5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 31, 2020
in Esai
Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Ilustrasi: Sandyakala di Pura Penimbangan, Buleleng

Sebagaimana di sejumlah daerah lain di Indonesia, Bali juga menerapkan jam malam di seputar hari-hari libur menyambut dan merayakan Tahun Baru 2021.  Jam malam ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Wayan Koster No 880/SatgasCovid/XII/2020 pada Rabu (30/12/2020). Dalam surat itu disebutkan kegiatan masyarakat dibatasi maksimal pukul 23.00 Wita. Dan keputusan itu berlaku mulai sejak dikeluarkan hingga 2 Januari 2021.

SE Gubernur itu kemudian menyebar jadi berita di media-media lokal dan nasional. Seperti biasa, berbagai tanggapan di media sosial muncul, Ada yang mendukung, ada juga yang komentar dengan nada protes.

Saya iseng-iseng bertanya pada teman saya, Sugi Lanus, ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Society. Saya bertanya: Apakah dalam lontar-lontar di Bali pernah ditemukan budaya “jam malam”?

Jawaban dia sungguh ketus:

“Yen milunin lontare yen suba sandyakala suba sing dadi mlali! Setiap sandyakala mulih. Suud mlali di jalan. Pules. Aman gumine yen sandikala tutup mekejang cafe, warung, pasar, dan lain-lain!”

Terjemahan bebasnya:

“Kalau mengikuti lontar, pada saat senjakala (kita) sudah tak boleh bermain-main. Setiap senja langsung pulang, selesai main-main di jalan. Tidur. Aman dunia ini, kalau saat senja tutup semua café, warung, pasar, dan lain-lain!”

Percakapan saya dan Sugi Lanus lantas mamanjang, bukan  hanya sekadar membahas batasan waktu, termasuk jam malam, melainkan juga membahas kultur makan orang Bali di zaman dulu.

Dulu, sekitar tahun 1927, Rabindranath Tagore, berkunjung ke Bali. Pemenang Nobel Sastra dari India itu  terheran-heran, kenapa orang Bali yang ia saksikan tidak ada yang kegemukan. Tagore sang penulis Gitanjali itu bilang, di Bali ia tidak melihat orang gemuk. Semua langsing.

Apa penyebab orang Bali tak ada yang gemuk? Tagore bilang karena lanskap alam dan kerja manusia Bali jadi petani.

Tapi Sugi Lanus punya tambahan pendapat. Dia yakin, orang Bali tidak gemuk karena ketika itu tidak ada kultur makan malam. “Karena tidak ada budaya makan malam di Bali. Makan sampai jam 5 sore. Semua tutup aktivitas begitu malam. Tidur dan bangun subuh langsung kerja. Makan pagi jaja (kue) banyak sepuasanya,” kata Sugi.

Jadi, manusia Bali itu manusia pagi. Makanan pagi lebih berlimpah di peken (pasar tradisional) pada waktu pagi ketimbang pada waktu malam. Makanya dulu pasar itu dibuka pagi hari, karena tidak ada budaya makan malam. Sore jam 5 dapur orang Bali itu sudah tutup. Tidak ada warung atau toko buka 24 jam. Apalagi dulu belum ada listrik, dan tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat malam gelap tanpa banyak penerangan.

Ada sebuah artikel di hindustantimes.com yang menulis tentang makan sebelum jam 5 sore. Judulnya, Want to lose weight? Try not to eat anything after 5pm.

Di situ disebutkan, jika Anda telah mencoba menurunkan berat badan berlebihan dan sejauh ini tidak berhasil, cobalah jangan makan apa pun setelah jam 5 sore dan sebelum sarapan keesokan harinya.

Artikel itu memaparkan hasil dari riset para peneliti. Menurut para peneliti itu, mengurangi seperlima kalori harian dapat menangkal penyakit gaya hidup seperti kanker dan diabetes.

Dalam artikel itu juga ditulis bahwa studi para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa berpuasa di usia paruh baya, atau tidak makan setelah gelap, dapat membantu orang untuk hidup lebih lama dan lebih sehat.

“Pada monyet, menghentikan mereka makan antara jam 5 sore dan 8 pagi memperpanjang hidup mereka sebesar 10 persen, dibandingkan dengan makan secara normal,” demikin tulis artikel itu.

