26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sampi Gerumbungan”, Bukti Bali (Pernah) Menjadi Tanah Agraris

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Khas

Foto: Eka Prasetya

HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Puluhan warga ramai-ramai datang ke lapangan desa, berlomba mencari tempat teduh di sekitar pepohonan.

Pagi itu, Sabtu, 19 November 2016, memang hari yang istimewa bagi warga yang tinggal di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Buleleng. Mereka tengah menanti parade sampi gerumbungan, salah satu peninggalan budaya agraris di Bali Utara, yang masih lestari hingga kini.

sampi-gerumbungan_2Untuk parade itu, Sekaa (kelompok) Sampi Gerumbungan Baga Sabali menyiapkan empat pasang sapi (dalam Bahasa Bali disebut sampi). Sepasang diantaranya adalah pasangan sapi juara milik Bau Gede Subandi. Sepasang sapi itu keluar sebagai juara pada Festival Lovina yang digelar beberapa bulan sebelumnya.

Di bawah terik matahari yang semakin menyengat, para anggota sekaa sibuk merias sapi-sapi milik mereka agar terlihat cantik. Sapi-sapi ini memang biasa digunakan untuk membajak sawah. Namun untuk penampilan kali ini, sapi-sapi itu harus tampil secantik mungkin. Mereka akan direkam untuk program acara petualangan di salah satu televisi swasta yang bermarkas di Jakarta.

Dalam penampiilan kali ini, para anggota sekaa bukan hanya menyiapkan lampit(peralatan membajak sawah). Mereka juga harus menyiapkan sejumlah aksesoris lain, yang akan disematkan di tubuh sapi. Intinya, sapi-sapi itu harus tampil secantik mungkin di depan penonton, juga di depan kamera wartawan dan kru televisi.

Budaya sampi gerumbungan memang istimewa. Budaya ini adalah salah satu (dari dua) budaya agraris di Bali yang berkaitan dengan hewan pembajak sawah, entah itu sapi atau kerbau. Di Bali, ada budaya agraris lain yang disebut makepung. Budaya ini dapat dengan mudah ditemui di Kabupaten Jembrana, Bali.

Sampi gerumbungan, sangat berbeda dengan makepung. Makepung, lebih menonjolkan soal kecepatan. Sementara sampi gerumbungan lebih mengutamakan soal kecantikan dan kemolekan. Tak perlu cepat untuk menjadi yang terbaik. Cukup menjadi cantik, molek, dan gemulai.

Sampi gerumbungan tak ubahnya seperti menyaksikan model yang berjalan di atas cat walk. Sepasang sapi berjalan tegak, molek, gemulai, seperti model. Mereka juga menggunakan aksesoris-aksesoris yang menambah kecantikan.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan budaya sampi gerumbungan ada di Buleleng. Budaya ini diyakini lahir di Desa Bebetin sejak ratusan tahun silam. Saat ini penggiat yang berkecimpung di sekaa sampi gerumbungan, adalah generasi kesepuluh yang menggeluti budaya ini. Artinya budaya ini sudah ada setidaknya 300 tahun silam.

Masyarakat meyakini sampi gerumbungan adalah budaya yang sangat sakral. Maka, sebelum parade dimulai, harus ada serangkaian ritual yang harus dilakukan. Sapi-sapi yang akan tampil juga harus diperciki tirta (air suci).

Dari cerita turun temurun yang diyakini masyarakat, budaya ini lahir dari sumpah salah seorang nenek moyang ratusan tahun silam. Alkisah salah seorang warga di Desa Bebetin, ratusan tahun silam mengubah lahan perkebunan miliknya menjadi lahan sawah. Kala itu ia berjanji kepada Yang Maha Kuasa, jika sawahnya berhasil panen raya, sapi yang digunakan membajak sawah akan melakukan atraksi pada awal masa tanam berikutnya.

Benar saja saat itu sawahnya mengalami panen raya. Padahal sawah itu dulunya adalah ladang dan baru pertama kalinya ditanami padi. Pada awal masa tanam berikutnya, nenek moyang menampilkan sampi gerumbungan yang berjalan begitu moleknya. Sapi itu berjalan selaras. Selayaknya manusia yang tengah berjingkat. Serupa dengan model yang berjalan anggun di atas sepatu hak tinggi.

Awalnya sepasang sapi yang digunakan membajak sawah, hanya berjalan berjingkat dengan peralatan membajak serta seorang pembajak sawah yang mengendarai alat bajak. Seiring berjalannya waktu, berbagai aksesoris menghiasi pasangan sapi yang akan pentas saat sampi gerumbungan dihadirkan. Aksesoris itu bagaikan perhiasan yang mempercantik sapi-sapi yang akan tampil.

