26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 31, 2020
in Esai
Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Ilustrasi: Sandyakala di Pura Penimbangan, Buleleng

Sebagaimana di sejumlah daerah lain di Indonesia, Bali juga menerapkan jam malam di seputar hari-hari libur menyambut dan merayakan Tahun Baru 2021.  Jam malam ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Wayan Koster No 880/SatgasCovid/XII/2020 pada Rabu (30/12/2020). Dalam surat itu disebutkan kegiatan masyarakat dibatasi maksimal pukul 23.00 Wita. Dan keputusan itu berlaku mulai sejak dikeluarkan hingga 2 Januari 2021.

SE Gubernur itu kemudian menyebar jadi berita di media-media lokal dan nasional. Seperti biasa, berbagai tanggapan di media sosial muncul, Ada yang mendukung, ada juga yang komentar dengan nada protes.

Saya iseng-iseng bertanya pada teman saya, Sugi Lanus, ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Society. Saya bertanya: Apakah dalam lontar-lontar di Bali pernah ditemukan budaya “jam malam”?

Jawaban dia sungguh ketus:

“Yen milunin lontare yen suba sandyakala suba sing dadi mlali! Setiap sandyakala mulih. Suud mlali di jalan. Pules. Aman gumine yen sandikala tutup mekejang cafe, warung, pasar, dan lain-lain!”

Terjemahan bebasnya:

“Kalau mengikuti lontar, pada saat senjakala (kita) sudah tak boleh bermain-main. Setiap senja langsung pulang, selesai main-main di jalan. Tidur. Aman dunia ini, kalau saat senja tutup semua café, warung, pasar, dan lain-lain!”

Percakapan saya dan Sugi Lanus lantas mamanjang, bukan  hanya sekadar membahas batasan waktu, termasuk jam malam, melainkan juga membahas kultur makan orang Bali di zaman dulu.

Dulu, sekitar tahun 1927, Rabindranath Tagore, berkunjung ke Bali. Pemenang Nobel Sastra dari India itu  terheran-heran, kenapa orang Bali yang ia saksikan tidak ada yang kegemukan. Tagore sang penulis Gitanjali itu bilang, di Bali ia tidak melihat orang gemuk. Semua langsing.

Apa penyebab orang Bali tak ada yang gemuk? Tagore bilang karena lanskap alam dan kerja manusia Bali jadi petani.

Tapi Sugi Lanus punya tambahan pendapat. Dia yakin, orang Bali tidak gemuk karena ketika itu tidak ada kultur makan malam. “Karena tidak ada budaya makan malam di Bali. Makan sampai jam 5 sore. Semua tutup aktivitas begitu malam. Tidur dan bangun subuh langsung kerja. Makan pagi jaja (kue) banyak sepuasanya,” kata Sugi.

Jadi, manusia Bali itu manusia pagi. Makanan pagi lebih berlimpah di peken (pasar tradisional) pada waktu pagi ketimbang pada waktu malam. Makanya dulu pasar itu dibuka pagi hari, karena tidak ada budaya makan malam. Sore jam 5 dapur orang Bali itu sudah tutup. Tidak ada warung atau toko buka 24 jam. Apalagi dulu belum ada listrik, dan tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat malam gelap tanpa banyak penerangan.

Ada sebuah artikel di hindustantimes.com yang menulis tentang makan sebelum jam 5 sore. Judulnya, Want to lose weight? Try not to eat anything after 5pm.

Di situ disebutkan, jika Anda telah mencoba menurunkan berat badan berlebihan dan sejauh ini tidak berhasil, cobalah jangan makan apa pun setelah jam 5 sore dan sebelum sarapan keesokan harinya.

Artikel itu memaparkan hasil dari riset para peneliti. Menurut para peneliti itu, mengurangi seperlima kalori harian dapat menangkal penyakit gaya hidup seperti kanker dan diabetes.

Dalam artikel itu juga ditulis bahwa studi para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa berpuasa di usia paruh baya, atau tidak makan setelah gelap, dapat membantu orang untuk hidup lebih lama dan lebih sehat.

“Pada monyet, menghentikan mereka makan antara jam 5 sore dan 8 pagi memperpanjang hidup mereka sebesar 10 persen, dibandingkan dengan makan secara normal,” demikin tulis artikel itu.

