23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sejarah Klungkung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
April 28, 2021
in Khas
Jejak Sejarah Klungkung

Kerta Gosa merupakan komplek bangunan atau balai pengadilan warisan Keraton Semarapura (1686-1908)

Setelah berhasil dikuasai Belanda pasca perang Puputan Klungkung, didirikanlah sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) pada 1920. Sekolah ini kemudian berganti nama menjadi SMP Negeri 1 Semarapura pada 1 Agustus 1947 sampai akhir 1990. Atas inisiasi dr. Tjokorde Gde Agung, Bupati Klungkung pertama kala itu, gedung SMPN 1 Semarapura diubah menjadi Museum Semarajaya. Peresmiannya dilakukan oleh Bapak Rudini yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Indonesia pada 28 April 1992. Acara ini juga bersamaan dengan HUT Kota Semarapura, peresmian Monumen Puputan Klungkung serta memperingati 84 tahun pasca perang Puputan Klungkung. Perang penghabisan raja serta masyarakat Klungkung melawan serbuan tentara Belanda.

Pada buku Kebangkitan Nasional Daerah Bali diuraikan kronologis sejarah Klungkung. Di dalamnya disebutkan perkenalan Belanda pertama kali dengan Bali, khususnya Klungkung terjadi pada masa pemerintahan Dalem Bekung yang didampingi oleh sang adik, Dalem Segening pada 1597. Comelis de Houtman adalah orang Belanda yang pertama datang ke Bali. Ia dan pasukannya mendarat di Pantai Gelgel (Batu Klotok). Mereka tinggal di Bali selama satu bulan yaitu dari tanggal 25 Januari sampai 26 Februari 1597. Hubungan antara Bali dengan Belanda kala itu hanya terbatas pada bidang perdagangan dan tukar menukar duta. Pada tahun 1601, misalnya, tercatat van Heemskerk singgah di Bali, mempersembahkan sepucuk surat dari Pangeran Mauritius. Sebagai balasannya, Raja Bali kemudian menghadiahkan seorang gadis Bali. Hubungan ini tetap terjalin setelahnya. Pada tahun 1633, Gubemur Jendral Hendrick Brouwer mengirim Jan Oosterwijck sebagai duta ke Bali. 

Sistem ikatan kontrak antara Belanda dengan Klungkung baru terjadi setelah Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Situasi ini menyebabkan Bali lemah dan memudahkan Belanda untuk menerapkan sistem kontrak. Belanda mengirim Huskus Koopman sebagai duta ke Bali. Koopman mencari dukungan Raja Klungkung sebagai susuhunan raja-raja Bali-Lombok untuk mengajukan kontrak. Isi pokok perjanjian tersebut ialah bahwa Dewa Agung Putra sebagai Raja Klungkung dan susuhunan di atas Pulau Bali dan Lombok, mengakui Bali sebagai bagian dari Hindia Belanda. Mereka tidak akan menyerahkannya kepada bangsa kulit putih lainnya dan akan menaikkan bendera Belanda setiap ada kapal atau perahu Belanda masuk Pelabuhan Bali. Surat-surat perjanjian dibuat di hadapan Raja Buleleng, Karangasem, dan Badung serta ditandatangani pada 6 Desember 1841 oleh Dewa Agung Putra dan Huskus Koopman yang disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Raja Klungkung mau menandatangi karena Belanda menjanjikan bantuan untuk mengembalikan kekuasaannya atas Lombok.

Tanggal 24 Mei 1843 kembali ditandatangani sebuah perjanjian yang bertempat di Istana Klungkung, dimana Belanda menghendaki agar hak tawan karang dihapuskan. Intervensi Belanda menimbulkan perbedaan sikap di antara kerajaan-kerajaan di Bali. Tercatat dalam buku Bali pada Abad XIX: Perjuangan Rakyat dan  Raja-raja  Menentang Kolonialisme Belanda 1808-1908 oleh A. A. Gde Agung, pada akhir 1847, perkembangan politik di Bali semakin tegang. Konflik semakin runcing karena diterimanya laporan dari Batavia perihal kapal milik warga Hindia Belanda asal Pamekasan yang karam di Pantai Lirang, Buleleng, dirampas oleh penduduk sekitarnya. Hal yang sama terjadi pula di Pantai Kusamba wilayah Kerajaan Klungkung. Sebuah kapal dagang berbendera Belanda karam dan dirampas penduduk pantai. Gubernur Jenderal mengajukan tuntutan kepada Raja Buleleng dan Dewa Agung di Klungkung. Karena tidak dihiraukan, Gubernur Jenderal J. J. Rochussen melayangkan ultimatum pada 7 Maret 1848.

