2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Rina Wijayanti by Rina Wijayanti
February 9, 2020
in Esai
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Hai, hai, kamu-kamu yang mungkin saja sudah membangun hubungan sepesial dengan pasangan kamu sejak bertahun-tahun yang lalu, yang sudah capek LDR-an,  atau yang baru kenal kemarin sore tapi sudah siap tancap gas ke pelaminan, apa kabar kalian? Apakah sudah memilih Make Up Artist (MUA)?  

Sebelum kalian memilih MUA kalian pasti  sudah naik turunin layar Instagram berulangkali, dan akhirnya kamu memilih satu MUA yang dianggap pas.

Pada hari bahagia itu datang, ternyata kamu tidak puas dengan hasil pulasan tangan MUA yang kamu pilih. Apa yang terjadi? Padahal kalau dilihat dari beratus hasil riasannya MUA itu di Instagram, semua terlihat sempurna. Apalagi kamu juga pernah lihat hasilnya langsung misalnya karena saudara sudah pernah menggunakan MUA yang sama.

Apa yang terjadi? Mungkin saja mood MUA saat merias kamu sedang terganggu oleh sesuatu atau tabiat aneh bin unik dari kamu yang tidak kamu sadari.

***

Nah, ada  baiknya kamu  tau dulu apa saja biasanya yang merusak mood MUA dan mungkin akan sangat berpengaruh dengan hasil riasan di wajahmu.

1.      Calon pengantin yang paling tau tentang brand make-up

Brand make-up yang dipakai setiap perias tentu berbeda, tapi kebayang ngak sih kalau kamu yang dirias terus bertanya sama embak-mas MUA-nya. 

“Pondationnya apa? Ada lo brand dari luar yang bisa nge-cover banget. Bedaknya apa? Brand ABCD bagus ngak sih, kok ngak pakai itu aja kan mahal tuh? Aku lo nonton beautyvloger katanya itu bagus banget untuk type wajah aku. Lo kok pakai eyeliner gini bukannya lebih bagus gitu? Lipstik brand gini lo ngak terlalu mate jadi ngak cepet kering pas dibentuk.”

Itulah deretan pertanyaan yang bikin MUA bisa kehilangan konsentrasi dan mood penting.

Ingatlah, harga mahal bukan jaminan  bahwa itu selalu bagus dan cocok di semua jenis kulit.  Dan kamu wajib banget percaya dengan MUA yang sudah kamu pilih karena mereka pasti sudah berpengalaman dengan berbagai brand make-up dan jenis kulit yang ditangani.

Jika pertanyaan-pertanyaan itu digencarkan terus, mood perias bisa rusak dan akhirnya berpengaruh dengan hasil riasannya.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu ngak salah kok jika kamu emang tau, kan enak bisa jadi teman shareing MUA.  Biasanya yang bikin mood rusak itu adalah yang taunya setengah-setengah, yang masih pakai kata katanya, ngak pernah nyoba sama sekali, tapi pertanyaannya dan taunya luar biasa.

2.      Calon pengantin pendamba make-up natural

Make-up natural memang terihat sangat keren dan elegan, apa lagi dengan hasil yang glowing dengan minim polesan pondation, warna eye sadow, blush on, dan lipstick yang nude selaras dan alis yang hanya disisir. Luar biasa sempurna.

Tapi tidak semua kulit lo bisa mendapat treatment ini. Mungkin saja make-up natural itu ya buat kamu yang memang dianugrahi oleh Tuhan kulit mulus, glowing, tanpa pori, bentuk mata indah, alis dengan lekuk dan bulu-bulu yang sudah tertata, hidung mancung, dan bibir tipis bak artis korea.

Nah, bagaimana dengan kamu-kamu yang maaf banget ada bekas jerawatnya, bopengan, alis gondrong kayak ulat bulu, pipi tembem kayak pao, dan hidung pesek. Yakin tuh mau sentuhan tipis aja? Yakin tanpa kontur dan cukur alis? 

Percaya deh, MUA yang kamu pilih sudah punya caranya sendiri untuk membuatmu cantik dan tentunya menyesuaikan dengan acara kamu atau pilihan lainnya adalah pilih MUA yang memang kamu percayai untuk bisa memenuhi kebutuhan wajahmu. 

Biar nanti ngak gini kejadiannya: Baru dipoles pondation dikit, “Tipisin ya, Kak!” Baru dipakein bedak, “Loh kok kayak topeng?” Lalu, kamu terus-terusan mepetin wajah ke cermin mengoreksi satu persatu apa yang dipulas oleh mbak mas MUAnya. Biasanya mood MUA langsung berantakan nih. Semoga saja kalau kejadiannya seperti ini tidak memengaruhi hasil akhir ya.

3.      Calon pengantin full suporter

Sekarang saya mau nanya nih sama embak mas MUA, pernah ngak ngerias trus penontonnya udah kayak pendukung Bali United di lapangan Kapten Dipta? Banyak. Penuh sesak. Ngusir ngak enak. Hehe.

