2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
February 21, 2021
in Khas
Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

Tjokorda Gde Rake Sukawati {foto dari penulis diambil dari sumber-sumber sejarah]

TAK banyak generasi kini mengenal nama Tjokorda Gde Rake Sukawati. Dalam sejarah politik dan kebudayaan, nama ini sebenarnya sangat menggema. Ia adalah orang Bali pertama yang jadi “Presiden”. Tepatnya Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Ia juga generasi intelektual Bali yang berani berhadap-hadapan secara ideologis dengan agen zending di Bali.

Sebagai anggota Volksraad, Tjokorda Gde Rake Sukawati melakukan perjuangan parlementer pertama menentang gerakan zending. Dalam sejarah kebudayaan, ia adalah diplomat ulung yang membawa seni dan budaya Bali ke dunia internasional. Sebagai intelektual, beragam buku pernah ditulisnya. Ia pernah menulis tentang busana orang Bali dalam buku berjudul “How The Balinese Dress”.

Mari kita berkenalan sejenak dengan tokoh ini. Saya berupaya menuliskan sosoknya sebatas yang saya ketahui dari hasil wawancara dengan tokoh Ubud dan dokumen sejarah yang ada.  Sekali lagi, “sebatas yang saya ketahui”.

Tjokorda Gde Rake Sukawati adalah pangeran Puri Ubud yang lahir pada Minggu Umanis Wuku Menail, tanggal 15 Januari 1899. Ia adalah anak penguasa Ubud, Tjokorda Gede Sukawati. Sejak kecil, Tjokorda Gde Rake Sukawati dikenal bandel, khas kenakalan anak pada masanya. Meski dianggap nakal, ia adalah anak yang berprestasi. Setelah tamat sekolah di Gianyar, ia ingin melanjutkan studi di  Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren (Osvia). Ini merupakan sekolah pendidikan bagi pegawai-pegawai bumiputra pada jaman Belanda. .

Bersama saudaranya, Anak Agung Ngurah Asti, Tjok. Rake Sukawati sekolah di Probolinggo, Jawa Timur. Sejak saat itu, ia menggemari dunia luar, khususnya di bidang kesenian. Ia pecinta musik barat, belajar biola dan kecapi. Ia juga dikenal fasih berbahasa Jawa.

Di sini nampak perubahan Tjok Rake Sukawati: ia yang dibesarkan dalam kentalnya suasana tradisi, kini membuka diri pada dunia luar. Tapi, orang yang hidup dalam kultur Bali, selalu bisa mendialogkan perbedaan kultural. Ia punya genius sintesis.

Meski awalnya sang ayah enggan menyekolahkannya ke Jawa karena bandel, namun toh ia akhirnya sekolah di sana. Inilah titik awal karier seorang Tjokorda Gde Rake Sukawati. Andai saja ia benar-benar dilarang sekolah di Jawa saat itu, mungkin sejarah akan berubah.

Tamat sekolah di Jawa, ia pulang ke Ubud—menjadi seorang punggawa. Tak lama menjadi punggawa, ia diangkat jadi Volksraad, sejenis dewan pertimbangan bagi keseluruhan kepulauan Hindi-Belanda. Sejak di Volksraad ia mulai mulai melakukan perjuangan politik, tentunya dalam wilayah kebudayaan. Ia menanggapi gerakan-gerakan zending di Bali.

Sebagaimana diketahui, sejak ada pembaptisan awal orang Bali pada tahun 1931, menimbulkan kontroversi yang sangat keras. Kontroversi ini berbuah perdebatan sengit antara misionaris Protestan Hendrik Kraemer dengan para orientalis anggota pemerintah kolonial seperti Frederik David K Bosch, Roelof Goris dan Cornelis Lekkerkerker.

Sikap permusuhan diawali oleh Bosch yang menganggap bahwa penginjilan orang Bali sebagai percobaan yang tak pantas. Sikap permusuhan ini juga dilanjutkan oleh Goris yang menerbitkan sebuah buku berjudul” De strijd over Bali en de Zending: De waarde van Dr. Kraemer (1933).

Naskah buku ini diberi kata pengantar oleh Tjokorda Gde Rake Sukawati yang sejak tahun 1924 sudah melakukan penolakan terhadap kedatangan misionaris Katolik.

Saat itu memang ada kolaborasi antara orientalis dan tokoh lokal untuk melawan stigma buruk yang dibuat Kraemer tentang agama orang Bali. Goris bahkan cukup keras menyebut Kraemer sebagai “sok intelek”.

Tak hanya Goris, Tjokorda Gde Rake Sukawati juga menulis komentar terhadap stigma Kraemer terhadap agama Bali. Komentar tersebut diberi judul: Bali en Dr. Kraemer, Eenige opmerkingen omtrent de brochure,,De strijd over Bali en de zending.

Dalam buku ini, Tjokorda Gde Raka Sukawati menyebut kegagalan Kraemer dalam melihat religi orang Bali yang penuh prasangka buruk. Kraemer membuat penilaian tentang agama Bali dengan standar khas barat dan khususnya lagi standar Calvinis.

Di sini, argumentasi Tjokorda Gde Rake Sukawati cukup tajam dalam merespon pandangan-pandangan Kraemer. Kita bisa menyaksikan dialog intelektual bermutu dari putra Ubud ini. Polemik ini pun berbuah keputusan pemerintah yang melarang penginjilan di Bali.

