14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabiat Unik Calon Pengantin yang Bikin MUA Hilang Mood dan Riasan jadi Kacau

Rina Wijayanti by Rina Wijayanti
February 9, 2020
in Esai
Rias Pengantin Puluhan Juta? Ah, Santai, MUA Punya Rincian…

Hai, hai, kamu-kamu yang mungkin saja sudah membangun hubungan sepesial dengan pasangan kamu sejak bertahun-tahun yang lalu, yang sudah capek LDR-an,  atau yang baru kenal kemarin sore tapi sudah siap tancap gas ke pelaminan, apa kabar kalian? Apakah sudah memilih Make Up Artist (MUA)?  

Sebelum kalian memilih MUA kalian pasti  sudah naik turunin layar Instagram berulangkali, dan akhirnya kamu memilih satu MUA yang dianggap pas.

Pada hari bahagia itu datang, ternyata kamu tidak puas dengan hasil pulasan tangan MUA yang kamu pilih. Apa yang terjadi? Padahal kalau dilihat dari beratus hasil riasannya MUA itu di Instagram, semua terlihat sempurna. Apalagi kamu juga pernah lihat hasilnya langsung misalnya karena saudara sudah pernah menggunakan MUA yang sama.

Apa yang terjadi? Mungkin saja mood MUA saat merias kamu sedang terganggu oleh sesuatu atau tabiat aneh bin unik dari kamu yang tidak kamu sadari.

***

Nah, ada  baiknya kamu  tau dulu apa saja biasanya yang merusak mood MUA dan mungkin akan sangat berpengaruh dengan hasil riasan di wajahmu.

1.      Calon pengantin yang paling tau tentang brand make-up

Brand make-up yang dipakai setiap perias tentu berbeda, tapi kebayang ngak sih kalau kamu yang dirias terus bertanya sama embak-mas MUA-nya. 

“Pondationnya apa? Ada lo brand dari luar yang bisa nge-cover banget. Bedaknya apa? Brand ABCD bagus ngak sih, kok ngak pakai itu aja kan mahal tuh? Aku lo nonton beautyvloger katanya itu bagus banget untuk type wajah aku. Lo kok pakai eyeliner gini bukannya lebih bagus gitu? Lipstik brand gini lo ngak terlalu mate jadi ngak cepet kering pas dibentuk.”

Itulah deretan pertanyaan yang bikin MUA bisa kehilangan konsentrasi dan mood penting.

Ingatlah, harga mahal bukan jaminan  bahwa itu selalu bagus dan cocok di semua jenis kulit.  Dan kamu wajib banget percaya dengan MUA yang sudah kamu pilih karena mereka pasti sudah berpengalaman dengan berbagai brand make-up dan jenis kulit yang ditangani.

Jika pertanyaan-pertanyaan itu digencarkan terus, mood perias bisa rusak dan akhirnya berpengaruh dengan hasil riasannya.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu ngak salah kok jika kamu emang tau, kan enak bisa jadi teman shareing MUA.  Biasanya yang bikin mood rusak itu adalah yang taunya setengah-setengah, yang masih pakai kata katanya, ngak pernah nyoba sama sekali, tapi pertanyaannya dan taunya luar biasa.

2.      Calon pengantin pendamba make-up natural

Make-up natural memang terihat sangat keren dan elegan, apa lagi dengan hasil yang glowing dengan minim polesan pondation, warna eye sadow, blush on, dan lipstick yang nude selaras dan alis yang hanya disisir. Luar biasa sempurna.

Tapi tidak semua kulit lo bisa mendapat treatment ini. Mungkin saja make-up natural itu ya buat kamu yang memang dianugrahi oleh Tuhan kulit mulus, glowing, tanpa pori, bentuk mata indah, alis dengan lekuk dan bulu-bulu yang sudah tertata, hidung mancung, dan bibir tipis bak artis korea.

Nah, bagaimana dengan kamu-kamu yang maaf banget ada bekas jerawatnya, bopengan, alis gondrong kayak ulat bulu, pipi tembem kayak pao, dan hidung pesek. Yakin tuh mau sentuhan tipis aja? Yakin tanpa kontur dan cukur alis? 

Percaya deh, MUA yang kamu pilih sudah punya caranya sendiri untuk membuatmu cantik dan tentunya menyesuaikan dengan acara kamu atau pilihan lainnya adalah pilih MUA yang memang kamu percayai untuk bisa memenuhi kebutuhan wajahmu. 

Biar nanti ngak gini kejadiannya: Baru dipoles pondation dikit, “Tipisin ya, Kak!” Baru dipakein bedak, “Loh kok kayak topeng?” Lalu, kamu terus-terusan mepetin wajah ke cermin mengoreksi satu persatu apa yang dipulas oleh mbak mas MUAnya. Biasanya mood MUA langsung berantakan nih. Semoga saja kalau kejadiannya seperti ini tidak memengaruhi hasil akhir ya.

3.      Calon pengantin full suporter

Sekarang saya mau nanya nih sama embak mas MUA, pernah ngak ngerias trus penontonnya udah kayak pendukung Bali United di lapangan Kapten Dipta? Banyak. Penuh sesak. Ngusir ngak enak. Hehe.