Ini penuturan salah seorang teman MUA juga yang kebetulan baru saja menghadapi masalah yang sama dengan saya. Saat ngerias di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas ada seorang pengantin perempuan, perias, dua asisten perias, dan beberapa orang dewasa yang mengaku suka menonton orang berias ditambah anak-anak yang juga ingin tau.

Awalnya mereka menjadi penonton yang baik, MUA yang melaksanakan tugasnya juga masih merasa baik-baik saja walaupun agak susuh bergerak karena ruangan penuh sesak.

Beberapa menit kemudian, seseorang berkata, “Kok eyeshadow-nya tebel sekali kayak habis ditonjok?” Padahal itu belum selesai, belum dibaur, belum pakai bulu mata, embak mas MUAnya menjawab dengan sigap, “Sabar ya, Bu, ini belum selesai”.

Sepuluh menit berlalu, seorang supporter kembali berkomentar, “Kok alisnya tebal gitu, lurus lagi,  padahal kalau perias A buat alis tu kecil ujungnya. Terus bagus melengkung warnanya juga hitam, jadi kalau dari jauh sudah terlihat, tapi ini malah pakai coklat”.

Suporter lain manggut-manggut. Embak mas MUAnya mulai garuk-garuk kepala. Terus seseorang datang turut meramaikan dan berkata, “Ih cantik sekali, tapi emang dasar cantik diapain juga cantik, biasanya yang cantik gini dirias malah jadi jelek”.

Embak mas MUAnya pasti mulai tarik nafas tipis-tipis secara teratur nih. Belum lagi anak-anak yang tadi nonton dengan wajah malu-malu mulai beraksi, mengambil salah satu make-up dan bertanya, “Om, ini apa? Kok warnanya gini? Boleh dipakai gini?”. Terus ngambil make up lain, menanyakan hal sama, begitu seterusnya.  

Mood MUA pengen cepet-cepet selesai kambuh, yang penting selesai bagaimanapun hasilnya. Kalau yang begini biasanya si pengantin juga enggan banyak komentar karena ia juga pendatang baru di rumah pengantin laki-laki.

4.      Calon pengantin perusak jadwal

Biasanya kalau sudah hari baik teman-teman MUA pasti kebanjiran job, tak ada satupun yang hanya merias di satu tempat. Ada yang tiga lokasi, empat lokasi, bahkan terbanyak yang pernah cerita adalah enam lokasi. Luar biasa ngak sih dan terntunya para MUA ini sudah mengatur strategi dan jadwal sedemikian rupa hingga  tidak ada satupun yang dikecewakan. Semua beres tepat pada waktunya dan tetap kualitas yang utama. Terus bagaimana dengan kamu yang dapat jadwal pertama dan sudah sanggup dirias pukul 02.00 wita misalnya.

Tetapi realitanya saat perias sudah tiba di rumah kamu gerbang masih dikunci, mesti gedor-gedor dulu, terus kamu belum bangun, bangunnya susah, terus mandinya lama, izin sarapan dulu. Akhirnya berias baru dimulai pada pukul 03.30 wita. Padahal rencananya pukul 04.30 wita sudah mulai berias di lokasi kedua. Kalau yang ini bukan ngerusak mood lagi, tapi bikin ambyar semua soalnya akan merusak semua jadwal berikutnya.

Embak mas MUAnya akan berusaha secepat mungkin, dan biasanya bikin tidak maksimal hasil riasan. Belum lagi masih di lokasi dua sudah ditelpon oleh yang di lokasi tiga. Pokoknya ambyar deh. Intinya mohon kerjasamanya, aktifkan semua alarem yang ada, MUA pasti mengerti lelah yang kalian hadapi, tetapi ini perkara hari bahagia banyak orang.

Penuturan dari salah seorang teman MUA, “Pernah suatu ketika ingin langsung kabur ke lokasi kedua dan memindahkan yang di lokasi pertama jadi terakhir, tetapi sungguh tak tega. Mengingat menikah bukan acara yang semain-main itu, akhirnya harus menerima kata-kata yang kurang sedap dan tatapan mata ketus di lokasi kedua dan seterusnya”.

***

Itu aja deh dulu, tapi ingat pilihlah MUA yang bisa memenuhi kebutuhan wajahmu. Percayai MUA yang sudah kamu pilih. Berikan ruang yang pantas untuk MUA yang kamu pilih. Dan ayo kita berkerja sama dengan baik. Percaya deh MUA yang kamu pilih sudah memiliki tangan ajaibnya masing-masing. 

Tags: make up artistMUApengantinpernikahan
Share213TweetSendShareSend
Previous Post

Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Next Post

Jimat CPNS

Rina Wijayanti

Rina Wijayanti

Setelah lulus dari Undiksha Singaraja, ia jadi guru yang ulet di Jembrana, Bali barat, juga menekuni make-up artist. Sesekali menulis puisi. Statusnya bahagia bersama suami yang juga sesekali menulis puisi

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Jimat CPNS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co