13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
March 13, 2021
in Cerpen
Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Seorang bayi yang baru lahir menangis, seorang anak dengan mata dan kulit berwarna coklat. Dia menangis dengan keras untuk menandakan bahwa dia ada di sana. Meskipun beberapa bagian dunia tidak peduli, setidaknya orang-orang di sekitarnya sangat peduli. Doa dibisikkan di telinga kiri dan kanannya oleh ibunya. Dokter dan keluarganya tersenyum bahagia.

“Aku akan memanggilmu Chandra, jadi kau akan menjadi tanda untuk berdoa,” bisik ibunya.

Kelahirannya diumumkan oleh keluarganya. Ada yang berpura-pura bahagia, ada yang tidak bahagia sama sekali, ada yang tidak peduli dan ada yang terlihat bahagia. Apa yang istimewa dari bayi yang baru lahir? Tidak ada yang benar-benar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi keluarga yang memiliki bayi tersebut, tentulah sangat istimewa apalagi jika sudah bicara soal  upacaranya. Di tempat kelahiran Chandra, biasanya diadakan upacara-upacara meriah. Tarian tradisional, musik tradisional, aksesoris emas untuk bayi tak luput ada di sana. Sudah sebuah kewajiban bagi keluarga untuk melakukan upacara meriah tersebut.

Untuk Chandra, dia hanya tahu menangis dengan banyak pikiran di benaknya. Dia sama sekali tidak peduli dengan upacara tersebut. Upacara ini tidak hanya untuk dia, tetapi juga untuk keluarga mereka. Upacara yang luar biasa. Entah apa yang dipikiran Chandra, tentulah dia harus mengikuti semua itu bahkan jika dia tidak mengerti.

“Kami harap kamu menjadi sebaik Chandra yang ada di atas,” orang menyentuhnya.

Chandra tersenyum, bukan karena doa mereka tapi karena sesuatu yang lain. Tentu saja Chandra belum memahaminya. Chandra melihat seorang wanita tua membuat wajah lucu untuknya. Suara gong berbunyi lagi setelah sekaa gong memakan makanan tradisional yang disajikan, penari mulai menari, tertawa, ribut, nenek tua itu lalu pergi.

Semuanya berjalan dengan baik. Ibunya sedang duduk di beranda sambil mengasuhnya. Saat bulan perlahan muncul di malam hari di balik awan, ibunya mulai menyanyikan satu-satunya lagu yang menurutnya paling cocok untuk saat ini.


**Putri cening ayu

Ngijeng cening jumah

Meme luas malu

Ke peken meblanje

Apang ade darang nasi”**


Bersama jangkrik, air menetes dari keran, dia bernyanyi. Bulan bersinar tapi di beranda rumah terasa gelap. Bola lampu tidak cukup maka dinyalakan tiga lilin. Lebih baik daripada menyalakan bola lampu, pikirnya. Satu, dua, tiga, oops, angin menyebabkan lilin ketiga padam. Entah bagaimana, Chandra tersenyum dan itu membuat ibunya ikut tersenyum. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan dua lilin, bola lampu, jangkrik, tetesan air, dan lagu.

Cuaca semakin dingin, ibu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Anehnya, suara jangkrik berhenti dan bulan perlahan memudar menjadi awan. Ibu membiarkan lilin menyala sampai perlahan-lahan padam meninggalkan asap. Saat asap mengalir ke langit, Chandra menutup matanya.

*­

Hujan deras, Chandra berusia tiga bulan sekarang. Dengan matanya dia melihat keluarganya memindahkan meja banten ke tempat yang kering. Ini adalah upacara untuknya lagi. Tradisi lain yang bagus untuk diikuti, musik yang sama, penari yang sama namun suasananya berbeda.

“Inilah yang kami sebut sebagai berkat dari Tuhan,” teriak ibunya

Upacara masih berlangsung. Wanita tua itu datang lagi dan bermain dengan Chandra. Tidak ada orang yang melihat wanita tua itu karena mereka sibuk. Chandra sebenarnya harus mengikuti upacara lagi tetapi karena hujan, keluarganya memutuskan untuk melakukan hal lain yang tidak melibatkan Chandra. Pukul sepuluh, hujan tidak deras seperti sebelumnya. Sekali lagi, setelah hujan lebat, Chandra mengikuti upacara yang sama sekali tidak dia mengerti.

Hari itu hari yang sibuk, tapi di malam hari seperti biasa, Chandra bersama ibunya. Saat hujan lebat datang di siang hari, langit cerah datang di malam hari. Dengan banyak bintang di atas kepala mereka, mereka beristirahat. Sayangnya, tidak ada suara jangkrik. Tapi ibu Chandra sama sekali tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah waktu untuknya dan Chandra. Seorang ibu terkadang aneh. Setelah hari yang sibuk, mereka masih punya banyak energi untuk dihabiskan. Sedang di kamar, ayahnya sudah tertidur.