Nah, klaim para peneliti sebagaimana ditulis dalam artikel itu sesungguhnya sudah dipraktekkan orang-orang Bali di zaman dulu. Mungkin karena itulah, selain tubuh manusia Bali langsing dan liat, usia harapan hidup mereka zaman dulu konon juga lebih panjang, bahkan banyak yang mencapai satu abad.

Jadi, di Bali dulu tak dikenal dunia malam. Tidak ada pedagang nasi yang buka sampai malam, apalagi sampai pagi. Kini, kehidupan malam di Bali sudah begitu marak. Orang juga banyak yang bekerja malam, sebagai satpam di hotel, atau sebagai tukang parkir di Pasar Senggol.

Tentu saja karena kini pasar pun lebih ramai pada malam hari ketimbang pagi hari. Kini banyak toko dan warung buka 24 jam, bahkan bukan hanya di kota, di desa-desa pun kini terdapat Pasar Senggol.

Pasar Senggol yang buka sampai tengah malam bahkan sampai dinihari, menyebabkan budaya makan pada orang Bali mulai bergeser. Mereka kini terbiasa makan malam. Selain menambah pengeluaran, makan malam juga dipercaya tidak sehat dan menyebabkan kegemukan.

“Sebelum ada budaya Pasar Senggol, (orang Bali) sudah makan di rumah sebelum petang, tidak keluar dan belanja setelah senja hari,” kata Sugi Lanus.

Saya, saat kecil, sekira tahun 1970-an sempat merasakan jam sandyakala.  Listrik belum masuk desa. Sedang asyik bermain di jalanan, ibu saya tiba-tiba memanggil. Dipaksa pulang karena hari sudah masuk sandyakala. Saya pulang, makan, lalu ke kamar. Kalau pun harus belajar, itu dilakukan dalam cahaya remang lampu sentir. Remang membikin ngantuk, dan saya lebih cepat tidur ketimbang paham buku pelajaran.

Tidak ada yang begadang malam-malam. Malam dipenuhi cerita menakutkan, misalnya tentang tangis anak memedi yang tiba-tiba terdengar dari teba atau belakang rumah. Semua rumah gelap, apalagi jalanan. Orang berbicara pun lebih banyak bisik-bisik.

Tapi kadang-kadang malam bisa ramai juga. Banyak orang begadang. Itu terjadi jika ada upacara adat. Misalnya upacara kematian. Orang yang magebag (jaga malam di rumah duka) pada saat upacara kematian tetap juga diatur sedemikian rupa agar tidak semua orang begadang. Yang jadwalnya begadang, cukup lima sampai sepuluh orang, yang lainnya tetap pulang ke rumah agar besok mereka bisa bangun subuh dan bekerja dengan baik.

Tapi kini, bahkan tanpa ada upacara kematian pun banyak orang magebag di pos kamling sampai pagi. Dan besoknya terbiasa bangun siang hari, tanpa bekerja.

Malam bisa juga ramai dan sangat istimewa  ketika ada tontonan, misalnya orang  bisa begadang sampai pagi jika ada pentas drama gong atau calonarang. Namanya juga malam istimewa, itu hanya terjadi sesekali. Tapi kini, hampir setiap malam orang bisa keluar, cari hiburan. Jika dulu hiburannya drama gong, kini hiburannya boleh saja tari goyang di kafe remang.

Jadi, kesimpulan dari percakapan saya dan Sugi Lanus, adalah, jika hendak membuat orang Bali sehat, aman dan damai, tak cukup dengan menerapkan jam malam sampai pukul 23.00 wita. Terapkan jam sandyakala, batasnya pukul 17.00 wita atau jam 5 sore. Setelah jam 5 sore, orang tak boleh keluar rumah, pasar malam dibubarkan, pasar senggol dibubarkan, pedagang pecel lele diminta tutup. Pedagang nasi jinggo dan taluh mica (telur merica) yang kini banyak dilakoni orang-orang Bali juga tutup setelah sandyakala.

Dengan begitu, tak ada lagi yang makan setelah jam 5 sore. Orang-orang akan langsing, tak kegemukan, bebas dari penyakit, sebagaimana dilihat Tagore awal tahun 1927.

Listrik bagaimana? Bila perlu, jam sandyakala juga diterapkan untuk PLN. Listrik dipadamkan setelah jam 5 sore.  Ah, itu sepertinya agak berlebihan… [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Paket Murah Setelah Mati” || Tentang “Petunon” di Setra Adat Buleleng

Next Post

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co