14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Vincent Chandra by Vincent Chandra
May 14, 2020
in Esai
Apakah Industri E-commerce Punya Peluang Bagi Pekerja Seni?

Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

Berbagai golongan masyarakat yang telah nyaman bekerja secara tradisional sebagai karyawan di gedung-gedung perkantoran, pabrik, hingga perusahaan besar yang dirumahkan hari ini “mau tidak mau” harus banting setir agar bisa terus memenuhi kebutuhan hidup dengan mulai menjalankan bisnis-bisnis berskala kecil secara mandiri. Namun mereka diuntungkan sebab perkara pemasaran produk, pembelian, hingga proses transaksi hari ini adalah perkara mudah dengan adanya praktik e-commerce yang didukung oleh kemajuan teknologi dan internet. Mereka hanya perlu belajar mengoptimalkan kerja-kerja gawainya dan tinggal masalah waktu untuk dapat menguasai pola perdagangan digital ini. Adanya teknologi dan internet memang adalah sebuah advantage nyata yang bisa kita rasakan khususnya di masa pandemi sekarang.

“E-commerce is the future!”, begitu ramalan Jack Ma pada tahun 2018 lalu dalam sebuah konferensi atas jalur perdagangan berbasis digital yang ia yakini akan menjadi solusi bagi ekosistem perdagangan dan ekonomi global. Sejak 20 tahun sejak praktik e-commerce dikenalkan pun tidak ada yang menyangka bahwa masa depan yang ia maksud adalah hari ini. Ketika semua orang dari berbagai profesi terpaksa harus meninggalkan cara perdagangan tradisional yang dinilai kurang efisien selama kondisi-kondisi khusus seperti sekarang. Perubahan ini begitu abstrak dan cepat. Hanya saja masih tersisa pertanyaan apakah industri e-commerce akan punya efek yang sama terhadap setiap pelakunya?

Secara pribadi, potensi dari industri e-commerce pertama sekali saya nikmati kurang lebih pada 7-8 tahun yang lalu. Dengan jumlah teman yang sangat terbatas saya berniat untuk mengiklankan jasa menggambar saya lewat aplikasi-aplikasi yang sedang trend pada masa itu seperti BBM, yahoo, dan twitter. Jasa saya saat itu dihargai Rp.5.000-10.000 dan dibayar lewat pulsa oleh orang yang sama sekali belum saya kenal secara langsung.

Aktivitas tadi kemudian terjadi berulang-ulang sehingga saya yang saat itu hanya seorang remaja SMP cukup beruntung karena dapat melunasi sendiri ponsel yang saya beli dan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengalaman pribadi saya adalah contoh sederhana dari praktik e-commerce yang telah berkembang seperti sekarang. Hanya saja platform dan penyedia layanannya kini kian canggih dan cukup baik dalam membaca kebutuhan masyarakat hari ini.

Pada saat itu saya amati beberapa teman yang juga melakukan praktik e-commerce yang serupa namun pada sektor yang berbeda-beda seperti fashion, produk kecantikan, hingga jajanan. Dalam waktu singkat keuntungan yang mereka peroleh cenderung jauh lebih banyak dari keuntungan saya. Saya tidak bisa memahami apa penyebabnya.

Saat itu kami punya akses internet yang sama baiknya, cara komunikasi yang tidak buruk-buruk amat, dan jumlah teman yang sama banyak. Perlu waktu untuk saya menyadari bahwa penyebabnya adalah anggapan rata-rata masyarakat kita yang akhirnya melabeli seni hanya sebagai pemanis saja. Bahkan jauh sebelum adanya pandemi ini pun seni adalah kebutuhan nomor sekian setelah kebutuhan yang utama seperti barang-barang konsumtif dan kesehatan terpenuhi.

Sejalan dengan data pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia yang dirilis tahun lalu menunjukkan bahwa industri ini telah didominasi oleh penjualan ritel dari beberapa kategori seperti fashion, kebutuhan-kebutuhan pokok, produk kecantikan, dan kesehatan. Sementara penjualan karya seni, material seni, dan jasa-jasa kreatif lainnya lewat e-commerce masih cenderung musiman, popularitasnya tidak segemerlap sektor lainnya. Ditambah dengan berlangsungnya situasi perekonomian yang melemah akibat pandemi ini juga semakin menekan sektor yang dianggap non-krusial seperti kesenian untuk dikesampingkan sementara.

Meski jelas kini ada ketimpangan antara satu sektor dengan sektor lainnya, kita tetap harus fair dan percaya bahwa industri ini sebetulnya punya peluang yang sama rata untuk setiap pelakunya. Tidak ada satu sektor pun yang memerlukan simpati karena tiap-tiap nya memiliki fungsi, tujuan, dan pasar yang beragam. Alih-alih menyoalkan anggapan masyarakat yang mainstream tentang seni dan pelakunya, saya lebih tertarik mendiskusikan apa yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri, tetap mendapatkan penghasilan, sekaligus beradaptasi sebagai seorang pekerja seni di tengah pandemi ini.

Kekhawatiran kita sebagai pekerja seni, baik yang berkecimpung dalam cagar budaya, permuseuman, maupun dalam ‘alam liar’ kesenian lainnya yang terdampak secara tidak langsung coba diatasi oleh pemerintah dan lembaga yang di awal pandemi kemarin telah menunjukkan perhatiannya terhadap ekosistem di bidang kesenian dan kebudayaan. Selain menawarkan bantuan sosial, mereka juga mengampanyekan praktik e-commerce untuk coba dilakoni setiap pekerja seni. Yang sesungguhnya tidak lagi asing dan telah sepenuhnya dipraktikkan oleh mereka lewat berbagai bentuk pengiklanan acara, penjualan tiket masuk konser, museum, dan galeri, serta keperluan acara lainnya.

Pemerintah sendiri telah mendukung praktik dagang daring ini sejak lama sebab industri ini adalah salah satu punggung perekonomian negara. Sebelum kondisi hari ini pun pemerintah bersama lembaga-lembaga terkait telah mengambil langkah inisiatif dengan menyiapkan ekosistem industri ekonomi digital untuk menyambut potensi-potensi baru yang akan lahir. Seperti penyediaan jasa layanan antar atau logistik, provider telekomunikasi, edukasi terkait dan SDM yakni pelaku utama e-commerce ini (Kominfo).

Rangkaian pematangan layanan ini tidak menjadi priviles untuk hanya satu sektor namun juga membuka peluang emasnya untuk setiap pelaku e-commerce termasuk juga para pekerja seni. Ini sekaligus adalah babak baru bagi industri ekonomi kreatif. Para pelakunya akan belajar untuk mengkonvensi pasarnya kedalam bentuk digital dan meresponnya sebagai ranah produksi yang baru. Kita dapat memanfaatkannya dengan mengadakan workshop atau kelas online terkait keterampilan-keterampilan yang dimiliki masing-masing pekerja seni.

Seperti yang Enin Supriyanto nyatakan bahwa situasi ini memberikan peluang bagi pekerja seni untuk berkarya, karena mereka memiliki pola pikir dan strategi untuk beradaptasi dan melakukan hal yang berbeda ditengah-tengah krisis. Ini adalah satu momentum yang bagus. [T]

Tags: e-commercemedia sosialSeniTekhnologi Informastika
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Penggemar Lawar dan Peternak Kecil, Sama-sama Menunggu Kabar Baik

Next Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co