Nelayan Senang

Menyusuri jembatan bambu di tengah taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng, Bali

Jembatan bambu itu memanjang lurus di sela-sela hutan bakau. Saya menyusuri jembatan itu perlahan, terasa seperti memasuki lorong dengan dinding hutan yang hijau. Apalagi, di setiap satu kilometer, terdapat gazebo kecil sebagai tempat jeda. Dari gazebo, lihatlah ke bawah, ke dalam air di antara akar pohon. Ikan-ikan kecil wara-wiri ke sana kemari. Mereka nampak bahagia.

Jembatan panjang lurus itu berada di kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Setengah hari saya berjalan-jalan di atas jembatan, menikmati beragam jenis mangrove.

“Ada duabelas jenis pohon mangrove atau bakau di hutan ini, semuanya asli dari Desa Pejarakan,” kata Abdul Hari, Kamis (22/7/2021). Abdul Hari yang biasa disapa Riri adalah Ketua Satgas Lingkungan Desa Pejarakan yang bersedia menemani saya berkeliling hutan.

Saya dengan santai menapaki jembatan bambu yang terbentang sepanjang hutan. Selain ikan, sesekali saya lirik ada kepiting kecil yang berjalan miring di akar-akar tunjang. Ombak laut sesekali menepi menghempas lembut pohon bakau. Ahh, damai sekali rasanya.

Di tengah hutan saya melihat ibu-ibu yang sedang mengumpulkan ranting-ranting mangrove kering. Ranting kering memang diizinkan untuk diambil sebagai kayu bakar. Di Pejarakan memang banyak warga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Tentang 12 jenis mangrove yang ada di kawasan Desa Pejarakan, Riri menjelaskan jenis pertama adalah Rhizepora, Sp. Jenis ini ada tiga yaitu Rhizepora Mucronata, Rhizepora Setylosa, Rhizepora Apiculata. Jenis berikutnya adalag Ceriops. Jenis ini juga dibagi menjadi dua, Ceriops Tagal dan Ceriops Ustralis. Lalu ada Sonnaratia Alba, Lumitzera Recemosa, Bruguera Gymnorrhiza, Acegiras Grinatum, Oxbornea Grinatum.

Masing-masing dari jenis itu memiliki wilayah pertumbuhan yang berbeda berdasarkan subtrat atau media tanamnya. Namun secara umum manfaat dan fungsinya sama. Yakni sebagai penahan gelombang air laut. “Dari jenis itu ada yang ditanam lebih dominan karena cocok dengan subtratnya. Seperti misalnya, di daerah Teluk Banyuwedang lebih dominan jenis Rhizepora,sp. Lalu di kawasan Putri Menjangan tempat saya berjalan-jalan itu lebih ke penanaman mangrove jenis Sonnaratia Alba. Tapi Rhezipora juga ada,” kata Riri.

Jika bergerak lebih ke timur, terutama di wilayah Pura Batu Togog sampai ke Teluk Sumbekima, akan ditemukan lebih banyak lagi jenis mangrove. Sebab kultur tanah atau subtratnya bervariatif dengan kondisinya hampir semimbang. “Semua jenis bisa dijumpai di sana,” kata Riri.

Apalagi, di Teluk Banyuwedang kondisi tanahnya berlumpur, ada pasir dan kerikil. Kondisi semacam itu membuat pertumbuhan jenis Sonaratia Alba lebih cepat. Jenis ini tumbuh dari biji-biji buah mangrove yang sudah tua. “Buah itu pecah bila sudah tua dan bijinya terjatuh menyebar ke sekitar di antara kerikil-kerikil itu,” ujar Riri.

Berwisata di taman mangrove Desa Pejarakan, Gerokgak, Buleleng

Wisata Edukasi

Untuk upaya edukasi, Riri tengah menata kawasan Putri Menjangan. Jembatan bambu yang ada perlahan mulai diperbaiki agar pengunjung dapat melihat lebih dekat sepeti apa didalam hutan mangrove. Selain itu juga di samping kawasan itu, Riri dan kelompok Putri Menjangan membuka rumah bibit. Di rumah bibit itu terdapat 12 jenis mangrove yang tumbuh. Mulai dari bibit propagul hingga bibit yang sudah bertunas siap tanam.

