25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
March 13, 2021
in Cerpen
Chandra | Cerpen AA Ngurah Anggara Surya

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Seorang bayi yang baru lahir menangis, seorang anak dengan mata dan kulit berwarna coklat. Dia menangis dengan keras untuk menandakan bahwa dia ada di sana. Meskipun beberapa bagian dunia tidak peduli, setidaknya orang-orang di sekitarnya sangat peduli. Doa dibisikkan di telinga kiri dan kanannya oleh ibunya. Dokter dan keluarganya tersenyum bahagia.

“Aku akan memanggilmu Chandra, jadi kau akan menjadi tanda untuk berdoa,” bisik ibunya.

Kelahirannya diumumkan oleh keluarganya. Ada yang berpura-pura bahagia, ada yang tidak bahagia sama sekali, ada yang tidak peduli dan ada yang terlihat bahagia. Apa yang istimewa dari bayi yang baru lahir? Tidak ada yang benar-benar istimewa bagi orang lain, tetapi bagi keluarga yang memiliki bayi tersebut, tentulah sangat istimewa apalagi jika sudah bicara soal  upacaranya. Di tempat kelahiran Chandra, biasanya diadakan upacara-upacara meriah. Tarian tradisional, musik tradisional, aksesoris emas untuk bayi tak luput ada di sana. Sudah sebuah kewajiban bagi keluarga untuk melakukan upacara meriah tersebut.

Untuk Chandra, dia hanya tahu menangis dengan banyak pikiran di benaknya. Dia sama sekali tidak peduli dengan upacara tersebut. Upacara ini tidak hanya untuk dia, tetapi juga untuk keluarga mereka. Upacara yang luar biasa. Entah apa yang dipikiran Chandra, tentulah dia harus mengikuti semua itu bahkan jika dia tidak mengerti.

“Kami harap kamu menjadi sebaik Chandra yang ada di atas,” orang menyentuhnya.

Chandra tersenyum, bukan karena doa mereka tapi karena sesuatu yang lain. Tentu saja Chandra belum memahaminya. Chandra melihat seorang wanita tua membuat wajah lucu untuknya. Suara gong berbunyi lagi setelah sekaa gong memakan makanan tradisional yang disajikan, penari mulai menari, tertawa, ribut, nenek tua itu lalu pergi.

Semuanya berjalan dengan baik. Ibunya sedang duduk di beranda sambil mengasuhnya. Saat bulan perlahan muncul di malam hari di balik awan, ibunya mulai menyanyikan satu-satunya lagu yang menurutnya paling cocok untuk saat ini.


**Putri cening ayu

Ngijeng cening jumah

Meme luas malu

Ke peken meblanje

Apang ade darang nasi”**


Bersama jangkrik, air menetes dari keran, dia bernyanyi. Bulan bersinar tapi di beranda rumah terasa gelap. Bola lampu tidak cukup maka dinyalakan tiga lilin. Lebih baik daripada menyalakan bola lampu, pikirnya. Satu, dua, tiga, oops, angin menyebabkan lilin ketiga padam. Entah bagaimana, Chandra tersenyum dan itu membuat ibunya ikut tersenyum. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan dua lilin, bola lampu, jangkrik, tetesan air, dan lagu.

Cuaca semakin dingin, ibu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Anehnya, suara jangkrik berhenti dan bulan perlahan memudar menjadi awan. Ibu membiarkan lilin menyala sampai perlahan-lahan padam meninggalkan asap. Saat asap mengalir ke langit, Chandra menutup matanya.

*­

Hujan deras, Chandra berusia tiga bulan sekarang. Dengan matanya dia melihat keluarganya memindahkan meja banten ke tempat yang kering. Ini adalah upacara untuknya lagi. Tradisi lain yang bagus untuk diikuti, musik yang sama, penari yang sama namun suasananya berbeda.

“Inilah yang kami sebut sebagai berkat dari Tuhan,” teriak ibunya

Upacara masih berlangsung. Wanita tua itu datang lagi dan bermain dengan Chandra. Tidak ada orang yang melihat wanita tua itu karena mereka sibuk. Chandra sebenarnya harus mengikuti upacara lagi tetapi karena hujan, keluarganya memutuskan untuk melakukan hal lain yang tidak melibatkan Chandra. Pukul sepuluh, hujan tidak deras seperti sebelumnya. Sekali lagi, setelah hujan lebat, Chandra mengikuti upacara yang sama sekali tidak dia mengerti.

Hari itu hari yang sibuk, tapi di malam hari seperti biasa, Chandra bersama ibunya. Saat hujan lebat datang di siang hari, langit cerah datang di malam hari. Dengan banyak bintang di atas kepala mereka, mereka beristirahat. Sayangnya, tidak ada suara jangkrik. Tapi ibu Chandra sama sekali tidak peduli. Baginya, yang terpenting adalah waktu untuknya dan Chandra. Seorang ibu terkadang aneh. Setelah hari yang sibuk, mereka masih punya banyak energi untuk dihabiskan. Sedang di kamar, ayahnya sudah tertidur.

