14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
December 31, 2020
in Esai
Di Bali, “Jam Malam” Lebih Baik Dimajukan Lagi Jadi “Jam Sandyakala”

Ilustrasi: Sandyakala di Pura Penimbangan, Buleleng

Sebagaimana di sejumlah daerah lain di Indonesia, Bali juga menerapkan jam malam di seputar hari-hari libur menyambut dan merayakan Tahun Baru 2021.  Jam malam ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Wayan Koster No 880/SatgasCovid/XII/2020 pada Rabu (30/12/2020). Dalam surat itu disebutkan kegiatan masyarakat dibatasi maksimal pukul 23.00 Wita. Dan keputusan itu berlaku mulai sejak dikeluarkan hingga 2 Januari 2021.

SE Gubernur itu kemudian menyebar jadi berita di media-media lokal dan nasional. Seperti biasa, berbagai tanggapan di media sosial muncul, Ada yang mendukung, ada juga yang komentar dengan nada protes.

Saya iseng-iseng bertanya pada teman saya, Sugi Lanus, ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Society. Saya bertanya: Apakah dalam lontar-lontar di Bali pernah ditemukan budaya “jam malam”?

Jawaban dia sungguh ketus:

“Yen milunin lontare yen suba sandyakala suba sing dadi mlali! Setiap sandyakala mulih. Suud mlali di jalan. Pules. Aman gumine yen sandikala tutup mekejang cafe, warung, pasar, dan lain-lain!”

Terjemahan bebasnya:

“Kalau mengikuti lontar, pada saat senjakala (kita) sudah tak boleh bermain-main. Setiap senja langsung pulang, selesai main-main di jalan. Tidur. Aman dunia ini, kalau saat senja tutup semua café, warung, pasar, dan lain-lain!”

Percakapan saya dan Sugi Lanus lantas mamanjang, bukan  hanya sekadar membahas batasan waktu, termasuk jam malam, melainkan juga membahas kultur makan orang Bali di zaman dulu.

Dulu, sekitar tahun 1927, Rabindranath Tagore, berkunjung ke Bali. Pemenang Nobel Sastra dari India itu  terheran-heran, kenapa orang Bali yang ia saksikan tidak ada yang kegemukan. Tagore sang penulis Gitanjali itu bilang, di Bali ia tidak melihat orang gemuk. Semua langsing.

Apa penyebab orang Bali tak ada yang gemuk? Tagore bilang karena lanskap alam dan kerja manusia Bali jadi petani.

Tapi Sugi Lanus punya tambahan pendapat. Dia yakin, orang Bali tidak gemuk karena ketika itu tidak ada kultur makan malam. “Karena tidak ada budaya makan malam di Bali. Makan sampai jam 5 sore. Semua tutup aktivitas begitu malam. Tidur dan bangun subuh langsung kerja. Makan pagi jaja (kue) banyak sepuasanya,” kata Sugi.

Jadi, manusia Bali itu manusia pagi. Makanan pagi lebih berlimpah di peken (pasar tradisional) pada waktu pagi ketimbang pada waktu malam. Makanya dulu pasar itu dibuka pagi hari, karena tidak ada budaya makan malam. Sore jam 5 dapur orang Bali itu sudah tutup. Tidak ada warung atau toko buka 24 jam. Apalagi dulu belum ada listrik, dan tidak banyak yang bisa dilakukan pada saat malam gelap tanpa banyak penerangan.

Ada sebuah artikel di hindustantimes.com yang menulis tentang makan sebelum jam 5 sore. Judulnya, Want to lose weight? Try not to eat anything after 5pm.

Di situ disebutkan, jika Anda telah mencoba menurunkan berat badan berlebihan dan sejauh ini tidak berhasil, cobalah jangan makan apa pun setelah jam 5 sore dan sebelum sarapan keesokan harinya.

Artikel itu memaparkan hasil dari riset para peneliti. Menurut para peneliti itu, mengurangi seperlima kalori harian dapat menangkal penyakit gaya hidup seperti kanker dan diabetes.

Dalam artikel itu juga ditulis bahwa studi para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa berpuasa di usia paruh baya, atau tidak makan setelah gelap, dapat membantu orang untuk hidup lebih lama dan lebih sehat.

“Pada monyet, menghentikan mereka makan antara jam 5 sore dan 8 pagi memperpanjang hidup mereka sebesar 10 persen, dibandingkan dengan makan secara normal,” demikin tulis artikel itu.

