24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 14, 2020
in Esai
Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Rata-rata teman saya yang merupakan penggemar (pemburu) lawar babi kini melenguh seperti babi kehabisan napas ketika disembelih. Mereka diam di rumah dan berkebun atau beternak. Ada yang mulai menanam sayuran, beternak bebek, ikan, atau lebih fokus merawat ayam yang sebelumnya ditinggal merantau. Pemburu lawar babi yang memelihara ayam adalah kaum paling apes.

Awal wabah Covid-19 diumumkan dan kampus diliburkan, seorang teman sebut saja Made Grudug dengan gagahnya bercerita, “kata bapaku, banyak tetangga yang menjual babi dengan harga murah hingga Rp. 13.000 per kilogram di kampung. Ini kesempatanku belajar ngelawar” dia tak khawatir dengan entah virus apa yang telah membunuh banyak babi di Bali. Mungkin Made Grudug dapat dianggap sebagai penggemar buta lawar babi. Yang dia tahu, komoh dan lawar plek yang membuat air liurnya meleleh.

Dia lupa, meskipun virus tidak mampu mengalahkan lelehan air liurnya, tapi jumlah babi yang jelas pasti berkurang drastis itu akan membuat lelehan lain, mungkin air matanya sebab, tesiar kabar bahwa babi buru-buru dipotong pemiliknya. Sementara, jika desanya diawasi ketat oleh aparat desa. Mau cari daging babi ke mana? Ke luar rumah segan, diam di rumah gelisah.

Memang betul, setelah beberapa hari di rumah, ponsel saya tak habis pemberitahuan dari Made Grudug. Sudah pasti yang dikirim adalah gambar lawar adonannya sendiri. Lengkap dengan komoh berminyak dan beberapa butir biji cabai yang sengaja diperlihatkan dengan keterangan, “pokokne mantap!”

Di rantauan Made Grudug adalah orang yang paling gelisah dan selalu ingin pulang. Dia tak punya pacar yang menunggu di kampung, orang tuanya juga tidak menuntutnya untuk pulang setiap minggu. Alasannya sederhana, tak bisa menyantap lawar yang diinginkan di kota rantauan, dan itulah motivasi yang selalu mendorongnya pulang. Beberapa kali dia mengajak saya termasuk teman-teman yang lain untuk membuat lawar di kos, tapi sadar rumitnya pekerjaan itu, teman-teman yang lain selalu menolak ajakannya.

Beberapa pedagang lawar bahkan hingga akarab dengan dia. Biasanya, ketika di kampung Made Grudug sangat sering ke Sukawati meski jaraknya tak cukup dekat. Padahal, dari jauh-jauh hari dia pernah berkata pada saya bahwa kelak dia akan belajar membuat lawar sendiri. Tapi, penjual lawar yang ada di mana-mana mengurungkan niatnya. Bila ada warung lawar baru, dia akan ke sana dengan alasan mencoba “daki lima dagang yang berbeda”. Teman saya satu ini memang gila lawar babi, seseolah seminggu tanpa lawar akan membuatnya susah bernapas.

Lain Made Grudug, lain pula dengan bibi saya. Peternak kecil seperti bibi saya terlihat lesu setelah tahu dua babinya sakit. Dia menghubungi dokter hewan yang biasa mengobati ketika ternaknya sakit. Sayang sekali, dokter hewan itu menolak dengan alasan yang sangat mulia, kurang lebih ia berkata, “saya kasihan sama Mbok, sudah bayar dan nanti akan segera mati pula” benar saja, beberapa hari setelah itu satu ekor babi mati. Selang dua hari, yang lain menyusul. Sesungguhnya dia berencana menjual kedua babi itu, tapi dia urungkan karena khawatir bila babinya dijual dalam keadaan sakit akan berdampak tidak baik pada pembeli.

Di tengah Pandemi Covid-19 yang sudah membuat bibi saya lesu karena anaknya yang dirumahkan, kini ditimpa kelesuan lain karena babi yang seharusnya menjadi tabungan itu mati kedua-duanya.

Banyak babi yang buru-buru disembelih agar tidak mati meski harga hanya mencapai Rp. 13.000 per kilogram. ketimbang membayar ongkos gali lubang yang mencapai Rp. 200.000 hingga Rp. 300.000 ribu per lubang menjual adalah pilihan yang membantu. Harga bibit babi pun merosot seperti air terjun. Harga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagi sebagian orang yang tidak peduli dengan wabah babi, peristiwa ini mungkin kesempatan emas untuk bikin guling dengan harga murah.

“Sudah jatuh ditimpa tangga,” kata pepatah. Meski bukan hal yang sangat membantu keuangan keluarga, bibi saya juga memelihara ayam kampung sejak lama. Jumlahnya memang tak banyak, hanya sekitar 10-15 ekor ayam kampung yang dilepas di halaman belakang rumah. Sedikit tidak ternak ini cukup membantu. Bila Odalan tiba, dia jarang membeli ayam potong. Dia relakan satu dua ayamnya dipanggang. “Memang terkesan kecil, tapi ayam ini memotong cukup banyak uang yang harus dekeluarkan” kata bibi saya. Sesekali, kalau ayamnya masih kecil-kecil baru dia membeli ayam potong. Dan itu sangat jarang menjadi pilihannya.

Tiba-tiba, setelah babinya mati, ayamnya mendapat nasib yang tak jauh berbeda dengan babi malang itu. Satu di antaranya sedang mengeram, beberapa masih sangat kecil. Kini semua itu telah mati. Satu per satu hingga tak tersisa seekor anak ayam pun.

Sesungguhnya, Made Grudug pun memiliki nasib yang sama. Dia seorang penggemar ayam jago. Beberapa ia kandangkan, beberapa dibiarkan berkeliaran di halaman belakang. Satu per satu ayamnya juga mati. Mulai dari yang bebas berkeliaran hingga menular pada yang dikandangkan. “Babi telah habis, ayam sudah mati,” katanya setalah saya tanya kabar lewat whatsapp.

Mungkin Made Grudug dan bibi saya hanya dua dari banyak orang yang mengalami kemalangan itu. Sudah jatuh tertimpa tangga. Apalagi mereka adalah orang yang cukup taat. Mereka jarang keluar rumah. Di desa pecalang berpatroli dalam beberapa waktu membuat tidak enak keluar rumah. Sekarang mereka berdua sedang menunggu kabar baik. Tidak hanya pelonggaran PSBB tapi kabar bahwa virus bisa diatasi baik pada manusia maupun pada ternak. [T]

Tags: babi balicovid 19kulinerkuliner khas balilawar
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Minoritas dalam Pandemi

Next Post

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co