3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 31, 2020
in Esai
Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Ilustrasi: Sandyakala di Pura Penimbangan, Buleleng

Sebagaimana di sejumlah daerah lain di Indonesia, Bali juga menerapkan jam malam di seputar hari-hari libur menyambut dan merayakan Tahun Baru 2021.  Jam malam ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Wayan Koster No 880/SatgasCovid/XII/2020 pada Rabu (30/12/2020). Dalam surat itu disebutkan kegiatan masyarakat dibatasi maksimal pukul 23.00 Wita. Dan keputusan itu berlaku mulai sejak dikeluarkan hingga 2 Januari 2021.

SE Gubernur itu kemudian menyebar jadi berita di media-media lokal dan nasional. Seperti biasa, berbagai tanggapan di media sosial muncul, Ada yang mendukung, ada juga yang komentar dengan nada protes.

Saya iseng-iseng bertanya pada teman saya, Sugi Lanus, ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Society. Saya bertanya: Apakah dalam lontar-lontar di Bali pernah ditemukan budaya “jam malam”?

Jawaban dia sungguh ketus:

“Yen milunin lontare yen suba sandyakala suba sing dadi mlali! Setiap sandyakala mulih. Suud mlali di jalan. Pules. Aman gumine yen sandikala tutup mekejang cafe, warung, pasar, dan lain-lain!”

Terjemahan bebasnya:

“Kalau mengikuti lontar, pada saat senjakala (kita) sudah tak boleh bermain-main. Setiap senja langsung pulang, selesai main-main di jalan. Tidur. Aman dunia ini, kalau saat senja tutup semua café, warung, pasar, dan lain-lain!”

Percakapan saya dan Sugi Lanus lantas mamanjang, bukan  hanya sekadar membahas batasan waktu, termasuk jam malam, melainkan juga membahas kultur makan orang Bali di zaman dulu.

Dulu, sekitar tahun 1927, Rabindranath Tagore, berkunjung ke Bali. Pemenang Nobel Sastra dari India itu  terheran-heran, kenapa orang Bali yang ia saksikan tidak ada yang kegemukan. Tagore sang penulis Gitanjali itu bilang, di Bali ia tidak melihat orang gemuk. Semua langsing.

Apa penyebab orang Bali tak ada yang gemuk? Tagore bilang karena lanskap alam dan kerja manusia Bali jadi petani.

Tapi Sugi Lanus punya tambahan pendapat. Dia yakin, orang Bali tidak gemuk karena ketika itu tidak ada kultur makan malam. “Karena tidak ada budaya makan malam di Bali. Makan sampai jam 5 sore. Semua tutup aktivitas begitu malam. Tidur dan bangun subuh langsung kerja. Makan pagi jaja (kue) banyak sepuasanya,” kata Sugi.

Jadi, manusia Bali itu manusia pagi. Makanan pagi lebih berlimpah di peken (pasar tradisional) pada waktu pagi ketimbang pada waktu malam. Makanya dulu pasar itu dibuka pagi hari, karena tidak ada budaya makan malam. Sore jam 5 dapur orang Bali itu sudah tutup. Tidak ada warung atau toko buka 24 jam. Apalagi dulu belum ada listrik, dan tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat malam gelap tanpa banyak penerangan.

Ada sebuah artikel di hindustantimes.com yang menulis tentang makan sebelum jam 5 sore. Judulnya, Want to lose weight? Try not to eat anything after 5pm.

Di situ disebutkan, jika Anda telah mencoba menurunkan berat badan berlebihan dan sejauh ini tidak berhasil, cobalah jangan makan apa pun setelah jam 5 sore dan sebelum sarapan keesokan harinya.

Artikel itu memaparkan hasil dari riset para peneliti. Menurut para peneliti itu, mengurangi seperlima kalori harian dapat menangkal penyakit gaya hidup seperti kanker dan diabetes.

Dalam artikel itu juga ditulis bahwa studi para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa berpuasa di usia paruh baya, atau tidak makan setelah gelap, dapat membantu orang untuk hidup lebih lama dan lebih sehat.

“Pada monyet, menghentikan mereka makan antara jam 5 sore dan 8 pagi memperpanjang hidup mereka sebesar 10 persen, dibandingkan dengan makan secara normal,” demikin tulis artikel itu.

