26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HUT Kota Denpasar | Dari Mana Dapat Angka 27 Februari?

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 27, 2021
in Esai
HUT Kota Denpasar | Dari Mana Dapat Angka 27 Februari?

Ilustrasi tatkala.co [Iamnik]

Perayaan ulang tahun sebuah kota tak bisa dilepaskan dari sejarah yang hadir di baliknya. Demikian pula dengan perayaan ulang tahun kota Denpasar. Dalam Perda Kota Denpasar Nomor 10 Tahun 2012, disebutkan hari jadi kota Denpasar ditetapkan pada tanggal 27 Februari 1788. Itu berarti, pada 27 Februari 2021, Kota Denpasar berusia 233 tahun. Dalam rentang waktu dua abad lebih ini, apa saja perubahan yang terjadi pada Kota Denpasar? Bagaimana kelahirannya? Mengapa tanggal 27 Februari yang ditetapkan sebagai tanggal kelahirannya kota Denpasar? Apa sebenarnya yang terjadi pada tanggal tersebut?

Jika bisa pergi ke masa lalu, tepat pada 27 Februari 1788, tentu kita akan menemukan kebenaran di baliknya. Sayangnya, manusia tak bisa memutar waktu. Ia hanya bisa mengira-ngira lewat arsip dan catatan sejarah. Sementara jika merujuk pada arsip dan catatan sejarah tahun 1788, tak ada keterangan yang menyebutkan 27 Februari sebagai kelahiran Kota Denpasar. Logikanya, bagaimana Denpasar bisa disebut kota apabila pada tahun tersebut, Pulau Bali masih berbentuk kerajaan?

Dalam konteks ini, perlu kiranya memulai pembacaan Denpasar dari sejarah perang kerajaan Badung tahun 1779, yang mana pada tahun tersebut wilayah kekuasaan Puri Satria berhasil diambil alih oleh I Gusti Ngurah Made. Menurut tulisan ‘Menelusuri Sejarah Kota Denpasar’ oleh sejarawan A.A Bagus Wirawan, sejak tahun itu pula I Gusti Ngurah Made diakui oleh rakyat Badung sebagai seorang raja. Karena Puri Satria sebagai pusat pemerintahan telah rusak dan hancur akibat perang yang terjadi, I Gusti Ngurah Made sebagai Raja Badung kemudian memutuskan untuk mendirikan keraton baru. Adapun lokasi keraton baru ini, terletak di sebelah selatan Puri Satria. Di sana terdapat sebuah taman bernama Taman Denpasar karena berada di sebelah utara pasar (lerpasar; denpasar).

Keraton inilah yang kemudian diberi nama Puri Denpasar. Keraton yang selesai dibangun pada tahun 1788 ini terbentang kokoh menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Badung selama 118 tahun. Hingga pada 1906, terjadi perang Puputan Badung. Raja dan pengikut Puri Denpasar serta segenap puri lainnya bersatu melawan Belanda melakukan puputan. Pasca Puputan Badung, Belanda pun berhasil menguasai wilayah Kerajaan Badung. Denpasar yang semula sebagai keraton tradisional ibukota Kerajaan Badung, ditata ulang oleh Belanda, dijadikan sebagai sebuah ibukota modern. Ibukota Denpasar kala itu menjadi tempat pusat pemerintahan daerah afdeling (setingkat kabupaten pada masa itu) Bali Selatan. Adapun Afdeling Bali Selatan tercatat membawahi lima onderafdeling (setingkat kawedanan—di bawah kabupaten, di atas kecamatan), yakni Karangasem, Klungkung, Gianyar, Tabanan, dan Badung.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Bali masuk dalam bagian Provinsi Sunda Kecil dengan wilayah meliputi, Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau  Flores, Pulau  Alor, Pulau Sumba, dan Pulau Timor. Provinsi Sunda Kecil beribu kota di Singaraja. Sementara Denpasar menjadi pusat pemerintahan Wilayah Daerah Bali. Hal ini berlangsung sampai 1958. Pada tahun 1958 pemerintah kemudian memberlakukan Undang-undang  Nomor  64 tahun  1958  yang membuat Nusa Tenggara terbagi jadi tiga daerah Swatantra Tingkat I, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Singaraja  secara  resmi menjadi ibu kota Provinsi Daerah Tingkat I Bali. Provinsi Daerah Tingkat I Bali sendiri dibagi lagi menjadi delapan Daerah Swatantra Tingkat II, yaitu Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem, dan Buleleng. Denpasar pada masa ini menjadi ibukota Daerah Swatantra II Badung.

