24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
March 13, 2021
in Cerpen
Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Seorang bayi yang baru lahir menangis, seorang anak dengan mata dan kulit berwarna coklat. Dia menangis dengan keras untuk menandakan bahwa dia ada di sana. Meskipun beberapa bagian dunia tidak peduli, setidaknya orang-orang di sekitarnya sangat peduli. Doa dibisikkan di telinga kiri dan kanannya oleh ibunya. Dokter dan keluarganya tersenyum bahagia.

“Aku akan memanggilmu Chandra, jadi kau akan menjadi tanda untuk berdoa,” bisik ibunya.

Kelahirannya diumumkan oleh keluarganya. Ada yang berpura-pura bahagia, ada yang tidak bahagia sama sekali, ada yang tidak peduli dan ada yang terlihat bahagia. Apa yang istimewa dari bayi yang baru lahir? Tidak ada yang benar-benar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi keluarga yang memiliki bayi tersebut, tentulah sangat istimewa apalagi jika sudah bicara soal  upacaranya. Di tempat kelahiran Chandra, biasanya diadakan upacara-upacara meriah. Tarian tradisional, musik tradisional, aksesoris emas untuk bayi tak luput ada di sana. Sudah sebuah kewajiban bagi keluarga untuk melakukan upacara meriah tersebut.

Untuk Chandra, dia hanya tahu menangis dengan banyak pikiran di benaknya. Dia sama sekali tidak peduli dengan upacara tersebut. Upacara ini tidak hanya untuk dia, tetapi juga untuk keluarga mereka. Upacara yang luar biasa. Entah apa yang dipikiran Chandra, tentulah dia harus mengikuti semua itu bahkan jika dia tidak mengerti.

“Kami harap kamu menjadi sebaik Chandra yang ada di atas,” orang menyentuhnya.

Chandra tersenyum, bukan karena doa mereka tapi karena sesuatu yang lain. Tentu saja Chandra belum memahaminya. Chandra melihat seorang wanita tua membuat wajah lucu untuknya. Suara gong berbunyi lagi setelah sekaa gong memakan makanan tradisional yang disajikan, penari mulai menari, tertawa, ribut, nenek tua itu lalu pergi.

Semuanya berjalan dengan baik. Ibunya sedang duduk di beranda sambil mengasuhnya. Saat bulan perlahan muncul di malam hari di balik awan, ibunya mulai menyanyikan satu-satunya lagu yang menurutnya paling cocok untuk saat ini.


**Putri cening ayu

Ngijeng cening jumah

Meme luas malu

Ke peken meblanje

Apang ade darang nasi”**


Bersama jangkrik, air menetes dari keran, dia bernyanyi. Bulan bersinar tapi di beranda rumah terasa gelap. Bola lampu tidak cukup maka dinyalakan tiga lilin. Lebih baik daripada menyalakan bola lampu, pikirnya. Satu, dua, tiga, oops, angin menyebabkan lilin ketiga padam. Entah bagaimana, Chandra tersenyum dan itu membuat ibunya ikut tersenyum. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan dua lilin, bola lampu, jangkrik, tetesan air, dan lagu.

Cuaca semakin dingin, ibu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Anehnya, suara jangkrik berhenti dan bulan perlahan memudar menjadi awan. Ibu membiarkan lilin menyala sampai perlahan-lahan padam meninggalkan asap. Saat asap mengalir ke langit, Chandra menutup matanya.

*­

Hujan deras, Chandra berusia tiga bulan sekarang. Dengan matanya dia melihat keluarganya memindahkan meja banten ke tempat yang kering. Ini adalah upacara untuknya lagi. Tradisi lain yang bagus untuk diikuti, musik yang sama, penari yang sama namun suasananya berbeda.

“Inilah yang kami sebut sebagai berkat dari Tuhan,” teriak ibunya

Upacara masih berlangsung. Wanita tua itu datang lagi dan bermain dengan Chandra. Tidak ada orang yang melihat wanita tua itu karena mereka sibuk. Chandra sebenarnya harus mengikuti upacara lagi tetapi karena hujan, keluarganya memutuskan untuk melakukan hal lain yang tidak melibatkan Chandra. Pukul sepuluh, hujan tidak deras seperti sebelumnya. Sekali lagi, setelah hujan lebat, Chandra mengikuti upacara yang sama sekali tidak dia mengerti.

Hari itu hari yang sibuk, tapi di malam hari seperti biasa, Chandra bersama ibunya. Saat hujan lebat datang di siang hari, langit cerah datang di malam hari. Dengan banyak bintang di atas kepala mereka, mereka beristirahat. Sayangnya, tidak ada suara jangkrik. Tapi ibu Chandra sama sekali tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah waktu untuknya dan Chandra. Seorang ibu terkadang aneh. Setelah hari yang sibuk, mereka masih punya banyak energi untuk dihabiskan. Sedang di kamar, ayahnya sudah tertidur.

