7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gong Xi Fa Cai | Di Singaraja, Imlek Terasa Hening, Makna Terasa Melimpah

Dian Suryantini by Dian Suryantini
February 11, 2021
in Khas
Gong Xi Fa Cai | Di Singaraja, Imlek Terasa Hening, Makna Terasa Melimpah

Suasana Tahun Baru Imlek 2572 Singaraja, Bali,

Ini cerita saya ketika berjalan-jalan pada dua klenteng pada suasana Tahun Baru Imlek 2572 di Singaraja, Bali. Yang pertama di klenteng Ling Gwan Kiong yang merupakan klenteng tertua di Buleleng. Dan yang kedua adalah klenteng Seng Hong Bio yang lokasinya tak jauh dari Ling Gwan Kiong.

Perayaan imlek tahun ini tak seperti biasanya. Suasana kedua klenteng ini sangat sepi. Seperti tak ada perayaan sama sekali. Hanya tampak beberapa pengurus klenteng yang berjaga untuk menyapa umat yang datang beribadah.

Klenteng dengan nuansa merah itu sangat hening. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang meriah disertai hiruk pikuk warga Tionghoa yang datang melakukan persembahyangan di klenteng.

Tahun ini perayaan dibuat secara sederhana dan terbatas karena masih dalam situasi pandemi Covid-19. Jelas saja semua harus dibatasi. Tidak mau juga kan kalau membandel dan akhirnya muncul klaster klenteng atau klaster imlek? Tapi menurut saya pribadi, perayaan dengan keramaian atau tidak, sama saja. Tidak mengurangi makna.

Nah dengan sepinya umat Tri Dharma yang datang ke klenteng, saya pun jadi lebih leluasa menelisik ke dalam dan memperhatikan satu demi satu sajian yang tersedia di atas altar. Bukannya tidak sopan, tapi karena penasaran juga.

Apa alasan di balik makanan dan minuman yang tersaji. Saya pun mencoba menanyakan pelan-pelan satu demi satu hal itu kepada Yap Liong Gwan. Salah satu pengurus T.I.T.D Ling Gwan Kiong.

Tahun Baru Imlek 2572 di Singaraja, Bali

Oke. Mari kita mulai. Hal pertama yang dilakukan warga Tionghoa saat hari raya Imlek adalah sibuk berberes-beres atau membersihkan segala jenis kotoran dan sampah yang ada di rumah. Begitu juga dengan di klenteng.

Ternyata membersihkan rumah dan tempat ibadah itu pun ada maknanya. Tidak hanya sekedar bersih-bersih saja. Dan saya pun baru tahu. Jendela dilap, lantai disapu, dan kamar-kamar dirapikan untuk membuang sampah lama yang mungkin masih tertumpuk sejak tahun baru. Termasuk sampah mantan. Upsss… hehehee.

Ternyata tradisi ini memiliki makna membuang kesialan dari tahun sebelumnya. Selain itu, rumah pun jadi lebih bersih dan enak dilihat untuk perayaan Imlek. Namun, pada saat perayaan Imlek sendiri, rumah tidak boleh lagi dibersihkan karena sama saja dengan membuang keberuntungan di tahun yang baru.

Setelah bersih dan tidak ada lagi sampah, mulailah dihias dengan nuansa merah. Kita semua pasti tahu kalau Imlek sangat identik dengan warna merah. Warna merah bisa ditemukan di ornamen dekorasi, rumah, bahkan pakaian dan aksesoris yang dikenakan saat Imlek.

Warna merah sendiri mempunyai lambang kemakmuran dan keberuntungan bagi kaum Tionghoa. Selain itu, warna merah juga dipercaya dapat mengusir ‘Nian’, monster mistis di legenda Tionghoa yang takut pada warna ini.

Setelah dihias, lalu dipercantik lagi dengan memasang tebu di depan pintu. Tebunya utuh dari akar sampai daun. Ada juga alasan dibalik pemasangan tebu di depan pintu ini. Di dalam legenda Tionghoa, dahulu kala ada seorang raja yang dikejar musuh.

Dalam pelariannya raja itu masuk dalam kebun tebu yang lebat. Persembunyiannya dalam kebun tebu itu membuat si raja tidak ditemukan oleh musuh. Sejak saat itu tebu dipakai ketika ada perayaan besar Tionghoa. Salah satunya Imlek. Singkatnya tebu disimbolkan sebagai penolak bala.

Lain lagi kalau tebu di atas altar. Karena rasa tebu cenderung manis, diharapkan warga Tionghoa mendapat hari raya yang manis. Selanjutnya pada tebu ada ruas-ruasnya. Itu dimaksudkan segala sesuatu yang dilakukan harus ada tahapannya.

Selain itu ada juga buah-buahan yang tersaji. Ada buah pisang, jeruk, apel silik, delima. Dan yang tak pernah absen adalah kue keranjang serta minuman teh dan arak.

