7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
September 14, 2020
in Ulasan
Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak

Penulis (paling kiri) saat diskusi buku Menjerat Gus Dur di Kafe Kopling Singaraja

Tulisan ini adalah respon akademis saya terhadap buku “Menjerat Gusdur” yang ditulis oleh Virdika Risky Utama. Ia merupakan alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Selain aktif menulis di beberapa kolom media cetak nasional, Mas Virdi, begitu ia disapa juga seorang wartawan. Buku “Menjerat Gusdur” adalah hasil investigasinya selama beberapa tahun. Dan kini, Mas Virdi juga sibuk mempersiapkan kuliah master jurusan ilmu politik di National University of Singapore (NUS).

            Acara bedah buku ini diadakan pada hari Kamis, 10 September 2020. Bertempat di Kafe Kopling Singaraja yang diinisiasi oleh anak-anak GP Anshor Kabupaten Buleleng. Kata panitia yang sempat menghubungi saya H-5, Mas Virdi kebetulan sedang liburan ke Bali dan telah melakukan puluhan kegiatan serupa sejak penerbitan bukunya di awal tahun 2019. Judulnya yang provokatif menuai polemik sosial, alih-alih intelektual di masyarakat. Bak gayung bersambut, oleh karena ulasan buku itu yang dianggap upaya membersihkan masa lalu Gusdur-lah yang kemudian melatarbelakangi mengapa acara ini dibuat.   

            Sebagai sebuah karya sejarah, buku “Menjerat Gusdur” yang dikarang oleh Virdika menawarkan fakta baru perihal polemik kejatuhan Gusdur pasca Orde Baru. Di dalam metodologi ilmu sejarah yang sangat ketat sekalipun, saya pikir tidak ada yang bisa membantah data-data yang disajikan oleh penulis – begitu kaya dan padat. Data-data itu meliputi surat, notulensi rapat, memoar politik, oral history  (terutama dengan tokoh X). Bahkan dengan gagahnya , penulis menjadikan bahan mentah tulisan ini terutama bagian notulensi rapat dan beberapa memoar politik tokoh tertentu yang berperan penting dalam konspirasi kejatuhan Gus Dur sebagai lampiran. Sungguh keberanian akademik yang hanya dimiliki oleh sedikit orang.

            Hal ini membuktikan bahwa penulis telah siap lahir batin jika di kemudian hari karyanya akan menjadi polemik serius di dunia akademik, alih-alih politik. Penulis sadar betul bahwa meskipun Orde Baru telah runtuh, dan cita-cita reformasi diletakkan di pundak Gusdur kala itu, namun mentalitas antikritik rezim otoritarian tetap menjadi keseharian kita. Bahkan di mimbar akademik sekalipun. Akibatnya dunia akademik mengalami kemandegan. Namun tidak begitu dengan penulis, bermodal idealisme yang berapi-api, nampaknya yang bersangkutan siap untuk mendapatkan intimidasi dan provokasi dari pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai kritik terhadap masa lalunya.  

            Lalu, orang atau sekelompok orang yang merasa terusik akan dengan sendirinya mengajukan gugatan. Pada momen inilah penulis dengan lantang membeberkan narasi politik di masa lalu dengan seabrek data mentah yang akan sangat sulit dibantah. Thus, ibarat meludah ke atas, gugatan akan menyerang tuannya sendiri. Artinya gugatan itu justru menelanjangi noktah hitam dari masa lalu si penggugat.  Dan seperti tagline di dalam pamflet yang dibuat oleh panitia dengan mengutip kata-kata Gusdur bahwa “nanti sejarah yang akan membuktikannya” menemukan momentum.

            Di samping bahan mentah penelitian yang secara metodologis memperkuat adanya konspirasi di balik kejatuhan Gusdur, hal lain yang menjadi kekuatan dari buku ini adalah bahasanya yang lugas dan tegas. Narasi yang dibangun base on data, baik yang disajikan melalui catatan kaki maupun catatan badan. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca mahasiswa, khususnya mahasiswa sejarah yang menaruh minat terhadap seputaran peristiwa pasca Orde Baru. 

            Buku ini digadang-gadang sebagai biografi politik Gusdur, namun secara substansial menunjukkan beberapa celah yang justru menjadi kelemahan. Pertama, meskipun data-data yang ditawarkan di dalam buku ini baru sekaligus memperkuat adanya konspirasi politik kejatuhan Gusdur, akan tetapi tidak mampu menghadirkan cara pandang alternatif bagi generasi muda Indonesia dalam memahami polarisasi politik oligarki saat itu dan masih berlanjut hingga saat ini.

            Saya mengira, penulis masih gamang dalam menentukan posisi akademisnya dalam memahami kajian pasca Orde Baru, khususnya momen lengsernya Gusdur yang dianggap inkonstitusional. Kegamangan itu terlihat dari terlalu banyaknya data tanpa didukung narasi yang memadai sebagai sebuah unit analisis yang bisa memberikan nuansa populis dan emansipatoris.  Kegamangan akademis itu menyebabkan penulis terjebak dalam pusaran dendam masa lalu yang dikotomis thus normatif antara siapa kawan siapa lawan, mana yang baik dan mana yang jahat, antara  putih dengan hitam, serta perseteruan kesucian dengan kemungkaran.