“Lagu apa hari ini? ”

“Apakah kau ingin lagu yang sama seperti biasanya? ”

“Atau apakah kau ingin menghabiskannya dengan diam? ”

Ibunya berbicara dengannya atau mungkin pada dirinya sendiri. Chandra hanya menggenggam tangan ibunya. Tidak berkata apa-apa, hanya mata yang berkedip. Waktu berlalu sangat cepat. Saat Chandra tertidur, Ibunya termenung sendiri. Melihat sekeliling dan menghela nafas. Ibunya masih merasa hari kelahiran anaknya kemarin. Barangkali karena kehangatan dan keramaian saat upacaranya masih sama seperti saat anaknya baru lahir

Memang, di tempat mereka jarak antar rumah tak begitu jauh. Sehingga jika satu rumah memiliki kegiatan tentulah keluarga lain langsung tahu. Tidak lupa mereka membantu tanpa memikirkan banyak hal. Mereka datang, membantu, lalu pulang. Mungkin sebuah tradisi. Tak ada peraturan tertulis soal ini. Hanya saja bagi keluarga di tempat itu, rasa-rasanya akan sangat berdosa bil sampai tak menampakkan wajah ketika ada keluar lain memiliki sebuah kegiatan. Secara kebetulan pula tempat itu selalu ditempati secara turun-temurun. Jadi tak pernah ada orang asing ataupun keluarga asing yang tinggal di tempat itu.

*

Hal itulah yang terus diceritakan ayah-ibunya dan terus diingat Chandra bahkan saat ia telah beranjak dewasa. Terlebih lagi saat ini ia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan yang baginya cukup berat. Sebuah tawaran masuk ke emailnya pagi tadi. Tawaran itu terus ia pikirkan hingga malam harinya. Ia merasa akan menjadi durhaka pada ayah-ibunya yang telah tiada jika mengiyakan tawaran itu. Namun di sisi lain, hatinya tahu bahwa ia sebenarnya perlu mengiyakan tawaran itu.

Terbayang di benaknya jika ia mengiyakan tawaran itu. Tentulah sebuah upacara tak akan lagi seramai dulu atau sehangat dulu. Terbayang pula di benaknya semisal ia akan dianggap tulah dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sampai lucut oleh keringat baju kerjanya. Rasa-rasanya, ia lebih baik dimarahi atasan saja dibanding harus membuat sebuah keputusan yang mungkin bisa membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Bayangan-bayangan itu semakin nyata saja di kepalanya. Kembali terngiang ucapan ibunya beberapa tahun lalu saat ia baru lulus kuliah.

“Jangan jauh-jauh cari kerja, supaya gampang bersilaturahmi di sini!”

Ia semakin kebingungan ketika ia duduk di beranda. Kenangan masa kecilnya saat bermain layangan menghampirinya. Ia ingat sekali ketika saat itu terjatuh karena tertabrak anak-anak sebayanya. Yang pertama menghampirinya adalah nenek di depan rumahnya. Nenek itu mengobatinya sudah seperti anaknya sendiri. Tentu nenek itu juga telah tiada. Terlalu banyak kenangan membuatnya makin tak karuan. Ia meninggalkan beranda.

Tapi tetap saja, kenangan masa kecil lainnya tetap menghampiri. Teringat dengan jelas olehnya saat sepeda dewasa yang ia naiki remnya blong dan menabrak pagar rumah milik teman ibunya. Pagar rumah itu tetap dibiarkan penyok, tetapi luka kakinya segera diobati oleh pemilik rumah. Seolah pagar itu tak apa-apa.

Chandra ingin menangis. Ia semakin tak karuan saja. Terlebih lagi saat handhphone-nya berbunyi. Sebuah email. Ia buka dengan cepat. Rupanya dari orang yang memberikan tawaran tadi. Ternyata Chandra belum membalas pesan email yang orang itu kirimkan pertama tadi. Chandra hanya membaca email tersebut. Belum ada siapa-siapa yang ia kabari soal ia menerima tawaran ini. Baginya ini adalah masalah paling personal dalam hidupnya.

Malam semakin sunyi saja. Suara keran di kamar mandinya terdengar menetes pelan-pelan. Suara jangkrik dan suara angin justru membuatnya ingat ibu. Rasanya ia lebih baik jadi anak kecil saja. Meskipun saat itu ia tak pernah tahu soal upacara apa yang diikutinya, doa apa yang diucapkannya, gerakan apa yang dilakukannya, siapa yang datang menjenguknya, ia masih bisa tetap tersenyum. Bulan perlahan muncul. Chandra melihatnya. Ia sadar tak selamanya dia bisa berdiam dan tak memberikan kepastian soal tawaran yang muncul tadi. Bayangan masa kecilnya soal keluarga, layangan, beranda, sepeda dan lain-lain ia masukan kedalam hatinya. Ia harus membuat keputusan.

Dengan pelan Chandra menuju kamarnya. Ia buka email melalui laptopnya secara perlahan-lahan. Beberapa menit ia termenung melihat tulisan di layar laptopnya. Setelah menghela napas ia mulai mengetik sesuatu. Lama ia mengetik. Mengulangnya beberapa kali sampai akhirnya ia berhenti. Suara keran di kamar mandi terasa mengganggunya. Ia beranjak dan mengeratkan keran tersebut. Ketika kembali ia melihat lilin yang tinggal setengah. Sebab kemarin mati listrik. Ia termenung merasa ada sesuatu. Kemudian ia duduk di depan laptopnya dan kembali mengetik. [T]

** Lagu Putri Cening Ayu, lagu tradisional Bali

___

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyepi dalam Krisis

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co