24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Ini salah satu jenis sakura, yang ada di sekitaran dam. [Foto koleksi Riris Sanjaya]

Makin hari urusan pandemi ini makin berlanjut. Saya berusaha tidak membaca lagi berita-berita terkait kericuhan yang terjadi, tetapi tetap mengikuti anjuran pemerintah dan para ahli, terutama mengacu pada pesan dan himbauan dari sang suami yang berada di Bali. Tidak ada peringatan yang lebih menakutkan bagi saya yang sedang bekerja di Jepang jauh dari keluarga ini, daripada kata-kata suami yang bagaikan peluru menembus ruang dan waktu.

Sudah sejak bulan lalu, setelah 10 hari bekerja kemudian saya diliburkan hingga akhir Mei, kemudian dikabari bahwa Juni ini juga sama, libur sebulan penuh. Yang sangat saya syukuri, atas bantuan pemerintah Jepang dan kebijakan perusahaan, gaji saya dan seluruh rekan kerja tetap dibayarkan. Sungguh, ini yang namanya makan gaji buta. Semoga saja saya tidak buta memakan gaji.

Begitulah, karena tidak ada tugas dan jadwal yang harus dipenuhi setiap harinya, saya dan teman-teman mulai aktif berinteraksi dan beraksi. Kami mengeksplor kawasan wisata alam yang kami datangi dengan penuh pertimbangan protokoler kesehatan. Apalagi, sebelum libur kami dihimbau untuk tidak bepergian ke daerah-daerah zona kasus berbahaya, demi menjaga daerah Niseko tetap nihil dalam hitungan kasus corona.

Sebelumnya, ada seseorang yang sepertinya hanya demam biasa, sudah dikirim ke pusat kesehatan dan dipindahkan dari asrama. Wiih, saya sungguh sangat berusaha menghindari hal itu. Makanya meskipun agak mahal, saya tetap memesan jamu Tolak Angin dari Online Shop-Indonesian Store yang ada di Tokyo, sambil pesan beberapa tempe dan bumbu masak. Atau kadang-kadang suka diberi gratis oleh sahabat saya dari Bali yang berbeda tempat kerja. Kalau gratis, khasiatnya dobel! Hahaa

Air terjun pertama yang saya kunjungi di Jepang. {Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Tanggal 15 kemarin, kami semua gajian, diberikan 100% karena pemerintah tetap memberikan subsidi. Kemudian, yang awalnya rencana dipotong 20% oleh perusahaan untuk tanggal 15 bulan depan, katanya tidak jadi karena pemerintah masih memberikan dana bantuan. Waah, setelah saya menyampaikan terima kasih pada atasan dengan wajah pura-pura datar, saya berpaling dan membiarkan mulut saya menganga.

Entah apa karena saya bukan warga asli, atau saya memang kurang tertarik untuk mendalami, saya kurang paham bagaimana kebijakan ini diputuskan. Bagaimana proses dan sumber dananya. Bagi saya, bantuan langsung yang diterima tanpa babibu seperti ini begitu menyenangkan, sangat patut disyukuri. Terlebih, Mei lalu, sesaat sebelum putri pertama saya berulang tahun pada tanggal 30, kami semua dikumpulkan di ruang makan utama. Kami diminta mengisi form, untuk menerima bantuan langsung tunai sebesar 100.000 yen per orang. Hah? Bukan hanya untuk warga asli Jepang yang dihitung per-jiwa termasuk bayi, tetapi bagi kami yang juga terdaftar dalam administrasi kependudukan, kami berhak menerima bantuan tersebut. Setelah formulir diiisi sesuai petunjuk, diinformasikan bahwa dana akan diterima 2 minggu setelah pengiriman data. Kemudian setelah satu minggu lebih, saat saya dan rekan-rekan sedang bepergian, beberapa dari kami menarik tunai di bank kantor pos, dan mendapati uang bantuannya sudah masuk ke rekening. Wah, tidak sampai 2 minggu seperti yang disampaikan. Jadilah saya punya kado istimewa untuk si kecil.


BACA Kabar dari Jepang lain yang ditulis Riris Sanjaya


Saya terus bertanya-tanya sambil terus berbahagia, bagaimana bisa, seperti apa, kemudian setelahnya bagaimana, memberikan bantuan dengan sigap dan tanpa banyak ucap. Entah kalau para pengamat politik atau ekonomi, atau siapapun mengutarakan opini mengenai hal ini, saya yang pekerja migran, hanya sangat bersyukur. Sungguh saya bersyukur sekali, mengingat bagaimana pandemi ini memengaruhi perekonomian dunia.

Demikianlah hari-hari saya lalui dengan mengunjungi beberapa kawasan alam yang masuk dalam wilayah aman, dengan sangat berhati-hati meskipun sebagian besar wilayah State of Emergency-nya sudah diangkat. Dan hampir setiap hari pula kami memasak berbagai hidangan bersama di dapur utama asrama.

Karena memiliki 4 musim, saat daun bertumbuh seperti ini, warnanya sungguh-sungguh hijau. [Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Belakangan ini, saya kembali membuka buku pelajaran bahasa Jepang, kembali melihat resep masakan, mencoba memahami cara bercocok tanam hidroponik. Saya berusaha mengingatkan tubuh dan otak saya bahwa saya memiliki target bekerja di sini. Saya tidak ingin sampai terlena, dan larut dalam suka-cita. Begitu juga rekan-rekan saya, mereka tetap giat berolahraga dan terus belajar segala hal. Mereka sangat menginspirasi saya. Saya berpikir untuk beraktivitas seolah-olah saya sedang bekerja. Bangun pagi, sembahyang, memasak, belajar, berolahraga, menciptakan hari-hari yang produktif. Saya ingin bersiap untuk kembali bekerja pada Agustus nanti.

Begitu rencananya, hingga pagi ini, di atas meja ruang bersama, saya melihat amplop putih bertuliskan nama lengkap saya: A A AYU RAHADIANI CWARI. Apa ini?

Oh, tidak. Berantakanlah program sempurna saya. Saya dan pastinya seluruh rekan saya yang terdaftar sebagai penduduk kota Niseko, menerima voucher dari pemerintah yang bisa digunakan untuk makan di restoran-restoran yang ada di kawasan Niseko. Tidak hanya restoran, layanan jasa seperti perbaikan kendaraan, furnitur rumah, toko kebutuhan sehari-hari, hingga pemandian air panas, dan perawatan salon pun bisa kami dapatkan dengan menukarkan 6 lembar voucher ini. Keren sekali bukan? Sekali lagi, saya tidak punya teori tentang bagaimana ini diatur, tetapi, saya berasumsi pemerintah setempat bersinergi dengan seluruh pebisnis wilayah untuk bersama-sama menghidupkan perekonomian.  Ini adalah cara mereka mendukung kebertahanan masing-masing. Ditambah dengan upaya pencegahan virus yang terpercaya, mereka sungguh berusaha.

Kalau begini, saya kan jadi ingin jalan-jalan lagi. Belajarnya nanti saja. Eh, ada whatsapp dari suami. Ya sudah, saya pergi makan setelah belajar. Teman-teman, tetap semangat di sana ya! [T]

Tags: JepangNegeri Sakurapekerja migran
Share272TweetSendShareSend
Previous Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Next Post

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik - [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co