Dalam tulisan IDG Palguna berjudul ‘Kapan Hari Jadi Kota Denpasar’, dapat dibaca kemudian perkembangan Denpasar berdasar pada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 23 Juni 1960, No. 52/2/36-B6, yang memutuskan bahwa Kota Denpasar sebagai ibukota Provinsi Daerah Tingkat I. Artinya, pada tahun inilah Denpasar resmi menjadi ibukota Provinsi Daerah  Tingkat I (Provinsi  Bali). Adapun alasan pusat pemerintahan dari Singaraja ke Denpasar sampai saat ini masih menjadi misteri. Dalam konteks ini, yang menarik untuk dicermati pula adalah selain menjadi Dati I Bali, Denpasar juga menjadi ibukota Daswati II Badung yang kemudian menjadi Daerah Tingkat II Badung.

Infografik tatkala.co [Iamnik]

Pada tanggal 27 Juni 1974, diterbitkan SK Gubernur Kepala Dati I Bali atas usul Pemerintah Kabupaten Dati II Badung untuk menjadikan Denpasar menjadi kota administratif. Kemudian pada tanggal 5 Maret 1977, Bupati Kepala Dati II Badung mengirim usulan kepada Gubernur Kepala Dati I Bali untuk diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta. Atas dasar usulan itulah kemudian terbit Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1978 tentang pembentukan Kota Administratif Denpasar. Setelahnya, pada tanggal 28 Agustus 1978, Menteri Dalam Negeri RI meresmikan Denpasar menjadi Kota Administratif.

Pada tahun 1992, kota Administratif Denpasar kemudian “ditingkatkan statusnya” menjadi  Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar berdasarkan UU No.1/1992 pada tanggal 27 Pebruari 1992. Dalam tulisannya, Palguna juga menjelaskan bahwa secara substansial-konseptual, hal ini merupakan bagian dari implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pemerintahan Di Daerah yang menerapkan konsepsi otonomi menumbuhkan asas desensentraliasi (penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah) dengan dekonsentrasi (perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah).

Secara sederhananya hal ini dapat dilihat dari “status ganda” daerah otonom maupun yang memimpin daerah otonom Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar.  Kota Madya adalah pengejawantahan asas desentralisasi, sedangkan Daerah Tingkat II adalah pengejawantahan asas dekonsentrasi. Lalu yang memimpin disebut Walikota Kepala Daerah Tingkat II Denpasar. Walikota mengejawantahkan kepala daerah otonom (wakil daerah), sedangkan Kepala Daerah Tingkat II mengejawantahkan wakil pemerintah pusat di daerah (dekonsentrasi).

Tak sampai disana, tujuh tahun setelah diresmikannya sebagai Kota Madya Daerah Tingkat II, Denpasar kembali mengalami perubahan. Pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar berubah lagi statusnya menjadi (daerah otonom) Kota Denpasar. Hal ini membuat Denpasar menjadi daerah otonom yang hampir dalam keseluruhan pelaksanaan fungsi pemerintahannya didasarkan pada asas desentralisasi dan secara struktural tidak merupakan “bawahan” provinsi.

Kembali pada soal hari jadi Kota Denpasar pada tanggal 27 Februari 1788, menurut A.A Bagus Wirawan, berdasar pada fakta sejarah yang ditemukan, ada dua yang bisa dijadikan bahan pertimbangan menyusun hari kelahiran Denpasar. Pertama adalah tahun 1788 yang merupakan berdirinya Puri Denpasar sebagai ibukota Kerajaan Badung yang berdaulat dan otonom. Yang kedua adalah 27 Februari 1992 sebagai tanggal diresmikannya Kota Denpasar yang berdiri secara otonom dan modern. Artinya, 27 Februari 1788 ini merupakan gabungan dari kedua momen sejarah panjang pada Kota Denpasar yang berawal mula dari kota keraton tradisional Puri Denpasar sampai diresmikan menjadi kota otonom dan modern oleh Menteri Dalam Negeri RI.

Hal ini telah diuji dan diverifikasi yang dilakukan lewat seminar pada 19 September 2012 oleh tim peneliti yang dibentuk atas kerjasama Pemerintah Kota Denpasar dengan Universitas Udayana. Hari jadi inilah yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 10 Tahun 2012 di Denpasar, 12 Desember 2012 oleh Walikota Denpasar Rai Dharmawijaya Mantra. [T]

Tags: Kota Denpasarsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hilangnya Peran Notaris Dalam Pendirian PT UMKM

Next Post

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Puisi I Made Suantha | Pada Bahagian Lain (Suatu Ketika) Tanpa Hari di Musim Kupukupu

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co