Nah, klaim para peneliti sebagaimana ditulis dalam artikel itu sesungguhnya sudah dipraktekkan orang-orang Bali di zaman dulu. Mungkin karena itulah, selain tubuh manusia Bali langsing dan liat, usia harapan hidup mereka zaman dulu konon juga lebih panjang, bahkan banyak yang mencapai satu abad.

Jadi, di Bali dulu tak dikenal dunia malam. Tidak ada pedagang nasi yang buka sampai malam, apalagi sampai pagi. Kini, kehidupan malam di Bali sudah begitu marak. Orang juga banyak yang bekerja malam, sebagai satpam di hotel, atau sebagai tukang parkir di Pasar Senggol.

Tentu saja karena kini pasar pun lebih ramai pada malam hari ketimbang pagi hari. Kini banyak toko dan warung buka 24 jam, bahkan bukan hanya di kota, di desa-desa pun kini terdapat Pasar Senggol.

Pasar Senggol yang buka sampai tengah malam bahkan sampai dinihari, menyebabkan budaya makan pada orang Bali mulai bergeser. Mereka kini terbiasa makan malam. Selain menambah pengeluaran, makan malam juga dipercaya tidak sehat dan menyebabkan kegemukan.

“Sebelum ada budaya Pasar Senggol, (orang Bali) sudah makan di rumah sebelum petang, tidak keluar dan belanja setelah senja hari,” kata Sugi Lanus.

Saya, saat kecil, sekira tahun 1970-an sempat merasakan jam sandyakala.  Listrik belum masuk desa. Sedang asyik bermain di jalanan, ibu saya tiba-tiba memanggil. Dipaksa pulang karena hari sudah masuk sandyakala. Saya pulang, makan, lalu ke kamar. Kalau pun harus belajar, itu dilakukan dalam cahaya remang lampu sentir. Remang membikin ngantuk, dan saya lebih cepat tidur ketimbang paham buku pelajaran.

Tidak ada yang begadang malam-malam. Malam dipenuhi cerita menakutkan, misalnya tentang tangis anak memedi yang tiba-tiba terdengar dari teba atau belakang rumah. Semua rumah gelap, apalagi jalanan. Orang berbicara pun lebih banyak bisik-bisik.

Tapi kadang-kadang malam bisa ramai juga. Banyak orang begadang. Itu terjadi jika ada upacara adat. Misalnya upacara kematian. Orang yang magebag (jaga malam di rumah duka) pada saat upacara kematian tetap juga diatur sedemikian rupa agar tidak semua orang begadang. Yang jadwalnya begadang, cukup lima sampai sepuluh orang, yang lainnya tetap pulang ke rumah agar besok mereka bisa bangun subuh dan bekerja dengan baik.

Tapi kini, bahkan tanpa ada upacara kematian pun banyak orang magebag di pos kamling sampai pagi. Dan besoknya terbiasa bangun siang hari, tanpa bekerja.

Malam bisa juga ramai dan sangat istimewa  ketika ada tontonan, misalnya orang  bisa begadang sampai pagi jika ada pentas drama gong atau calonarang. Namanya juga malam istimewa, itu hanya terjadi sesekali. Tapi kini, hampir setiap malam orang bisa keluar, cari hiburan. Jika dulu hiburannya drama gong, kini hiburannya boleh saja tari goyang di kafe remang.

Jadi, kesimpulan dari percakapan saya dan Sugi Lanus, adalah, jika hendak membuat orang Bali sehat, aman dan damai, tak cukup dengan menerapkan jam malam sampai pukul 23.00 wita. Terapkan jam sandyakala, batasnya pukul 17.00 wita atau jam 5 sore. Setelah jam 5 sore, orang tak boleh keluar rumah, pasar malam dibubarkan, pasar senggol dibubarkan, pedagang pecel lele diminta tutup. Pedagang nasi jinggo dan taluh mica (telur merica) yang kini banyak dilakoni orang-orang Bali juga tutup setelah sandyakala.

Dengan begitu, tak ada lagi yang makan setelah jam 5 sore. Orang-orang akan langsing, tak kegemukan, bebas dari penyakit, sebagaimana dilihat Tagore awal tahun 1927.

Listrik bagaimana? Bila perlu, jam sandyakala juga diterapkan untuk PLN. Listrik dipadamkan setelah jam 5 sore.  Ah, itu sepertinya agak berlebihan… [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Paket Murah Setelah Mati” || Tentang “Petunon” di Setra Adat Buleleng

Next Post

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails
Next Post
Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Sebelas Perupa Merespons Pandemi di Rumah Paros

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co