Sikap kultural Tjokorda Gde Rake Sukawati dan pergaulannya dengan para orientalis, peneliti dan seniman luar, berpengaruh terhadap caranya memperkenalkan Bali ke dunia luar. Ia berhasil membujuk walter Spies, pelukis Jerman, untuk datang ke Bali ketika sedang ada projek di Solo. Ketika walter Spies di Bali, ia meminta kepada adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati untuk memberi akses dan akomodasi kepada Spies.

Di sini, kita bisa melihat kerjasama dan pembagian peran yang baik di antara dua pangeran Ubud. Yang satu berperan sebagai diplomat kebudayaan, satunya lagi memiliki akar tradisi yang kuat.

Misi kebudayaan Tjok Rake Sukawati terus berlanjut. Ia dipercaya mengemban misi kesenian dari Belaluan di Festival Pasar Gambir pada tahun 1929. Sukses pada festival gambir, ia kembali memimpin misi kesenian dalam Paris Colonial Exposition di Paris tahun 1931.

Misi kesenian di “Paris Expo” punya pengaruh luar biasa. Para maestro tari dan gamelan turut terlibat dalam lawatan seni tersebut. Mereka adalah Anak Agung Gde Mandra, I Ketut Rindha, Tjokorda Oka Tublen, Tjokorda Rai Sayan, Dewa Gde Raka, Tjokorda Anom, Jero Tjandra dan Ni Rimpeg. Selain maestro tari dan gamelan, ia juga mengajak pelukis, pematung dan pengrajin yang memamerkan keahlian mereka.

Dua penampilan yang memukau dunia barat saat itu yakni Calonarang dan Legong. Dua kesenian ini memang mewakili dua sisi kebudayaan Bali: lembut dan menghentak. Pementasan Calonarang bahkan sampai mempengaruhi dramawan dan ahli teater Eropa yakni Antonin Artaud—sampai melahirkan aliran pemikiran teater kontemporer di barat yang disebut Oriental and Occidental Theatre.

Pengaruh Artaud terhadap seni teater di dunia tentu tak perlu ditanyakan lagi, namun yang menarik adalah pengaruhnya terhadap pemikiran filsafat kontemporer. Banyak filsuf yang juga pemikirannya dipengaruhi oleh Artaud ini. Pementasan Calonarang tidak hanya berpengaruh terhadap revolusi pemikiran seni teater, melainkan juga filsafat. Artinya, Calonarang juga berpengaruh pada pemikiran filsafat barat. Di sini, keputusan Tjokorde Gde Rake Sukawati mementaskan Calonarang dan Legong sangat tepat. 

Sukses mengemban misi kesenian, membuat nama Tjokorde Gde Rake Sukawati terus bergema. Ia menjadi tokoh yang membangun diplomasi berbasis kebudayaan. Berkat gerakannya, seni dan budaya Bali hadir di panggung internasional. Ia juga mendirikan perkumpulan seni Pita Maha bersama adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati.

Duet dua pangeran Ubud ini sangat menarik: yang satu punya sayap yang kuat untuk menerbangkan seni dan budaya Bali ke dunia luar, satunya lagi punya akar yang kuat di Ubud.

Tak selesai mengemban misi kultural, nama Tjok Gde Rake Sukawati pun tak asing dalam sejarah politik di Indonesia. Ia terpilih sebagai Presiden Negara Indonesia Timur, hasil dari konferensi Denpasar. Perdana menterinya saat itu adalah Nadjamoedin Daeng Malewa. Pembentukan Negara Indonesia timur ini adalah dalam rangka Negara Republik Indonesia Serikat.

Memang saat itu ada perdebatan soal bentuk Negara antara Negara persatuan dan federalis, sampai muncul perjanjian Linggajati pada tahun 1946.

Dilema saat itu yakni apakah negosiasi dengan pihak belanda akan menemui jalan buntu dan harus berakhir dengan pertempuran antara kedua belah pihak, atau harus diupayakan kedaulatan secepatnya meskipun ada sesikit konsensi mengenai bentuk Negara.

 Berdasarkan semua kemungkinan yang ada, para pemimpin Indonesia, termasuk Soekarno memilih untuk menerima federasi, asal saja dengan itu proses menuju penyerahan kedaulatan tidak terlalu dihalangi. Sekali lagi, ini adalah bagian dari dinamika dan transisi politik menuju penyerahan kedaulatan. Meskipun kelak, Indonesia menjadi Negara persatuan.

Sejak jadi Presiden NIT, Tjokorda Rake Sukawati sangat intens melakukan kunjungan ke luar negeri. Ia seolah menjarit kembali hubungan internasional sejak Paris Expo. Saat itu, ia didampingi oleh Istri Prancis—ini menarik, mengapa ia memilih istri Prancis sebagai ibu negara. Memang banyak cerita yang belum ditulis ketika ia menjadi Presiden NIT. Padahal itu adalah bagian dari sejarah politik dan tata Negara di Indonesia.

Begitu penting posisi dan peran Tjokorda Gde Rake Sukawati di bidang politik dan dan diplomasi kebudayaan, termasuk pariwisata Bali, namun seiring peralihan generasi, namanya tak banyak banyak dikenal generasi sekarang. Buku-buku tentangnya pun tak banyak ditulis. [T]

Tags: balihistoryPuri UbudsejarahTjokorda Gde Rake SukawatiUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kultur Menanam, Kultur Siapa?

Next Post

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop  Optimalisasi E-Learning

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co