Pada 19 April 1849, Belanda berhasil memukul hancur Jagaraga. Setelah Buleleng takluk, Belanda kemudian menduduki Karangasem. Keberhasilan Belanda dalam menduduki dua kerajaan di Bali ini telah membangkitkan semangat perang untuk menyerang Klungkung. Mayor Jenderal Michiels, setelah mendapat persetujuan dari Batavia, memutuskan untuk menyerang Klungkung sebagai hukuman atas penyelewengan terhadap apa yang telah dimuat dalam perjanjian dengan Belanda. Klungkung diketahui telah memberi bantuan kepada Buleleng dalam perang melawan Belanda. Pada saat itu, Klungkung diperintah oleh I Dewa Agung Putra Kusumba yang berkedudukan di keraton Kusamba. Dewa Agung Putra Kusamba dibantu oleh putrinya Dewa Agung Istri Kanya yang berkedudukan di istana Smarapura.

Monumen Puputan Klungkung

Tanggal 8 Mei 1849 Armada Belanda di bawah pimpinan Michiels mendarat di Padang (Teluk Padang). Setelah merebut Desa Padang, pada 24 Mei 1849, Kusamba diserang oleh Belanda dari timur. Walaupun Kusamba telah lebih dahulu mempersiapkan pasukannya yang dipusatkan di Pura Goa Lawah dengan garis pertahanan sepanjang Bukit Wates, namun serangan Belanda yang mendadak itu cukup mengejutkan laskar Kusamba yang hanya bersenjatakan keris, tombak, bambu runcing, dan beberapa pucuk bedil buatan sendiri. Hanya dalam waktu lima jam, pertahanan Goa Lawah telah berhasil direbut Belanda.

Mayor Jenderal Michiels dan Van Swieten, melanjutkan serangannya ke Kusamba. Belanda menyerang Kusamba dari tiga jurusan. Dari utara adalah angkatan darat pimpinan Van Swieten, dari timur dipimpin oleh Michiels sendiri, sementara dari selatan (pantai) adalah pasukan marinir di bawah pimpinan Bauricius. Pada jam tiga sore, tanggal 24 Mei 1849, pasukan mundur sambil melakukan politik bumi hangus dengan membakar kampung-kampung.

Kekalahan Kusamba didengar oleh Dewa Agung Istri Kanya yang telah diserahi takhta oleh ayahnya. Dewa Agung Istri Kanya memerintahkan panglima Anak Agung Made Sangging berangkat ke Kusamba. Tanggal 25 Mei 1849, pagi-pagi buta, laskar Kusamba melakukan serangan balasan. Penyerbuan tak terduga ini sangat mengejutkan pasukan Belanda dalam kemah sekitar istana Kusamba. Dalam kegaduhan dan hiruk pikuk ini, pasukan istimewa di bawah pimpinan Anak Agung Made Sangging menyusup dengan tugas utama membunuh Jendral yang berbintang tujuh (Yang dimaksud adalah Jenderal Michiels). Sebelum Belanda sadar akan sergapan yang mendadak ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Jenderal Michiels pun roboh.

Pada 13 Juli 1849, perdamaian digelar antara Dewa Agung di Klungkung dengan pihak Gubernemen. Ekspedisi militer Belanda diakhiri dengan penandatanganan perjanjian perdamaian antara raja-raja Bali yang bersengketa dengan pihak Gubernemen di Kuta. Kerajaan-kerajaan Bali tidak lagi memiliki hak kedaulatan. Mereka harus mengakui kekuasaan tertinggi Ratu di Belanda. Salah satu butir perjanjian menegaskan kembali penghapusan praktik adat tawan karang untuk selamanya. Meski demikian, Belanda tampaknya belum merasa puas. Tanggal 23 September 1904, Belanda kembali menyodorkan sebuah perjanjian yang berkaitan dengan pengukuhan dan penobatan Raja Klungkung.