            Sebuah karya yang didasari pada paradigma dikotomistis seperti itu, apalagi memuat narasi tentang masa lalu bisa berimplikasi dua hal sekaligus, yakni tumbuh suburnya dendam sejarah melingkar di antara generasi kelompok-kelompok yang bertikai dan terkuburnya wacana historiografi alternatif.

            Dalam kasus lengsernya Gusdur, penulis melupakan realitas politik Indonesia yang penuh intrik dan aneka kepentingan. Ada adagium yang menyatakan bahwa yang abadi itu adalah kepentingan. Jadi meskipun Gusdur dilengserkan oleh Poros Tengah yang bahkan dengan sangat sadar menggandeng Golkar yang sedang berusaha melepaskan diri dari patronase Soeharto untuk menghadapi PDIP, toh ketiganya, antara Gusdur, Poros Tengah dan Golkar pernah terlibat hubungan mesra, yang mengantarkan Gusdur ke kursi kepresidenan.

            Tumbuh suburnya dendam sejarah bisa termanifestasi dalam bentuk konflik laten bahkan frontal antara generasi kelompok yang bertikai. Hal tersebut disebabkan masing-masing pihak pada momen tertentu melakukan klaim-klaim kebenaran. Masalahnya, klaim kebenaran itu tidak pernah sepakat bertemu pada satu titik temu. Sebagai contoh, kelompok A berkonflik dengan kelompok B. kelompok A tidak pernah mengingat sikap baik dari kelompok B, namun cenderung menubuhkan perlakukan buruk yang diterimanya dari keompok B. Pun demikian dengan kelompok B. Artinya masing-masing kelompok yang bertikai itu melakukan dua aktivitas sekaligus, mengingat perlakukan buruk dan melupakan sikap baik. 

            Kedua, tulisan ini nyaris politis determinis, hanya menjelaskan realitas politik di era Gusdur secara monolitik. Artinya setiap hal yang terjadi pada Gusdur dan polemik yang ditimbulkan oleh eksistensinya selalu dipahami dalam kacamata politik semata. Meskipun ada upaya dari penulis untuk menghadirkan variabel yang lain. Padahal jika digali lebih dalam, akan didapatkan variabel yang tidak sekedar politik deterministis.   

Refleksi Filosofis

            Bagi generasi muda NU, mungkin tidak banyak yang mengetahui sosok Gusdur secara langsung. Gusdur dipelajari dan hadir dalam buku teks. Namun kini dengan kecanggihan kecerdasan buatan, sosok Gusdur yang low profile terekam dalam potongan-potongan video di Youtube. Meski demikian, rasanya hambar, sebab nuansa humanis seorang Gusdur tidak mampu digantikan oleh teknologi sekalipun. Meski begitu, Gusdur telah beristirahat dengan tenang, meninggalkan rekam jejak kesuksesan sekaligus kegagalan. Kesuksesan karena gagasan-gagasannya yang emansipatoris telah menginspirasi masyarakat Indonesia, minoritas khususnya.

            Di sisi lain, kesuksesan yang diraih bersanding pula dengan kegagalan. Ketidakmampuannya dalam mengelola kekuasaan yang disebabkan karena mengedepankan idealisme alih-alih bersikap kompromistis terhadap warisan oligarki kekuasaan menghadirkan bargaining power yang lemah pada diri Gusdur. Poros Tengah dan bahkan Golkar yang tengah mencari panggung politik beralih haluan memusuhi Gusdur. Akibatnya, meski tidak terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dituduhkan parlemen kepadanya dan bahkan diujimaterikan melalui lembaga yudikatif, toh akhirnya Gusdur lengser juga.

            Di sisi lain, kategori gagal yang saya sematkan pada diri Gusdur bisa jadi mengandung paradoks. Posisinya mirip dengan Soekarno yang dilucuti kekuasaannya pasca tragedi 1965. Jika Soekarno memiliki PNI, Gusdur didukung NU yang siap membantunya mengemban amanat reformasi. Namun, baik Soekarno dan Gusdur tidak menggunakan kekuatan politik itu untuk melawan ketidakadilan pada dirinya. Mereka membiarkan dirinya digrogoti oleh politisi maruk dengan alasan menghindari pertumpahan darah. Pada titik ini, saya menaruh hormat kepada keduanya.

            Mengutip pernyataan Nietzsche bahwa masa lalu lebih mendukakan ketimbang mensukakan dan dalam hubungannya dengan celah yang disisakan buku ini, di samping juga bekal bagi anak muda NU untuk bisa melanjutkan cita-cita Gusdur, saya melihat satu obsesi kuat darinya agar bangsa ini terlepas dari beban masa lalu yang pahit. Hal itu adalah apa yang disebut rekonsiliasi.