“Lagu apa hari ini? ”

“Apakah kau ingin lagu yang sama seperti biasanya? ”

“Atau apakah kau ingin menghabiskannya dengan diam? ”

Ibunya berbicara dengannya atau mungkin pada dirinya sendiri. Chandra hanya menggenggam tangan ibunya. Tidak berkata apa-apa, hanya mata yang berkedip. Waktu berlalu sangat cepat. Saat Chandra tertidur, Ibunya termenung sendiri. Melihat sekeliling dan menghela nafas. Ibunya masih merasa hari kelahiran anaknya kemarin. Barangkali karena kehangatan dan keramaian saat upacaranya masih sama seperti saat anaknya baru lahir

Memang, di tempat mereka jarak antar rumah tak begitu jauh. Sehingga jika satu rumah memiliki kegiatan tentulah keluarga lain langsung tahu. Tidak lupa mereka membantu tanpa memikirkan banyak hal. Mereka datang, membantu, lalu pulang. Mungkin sebuah tradisi. Tak ada peraturan tertulis soal ini. Hanya saja bagi keluarga di tempat itu, rasa-rasanya akan sangat berdosa bil sampai tak menampakkan wajah ketika ada keluar lain memiliki sebuah kegiatan. Secara kebetulan pula tempat itu selalu ditempati secara turun-temurun. Jadi tak pernah ada orang asing ataupun keluarga asing yang tinggal di tempat itu.

*

Hal itulah yang terus diceritakan ayah-ibunya dan terus diingat Chandra bahkan saat ia telah beranjak dewasa. Terlebih lagi saat ini ia sedang dihadapkan pada sebuah pilihan yang baginya cukup berat. Sebuah tawaran masuk ke emailnya pagi tadi. Tawaran itu terus ia pikirkan hingga malam harinya. Ia merasa akan menjadi durhaka pada ayah-ibunya yang telah tiada jika mengiyakan tawaran itu. Namun di sisi lain, hatinya tahu bahwa ia sebenarnya perlu mengiyakan tawaran itu.

Terbayang di benaknya jika ia mengiyakan tawaran itu. Tentulah sebuah upacara tak akan lagi seramai dulu atau sehangat dulu. Terbayang pula di benaknya semisal ia akan dianggap tulah dan menjadi anak yang tidak berbakti. Sampai lucut oleh keringat baju kerjanya. Rasa-rasanya, ia lebih baik dimarahi atasan saja dibanding harus membuat sebuah keputusan yang mungkin bisa membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Bayangan-bayangan itu semakin nyata saja di kepalanya. Kembali terngiang ucapan ibunya beberapa tahun lalu saat ia baru lulus kuliah.

“Jangan jauh-jauh cari kerja, supaya gampang bersilaturahmi di sini!”

Ia semakin kebingungan ketika ia duduk di beranda. Kenangan masa kecilnya saat bermain layangan menghampirinya. Ia ingat sekali ketika saat itu terjatuh karena tertabrak anak-anak sebayanya. Yang pertama menghampirinya adalah nenek di depan rumahnya. Nenek itu mengobatinya sudah seperti anaknya sendiri. Tentu nenek itu juga telah tiada. Terlalu banyak kenangan membuatnya makin tak karuan. Ia meninggalkan beranda.

Tapi tetap saja, kenangan masa kecil lainnya tetap menghampiri. Teringat dengan jelas olehnya saat sepeda dewasa yang ia naiki remnya blong dan menabrak pagar rumah milik teman ibunya. Pagar rumah itu tetap dibiarkan penyok, tetapi luka kakinya segera diobati oleh pemilik rumah. Seolah pagar itu tak apa-apa.

Chandra ingin menangis. Ia semakin tak karuan saja. Terlebih lagi saat handhphone-nya berbunyi. Sebuah email. Ia buka dengan cepat. Rupanya dari orang yang memberikan tawaran tadi. Ternyata Chandra belum membalas pesan email yang orang itu kirimkan pertama tadi. Chandra hanya membaca email tersebut. Belum ada siapa-siapa yang ia kabari soal ia menerima tawaran ini. Baginya ini adalah masalah paling personal dalam hidupnya.

Malam semakin sunyi saja. Suara keran di kamar mandinya terdengar menetes pelan-pelan. Suara jangkrik dan suara angin justru membuatnya ingat ibu. Rasanya ia lebih baik jadi anak kecil saja. Meskipun saat itu ia tak pernah tahu soal upacara apa yang diikutinya, doa apa yang diucapkannya, gerakan apa yang dilakukannya, siapa yang datang menjenguknya, ia masih bisa tetap tersenyum. Bulan perlahan muncul. Chandra melihatnya. Ia sadar tak selamanya dia bisa berdiam dan tak memberikan kepastian soal tawaran yang muncul tadi. Bayangan masa kecilnya soal keluarga, layangan, beranda, sepeda dan lain-lain ia masukan kedalam hatinya. Ia harus membuat keputusan.

Dengan pelan Chandra menuju kamarnya. Ia buka email melalui laptopnya secara perlahan-lahan. Beberapa menit ia termenung melihat tulisan di layar laptopnya. Setelah menghela napas ia mulai mengetik sesuatu. Lama ia mengetik. Mengulangnya beberapa kali sampai akhirnya ia berhenti. Suara keran di kamar mandi terasa mengganggunya. Ia beranjak dan mengeratkan keran tersebut. Ketika kembali ia melihat lilin yang tinggal setengah. Sebab kemarin mati listrik. Ia termenung merasa ada sesuatu. Kemudian ia duduk di depan laptopnya dan kembali mengetik. [T]

** Lagu Putri Cening Ayu, lagu tradisional Bali

___

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyepi dalam Krisis

Next Post

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Puisi-puisi Rony Fernandez | Roti di Meja Keluarga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co