Dalam waktu setengah abad, Klungkung terus memperkuat persatuan dengan raja-raja di Bali. Ketika Belanda menyerang Badung 1906, Klungkung berada di belakangnya. Tindakan ini menambah sengketa dengan Belanda. Dengan berhasil mengalahkan Badung, Belanda dengan berani mengajukan kontrak pada 17 Oktober 1906 yang ingin menempatkan Klungkung dalam Stan Lannschap Colonial. Perjanjian yang terdiri dari 31 pasal ini tercatat merupakan perjanjian yang paling panjang yang pernah ditandatangani oleh raja Klungkung. Isinya memuat masalah-masalah perekonomian seperti penyerahan daerah Sibang dan Abiansemal, penyerahan hasil beacukai penjualan candu dan cukai pelabuhan. Perjanjian 17 Oktober 1906 dilengkapi dengan perjanjian 19 Januari 1908. Kedua perjanjian ini menetapkan kerajaan Klungkung sepenuhnya di bawah pemerintahan Belanda baik secara politik, ekonomi maupun sosial budaya. Punggawa Cokorda Gelgel, Paman Dewa Agung Jambe sangat menentang perjanjian ini. Ia dengan tegas mengatakan kepada Dewa Agung ketidaksetujuannya dan bertekad melawan Belanda.

Pada tanggal 18 April 1908 tiba-tiba di Gelgel terjadi kebakaran di seluruh kompleks rumah candu. Mantri candu terbunuh namun tidak diketahui siapa pelakunya. Belanda menganggap bahwa peristiwa ini adalah perbuatan Cokorda Gelgel sebagai suatu pernyataan perang. Pada tanggal 19 April 1908 pasukan gabungan Belanda didatangkan dari Gianyar dan Karangasem untuk menyerbu Gelgel. Rakyat Gelgel di bawah pimpinan Cokorda Gelgel dan putranya antara lain Cokorda Made Gelgel dan Cokorda Pegig dengan gigih mempertahankan daerahnya. Hal ini kemudian diketahui oleh raja Klungkung Dewa Agung Jambe yang segera mengirim laskar menuju Gelgel di bawah pimpinan Ida Bagus Jumpung. Perlawanan ber1angsung selama setengah hari dan akhirnya kemenangan ada di pihak Belanda. Cokorda Made Gelgel, Cokorda Pegig dan Ida Bagus Jumpung gugur dalam pertempuran itu. Perlawanan dilanjutkan pada malam harinya di mana pihak laskar Gelgel mengadakan serangan. Belanda pun membalas serbuan sampai ke kota Klungkung.

Tanggal 21 April 1908 Klungkung segera mendapat serangan dari pihak Belanda. Raja Klungkung Dewa Agung Jambe beserta pemimpin masyarakat lainnya telah bertekad untuk menghadapi serangan Belanda. Di bawah pimpinan Overste Schuroth, armada perang Belanda mendarat di Kusamba. Sebagian lagi mendarat di pantai lebih. Belanda menyerang Klungkung melalui tiga arah yaitu: dari sebelah timur dipimpin oleh Kolonel Carpentier Alting, dari sebelah selatan dipimpin oleh Mayoor H. Missofer. Laskar Banjarangkan di bawah pimpinan Cokorda Gde Oka membendung pasukan Belanda dari arah barat.

Pada saat Belanda memasuki kota, keluarga raja telah bertekad untuk melaksanakan puputan. Dalam perlawanan ini tampil ke depan Dewa Agung Semara Bawa saudara raja Klungkung dan putra mahkota Dewa Agung Gde Agung bersama ibunda beliau Dewa Agung Muter. Mereka menyerbu pasukan Belanda. Semua gugur dalam perlawanan. Dewa Agung Jambe bersama laskar Klungkung juga gugur dalam perlawanan. Jatuhnya Klungkung ini kemudian menandai kekuasaan Belanda yang berhasil menaklukkan seluruh wilayah kerajaan di Bali. [T]

Denpasar, 2021

Tags: baliHari Ulang Tahun KlungkungKlungkungsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

Next Post

Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co