Nah, klaim para peneliti sebagaimana ditulis dalam artikel itu sesungguhnya sudah dipraktekkan orang-orang Bali di zaman dulu. Mungkin karena itulah, selain tubuh manusia Bali langsing dan liat, usia harapan hidup mereka zaman dulu konon juga lebih panjang, bahkan banyak yang mencapai satu abad.

Jadi, di Bali dulu tak dikenal dunia malam. Tidak ada pedagang nasi yang buka sampai malam, apalagi sampai pagi. Kini, kehidupan malam di Bali sudah begitu marak. Orang juga banyak yang bekerja malam, sebagai satpam di hotel, atau sebagai tukang parkir di Pasar Senggol.

Tentu saja karena kini pasar pun lebih ramai pada malam hari ketimbang pagi hari. Kini banyak toko dan warung buka 24 jam, bahkan bukan hanya di kota, di desa-desa pun kini terdapat Pasar Senggol.

Pasar Senggol yang buka sampai tengah malam bahkan sampai dinihari, menyebabkan budaya makan pada orang Bali mulai bergeser. Mereka kini terbiasa makan malam. Selain menambah pengeluaran, makan malam juga dipercaya tidak sehat dan menyebabkan kegemukan.

“Sebelum ada budaya Pasar Senggol, (orang Bali) sudah makan di rumah sebelum petang, tidak keluar dan belanja setelah senja hari,” kata Sugi Lanus.

Saya, saat kecil, sekira tahun 1970-an sempat merasakan jam sandyakala.  Listrik belum masuk desa. Sedang asyik bermain di jalanan, ibu saya tiba-tiba memanggil. Dipaksa pulang karena hari sudah masuk sandyakala. Saya pulang, makan, lalu ke kamar. Kalau pun harus belajar, itu dilakukan dalam cahaya remang lampu sentir. Remang membikin ngantuk, dan saya lebih cepat tidur ketimbang paham buku pelajaran.

Tidak ada yang begadang malam-malam. Malam dipenuhi cerita menakutkan, misalnya tentang tangis anak memedi yang tiba-tiba terdengar dari teba atau belakang rumah. Semua rumah gelap, apalagi jalanan. Orang berbicara pun lebih banyak bisik-bisik.

Tapi kadang-kadang malam bisa ramai juga. Banyak orang begadang. Itu terjadi jika ada upacara adat. Misalnya upacara kematian. Orang yang magebag (jaga malam di rumah duka) pada saat upacara kematian tetap juga diatur sedemikian rupa agar tidak semua orang begadang. Yang jadwalnya begadang, cukup lima sampai sepuluh orang, yang lainnya tetap pulang ke rumah agar besok mereka bisa bangun subuh dan bekerja dengan baik.

Tapi kini, bahkan tanpa ada upacara kematian pun banyak orang magebag di pos kamling sampai pagi. Dan besoknya terbiasa bangun siang hari, tanpa bekerja.

Malam bisa juga ramai dan sangat istimewa  ketika ada tontonan, misalnya orang  bisa begadang sampai pagi jika ada pentas drama gong atau calonarang. Namanya juga malam istimewa, itu hanya terjadi sesekali. Tapi kini, hampir setiap malam orang bisa keluar, cari hiburan. Jika dulu hiburannya drama gong, kini hiburannya boleh saja tari goyang di kafe remang.

Jadi, kesimpulan dari percakapan saya dan Sugi Lanus, adalah, jika hendak membuat orang Bali sehat, aman dan damai, tak cukup dengan menerapkan jam malam sampai pukul 23.00 wita. Terapkan jam sandyakala, batasnya pukul 17.00 wita atau jam 5 sore. Setelah jam 5 sore, orang tak boleh keluar rumah, pasar malam dibubarkan, pasar senggol dibubarkan, pedagang pecel lele diminta tutup. Pedagang nasi jinggo dan taluh mica (telur merica) yang kini banyak dilakoni orang-orang Bali juga tutup setelah sandyakala.

Dengan begitu, tak ada lagi yang makan setelah jam 5 sore. Orang-orang akan langsing, tak kegemukan, bebas dari penyakit, sebagaimana dilihat Tagore awal tahun 1927.

Listrik bagaimana? Bila perlu, jam sandyakala juga diterapkan untuk PLN. Listrik dipadamkan setelah jam 5 sore.  Ah, itu sepertinya agak berlebihan… [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Paket Murah Setelah Mati” || Tentang “Petunon” di Setra Adat Buleleng

Next Post

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co