Perhiasan itu berupa uga, batang kayu yang biasa dipasang di leher sapi. Uga juga menjadi bagian utama untuk menjaga sapi tetap berjalan berpasangan. Biasanya pada uga juga terdapat beberapa perhiasan yang diberi nama penanggu, pot atau kober, serta penyelah.

Bagian penanggu biasanya berupa ukiran berbentuk Singa Ambara Raja yang notabene lambang Kabupaten Buleleng, pot atau kober adalah bendera, sementara penyelah berupa ukiran khas Buleleng atau pada era kekinian juga digunakan ukiran berbentuk lambang Garuda Pancasila. Namun bagian penanggu dan penyelah bisa juga menggunakan ukiran sosok pewayangan.

Ada pula rumbing yang dikenakan pada tubuh sapi. Rumbing fungsinya seperti mahkota. Belum lagi badong yang fungsinya seperti bandana yang dikenakan pada leher, juga keroncongan yang dipasangan pada bagian leher. Ada juga kerincinganyang dipasang pada kaki sapi.

sampi-gerumbungan_4Saat berjalan, sapi-sapi itu akan berjalan berjingkat dengan tubuh yang montok nan molek, kepala yang tengadah seolah menunjukkan lehernya yang jenjang, serta ekornya yang tegak menunjukkan bagian belakang tubuh mereka. Saat berjalan, sebisa mungkin langkahnya selaras agar terlihat indah. Langkah yang selaras juga membuat suara keroncongan dan kerincingan menjadi selaras, yang semakin menambah keindahan.

“Di situ letak keindahannya. Sampi gerumbungan ini memang beda dengan makepung atau karapan sapi. Cepat itu tidak penting. Yang utama itu keindahan,” ucap Bau Gede Subandi, Kelian (ketua) Sekaa Sampi Gerumbungan Baga Sabali.

Biasanya sapi-sapi yang akan tampil pada parade sampi gerumbungan, adalah sapi-sapi pilihan. Mereka dianggap bibit sapi unggul yang andal dalam membajak sawah. Sapi itu dipersiapkan sejak usia dua tahun, dan sudah siap tampil pada acara parade pada usia empat tahun.

Tak ada latihan khusus. Mereka cukup dilatih berjalan beriringan saat membajak sawah. Sapi-sapi itu juga tak butuh makanan khusus. Cukup diberi rumput atau jerami. Tak butuh vitamin khusus. Cukup latihan yang intens agar bisa tampil dengan baik.

Jika menjadi juara, sapi-sapi itu harganya cukup mahal. Bisa mencapa Rp 50 juta sepasang. Padahal sapi Bali dewasa, harganya hanya Rp 12 juta-16 juta per ekor. “Itu juga kalau ada yang butuh. Kalau nggak ada yang butuh, ujung-ujungnya harga tertinggi di (pasar hewan) Bringkit,” imbuh Subandi seraya tertawa.

Di tanah kelahirannya, sampi gerumbungan ditampilkan sekurang-kurangnya empat kali dalam setahun. Dua kali ditampilkan pada awal musim tanam padi dengan diawali prosesi mepiuning di Pura Dalem Desa Pakraman Bebetin. Dua kesempatan lainnya ialah saat hari raya Galungan sebagai simbol kemenangan kebajikan melawan keburukan.

Sampi gerumbungan adalah bukti bahwa Bali pernah menjadi tanah agraris dengan berbagai budayanya yang adi luhung. Kenapa disebut “pernah”? Karena harus diakui kini Bali mengalami semacam kebingungan identitas, apakah masih layak disebut sebagai tanah agraris di tengah merosotnya lahan sawah dan tergerusnya sumber-sumber pangan maraknya laihfungsi lahan.

Apakah Bali tetap layak disebut tanah agraris ketika masyarakatnya tak lagi bermimpi soal panen raya dan pesta gembira di tengah sawah, melainkan bermimpi tentang hidup mewah di tengah hotel megah dan gelimang dolar? Jika pun masyarakat masih melestarikan tradisi sampi gerumbungan, itu lebih sebagai sebuah kenangan bahwa tradisi itu pernah hidup dan tetap dipertahankan hingga kini.

Untuk itu, baik benar jika mendengar ungkapan Gede Subandi: “Bali seharusnya tidak mengemis pada pariwisata, apalagi mau diubah menjadi industri pariwisata. Semestinya hal-hal agraris ini yang dipertahankan.”. (T)

 

Tags: balibulelengpertanianpetanisampi gerumbunganTradisi
Share92TweetSendShareSend
Previous Post

Dulu Menunggang Kuda, Kini Koboi Menunggang Media

Next Post

Politik itu Lucu, Konyol, Tragis – Kuliah Tak Penting dari Negeri Saat ini

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails
Next Post

Politik itu Lucu, Konyol, Tragis – Kuliah Tak Penting dari Negeri Saat ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co