Saat edukasi dilakukan, maka terlebih dahulu diarahkan ke rumah bibit untuk melihat seperti apa mangrove sebelum tumbuh besar. Kemudian, pengunjung akan diajak untuk menanam. Saat proses penanaman ini Riri bersama Satgas Lingkungan, kembali memberikan penjelasan tentang cara menanam mangrove. Jika bibitnya berupa propagul, maka tinggal ditancapkan saja. Jika sudah berupa tunas, maka harus dibuatkan lubang tanamnya dulu. Tentunya disesuaikan dengan subtrat dari jenis mangrove. Setelah itu barulah diajak berkeliling hutan mangrove melalui jembatan bambu yang memecah hutan mangrove.

Begitulah cerita Riri mengalir sembari menemani saya menikmati suasana hutan bakau. Sekembalinya dari menyusuri jembatan bambu, saya diajak rehat sejenak. Kami menuju sebuah warung sederhana di dekat taman Konservasi Putri Menjangan. Di sana sudah banyak teman Riri yang nongkrong sambil ngopi-ngopi ganteng. Sekitar 10 orang kurang lebih.

Ikan Senang Nelayan Senang

Suasana terik saat itu tak terasa. Sebab, hawa sejuk datang dari celoteh teman-teman Riri yang berprofesi sebagai nelayan. Guyonan demi guyonan terlontar dari mereka yang sedang rehat usai melaut. Saya ingat celetukan seorang nelayan yang mengatakan salah satu temannya mirip ikan cotek. “Monyong begitu, mirip cotek sampean,” guyonnya diiringi gelak tawa yang lainnya. “Dapat ikan banyak sampean bisanya cuma ngeledek,” sahut yang lainnya menimpali.

Beberapa detik saya terbius oleh guyonan mereka. Hingga Putu, salah satu nelayan berkata kepada saya bahwa ia sangat bersyukur. Sejak bakau ini tumbuh subur di pesisir pantai desa Pejarakan, aktivitas melaut mereka terasa lebih menyenangkan. Sebab, ikan-ikan yang dulunya harus ia cari di tengah laut dengan jarak puluhan mil, kini bisa ditangkap dengan mudah di dekat pantai.

“Cari ikannya bisa agak ke pinggir sekarang, Mbak. Ikan-ikannya senang ada di bakau-bakau itu. Ikan senang, saya juga senang,” ujarnya sembari tertawa riang.

Rasanya kebahagiaan mereka tak bisa ditukar dengan apa pun. Kehidupan sebagai nelayan di pesisir Pantai Desa Pejarakan dengan anugrah biota laut merupakan harta yang paling berharga bagi mereka.

Hebatnya lagi, buah mangrove yang ada di Desa Pejarakan itu diproduksi sebagai makanan yang nikmat. Ibu-ibu nelayan dengan difasilitasi oleh PT Pertamina membuat olahan tepung serta sirup dari buah mangrove. Bahkan, hasilnya pernah dipamerkan hingga ke Jakarta. “Itu yang buat ibu-ibu nelayannya. Pernah sampai ke Jakarta ikut pameran,” kata Ketua Nelayan Banyumandi, Nyoman Sandi.

Jadi tidak hanya ikan, kepiting dan kerang yang bisa didapat dari mangrove yang tumbuh di pesisir Desa Pejarakan. Perekonomuan mereka sedikit-demi sedikit terangkat karena geliat ibu-ibu nelayan yang melakukan pengolahan terhadap buah mangrove. “Buahnya itu seperti apel. Bulat. Itu yang dipakai untuk tepung. Dari tepungnya itu dibuat jajanan,” ujar Sandi.

Sempat Kritis, Hijau Kembali

Kawasan Konservasi Mangrove Putri Menjangan di Desa Pejarakan bukan sebuah kawasan yang sejak dulu memang hijau seperti itu. Pada tahun 1990-an, hutan mangrove banyak yang ditebang dan mati. Masyarakat melakukan itu karena mereka ingin membuka tambak. Baik tambak udang maupun tambak ikan. Seiring berjalannya waktu, kerusakan pun tak bisa dihindari. Abrasi semakin parah. Bila gelombang tinggi, tambak-tambak yang ada di pinggir pantai itu terhempas dan berdampak ada menurunnya produktivitas tambak.