“Lagu apa hari ini? ”

“Apakah kau ingin lagu yang sama seperti biasanya? ”

“Atau apakah kau ingin menghabiskannya dengan diam? ”

Ibunya berbicara dengannya atau mungkin pada dirinya sendiri. Chandra hanya menggenggam tangan ibunya. Tidak berkata apa-apa, hanya mata yang berkedip. Waktu berlalu sangat cepat. Saat Chandra tertidur, Ibunya termenung sendiri. Melihat sekeliling dan menghela nafas. Ibunya masih merasa hari kelahiran anaknya kemarin. Barangkali karena kehangatan dan keramaian saat upacaranya masih sama seperti saat anaknya baru lahir

Memang, di tempat mereka jarak antar rumah tak begitu jauh. Sehingga jika satu rumah memiliki kegiatan tentulah keluarga lain langsung tahu. Tidak lupa mereka membantu tanpa memikirkan banyak hal. Mereka datang, membantu, lalu pulang. Mungkin sebuah tradisi. Tak ada peraturan tertulis soal ini. Hanya saja bagi keluarga di tempat itu, rasa-rasanya akan sangat berdosa bil sampai tak menampakkan wajah ketika ada keluar lain memiliki sebuah kegiatan. Secara kebetulan pula tempat itu selalu ditempati secara turun-temurun. Jadi tak pernah ada orang asing ataupun keluarga asing yang tinggal di tempat itu.

*

Hal itulah yang terus diceritakan ayah-ibunya dan terus diingat Chandra bahkan saat ia telah beranjak dewasa. Terlebih lagi saat ini ia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan yang baginya cukup berat. Sebuah tawaran masuk ke emailnya pagi tadi. Tawaran itu terus ia pikirkan hingga malam harinya. Ia merasa akan menjadi durhaka pada ayah-ibunya yang telah tiada jika mengiyakan tawaran itu. Namun di sisi lain, hatinya tahu bahwa ia sebenarnya perlu mengiyakan tawaran itu.

Terbayang di benaknya jika ia mengiyakan tawaran itu. Tentulah sebuah upacara tak akan lagi seramai dulu atau sehangat dulu. Terbayang pula di benaknya semisal ia akan dianggap tulah dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sampai lucut oleh keringat baju kerjanya. Rasa-rasanya, ia lebih baik dimarahi atasan saja dibanding harus membuat sebuah keputusan yang mungkin bisa membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Bayangan-bayangan itu semakin nyata saja di kepalanya. Kembali terngiang ucapan ibunya beberapa tahun lalu saat ia baru lulus kuliah.

“Jangan jauh-jauh cari kerja, supaya gampang bersilaturahmi di sini!”

Ia semakin kebingungan ketika ia duduk di beranda. Kenangan masa kecilnya saat bermain layangan menghampirinya. Ia ingat sekali ketika saat itu terjatuh karena tertabrak anak-anak sebayanya. Yang pertama menghampirinya adalah nenek di depan rumahnya. Nenek itu mengobatinya sudah seperti anaknya sendiri. Tentu nenek itu juga telah tiada. Terlalu banyak kenangan membuatnya makin tak karuan. Ia meninggalkan beranda.

Tapi tetap saja, kenangan masa kecil lainnya tetap menghampiri. Teringat dengan jelas olehnya saat sepeda dewasa yang ia naiki remnya blong dan menabrak pagar rumah milik teman ibunya. Pagar rumah itu tetap dibiarkan penyok, tetapi luka kakinya segera diobati oleh pemilik rumah. Seolah pagar itu tak apa-apa.

Chandra ingin menangis. Ia semakin tak karuan saja. Terlebih lagi saat handhphone-nya berbunyi. Sebuah email. Ia buka dengan cepat. Rupanya dari orang yang memberikan tawaran tadi. Ternyata Chandra belum membalas pesan email yang orang itu kirimkan pertama tadi. Chandra hanya membaca email tersebut. Belum ada siapa-siapa yang ia kabari soal ia menerima tawaran ini. Baginya ini adalah masalah paling personal dalam hidupnya.

Malam semakin sunyi saja. Suara keran di kamar mandinya terdengar menetes pelan-pelan. Suara jangkrik dan suara angin justru membuatnya ingat ibu. Rasanya ia lebih baik jadi anak kecil saja. Meskipun saat itu ia tak pernah tahu soal upacara apa yang diikutinya, doa apa yang diucapkannya, gerakan apa yang dilakukannya, siapa yang datang menjenguknya, ia masih bisa tetap tersenyum. Bulan perlahan muncul. Chandra melihatnya. Ia sadar tak selamanya dia bisa berdiam dan tak memberikan kepastian soal tawaran yang muncul tadi. Bayangan masa kecilnya soal keluarga, layangan, beranda, sepeda dan lain-lain ia masukan kedalam hatinya. Ia harus membuat keputusan.

Dengan pelan Chandra menuju kamarnya. Ia buka email melalui laptopnya secara perlahan-lahan. Beberapa menit ia termenung melihat tulisan di layar laptopnya. Setelah menghela napas ia mulai mengetik sesuatu. Lama ia mengetik. Mengulangnya beberapa kali sampai akhirnya ia berhenti. Suara keran di kamar mandi terasa mengganggunya. Ia beranjak dan mengeratkan keran tersebut. Ketika kembali ia melihat lilin yang tinggal setengah. Sebab kemarin mati listrik. Ia termenung merasa ada sesuatu. Kemudian ia duduk di depan laptopnya dan kembali mengetik. [T]

** Lagu Putri Cening Ayu, lagu tradisional Bali

___

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyepi dalam Krisis

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co