            Rekonsiliasi adalah titik temu yang menandai obsesi Gusdur tentang emansipasi manusia. Ide-ide rekonsiliasi tentu tidak hadir begitu saja. Ia diinisiasi melalui dimensi-dimensi sosial kebudayaan, bahwa Gusdur dibesarkan di lingkungan pesantren dengan nuansa keislaman yang akulturatif, disamping mengemban ascribed status yang tinggi sebagai cucu pendiri NU. Bacaan-bacaan Barat dan literasi yang kuat turut membentuk jati diri Gusdur di masa depan. Inilah yang menyebabkannya dikenal luas di kalangan minoritas. Jasanya pun perihal kesetaraan bagi kaum minoritas di negeri ini tidak bisa dianggap kecil. Kekaguman-kekaguman terhadap Gusdur pada akhirnya berubah menjadi mistifikasi terhadap dirinya. Kultus sebagai wali ke sepuluh hingga bapak pluralisme bisa dianggap apresiasi terhadap kemampuan Gusdur mengelola keberagaman yang sempat porak-poranda di negeri.

            Meskipun rekonsiliasi sangat populis bagi minoritas, namun tidak bagi yang lainnya. Terutama kelompok dominan yang bersekutu dengan sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang menganggap wacana ini akan menggerogoti status quo di masa depan. Jika wacana ini terealisasi, tidak akan ada lagi “wabah” konflik yang bisa mereka manfaatkan demi kepentingan menggapai kekuasaan. Oleh sebab itu, gagasan Gusdur tentang rekonsiliasi yang lahir dari persinggungan sosial dan budaya dianggap berbahaya. Solusinya, Gusdur harus disingkirkan meski dengan cara-cara inkonstitusional. Dengan tersingkirnya Gusdur maka, wacana rekonsiliasi juga akan ikut terkubur.

            Memperhatikan pengalaman berbagai bangsa di tiga benua yakni Asia, Afrika dan Amerika Latin, di dalam menempuh proses panjang pembangunan kembali budaya rukun dan damai, yang tidak mudah dan tidak sederhana itu, sekurang-kurangnya ada empat masalah pokok yang harus dihadapi dan dikerjakan sekaligus. Pertama, memberi jaminan kepastian akan adanya suasana damai, kedua, menyingkapkan kebenaran atau (di Indonesia dalam istilah salah kaprah disebut sebagai) “meluruskan sejarah”, ketiga, menegakkan keadilan, dan keempat, mendudukkan masa lalu pada tempat yang semestinya.

            Sejarah bangsa Bangsa Indonesia ialah sejarah yang disusun dari oleh dan untuk penguasa demi kekuasaan. Oleh sebab itu, sejalan dengan proses rekonsiliasi, menjadi perlu dilakukan kegiatan penyusunan “sejarah dari bawah”, dengan melalui sejarah lisan sebagai sarana. Perlu juga dilakukan semacam “Gerakan Pembaruan Sejarah” yang sekaligus adalah “Gerakan Mengamati dan Menulis Sejarah Baru”. Dalam usaha menerangi sisi-sisi gelap sejarah masa lalu yang berdarah-darah dan berurai airmata itu, rasa keadilan dapat dibangun melalui pendekatan dan kesediaan berkisah orang-orang tertentu, yang diduga sebagai pelaku dan bertanggung jawab terhadap tindak kekerasan di masa lalu. Bukan dengan semangat balas dendam, tetapi dengan semangat memulihkan equilibria kultural dalam pergaulan masyarakat.

            Peristiwa lengsernya Gusdur bukan hanya merupakan kekalahan pribadi belaka, tetapi sekaligus kekalahan sejarah “Sejarah Reformasi”. Pada satu pihak, pintu demokrasi yang sedang hendak dibukakan telah ditutup kembali, dan pada pihak lain membiarkan diri sendiri sebagai bangsa tetap menjadi tawanan sejarah masa lampau. Sesungguhnya pengakuan dan permintaan maaf secara resmi dari petinggi negeri, apalagi dari seorang kepala negara, bisa berperanan sebagai kekuatan pendorong di dalam proses mengubur kisah buruk masa lalu.

            Memaafkan tanpa melupakan adalah konsep moral kerukunan, yang menjadi semboyan dan pedoman rekonsiliasi. Dengan memaafkan tanpa melupakan, bukan berarti mengingkari hukum keadilan. Justru demi menegakkan hukum keadilan itulah, maka semboyan “memaafkan tanpa melupakan harus dilaksanakan. Memaafkan antar siapa? Tentu saja antar-sesama orang, baik sendiri-sendiri maupun sebagai komunitas, yang mau membangun tata pergaulan hidup yang rukun dan damai atas dasar keadilan, bukan atas dasar (putusan) pengadilan.     

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berpameran di Tengah Pandemi Covid-19 ala Teja Astawa dan Galeri Zen1

Next Post

Zaman Beda, Air Beda

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Zaman Beda, Air Beda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co