2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Bulan Nurguna by Bulan Nurguna
December 20, 2020
in Cerpen
Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Salah satu karya instalasi dalam Pemran SEni Rupa di kampus Undiksha Singaraja, 29 November 2019

Suami yang seorang vegan itu sibuk menguleni tepung yang sudah dicampur dengan jodoh-jodohnya: air, pengembang, garam, sedikit gula, dan “perasa ayam” yang berasal dari pati jagung, jamur, dan bumbu alami yang tidak mengandung ayam.  Setelah sekitar dua puluh menit, ditutupnya calon makanan itu dengan kain. Dia tunggu setengah jam sambil membaca surat kabar lokal, memilih berita penting yang diminatinya seputar ekonomi, lingkungan, dan humaniora. Setelah setengah jam, dia rebus air, menunggu mendidih, dan memasukkan adonan tadi ke dalamnya.

Dia memang biasa membuat makanan sendiri, sebab makanan di luar hanya sedikit yang sesuai seleranya. Dia memikirkan juga masalah kebersihan dan harga yang sering kali tidak bertemu satu sama lain. Bila tempatnya bersih dan makanannya enak, sering kali harganya kelewat mahal. Bila harganya murah dan makanannya enak, sering kali tempatnya jorok: mejanya yang nampak berminyak, tempat mencuci piring yang tidak punya air bersih yang mengalir, atau tempat sampahnya berantakan, terlihat seperti kebagian tugas menyambut tamu.

Hanya dua tempat di kota itu yang sesuai seleranya, tahu tek-tek di daerah pesisir dan warung siomay di tengah kota -tetapi karena mengandung ikan, selalu ia pesan tanpa memakai siomay. Selain itu, semua tempat, bila tidak jorok, pasti mahal. Bila murah, pasti jorok. Bila enak, murah, dan bersih, pasti mengandung perasa kimia atau mengandung kaldu daging.

Soal daging ini, dia punya falsafah yang diambilnya dari buku-buku tentang vegan; yang paling diingatnya adalah kalimat “kita adalah apa yang kita makan”. Bila manusia sering mengonsumsi daging, maka ia akan memiliki sifat-sifat hewani yang kasar, mudah marah, dan tidak punya pikiran yang panjang. Lagi pula, apakah tega melihat ikan, ayam, dan sapi meregang nyawa hanya untuk melayani nafsu makan manusia? Selain itu, makan sayur dan buah baginya lebih murah, tentu saja buah-buah lokal yang sedang musim atau sayuran lokal yang tak mengenal musim. Tentu bukan hanya sayur dan buah, ada juga kacang-kacangan, tempe, tahu, dan gluten -daging “bohongan” yang memang kerap dia bikin sendiri dengan tepung yang diuleni dan direbus.

Istrinya, yang penyuka berat daging, terutama ayam dan sapi, suka mempertanyakan keimanan suaminya masalah “agama” vegan tersebut. Apakah suaminya tidak lemas sebab tidak makan daging? Apakah sebenarnya suaminya masih memendam minat pada daging? Tetapi karena mungkin sudah telanjur diucapkan pada saat benar-benar tinggi minatnya pada dunia vegan, dia mempertahankan argumennya bahkan di saat sebenarnya dia menginginkan daging?

Istrinya sudah sering bilang, “Sesekali makanlah daging supaya sehat”. Tetapi dia berkeras bahwa tidak makan daging malahan membuatnya lebih sehat dan ringan rasa badannya. “Lagi pula, kamu adalah apa yang kamu makan,” katanya. Sebenarnya, istrinya agak tersinggung dengan kata-kata itu, sebab ia merasa dikhianati karena dahulu ketika awal pacaran mereka sering pergi ke tempat wisata yang puluhan kilometer jaraknya hanya untuk makan sate jeroan. Di awal-awal rumah tangga pun, mereka pernah membuka warung soto daging dan soto ayam kampung untuk menopang hidup mereka yang sederhana. Lalu istrinya juga ingat bahkan sepuluh tahun setelah menikah suaminya masih mau  diajak ke resepsi pernikahan dan selalu mengambil sedikit nasi dan sayur, tidak mengambil kerupuk dan sambal tetapi mengambil daging, udang, cumi, dan ikan yang banyak, sampai-sampai dia kesusahan menghabiskan semuanya.

Rupanya sekarang berbeda, setelah lima belas tahun menikah, suaminya berubah. Apakah ini karena perekonomian mereka yang membaik dan kerja-kerja fisik yang berkurang karena sudah bisa diserahkan kepada karyawan, sehingga membuat suaminya memiliki waktu lebih, untuk mengatur apa yang layak dan tidak layak masuk perutnya? Dan dia juga punya waktu lebih untuk mengolah sendiri makanan di rumah?

