2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Vincent Chandra by Vincent Chandra
February 9, 2020
in Khas
Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Gemuruh syaduh suara gamelan gong suling dan angklung di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja, Bali

Dingin malam di kota rantauan, Kota Singaraja, Bali, rasanya lebih lekat, lebih memeluk, dari biasanya. Ada rasa yang aneh, kangen dan rindu, juga letih. Anehnya lagi bintang-bintang seolah tampak sedang tersenyum pada semua orang. Bahkan sore tadi letihku pulih oleh sejuknya angin sehabis hujan.

Sebenarnya ada apa? Tiba-tiba bunyi HP memecah lamunanku. Pada layarnya tertulis “panggilan dari Emak”. Rupanya itu Ibu tercinta yang mengingatkan untuk sembahyang Cap Go Meh malam ini. Telepon dari Ibu tadi sekaligus menjawab kegalauanku. Benar saja, alam barusan berusaha menegur keacuhanku dengan segala kebaikannya.

Tibalah aku pada Malam ke 15 (Cap Go Meh), Sabtu 8 Februari 2020, pertanda Imlek tahun ini telah usai. Imlek kesekian yang kulewatkan tanpa duduk semeja dengan keluarga besar, makan Mie Sua (Mie tipis dan halus khas kaum TiongHua yang melambangkan umur panjang) dan hidangan khas rumah yang kuidam-idamkan, menghabiskan kue keranjang buatan Ibu, turut serta kue-kue Imlek di rumah yang alhasil buat keluarga kebingungan setiap ada yang bertamu. Sisanya bisa ditebak. Masih sebatas andai-andai untuk pulang dan berkunjung kerumah keluarga dan tetangga untuk memanen angp— maksud saya untuk sekadar silahturahmi, ngumpul dengan kawan-kawan, nonton bareng, foto-foto, dan mungkin selebihnya main tiktok bareng, hehe, kurang lebih begitu trend Imlek tahun ini.


Canang sari di Klenteng Ling Gwan Kiong, Singaraja

Rasanya begitu malas untuk merayakan Imlek ini jika tidak berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, namun tetap saja di dasar hati ada semacam dorongan yang membuat diri terus meng-ada-kan alasan agar tetap merayakannya. Entah karena telah menjadi kebiasaan sejak dulu, sebagai wujud syukur atas segala karunia-Nya sepanjang tahun, sekadar menghilangkan jenuh, mencari teman baru, atau bahkan gengsi. Yang mana pun tidak jadi masalah sepertinya, toh berkat alasan yang abstrak tadi aku akhirnya berhasil merayakan malam Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong, Eks Pelabuhan Singaraja, Bali, ditemani oleh beberapa kawan yang kebetulan ingin tahu banyak dengan tradisi Imlek ini.

“Jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng”, saat itu tepat kami memasuki area parkir klenteng, langsung jelas terdengar bunyi genderang nyaring berasal dari balik keramaian orang berbaju dominan merah, terlihat juga beberapa anak kecil dipangku diatas bahu orang tuanya, beberapa lagi terlihat mencari-cari celah masuk ke barisan terdepan. Seolah tak sabar lagi, langsung kami parkir kendaraan dan bergegas mendekati kerumunan dengan bunyi yang tak asing tadi. Ternyata tidak mudah untuk melihat yang terjadi dibalik benteng-benteng merah ini, kami harus menahan jinjitan kaki dan leher sekaligus, sambil curi-curi celah untuk perlahan masuk ke barisan terdepan.

Empat Barongsai masing-masing berwarna merah, putih, kuning, dan hitam, beserta tim penabuhnya ternyata menjadi dalang dibalik kerumunan tadi. Setiap aksi energik mereka semisal melompat tinggi, salto, berguling, hingga berlagak menggemaskan bak anak singa, membuat kami dan masyarakat lainnya terhibur dan bahagia. Malam pun seakan malu berpapasan dengan indahnya kelap kelip cahaya di dahi Barongsai. Momen itu tak lupa kurekam dengan kamera HP-ku, siapa tahu suatu hari nanti ada yang bisa kutunjukkan sambil berbincang tentang masa depan dengannya. Hmm.


