24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Vincent Chandra by Vincent Chandra
May 14, 2020
in Esai
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Berbagai golongan masyarakat yang telah nyaman bekerja secara tradisional sebagai karyawan di gedung-gedung perkantoran, pabrik, hingga perusahaan besar yang dirumahkan hari ini “mau tidak mau” harus banting setir agar bisa terus memenuhi kebutuhan hidup dengan mulai menjalankan bisnis-bisnis berskala kecil secara mandiri. Namun mereka diuntungkan sebab perkara pemasaran produk, pembelian, hingga proses transaksi hari ini adalah perkara mudah dengan adanya praktik e-commerce yang didukung oleh kemajuan teknologi dan internet. Mereka hanya perlu belajar mengoptimalkan kerja-kerja gawainya dan tinggal masalah waktu untuk dapat menguasai pola perdagangan digital ini. Adanya teknologi dan internet memang adalah sebuah advantage nyata yang bisa kita rasakan khususnya di masa pandemi sekarang.

“E-commerce is the future!”, begitu ramalan Jack Ma pada tahun 2018 lalu dalam sebuah konferensi atas jalur perdagangan berbasis digital yang ia yakini akan menjadi solusi bagi ekosistem perdagangan dan ekonomi global. Sejak 20 tahun sejak praktik e-commerce dikenalkan pun tidak ada yang menyangka bahwa masa depan yang ia maksud adalah hari ini. Ketika semua orang dari berbagai profesi terpaksa harus meninggalkan cara perdagangan tradisional yang dinilai kurang efisien selama kondisi-kondisi khusus seperti sekarang. Perubahan ini begitu abstrak dan cepat. Hanya saja masih tersisa pertanyaan apakah industri e-commerce akan punya efek yang sama terhadap setiap pelakunya?

Secara pribadi, potensi dari industri e-commerce pertama sekali saya nikmati kurang lebih pada 7-8 tahun yang lalu. Dengan jumlah teman yang sangat terbatas saya berniat untuk mengiklankan jasa menggambar saya lewat aplikasi-aplikasi yang sedang trend pada masa itu seperti BBM, yahoo, dan twitter. Jasa saya saat itu dihargai Rp.5.000-10.000 dan dibayar lewat pulsa oleh orang yang sama sekali belum saya kenal secara langsung.

Aktivitas tadi kemudian terjadi berulang-ulang sehingga saya yang saat itu hanya seorang remaja SMP cukup beruntung karena dapat melunasi sendiri ponsel yang saya beli dan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengalaman pribadi saya adalah contoh sederhana dari praktik e-commerce yang telah berkembang seperti sekarang. Hanya saja platform dan penyedia layanannya kini kian canggih dan cukup baik dalam membaca kebutuhan masyarakat hari ini.

Pada saat itu saya amati beberapa teman yang juga melakukan praktik e-commerce yang serupa namun pada sektor yang berbeda-beda seperti fashion, produk kecantikan, hingga jajanan. Dalam waktu singkat keuntungan yang mereka peroleh cenderung jauh lebih banyak dari keuntungan saya. Saya tidak bisa memahami apa penyebabnya.

Saat itu kami punya akses internet yang sama baiknya, cara komunikasi yang tidak buruk-buruk amat, dan jumlah teman yang sama banyak. Perlu waktu untuk saya menyadari bahwa penyebabnya adalah anggapan rata-rata masyarakat kita yang akhirnya melabeli seni hanya sebagai pemanis saja. Bahkan jauh sebelum adanya pandemi ini pun seni adalah kebutuhan nomor sekian setelah kebutuhan yang utama seperti barang-barang konsumtif dan kesehatan terpenuhi.

Sejalan dengan data pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia yang dirilis tahun lalu menunjukkan bahwa industri ini telah didominasi oleh penjualan ritel dari beberapa kategori seperti fashion, kebutuhan-kebutuhan pokok, produk kecantikan, dan kesehatan. Sementara penjualan karya seni, material seni, dan jasa-jasa kreatif lainnya lewat e-commerce masih cenderung musiman, popularitasnya tidak segemerlap sektor lainnya. Ditambah dengan berlangsungnya situasi perekonomian yang melemah akibat pandemi ini juga semakin menekan sektor yang dianggap non-krusial seperti kesenian untuk dikesampingkan sementara.

Meski jelas kini ada ketimpangan antara satu sektor dengan sektor lainnya, kita tetap harus fair dan percaya bahwa industri ini sebetulnya punya peluang yang sama rata untuk setiap pelakunya. Tidak ada satu sektor pun yang memerlukan simpati karena tiap-tiap nya memiliki fungsi, tujuan, dan pasar yang beragam. Alih-alih menyoalkan anggapan masyarakat yang mainstream tentang seni dan pelakunya, saya lebih tertarik mendiskusikan apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri, tetap mendapatkan penghasilan, sekaligus beradaptasi sebagai seorang pekerja seni di tengah pandemi ini.

Kekhawatiran kita sebagai pekerja seni, baik yang berkecimpung dalam cagar budaya, permuseuman, maupun dalam ‘alam liar’ kesenian lainnya yang terdampak secara tidak langsung coba diatasi oleh pemerintah dan lembaga yang di awal pandemi kemarin telah menunjukkan perhatiannya terhadap ekosistem di bidang kesenian dan kebudayaan. Selain menawarkan bantuan sosial, mereka juga mengampanyekan praktik e-commerce untuk coba dilakoni setiap pekerja seni. Yang sesungguhnya tidak lagi asing dan telah sepenuhnya dipraktikkan oleh mereka lewat berbagai bentuk pengiklanan acara, penjualan tiket masuk konser, museum, dan galeri, serta keperluan acara lainnya.

Pemerintah sendiri telah mendukung praktik dagang daring ini sejak lama sebab industri ini adalah salah satu punggung perekonomian negara. Sebelum kondisi hari ini pun pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait telah mengambil langkah inisiatif dengan menyiapkan ekosistem industri ekonomi digital untuk menyambut potensi-potensi baru yang akan lahir. Seperti penyediaan jasa layanan antar atau logistik, provider telekomunikasi, edukasi terkait dan SDM yakni pelaku utama e-commerce ini (Kominfo).

Rangkaian pematangan layanan ini tidak menjadi priviles untuk hanya satu sektor namun juga membuka peluang emasnya untuk setiap pelaku e-commerce termasuk juga para pekerja seni. Ini sekaligus adalah babak baru bagi industri ekonomi kreatif. Para pelakunya akan belajar untuk mengkonvensi pasarnya kedalam bentuk digital dan meresponnya sebagai ranah produksi yang baru. Kita dapat memanfaatkannya dengan mengadakan workshop atau kelas online terkait keterampilan-keterampilan yang dimiliki masing-masing pekerja seni.

Seperti yang Enin Supriyanto nyatakan bahwa situasi ini memberikan peluang bagi pekerja seni untuk berkarya, karena mereka memiliki pola pikir dan strategi untuk beradaptasi dan melakukan hal yang berbeda ditengah-tengah krisis. Ini adalah satu momentum yang bagus. [T]

Tags: e-commercemedia sosialSeniTekhnologi Informastika
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Next Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co