14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Vincent Chandra by Vincent Chandra
February 9, 2020
in Khas
Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Gemuruh syaduh suara gamelan gong suling dan angklung di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja, Bali

Dingin malam di kota rantauan, Kota Singaraja, Bali, rasanya lebih lekat, lebih memeluk, dari biasanya. Ada rasa yang aneh, kangen dan rindu, juga letih. Anehnya lagi bintang-bintang seolah tampak sedang tersenyum pada semua orang. Bahkan sore tadi letihku pulih oleh sejuknya angin sehabis hujan.

Sebenarnya ada apa? Tiba-tiba bunyi HP memecah lamunanku. Pada layarnya tertulis “panggilan dari Emak”. Rupanya itu Ibu tercinta yang mengingatkan untuk sembahyang Cap Go Meh malam ini. Telepon dari Ibu tadi sekaligus menjawab kegalauanku. Benar saja, alam barusan berusaha menegur keacuhanku dengan segala kebaikannya.

Tibalah aku pada Malam ke 15 (Cap Go Meh), Sabtu 8 Februari 2020, pertanda Imlek tahun ini telah usai. Imlek kesekian yang kulewatkan tanpa duduk semeja dengan keluarga besar, makan Mie Sua (Mie tipis dan halus khas kaum TiongHua yang melambangkan umur panjang) dan hidangan khas rumah yang kuidam-idamkan, menghabiskan kue keranjang buatan Ibu, turut serta kue-kue Imlek di rumah yang alhasil buat keluarga kebingungan setiap ada yang bertamu. Sisanya bisa ditebak. Masih sebatas andai-andai untuk pulang dan berkunjung kerumah keluarga dan tetangga untuk memanen angp— maksud saya untuk sekadar silahturahmi, ngumpul dengan kawan-kawan, nonton bareng, foto-foto, dan mungkin selebihnya main tiktok bareng, hehe, kurang lebih begitu trend Imlek tahun ini.


Canang sari di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja

Rasanya begitu malas untuk merayakan Imlek ini jika tidak berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, namun tetap saja di dasar hati ada semacam dorongan yang membuat diri terus meng-ada-kan alasan agar tetap merayakannya. Entah karena telah menjadi kebiasaan sejak dulu, sebagai wujud syukur atas segala karunia-Nya sepanjang tahun, sekadar menghilangkan jenuh, mencari teman baru, atau bahkan gengsi. Yang mana pun tidak jadi masalah sepertinya, toh berkat alasan yang abstrak tadi aku akhirnya berhasil merayakan malam Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong, Eks Pelabuhan Singaraja, Bali, ditemani oleh beberapa kawan yang kebetulan ingin tahu banyak dengan tradisi Imlek ini.

“Jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng”, saat itu tepat kami memasuki area parkir klenteng, langsung jelas terdengar bunyi genderang nyaring berasal dari balik keramaian orang berbaju dominan merah, terlihat juga beberapa anak kecil dipangku diatas bahu orang tuanya, beberapa lagi terlihat mencari-cari celah masuk ke barisan terdepan. Seolah tak sabar lagi, langsung kami parkir kendaraan dan bergegas mendekati kerumunan dengan bunyi yang tak asing tadi. Ternyata tidak mudah untuk melihat yang terjadi dibalik benteng-benteng merah ini, kami harus menahan jinjitan kaki dan leher sekaligus, sambil curi-curi celah untuk perlahan masuk ke barisan terdepan.

Empat Barongsai masing-masing berwarna merah, putih, kuning, dan hitam, beserta tim penabuhnya ternyata menjadi dalang dibalik kerumunan tadi. Setiap aksi energik mereka semisal melompat tinggi, salto, berguling, hingga berlagak menggemaskan bak anak singa, membuat kami dan masyarakat lainnya terhibur dan bahagia. Malam pun seakan malu berpapasan dengan indahnya kelap kelip cahaya di dahi Barongsai. Momen itu tak lupa kurekam dengan kamera HP-ku, siapa tahu suatu hari nanti ada yang bisa kutunjukkan sambil berbincang tentang masa depan dengannya. Hmm.