Kondisi itu berlangsung cukup lama, hingga warga Desa Pejarakan menyadari pentingnya ada penahan gelombang dan media pencegah abrasi. Tahun 2012, kelompok masyarakat dan Satgas Lingkungan beramai-ramai menanam mangrove di sepanjang garis pantai Desa Pejarakan. Penanaman rutin dilakukan setiap tahun dengan menanam 5.000 bibit mangrove. Bibit-bibit itu diambil dari buah mangrove yang sudah tua, yang masih tersisa saat itu.

a Satgas Lingkungan Desa Pejarakan selalu memantau pertumbuhan mangrove di pessir desa itu

Tahun terus berganti, masyarakat mulai merasakan dampaknya. Abrasi berkurang dan ekosistem laut terjaga. Warga sekitar pun mulai terdampak dengan meningkatnya produktivitas biota laut seperti ikan, udang dan kepiting yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hingga saat ini sudah ada 40 hektar lebih hutan mangrove yang terbentang di wilayah pesisir pantai desa Pejarakan sepanjang 14,23 km dari total 76,89 km di Kecamatan Gerokgak. Sebab, setiap tahunnya selalu dilakukan restorasi terhadap kondisi mangrove di kawasan tersebut.

Marcito nelayan desa Pejarakan yang sudah melaut dari tahun 1990 merasakan dampaknya. Dulu sebelum ada mangrove di pesisir desa Pejarakan ikan-ikan seperti barakuda dan sneper itu tidak ada. Hilang entah kemana. Saat melaut, ia pun harus mengambil jarak belasan mil untuk bisa menjala atau memancing ikan. “Jauh dulu. Sampe ke dalam,” tuturnya.

Beda dulu, beda sekarang. Jika dulu mangrove banyak ditebang, kini mulai dikembangkan. Marcito pun turut langsung dalam konservasi itu. Karena sudah merasakan dampaknya, Marcito bersama kawan-kawannya selalu turut bila ada upaya penanaman atau bersih-bersih sampah di sekitar pantai. “Sejak ada mangrove banyak yang kami dapat. Ikat yang dulu hilang, kini dia telah kembali pulang. Cari ikan bisa lebih ke pinggir. Terus ibu-ibunya bisa juga cari kerang yang di akar-akar mangrove itu lo, Mbak,” kata Marcito antusias.

Jika sedang musim, Marcito bisa mendapat 20 kilogram ikan awan hasil menjala. Kemudian ia serahkan kepada istrinya untuk kemudian dijual secara berkeliling desa. “Kalau sebelum mangrove ada, angin kan kenceng ya. Namanya di laut. Ikan-ikan pada mencar semua. Nah pas mangrove ada, ada penahan anginnya. Lebih mudah tangkap ikan,” sambungnya.

Dari upaya konservasi yang dilakukan, Satgas Lingkungan Desa Pejarakan tidak sendiri, mereka selalu menggandeng masyarakat lokal, kelompok nelayan, pelajar dan mahasiswa hingga pihak ketiga lainnya. Aksi yang dilakukan juga tidak saja sekadar menanam, namun juga mereka memberikan edukasi terkait keberadaa hutan mangrove.

Nah, dari 12 jenis mangrove yang ditanam di Desa Pejarakan, Satgas Lingkungan sama sekali tidak pernah mengusik keberadaan mangrove itu. Tidak ada yang ditambah dan tidak ada yang dikurangi juga. Yang biasa-biasa saja. Sebab jika ditambah ada kekhawatiran akan merusak ekosistem yang telah terbentuk sebelumnya. Alhasil ekosistem yang ada menjadi tidak seimbang. Selain itu, jika mendatangkan jenis baru diluar dari jenis yang sudah ada, ada ketakutan jenis yang asli akan kalah dengan jenis baru yang ditanam.

