2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 14, 2020
in Esai
Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Rata-rata teman saya yang merupakan penggemar (pemburu) lawar babi kini melenguh seperti babi kehabisan napas ketika disembelih. Mereka diam di rumah dan berkebun atau beternak. Ada yang mulai menanam sayuran, beternak bebek, ikan, atau lebih fokus merawat ayam yang sebelumnya ditinggal merantau. Pemburu lawar babi yang memelihara ayam adalah kaum paling apes.

Awal wabah Covid-19 diumumkan dan kampus diliburkan, seorang teman sebut saja Made Grudug dengan gagahnya bercerita, “kata bapaku, banyak tetangga yang menjual babi dengan harga murah hingga Rp. 13.000 per kilogram di kampung. Ini kesempatanku belajar ngelawar” dia tak khawatir dengan entah virus apa yang telah membunuh banyak babi di Bali. Mungkin Made Grudug dapat dianggap sebagai penggemar buta lawar babi. Yang dia tahu, komoh dan lawar plek yang membuat air liurnya meleleh.

Dia lupa, meskipun virus tidak mampu mengalahkan lelehan air liurnya, tapi jumlah babi yang jelas pasti berkurang drastis itu akan membuat lelehan lain, mungkin air matanya sebab, tesiar kabar bahwa babi buru-buru dipotong pemiliknya. Sementara, jika desanya diawasi ketat oleh aparat desa. Mau cari daging babi ke mana? Ke luar rumah segan, diam di rumah gelisah.

Memang betul, setelah beberapa hari di rumah, ponsel saya tak habis pemberitahuan dari Made Grudug. Sudah pasti yang dikirim adalah gambar lawar adonannya sendiri. Lengkap dengan komoh berminyak dan beberapa butir biji cabai yang sengaja diperlihatkan dengan keterangan, “pokokne mantap!”

Di rantauan Made Grudug adalah orang yang paling gelisah dan selalu ingin pulang. Dia tak punya pacar yang menunggu di kampung, orang tuanya juga tidak menuntutnya untuk pulang setiap minggu. Alasannya sederhana, tak bisa menyantap lawar yang diinginkan di kota rantauan, dan itulah motivasi yang selalu mendorongnya pulang. Beberapa kali dia mengajak saya termasuk teman-teman yang lain untuk membuat lawar di kos, tapi sadar rumitnya pekerjaan itu, teman-teman yang lain selalu menolak ajakannya.

Beberapa pedagang lawar bahkan hingga akarab dengan dia. Biasanya, ketika di kampung Made Grudug sangat sering ke Sukawati meski jaraknya tak cukup dekat. Padahal, dari jauh-jauh hari dia pernah berkata pada saya bahwa kelak dia akan belajar membuat lawar sendiri. Tapi, penjual lawar yang ada di mana-mana mengurungkan niatnya. Bila ada warung lawar baru, dia akan ke sana dengan alasan mencoba “daki lima dagang yang berbeda”. Teman saya satu ini memang gila lawar babi, seseolah seminggu tanpa lawar akan membuatnya susah bernapas.

Lain Made Grudug, lain pula dengan bibi saya. Peternak kecil seperti bibi saya terlihat lesu setelah tahu dua babinya sakit. Dia menghubungi dokter hewan yang biasa mengobati ketika ternaknya sakit. Sayang sekali, dokter hewan itu menolak dengan alasan yang sangat mulia, kurang lebih ia berkata, “saya kasihan sama Mbok, sudah bayar dan nanti akan segera mati pula” benar saja, beberapa hari setelah itu satu ekor babi mati. Selang dua hari, yang lain menyusul. Sesungguhnya dia berencana menjual kedua babi itu, tapi dia urungkan karena khawatir bila babinya dijual dalam keadaan sakit akan berdampak tidak baik pada pembeli.

Di tengah Pandemi Covid-19 yang sudah membuat bibi saya lesu karena anaknya yang dirumahkan, kini ditimpa kelesuan lain karena babi yang seharusnya menjadi tabungan itu mati kedua-duanya.

Banyak babi yang buru-buru disembelih agar tidak mati meski harga hanya mencapai Rp. 13.000 per kilogram. ketimbang membayar ongkos gali lubang yang mencapai Rp. 200.000 hingga Rp. 300.000 ribu per lubang menjual adalah pilihan yang membantu. Harga bibit babi pun merosot seperti air terjun. Harga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagi sebagian orang yang tidak peduli dengan wabah babi, peristiwa ini mungkin kesempatan emas untuk bikin guling dengan harga murah.

“Sudah jatuh ditimpa tangga,” kata pepatah. Meski bukan hal yang sangat membantu keuangan keluarga, bibi saya juga memelihara ayam kampung sejak lama. Jumlahnya memang tak banyak, hanya sekitar 10-15 ekor ayam kampung yang dilepas di halaman belakang rumah. Sedikit tidak ternak ini cukup membantu. Bila Odalan tiba, dia jarang membeli ayam potong. Dia relakan satu dua ayamnya dipanggang. “Memang terkesan kecil, tapi ayam ini memotong cukup banyak uang yang harus dekeluarkan” kata bibi saya. Sesekali, kalau ayamnya masih kecil-kecil baru dia membeli ayam potong. Dan itu sangat jarang menjadi pilihannya.

Tiba-tiba, setelah babinya mati, ayamnya mendapat nasib yang tak jauh berbeda dengan babi malang itu. Satu di antaranya sedang mengeram, beberapa masih sangat kecil. Kini semua itu telah mati. Satu per satu hingga tak tersisa seekor anak ayam pun.

Sesungguhnya, Made Grudug pun memiliki nasib yang sama. Dia seorang penggemar ayam jago. Beberapa ia kandangkan, beberapa dibiarkan berkeliaran di halaman belakang. Satu per satu ayamnya juga mati. Mulai dari yang bebas berkeliaran hingga menular pada yang dikandangkan. “Babi telah habis, ayam sudah mati,” katanya setalah saya tanya kabar lewat whatsapp.

Mungkin Made Grudug dan bibi saya hanya dua dari banyak orang yang mengalami kemalangan itu. Sudah jatuh tertimpa tangga. Apalagi mereka adalah orang yang cukup taat. Mereka jarang keluar rumah. Di desa pecalang berpatroli dalam beberapa waktu membuat tidak enak keluar rumah. Sekarang mereka berdua sedang menunggu kabar baik. Tidak hanya pelonggaran PSBB tapi kabar bahwa virus bisa diatasi baik pada manusia maupun pada ternak. [T]

Tags: babi balicovid 19kulinerkuliner khas balilawar
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Minoritas dalam Pandemi

Next Post

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co