Barongsai memeriahkan Imlek-an di Kota Singaraja

Selesai menikmati pertunjukkan Barongsai, aku pun mengajak kawan-kawanku masuk ke dalam Klenteng untuk melihat-lihat dan juga ikut sembahyang jika mereka bersedia. Begitu masuk ke dalam Klenteng yang dibangun sekitar tahun 1873 ini kita akan disambut oleh kolam ikan dengan bunga teratai yang indah, jembatan berwujud naga, tembok-tembok yang dimural menggambarkan berbagai karakter dewa, arsitekturnya yang megah, kesemuanya semakin memperkaya suasana Klenteng ini. Tidak kalah ramai dengan kerumunan sebelumnya, suasana di dalam Klenteng juga terasa sesak dan bergairah di waktu yang bersamaan. Masyarakat yang datang dari segala penjuru Buleleng memadati ruang altar, ada yang duduk bersama keluarga masing-masing sambil melahap kudapan yang disediakan, ada pula yang hanya saling tatap tak berani ucap.

Setelah mengantri untuk masuk ke ruang altar, akhirnya giliran kami untuk mengikuti proses persembahyangan. Ada yang amat menarik perhatian selama di dalam ruang altar. Bukan asap tebal dupa yang mengiris mata, bukan patung dewa-dewi dengan ragam rupa nya, bukan juga cat warna merah dengan aksen emas yang menutupi seluruh tembok bangunan, apalagi gadis berparas manis di sudut altar, bukan itu.


Hio dan canang sari di klenteng

Selain semua keidentikan TiongHua yang kental tadi, ada nilai-nilai akulturasi yang amat kuat terlihat di altar Klenteng ini. Salah satu buktinya, kita dapat menemukan canang sari sebagai salah satu unsur budaya Bali yang dihaturkan memenuhi meja altar di dalam klenteng ini. Canang sari telah menjadi sarana upacara yang wajib ada, dibarengi dengan dupa (hio). “Canang sari sendiri dalam budaya Bali dianggap sebagai simbol rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi Wasa” jelas salah satu kawan yang kuajak, yang kebetulan juga beragama Hindu. Secara historis dan budaya memang terlihat banyak kemiripan antara budaya di Bali dan TiongHua. Mungkin ini yang membuatku selalu merasa seperti berada di rumah.

Belum selesai mengapresiasi segala kekayaan tadi, telingaku sudah digoda oleh gemuruh syaduh suara gamelan gong  suling dan angklung yang berasal dari luar ruang altar persembahyangan. Benar saja, bunyi-bunyi menghauskan itu datang dari halaman klenteng, tepatnya di sisi kiri dan kanan jembatan naga. “Di klenteng, ada barongsai, ada canang, ada pelinggih, ada lagi gamelan” pikirku heran lantas terkagum-kagum.

Rasanya lebih tepat kupakai momen ini untuk mengucap syukur kepada semesta yang mengubur kesendirianku di malam Imlek dengan memori-memori atas kemewahan ini. Kami habiskan sisa malam Imlek di klenteng tadi sambil mengamati para penabuh beraksi memainkan instrumen masing-masing. Iringan para penabuh kian menambah hype Imlek malam itu. Malam hangat itu seolah enggan berlabuh, sebelum akhirnya kembang-kembang api itu membakar dirinya berkali-kali, menari bersama bintang-bintang, kemudian membungkukkan diri dan jatuh ke pangkalan ubun.

“Hallo? hallo??!”, kali ini nadanya begitu tegas dan garang, suara dari HP ku rupanya, itu telepon dari Ibu yang belum kumatikan. Siapa sangka alarm Ibu membuatku merenungi Imlek-ku belakangan. Akhirnya kututup telepon sambil memberi janji-janji manis, “Iya Mak, tahun depan semoga bisa imlek-an, capgomeh-an bareng, dan bagi angpao langsung.”

Selamat merayakan Galungan Cina 2020 dan Capgomeh untuk semua keluarga dan sahabat, senantiasa bahagia dan rukun harmonis. [T]

Tags: akulturasi budayabaliCap Go MehCinaImlekSingaraja
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Pekak Taro Mengajar Orang Tua Mendongeng

Next Post

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co