2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Vincent Chandra by Vincent Chandra
May 14, 2020
in Esai
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Berbagai golongan masyarakat yang telah nyaman bekerja secara tradisional sebagai karyawan di gedung-gedung perkantoran, pabrik, hingga perusahaan besar yang dirumahkan hari ini “mau tidak mau” harus banting setir agar bisa terus memenuhi kebutuhan hidup dengan mulai menjalankan bisnis-bisnis berskala kecil secara mandiri. Namun mereka diuntungkan sebab perkara pemasaran produk, pembelian, hingga proses transaksi hari ini adalah perkara mudah dengan adanya praktik e-commerce yang didukung oleh kemajuan teknologi dan internet. Mereka hanya perlu belajar mengoptimalkan kerja-kerja gawainya dan tinggal masalah waktu untuk dapat menguasai pola perdagangan digital ini. Adanya teknologi dan internet memang adalah sebuah advantage nyata yang bisa kita rasakan khususnya di masa pandemi sekarang.

“E-commerce is the future!”, begitu ramalan Jack Ma pada tahun 2018 lalu dalam sebuah konferensi atas jalur perdagangan berbasis digital yang ia yakini akan menjadi solusi bagi ekosistem perdagangan dan ekonomi global. Sejak 20 tahun sejak praktik e-commerce dikenalkan pun tidak ada yang menyangka bahwa masa depan yang ia maksud adalah hari ini. Ketika semua orang dari berbagai profesi terpaksa harus meninggalkan cara perdagangan tradisional yang dinilai kurang efisien selama kondisi-kondisi khusus seperti sekarang. Perubahan ini begitu abstrak dan cepat. Hanya saja masih tersisa pertanyaan apakah industri e-commerce akan punya efek yang sama terhadap setiap pelakunya?

Secara pribadi, potensi dari industri e-commerce pertama sekali saya nikmati kurang lebih pada 7-8 tahun yang lalu. Dengan jumlah teman yang sangat terbatas saya berniat untuk mengiklankan jasa menggambar saya lewat aplikasi-aplikasi yang sedang trend pada masa itu seperti BBM, yahoo, dan twitter. Jasa saya saat itu dihargai Rp.5.000-10.000 dan dibayar lewat pulsa oleh orang yang sama sekali belum saya kenal secara langsung.

Aktivitas tadi kemudian terjadi berulang-ulang sehingga saya yang saat itu hanya seorang remaja SMP cukup beruntung karena dapat melunasi sendiri ponsel yang saya beli dan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengalaman pribadi saya adalah contoh sederhana dari praktik e-commerce yang telah berkembang seperti sekarang. Hanya saja platform dan penyedia layanannya kini kian canggih dan cukup baik dalam membaca kebutuhan masyarakat hari ini.

Pada saat itu saya amati beberapa teman yang juga melakukan praktik e-commerce yang serupa namun pada sektor yang berbeda-beda seperti fashion, produk kecantikan, hingga jajanan. Dalam waktu singkat keuntungan yang mereka peroleh cenderung jauh lebih banyak dari keuntungan saya. Saya tidak bisa memahami apa penyebabnya.

Saat itu kami punya akses internet yang sama baiknya, cara komunikasi yang tidak buruk-buruk amat, dan jumlah teman yang sama banyak. Perlu waktu untuk saya menyadari bahwa penyebabnya adalah anggapan rata-rata masyarakat kita yang akhirnya melabeli seni hanya sebagai pemanis saja. Bahkan jauh sebelum adanya pandemi ini pun seni adalah kebutuhan nomor sekian setelah kebutuhan yang utama seperti barang-barang konsumtif dan kesehatan terpenuhi.

Sejalan dengan data pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia yang dirilis tahun lalu menunjukkan bahwa industri ini telah didominasi oleh penjualan ritel dari beberapa kategori seperti fashion, kebutuhan-kebutuhan pokok, produk kecantikan, dan kesehatan. Sementara penjualan karya seni, material seni, dan jasa-jasa kreatif lainnya lewat e-commerce masih cenderung musiman, popularitasnya tidak segemerlap sektor lainnya. Ditambah dengan berlangsungnya situasi perekonomian yang melemah akibat pandemi ini juga semakin menekan sektor yang dianggap non-krusial seperti kesenian untuk dikesampingkan sementara.

Meski jelas kini ada ketimpangan antara satu sektor dengan sektor lainnya, kita tetap harus fair dan percaya bahwa industri ini sebetulnya punya peluang yang sama rata untuk setiap pelakunya. Tidak ada satu sektor pun yang memerlukan simpati karena tiap-tiap nya memiliki fungsi, tujuan, dan pasar yang beragam. Alih-alih menyoalkan anggapan masyarakat yang mainstream tentang seni dan pelakunya, saya lebih tertarik mendiskusikan apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri, tetap mendapatkan penghasilan, sekaligus beradaptasi sebagai seorang pekerja seni di tengah pandemi ini.

Kekhawatiran kita sebagai pekerja seni, baik yang berkecimpung dalam cagar budaya, permuseuman, maupun dalam ‘alam liar’ kesenian lainnya yang terdampak secara tidak langsung coba diatasi oleh pemerintah dan lembaga yang di awal pandemi kemarin telah menunjukkan perhatiannya terhadap ekosistem di bidang kesenian dan kebudayaan. Selain menawarkan bantuan sosial, mereka juga mengampanyekan praktik e-commerce untuk coba dilakoni setiap pekerja seni. Yang sesungguhnya tidak lagi asing dan telah sepenuhnya dipraktikkan oleh mereka lewat berbagai bentuk pengiklanan acara, penjualan tiket masuk konser, museum, dan galeri, serta keperluan acara lainnya.

Pemerintah sendiri telah mendukung praktik dagang daring ini sejak lama sebab industri ini adalah salah satu punggung perekonomian negara. Sebelum kondisi hari ini pun pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait telah mengambil langkah inisiatif dengan menyiapkan ekosistem industri ekonomi digital untuk menyambut potensi-potensi baru yang akan lahir. Seperti penyediaan jasa layanan antar atau logistik, provider telekomunikasi, edukasi terkait dan SDM yakni pelaku utama e-commerce ini (Kominfo).

Rangkaian pematangan layanan ini tidak menjadi priviles untuk hanya satu sektor namun juga membuka peluang emasnya untuk setiap pelaku e-commerce termasuk juga para pekerja seni. Ini sekaligus adalah babak baru bagi industri ekonomi kreatif. Para pelakunya akan belajar untuk mengkonvensi pasarnya kedalam bentuk digital dan meresponnya sebagai ranah produksi yang baru. Kita dapat memanfaatkannya dengan mengadakan workshop atau kelas online terkait keterampilan-keterampilan yang dimiliki masing-masing pekerja seni.

Seperti yang Enin Supriyanto nyatakan bahwa situasi ini memberikan peluang bagi pekerja seni untuk berkarya, karena mereka memiliki pola pikir dan strategi untuk beradaptasi dan melakukan hal yang berbeda ditengah-tengah krisis. Ini adalah satu momentum yang bagus. [T]

Tags: e-commercemedia sosialSeniTekhnologi Informastika
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Next Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co