23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Vincent Chandra by Vincent Chandra
May 14, 2020
in Esai
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Berbagai golongan masyarakat yang telah nyaman bekerja secara tradisional sebagai karyawan di gedung-gedung perkantoran, pabrik, hingga perusahaan besar yang dirumahkan hari ini “mau tidak mau” harus banting setir agar bisa terus memenuhi kebutuhan hidup dengan mulai menjalankan bisnis-bisnis berskala kecil secara mandiri. Namun mereka diuntungkan sebab perkara pemasaran produk, pembelian, hingga proses transaksi hari ini adalah perkara mudah dengan adanya praktik e-commerce yang didukung oleh kemajuan teknologi dan internet. Mereka hanya perlu belajar mengoptimalkan kerja-kerja gawainya dan tinggal masalah waktu untuk dapat menguasai pola perdagangan digital ini. Adanya teknologi dan internet memang adalah sebuah advantage nyata yang bisa kita rasakan khususnya di masa pandemi sekarang.

“E-commerce is the future!”, begitu ramalan Jack Ma pada tahun 2018 lalu dalam sebuah konferensi atas jalur perdagangan berbasis digital yang ia yakini akan menjadi solusi bagi ekosistem perdagangan dan ekonomi global. Sejak 20 tahun sejak praktik e-commerce dikenalkan pun tidak ada yang menyangka bahwa masa depan yang ia maksud adalah hari ini. Ketika semua orang dari berbagai profesi terpaksa harus meninggalkan cara perdagangan tradisional yang dinilai kurang efisien selama kondisi-kondisi khusus seperti sekarang. Perubahan ini begitu abstrak dan cepat. Hanya saja masih tersisa pertanyaan apakah industri e-commerce akan punya efek yang sama terhadap setiap pelakunya?

Secara pribadi, potensi dari industri e-commerce pertama sekali saya nikmati kurang lebih pada 7-8 tahun yang lalu. Dengan jumlah teman yang sangat terbatas saya berniat untuk mengiklankan jasa menggambar saya lewat aplikasi-aplikasi yang sedang trend pada masa itu seperti BBM, yahoo, dan twitter. Jasa saya saat itu dihargai Rp.5.000-10.000 dan dibayar lewat pulsa oleh orang yang sama sekali belum saya kenal secara langsung.

Aktivitas tadi kemudian terjadi berulang-ulang sehingga saya yang saat itu hanya seorang remaja SMP cukup beruntung karena dapat melunasi sendiri ponsel yang saya beli dan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengalaman pribadi saya adalah contoh sederhana dari praktik e-commerce yang telah berkembang seperti sekarang. Hanya saja platform dan penyedia layanannya kini kian canggih dan cukup baik dalam membaca kebutuhan masyarakat hari ini.

Pada saat itu saya amati beberapa teman yang juga melakukan praktik e-commerce yang serupa namun pada sektor yang berbeda-beda seperti fashion, produk kecantikan, hingga jajanan. Dalam waktu singkat keuntungan yang mereka peroleh cenderung jauh lebih banyak dari keuntungan saya. Saya tidak bisa memahami apa penyebabnya.

Saat itu kami punya akses internet yang sama baiknya, cara komunikasi yang tidak buruk-buruk amat, dan jumlah teman yang sama banyak. Perlu waktu untuk saya menyadari bahwa penyebabnya adalah anggapan rata-rata masyarakat kita yang akhirnya melabeli seni hanya sebagai pemanis saja. Bahkan jauh sebelum adanya pandemi ini pun seni adalah kebutuhan nomor sekian setelah kebutuhan yang utama seperti barang-barang konsumtif dan kesehatan terpenuhi.

Sejalan dengan data pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia yang dirilis tahun lalu menunjukkan bahwa industri ini telah didominasi oleh penjualan ritel dari beberapa kategori seperti fashion, kebutuhan-kebutuhan pokok, produk kecantikan, dan kesehatan. Sementara penjualan karya seni, material seni, dan jasa-jasa kreatif lainnya lewat e-commerce masih cenderung musiman, popularitasnya tidak segemerlap sektor lainnya. Ditambah dengan berlangsungnya situasi perekonomian yang melemah akibat pandemi ini juga semakin menekan sektor yang dianggap non-krusial seperti kesenian untuk dikesampingkan sementara.

Meski jelas kini ada ketimpangan antara satu sektor dengan sektor lainnya, kita tetap harus fair dan percaya bahwa industri ini sebetulnya punya peluang yang sama rata untuk setiap pelakunya. Tidak ada satu sektor pun yang memerlukan simpati karena tiap-tiap nya memiliki fungsi, tujuan, dan pasar yang beragam. Alih-alih menyoalkan anggapan masyarakat yang mainstream tentang seni dan pelakunya, saya lebih tertarik mendiskusikan apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri, tetap mendapatkan penghasilan, sekaligus beradaptasi sebagai seorang pekerja seni di tengah pandemi ini.

Kekhawatiran kita sebagai pekerja seni, baik yang berkecimpung dalam cagar budaya, permuseuman, maupun dalam ‘alam liar’ kesenian lainnya yang terdampak secara tidak langsung coba diatasi oleh pemerintah dan lembaga yang di awal pandemi kemarin telah menunjukkan perhatiannya terhadap ekosistem di bidang kesenian dan kebudayaan. Selain menawarkan bantuan sosial, mereka juga mengampanyekan praktik e-commerce untuk coba dilakoni setiap pekerja seni. Yang sesungguhnya tidak lagi asing dan telah sepenuhnya dipraktikkan oleh mereka lewat berbagai bentuk pengiklanan acara, penjualan tiket masuk konser, museum, dan galeri, serta keperluan acara lainnya.

Pemerintah sendiri telah mendukung praktik dagang daring ini sejak lama sebab industri ini adalah salah satu punggung perekonomian negara. Sebelum kondisi hari ini pun pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait telah mengambil langkah inisiatif dengan menyiapkan ekosistem industri ekonomi digital untuk menyambut potensi-potensi baru yang akan lahir. Seperti penyediaan jasa layanan antar atau logistik, provider telekomunikasi, edukasi terkait dan SDM yakni pelaku utama e-commerce ini (Kominfo).

Rangkaian pematangan layanan ini tidak menjadi priviles untuk hanya satu sektor namun juga membuka peluang emasnya untuk setiap pelaku e-commerce termasuk juga para pekerja seni. Ini sekaligus adalah babak baru bagi industri ekonomi kreatif. Para pelakunya akan belajar untuk mengkonvensi pasarnya kedalam bentuk digital dan meresponnya sebagai ranah produksi yang baru. Kita dapat memanfaatkannya dengan mengadakan workshop atau kelas online terkait keterampilan-keterampilan yang dimiliki masing-masing pekerja seni.

Seperti yang Enin Supriyanto nyatakan bahwa situasi ini memberikan peluang bagi pekerja seni untuk berkarya, karena mereka memiliki pola pikir dan strategi untuk beradaptasi dan melakukan hal yang berbeda ditengah-tengah krisis. Ini adalah satu momentum yang bagus. [T]

Tags: e-commercemedia sosialSeniTekhnologi Informastika
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Next Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co