Nah, klaim para peneliti sebagaimana ditulis dalam artikel itu sesungguhnya sudah dipraktekkan orang-orang Bali di zaman dulu. Mungkin karena itulah, selain tubuh manusia Bali langsing dan liat, usia harapan hidup mereka zaman dulu konon juga lebih panjang, bahkan banyak yang mencapai satu abad.

Jadi, di Bali dulu tak dikenal dunia malam. Tidak ada pedagang nasi yang buka sampai malam, apalagi sampai pagi. Kini, kehidupan malam di Bali sudah begitu marak. Orang juga banyak yang bekerja malam, sebagai satpam di hotel, atau sebagai tukang parkir di Pasar Senggol.

Tentu saja karena kini pasar pun lebih ramai pada malam hari ketimbang pagi hari. Kini banyak toko dan warung buka 24 jam, bahkan bukan hanya di kota, di desa-desa pun kini terdapat Pasar Senggol.

Pasar Senggol yang buka sampai tengah malam bahkan sampai dinihari, menyebabkan budaya makan pada orang Bali mulai bergeser. Mereka kini terbiasa makan malam. Selain menambah pengeluaran, makan malam juga dipercaya tidak sehat dan menyebabkan kegemukan.

“Sebelum ada budaya Pasar Senggol, (orang Bali) sudah makan di rumah sebelum petang, tidak keluar dan belanja setelah senja hari,” kata Sugi Lanus.

Saya, saat kecil, sekira tahun 1970-an sempat merasakan jam sandyakala.  Listrik belum masuk desa. Sedang asyik bermain di jalanan, ibu saya tiba-tiba memanggil. Dipaksa pulang karena hari sudah masuk sandyakala. Saya pulang, makan, lalu ke kamar. Kalau pun harus belajar, itu dilakukan dalam cahaya remang lampu sentir. Remang membikin ngantuk, dan saya lebih cepat tidur ketimbang paham buku pelajaran.

Tidak ada yang begadang malam-malam. Malam dipenuhi cerita menakutkan, misalnya tentang tangis anak memedi yang tiba-tiba terdengar dari teba atau belakang rumah. Semua rumah gelap, apalagi jalanan. Orang berbicara pun lebih banyak bisik-bisik.

Tapi kadang-kadang malam bisa ramai juga. Banyak orang begadang. Itu terjadi jika ada upacara adat. Misalnya upacara kematian. Orang yang magebag (jaga malam di rumah duka) pada saat upacara kematian tetap juga diatur sedemikian rupa agar tidak semua orang begadang. Yang jadwalnya begadang, cukup lima sampai sepuluh orang, yang lainnya tetap pulang ke rumah agar besok mereka bisa bangun subuh dan bekerja dengan baik.

Tapi kini, bahkan tanpa ada upacara kematian pun banyak orang magebag di pos kamling sampai pagi. Dan besoknya terbiasa bangun siang hari, tanpa bekerja.

Malam bisa juga ramai dan sangat istimewa  ketika ada tontonan, misalnya orang  bisa begadang sampai pagi jika ada pentas drama gong atau calonarang. Namanya juga malam istimewa, itu hanya terjadi sesekali. Tapi kini, hampir setiap malam orang bisa keluar, cari hiburan. Jika dulu hiburannya drama gong, kini hiburannya boleh saja tari goyang di kafe remang.

Jadi, kesimpulan dari percakapan saya dan Sugi Lanus, adalah, jika hendak membuat orang Bali sehat, aman dan damai, tak cukup dengan menerapkan jam malam sampai pukul 23.00 wita. Terapkan jam sandyakala, batasnya pukul 17.00 wita atau jam 5 sore. Setelah jam 5 sore, orang tak boleh keluar rumah, pasar malam dibubarkan, pasar senggol dibubarkan, pedagang pecel lele diminta tutup. Pedagang nasi jinggo dan taluh mica (telur merica) yang kini banyak dilakoni orang-orang Bali juga tutup setelah sandyakala.

Dengan begitu, tak ada lagi yang makan setelah jam 5 sore. Orang-orang akan langsing, tak kegemukan, bebas dari penyakit, sebagaimana dilihat Tagore awal tahun 1927.

Listrik bagaimana? Bila perlu, jam sandyakala juga diterapkan untuk PLN. Listrik dipadamkan setelah jam 5 sore.  Ah, itu sepertinya agak berlebihan… [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Paket Murah Setelah Mati” || Tentang “Petunon” di Setra Adat Buleleng

Next Post

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co