Tahun Baru Imlek 2572 di Singaraja, Bali

Mari kita kulik satu per satu. Buah pisang saat imlek yang digunakan adalah pisang mas atau pisang raja, karena melambangkan kemakmuran. Jeruk kuning, biasanya disertai daun yang masih menempel pada batang jeruk. Dalam bahasa Mandarin jeruk disebut chi zhe.

Chi artinya rezeki, dan zhe berarti buah. Jeruk bagi mereka adalah buah yang mendatangkan rezeki. Warna oranye yang sangat cantik pada kulit jeruk melambangkan emas yang dapat diartikan sebagai uang.

Kemudian ada apel. Apel ini melambangkan keselamatan. Delima melambangkan pengumpulan rezeki. Buah silik yang bentuknya seperti rambut budha dikatakan sebagai lambang kesucian. Kemudian ada kue keranjang. Bukan kue yang terbuat dari keranjang. Hanya sebutan saja.

Kue keranjang, erat kaitannya dengan lambang kegigihan, kegembiraan dan kemakmuran. Kue Keranjang atau nama lainnya Nian Gao memiliki arti sebagai kue tahunan. Biasanya saat merayakan tahun baru, keluarga Tionghoa menyantap dan membagikan kue keranjang dengan harapan mendapat berkah dan kemakmuran sepanjang tahun.

Kue keranjang juga biasanya digunakan sebagai sesaji kepada leluhur pada tujuh hari menjelang Imlek. Kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Semakin ke atas maka akan semakin kecil kue disusun. Penyusunan bertingkat kue keranjang memiliki makna harapan atas peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.

Kue wajib lain di Tahun Baru Imlek adalah kue Lapis Legit (Spekkoek). Kue ini melambangkan datangnya rezeki yang berlapis-lapis di tahun mendatang. Sehingga masyarakat Tionghoa berharap untuk merasakan kehidupan yang lebih manis dan legit. Selegit cintanya Bai Suzhen dan Xu Xian dalam legenda Ular Putih. Hehehe.

Kemudian, ada Mie yang melambangkan umur yang panjang, terutama Siu Mie atau Shou Mian yang berarti mi panjang umur. Mie harus disajikan tanpa putus dari ujung awal sampai akhir. Jadi, benar-benar satu untaian mie. Biasanya makanan ini banyak tersaji di rumah-rumah warga Tionghoa.

Dan yang terakhir ada teh dan arak. Kaum Tionghoa sangat menghargai kebiasaan minum teh, baik menjelang Imlek maupun dalam kehidupan sehari-hari. Mereka biasa minum teh sebelum memulai hari.

Teh sendiri merupakan simbol kehormatan dan kemakmuran di tahun yang baru, dan juga diberikan sebagai lambang kerendahan hati. Di Tiongkok, sangat umum untuk menemukan teh dalam kategori tisane (teh bunga) serta teh berwangi, seperti jasmine tea atau oolong tea. Sementara arak sendiri sebagai tanda pembatasan diri.

Dan, yang paling ditunggu-tunggu saat kumpul keluarga pada perayaan imlek tentunya bagi-bagi duit alias angpao. Tradisi yang tidak pernah absen dalam setiap perayaan Imlek ini memang menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu saat perayaan Imlek. Tradisi bagi-bagi angpao ini merupakan tradisi di mana masyarakat Tionghoa yang sudah berkeluarga memberikan rezeki kepada anak-anak dan orang tuanya.

Biasanya perayaan tahun baru imlek akan dimeriahkan dengan hingar bingarnya pertunjukan Barong Sai. Dalam kepercayaan orang China, Liong (naga) dan Barongsai merupakan lambang kebahagiaan dan kesenangan. Tarian naga dan singa ini dipercaya merupakan pertunjukan yang dapat membawa keberuntungan serta salah satu cara mengusir roh-roh jahat yang akan mengganggu manusia.

Maka tidak heran pertunjukkan ini selalu ada dalam setiap perayaan Imlek. Selain itu, pementasan Barong Sai juga kadang diakhiri dengan petasan atau kembang api. Selain untuk memeriahkan perayaan yang berlangsung setahun sekali ini, menurut kepercayaan Tionghoa, membakar petasan dan kembang api tepat di hari raya Imlek wajib dilakukan untuk mengusir nasib-nasib buruk di tahun sebelumnya dan mengharapkan tahun baru yang lebih bahagia dan lebih baik.

Itu sekilas tentang makna dibalik persembahan yang disajikan di atas altar saat Imlek. Namun apa sesungguhnya Imlek itu? Tahun Baru China merupakan hari raya yang paling penting dalam masyarakat China.

Di luar daratan China, Tahun Baru China lebih dikenal sebagai Tahun Baru Imlek. Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian atau mandarinnya yin li yang berarti kalender bulan. Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan pada tanggal 1 hingga tanggal 15 pada bulan ke-1 penanggalan kalender China yang menggabungkan perhitungan matahari, bulan, 2 energi yin-yang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan 5 unsur. Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa.

Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama atau pinyin di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas atau pada saat bulan purnama. Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”

Tahun Baru China hampir dirayakan oleh seluruh pelosok dunia, yang wilayahnya terdapat orang China, keturunan China atau pecinan, sebab Tahun Baru Imlek merupakan perayaan tradisional yang telah turun menurun.

Perayaan Imlek, dilakukan sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun.

Tahun Baru Imlek 2572 di Singaraja, Bali

Tahun baru Imlek sebetulnya merupakan suatu pergantian tahun yang lama menuju tahun yang baru, dan tahun baru imlek ini memiliki nama khusus yaitu Chuen Chie. Chuen adalah musim, Chie adalah hari raya. Jadi Chuen Chie ini berarti hari raya musim semi. Karena sekitar abad ke-16 sampai ke-11 SM itu ada seorang raja di Dinasti Shang yang bernama raja Chu Ii.

Dia memberikan tugas kepada seseorang yang bernama Wan Yien untuk menciptakan kalender. Karena kalender sebelumnya sudah ada namun masih kacau, disini raja menginginkan suatu kekompakan. Dan karena ini diciptakan pada abad ke-21 sampai ke ke-17 SM pada jaman Dinasti Xia di Tiongkok maka kalender ini dinamakan dengan kalender Xia Li.

Dan sekarang yang disebut imlek ini bukan termasuk murni, tapi sudah dipadukan dengan Yang Li. Kalau imlek yang murni perhitungannya dengan kondisi bulan. Mulai dari bulan paling bundar sampai bulan paling bundar berikutnya, itu lamanya sekitar 29-30 hari.

Rangkaian ritual Tahun Baru Imlek dimulai dengan upacara sembahyang Dewa Naik menyusul rangkaian pembersihan altar persembahnyangan hingga kemudian pada puncak acara tahun baru akan diwarnai dengan tradisi Ciam Shi. Mengenai ceritanya, dewa dapur melapor kepada yang diatas yang bernama Ii Vang Shang Dhie untuk melaporkan bagaimana keadaan di dunia ini, setelah itu diberikan kesempatan untuk membersihkan altar persembahyangan semuanya. Membersihkan altar hanya bisa dilakukan setahun sekali seminggu sebelum imlek.

Di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967.

Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif yang hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya. Selanjutnya pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

Berbagai rangkaian ritual dan perayaan Tahun Baru Imlek yang dipusatkan di TITD Ling Gwan Kiong dan Seng Ho Bio juga diwarnai dengan atraksi Barong sai, pelepasan lentera dan diakhiri dengan penyalaan kembang api. Namun tahun ini, harus iklas dengan perayaan yang sederhana. Banyak juga pengaruh-pengaruh Cina yang tersebar di Buleleng bahkan Bali.

Di Buleleng dapat dilihat di Pura Pabean di desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak. Di sana terdapat satu pelinggih lengkap dengan pernak-pernik Tionghoa. Saat piodalan biasanya akan mementaskan Barong Sai. Selain itu, Tari Baris Dadap yang ada di Desa Bila Kecamatan Kubutambahan juga mendapat sentuhan Cina. Seperti lantunan lagu-lagu saat menari iramanya menyerupai lantunan lagu Tionghoa. Kemudian di Pura Batur, Kintamani, juga terdapat satu konco di tengah pura yang di peruntukkan untuk memuja dewa Cina. Ternyata pengaruh Cina di Bali sangat kuat. Buka hanya di tempat ibadah serta budaya, namun juga makanan dan bangunannya. [T]

____

ARTIKEL TERKAIT IMLEK

Foto-foto: koleksi penulis

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Foto koleksi penulis

Ditunggu Karena Makna, Isi Angpao itu Bonus | Cerita Engkong Tentang Imlek

Warga Bali keturunan Tionghoa merayakan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja
Imlek: Lamat-lamat Terdengar Suara Gamelan Bali dari Klenteng
Bu Herma menyiapkan persembahan saat Imlek

Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa

Penulis (kiri) bersama Kiky Riwaldi (Kanan)

Riski Nanda Riwaldi: Merekam Gemerlap Imlek dan Lain-lain dalam Akhir Bahagia

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Pementasan Barongsai di Vihara Amurva Bhumi Blahbatuh tahun 2019. Sumber foto : Rony Kurniawan

Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Gemuruh syaduh suara gamelan gong  suling dan angklung di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja, Bali

Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Tags: baliBudhabulelengChinaImlekpandemiTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tahun Kritis Pariwisata Bali

Next Post

Kisah-Kisah Ganjil dari Negeri Cina | Ikan yang Bisa Bicara

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Kisah-Kisah Ganjil dari Negeri Cina | Ikan yang Bisa Bicara

Kisah-Kisah Ganjil dari Negeri Cina | Ikan yang Bisa Bicara

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co