Untuk itu, pihak desa dan Satgas Lingkungan tetap menjaga 12 jenis mangrove di kawasan itu. Namun dari 12 jenis itu, penanaman difokuskan pada kelompok Rhizepora,sp. Sebab pada mangrove jenis ini biota laut paling banyak dapat beradaptasi dan berkembang biak. Akar-akar tunjang dari jenis ini sangat cocok sebagai tempat pemijahan ikan, tempat berlindung bagi telur-telur ikan dan biota lainnya. Lalu pada bagian atas akan banyak sarang-sarang burung. Baik yang hinggap untuk bermigrasi ataupun yang berkembang biak di sana.

Kawasan taman mangrove di Desa Pejarakan tidak saja difungsikan sebagai kawasan konservasi saja. Namun juga dimanfaatkan sebagai kawasan wisata edukasi. Yang dikelola untuk edukasi itu, dulunya fokus di Kawasan Putri Menjangan di dekat pantai. Tapi sekarang karena Putri Menjangan sudah direstorasi, kawasan edukasi lebih mengarah di wilayah timur. Tepatnya di perbatasan Desa Sumberkima-Desa Pejarakan, khususnya di Teluk Sumberkima.

Di wilayah itu juga dilakukan upaya konservasi dengan menggunakan pola tanam rumpun berjarak.  Dengan pola tanam ini gelombang laut masih bisa menembus rumpun dan tidak tertahan langsung sehingga tidak merusak bibit yang mulai bertunas. Penanamannya setiap satu kelompok atau satu rumpun berisi 500 bibit sekali tanam. Pada jarak 15 meter dibuat lagi rumpun lain dengan isian 500 bibit propagul. Pada 10 meter berikutnya diisi 500 atau 400. Arahnya berbentuk zigzag. Tidak dilakukan secara berbaris atau berjejer.

Sebagaimana kata Riri, konservasi mangrove yang dilakukan bukan semata-mata hanya untuk mencegah terjadinya abrasi saja, tapi konservasi itu dilakukan juga dalam rangka pemulihan hutan mangrove. “Meski kondisi hutan mangrove di kawasan Bali Barat itu tidak terlalu parah, namun konservasi harus terus dilakukan,” katanya.

Warga Desa Pejarakan menanam mangrove

Upaya-upaya yang dilakukan warga ternyata bersambung dengan program yang dilakukan pemerintah. Pada 23 Oktober 2020 pemerintah melaksankan Program Pemulihan Mangrove. Pemulihan hutan mangrove di wilayah Bali dilakukan lewat Program Padat Karya, dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Unda Anyar, yang merupakan Unit Pelaksanaan Teknis Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Pada program itu dihadiri langsung Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong. Dalam pidatonya ia menyampaikan Indonesia sendiri memiliki sebaran mangrove seluas 3.311,207 hektar yang berada di dalam dan di luar kawasan hutan, yang diantaranya seluas 637.624 hektar termasuk dalam kondisi kritis dan perlu dipulihkan. Dan Bali sendiri memiliki target 100 hektar yang harus dipulihkan.  Program Padat Karya Penanaman Mangrove di Teluk Terima ini melibatkan Kelompok Wana Segara desa Sumberklampok sebanyak 25 orang. Kelompok ini diberikan upah dengan sistem pembayaran langsung ke rekening pribadi. Diberikan sebesar Rp 110 ribu per Hari Orang Kerja (HOK). Selain sebagai upaya percepatan pemulihan ekonomi nasional, sekaligus menjadi bagian dari corrective measure di era kabinet kerja 2019-2024.

Hutan mangrove menjadi salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir yang dalam masa pandemi ini merasakan dampak penurunan ekonomi yang paling signifikan. Oleh karena itu, melalui Program Padat Karya Penanaman Mangrove tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus perekonomian bagi masyarakat di sekitar ekosistem mangrove dan sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi nasional. [T]

Tags: hutan bakaukonservasimangrovePariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anom Darsana | Telisik Tekhnologi, Telusur Seni Tradisi

Next Post

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Cempaga/Majegau | Pohon Langka yang Menjadi Nama Desa Tua di Bali

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co