Barongsai memeriahkan Imlek-an di Kota Singaraja

Selesai menikmati pertunjukkan Barongsai, aku pun mengajak kawan-kawanku masuk ke dalam Klenteng untuk melihat-lihat dan juga ikut sembahyang jika mereka bersedia. Begitu masuk ke dalam Klenteng yang dibangun sekitar tahun 1873 ini kita akan disambut oleh kolam ikan dengan bunga teratai yang indah, jembatan berwujud naga, tembok-tembok yang dimural menggambarkan berbagai karakter dewa, arsitekturnya yang megah, kesemuanya semakin memperkaya suasana Klenteng ini. Tidak kalah ramai dengan kerumunan sebelumnya, suasana di dalam Klenteng juga terasa sesak dan bergairah di waktu yang bersamaan. Masyarakat yang datang dari segala penjuru Buleleng memadati ruang altar, ada yang duduk bersama keluarga masing-masing sambil melahap kudapan yang disediakan, ada pula yang hanya saling tatap tak berani ucap.

Setelah mengantri untuk masuk ke ruang altar, akhirnya giliran kami untuk mengikuti proses persembahyangan. Ada yang amat menarik perhatian selama di dalam ruang altar. Bukan asap tebal dupa yang mengiris mata, bukan patung dewa-dewi dengan ragam rupa nya, bukan juga cat warna merah dengan aksen emas yang menutupi seluruh tembok bangunan, apalagi gadis berparas manis di sudut altar, bukan itu.


Hio dan canang sari di klenteng

Selain semua keidentikan TiongHua yang kental tadi, ada nilai-nilai akulturasi yang amat kuat terlihat di altar Klenteng ini. Salah satu buktinya, kita dapat menemukan canang sari sebagai salah satu unsur budaya Bali yang dihaturkan memenuhi meja altar di dalam klenteng ini. Canang sari telah menjadi sarana upacara yang wajib ada, dibarengi dengan dupa (hio). “Canang sari sendiri dalam budaya Bali dianggap sebagai simbol rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi Wasa” jelas salah satu kawan yang kuajak, yang kebetulan juga beragama Hindu. Secara historis dan budaya memang terlihat banyak kemiripan antara budaya di Bali dan TiongHua. Mungkin ini yang membuatku selalu merasa seperti berada di rumah.

Belum selesai mengapresiasi segala kekayaan tadi, telingaku sudah digoda oleh gemuruh syaduh suara gamelan gong  suling dan angklung yang berasal dari luar ruang altar persembahyangan. Benar saja, bunyi-bunyi menghauskan itu datang dari halaman klenteng, tepatnya di sisi kiri dan kanan jembatan naga. “Di klenteng, ada barongsai, ada canang, ada pelinggih, ada lagi gamelan” pikirku heran lantas terkagum-kagum.

Rasanya lebih tepat kupakai momen ini untuk mengucap syukur kepada semesta yang mengubur kesendirianku di malam Imlek dengan memori-memori atas kemewahan ini. Kami habiskan sisa malam Imlek di klenteng tadi sambil mengamati para penabuh beraksi memainkan instrumen masing-masing. Iringan para penabuh kian menambah hype Imlek malam itu. Malam hangat itu seolah enggan berlabuh, sebelum akhirnya kembang-kembang api itu membakar dirinya berkali-kali, menari bersama bintang-bintang, kemudian membungkukkan diri dan jatuh ke pangkalan ubun.

“Hallo? hallo??!”, kali ini nadanya begitu tegas dan garang, suara dari HP ku rupanya, itu telepon dari Ibu yang belum kumatikan. Siapa sangka alarm Ibu membuatku merenungi Imlek-ku belakangan. Akhirnya kututup telepon sambil memberi janji-janji manis, “Iya Mak, tahun depan semoga bisa imlek-an, capgomeh-an bareng, dan bagi angpao langsung.”

Selamat merayakan Galungan Cina 2020 dan Capgomeh untuk semua keluarga dan sahabat, senantiasa bahagia dan rukun harmonis. [T]

Tags: akulturasi budayabaliCap Go MehCinaImlekSingaraja
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Pekak Taro Mengajar Orang Tua Mendongeng

Next Post

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co