Si istri sebenarnya tipikal orang yang membebaskan suaminya untuk hal apa saja, kecuali perselingkuhan, sebagaimana di rumah tangga lainnya. Untuk urusan makanan sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli. Tetapi kesehatan suaminya yang membuatnya agak khawatir, sebab pernah ia baca iklan layanan masyarakat yang menganjurkan makan empat sehat lima sempurna. Ada daging di gambar itu, dan ia kurang percaya ketika suaminya berkata bahwa protein yang ada dalam tahu, tempe, dan biji-bijian tidak kalah banyaknya dari yang ada dalam daging.

Selain masalah kesehatan, si istri juga punya ketersinggungan: ia merasa direndahkan oleh suaminya itu. Bila ia makan ayam, ia jadi bermental chicken, begitu? Jika ia makan sapi ia akan malas dan gemuk seperti sapi? Ah, pikirnya, suaminya itu hanya melebih-lebihkan saja. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, bahkan merasa dirinya lebih baik dari istrinya.

Si istri semakin sering merasa direndahkan dan dikhianati, tidak hanya soal apa yang dimakan, tapi juga soal siapa yang diberi makan. Contohnya kucing-kucing kampung yang sering mampir di rumah itu. Si istri sungguh cinta kebersihan, dan kucing-kucing kampung itu suka membuang kotoran di sembarang tempat di rumah itu; di halaman, di ruang tamu, di ruang tidur, dan yang paling membuatnya marah adalah di dapur. Seakan kucing-kucing itu mengejeknya: tempatmu makan adalah tempatku berak, dasar manusia! Karena itulah ia menjadikan kucing-kucing itu musuhnya. Tiap ia melihat kucing itu ada di rumahnya, ia kejar, ia lempari dengan apa saja yang ada; batu sampai buku, garpu sampai sapu.

Sementara itu suaminya selalu memberi makan kucing-kucing itu dengan makanan yang ada di meja, makanan yang sebenarnya dimasak istrinya untuk dirinya sendiri dan kedua anak perempuannya. Kucing itu juga dia elus-elus, sesekali dia gendong satu persatu, sampai dia ajak berbicara tentang falsafah kehidupan, “Kucing-kucing, tidakkah kau lihat manusia saling menyakiti, saling mengkhianati di dalam janji?” Si istri yang melihatnya dari jendela kamar tersenyum sinis. Ia berpikir, paling-paling suaminya mendapat kata-kata itu dari tivi atau ceramah agama, sebab ia tak melihat bahwa  itu hasil pengalaman pribadi suaminya. “Kamu yang mengkhianatiku..,”  gumamnya. Ternyata makin lama kucing-kucing bisa membaca karakter suami-istri itu; ketika si suami pergi ke restoran milik mereka, dan si istri hanya sendirian di rumah, kucing-kucing itu tidak terlihat satu pun. Mereka hafal betul, ada istri berarti bencana, ada suami berarti anugerah.

Suatu hari, tanpa sengaja, si istri menemukan secarik kertas -semacam brosur- dari kantong suaminya:  “Open BO. Bebas gaya. Mandi kucing. Doggy Style…”

 “Dasar pengkhianat! Rupanya dia tidak hanya memberi makan kucing-kucing, tetapi juga menjadi kucing, menjadi anjing padahal bukan pemakan daging,” ucap si istri. Ia ingat, dulu suaminya berjanji akan makan apa saja asal bersama, saling setia, dan melawan apa pun bersama-sama.

Ia marah besar, saking marahnya ia tidak mau masak. Ia pergi ke rumah makan cepat saji paling terkenal dan sudah memiliki cabang puluhan ribu di seluruh dunia. Ia memesan satu keranjang ayam; dada, paha, dan sayap. Ia makan ayam-ayam itu sambil sesekali menenggak minuman soda. “Ya suamiku, aku memang apa yang aku makan. Aku makan junk food dan kau pikir  aku akan jadi sampah. Tapi kau tahu kan? Sampah bisa membuat orang mati.”

Setelah itu ia pergi ke toko pertanian dan peternakan, melihat-lihat di etalase khusus pembasmi hama. Ternyata harga semua jenis pembasmi hama murah sekali, tidak sebanding dengan nilai filosofisnya yang begitu besar: membasmi kehidupan lain yang mengganggu kehidupanmu.

Sesampainya di rumah, ia membuat gluten rasa ayam seperti yang dibuat suaminya, dan ia ganti gluten yang telah dibuat suaminya dengan yang baru saja ia buat. “Selamat makan, suamiku. Kucing tidak mengerti bahasa manusia, bila salah sedikit kita boleh menyiram atau memukulnya untuk memberi tahu. Bila salahnya banyak, kita memberinya racun. Dan aku sudah malas mencium anjing bergelar suami…” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Corona, Refleksi 2020

Next Post

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Bulan Nurguna

Bulan Nurguna

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co