Ini penuturan salah seorang teman MUA juga yang kebetulan baru saja menghadapi masalah yang sama dengan saya. Saat ngerias di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas ada seorang pengantin perempuan, perias, dua asisten perias, dan beberapa orang dewasa yang mengaku suka menonton orang berias ditambah anak-anak yang juga ingin tau.

Awalnya mereka menjadi penonton yang baik, MUA yang melaksanakan tugasnya juga masih merasa baik-baik saja walaupun agak susuh bergerak karena ruangan penuh sesak.

Beberapa menit kemudian, seseorang berkata, “Kok eyeshadow-nya tebel sekali kayak habis ditonjok?” Padahal itu belum selesai, belum dibaur, belum pakai bulu mata, embak mas MUAnya menjawab dengan sigap, “Sabar ya, Bu, ini belum selesai”.

Sepuluh menit berlalu, seorang supporter kembali berkomentar, “Kok alisnya tebal gitu, lurus lagi,  padahal kalau perias A buat alis tu kecil ujungnya. Terus bagus melengkung warnanya juga hitam, jadi kalau dari jauh sudah terlihat, tapi ini malah pakai coklat”.

Suporter lain manggut-manggut. Embak mas MUAnya mulai garuk-garuk kepala. Terus seseorang datang turut meramaikan dan berkata, “Ih cantik sekali, tapi emang dasar cantik diapain juga cantik, biasanya yang cantik gini dirias malah jadi jelek”.

Embak mas MUAnya pasti mulai tarik nafas tipis-tipis secara teratur nih. Belum lagi anak-anak yang tadi nonton dengan wajah malu-malu mulai beraksi, mengambil salah satu make-up dan bertanya, “Om, ini apa? Kok warnanya gini? Boleh dipakai gini?”. Terus ngambil make up lain, menanyakan hal sama, begitu seterusnya.  

Mood MUA pengen cepet-cepet selesai kambuh, yang penting selesai bagaimanapun hasilnya. Kalau yang begini biasanya si pengantin juga enggan banyak komentar karena ia juga pendatang baru di rumah pengantin laki-laki.

4.      Calon pengantin perusak jadwal

Biasanya kalau sudah hari baik teman-teman MUA pasti kebanjiran job, tak ada satupun yang hanya merias di satu tempat. Ada yang tiga lokasi, empat lokasi, bahkan terbanyak yang pernah cerita adalah enam lokasi. Luar biasa ngak sih dan terntunya para MUA ini sudah mengatur strategi dan jadwal sedemikian rupa hingga  tidak ada satupun yang dikecewakan. Semua beres tepat pada waktunya dan tetap kualitas yang utama. Terus bagaimana dengan kamu yang dapat jadwal pertama dan sudah sanggup dirias pukul 02.00 wita misalnya.

Tetapi realitanya saat perias sudah tiba di rumah kamu gerbang masih dikunci, mesti gedor-gedor dulu, terus kamu belum bangun, bangunnya susah, terus mandinya lama, izin sarapan dulu. Akhirnya berias baru dimulai pada pukul 03.30 wita. Padahal rencananya pukul 04.30 wita sudah mulai berias di lokasi kedua. Kalau yang ini bukan ngerusak mood lagi, tapi bikin ambyar semua soalnya akan merusak semua jadwal berikutnya.

Embak mas MUAnya akan berusaha secepat mungkin, dan biasanya bikin tidak maksimal hasil riasan. Belum lagi masih di lokasi dua sudah ditelpon oleh yang di lokasi tiga. Pokoknya ambyar deh. Intinya mohon kerjasamanya, aktifkan semua alarem yang ada, MUA pasti mengerti lelah yang kalian hadapi, tetapi ini perkara hari bahagia banyak orang.

Penuturan dari salah seorang teman MUA, “Pernah suatu ketika ingin langsung kabur ke lokasi kedua dan memindahkan yang di lokasi pertama jadi terakhir, tetapi sungguh tak tega. Mengingat menikah bukan acara yang semain-main itu, akhirnya harus menerima kata-kata yang kurang sedap dan tatapan mata ketus di lokasi kedua dan seterusnya”.

***

Itu aja deh dulu, tapi ingat pilihlah MUA yang bisa memenuhi kebutuhan wajahmu. Percayai MUA yang sudah kamu pilih. Berikan ruang yang pantas untuk MUA yang kamu pilih. Dan ayo kita berkerja sama dengan baik. Percaya deh MUA yang kamu pilih sudah memiliki tangan ajaibnya masing-masing. 

Tags: make up artistMUApengantinpernikahan
Share213TweetSendShareSend
Previous Post

Imlek-an di Kota Rantau, Kota Singaraja: Imlek dengan Akulturasi dan Rasa Rindu

Next Post

Jimat CPNS

Rina Wijayanti

Rina Wijayanti

Setelah lulus dari Undiksha Singaraja, ia jadi guru yang ulet di Jembrana, Bali barat, juga menekuni make-up artist. Sesekali menulis puisi. Statusnya bahagia bersama suami yang juga sesekali menulis puisi

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Jimat CPNS

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co