25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi, Belajar Mendengar dari Sang Kresna

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 8, 2020
in Esai
Ketidakpastian Pandemi: Dukungan Psikososial Vs Teori Konspirasi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Kali ini saya ingin membahas beberapa hal yang mungkin kita tidak pikirkan. Cobalah Anda berkunjung ke rumah sakit di masa pandemi Covid-19 saat ini . Betapa sepi, berbanding terbalik dari yang biasanya banyak orang mengantri di poliklinik seperti di waktu normal. Selain rumah sakit, puskesmas juga terlihat sepi, bahkan sudah membatasi kunjungan. Tak hanya itu, praktik swasta juga sepi.

Biasanya yang kita tahu, jika fasilitas kesehatan sepi ada dua kemungkinan; pertama, memang masyarakat kondisinya lebih sehat jadi jarang membutuhkan layanan kesehatan. Beberapa kawan dan klien saya berkelakar, berarti virus Corona di masa pandemi ini mampu menyehatkan masyarakat.

Kita ingat betapa penuhnya rumah sakit, puskesmas dan praktik swasta ketika sebelum ada pandemi. Saat pandemi ada, pasien sepi. Ini bisa diartikan orang yang sakit jumlahnya sedikit. Bisa jadi. Atau kemungkinan kedua, sebetulnya angka kesakitan cukup tinggi tetapi orang masih menahan-nahan dan memilih tinggal di rumah, tidak berobat dan memeriksakan diri ke layanan kesehatan.

Di bulan-bulan ini mungkin BPJS untung, karena tidak banyak klaim yang dibayarkan untuk membayar biaya perawatan masyarakat. Hal ini berimbas pada para pasien yang mengalami gangguan kronis menjadi putus obat. Tanpa kita sadari, itu bisa menjadi bom waktu.

Coba lihat, betapa banyak misalnya pengidap kanker yang harus ditunda perawatan atau operasinya, menunggu tes Covid-19. Jika pasien sepi tiba-tiba artinya juga cukup banyak yang mengalami putus obat, misalnya pada pengidap hipertensi dan diabetes. Itu sangat berbahaya karena nantinya akan ada ledakan angka kesakitan sangat besar dengan tingkat keparahan yang tinggi.

Gangguan Mental

Bagaimana dengan pasien gangguan mental? Banyak yang belum tahu bahwa untuk gangguan mental pekerjaan rumah kita sangat  banyak. Misalnya, angka gangguan emosional atau depresi pada orang dewasa di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 adalah 6 % dari total jumlah penduduk. Tetapi hanya 9 % dari yang mengalami depresi mencari pertolongan atau berobat ke layanan kesehatan.

Sumber literatur mengatakan, ketika wabah terjadi angka gangguan depresi akan meningkat bahkan hingga dua kali lipat. Kalau angkanya misalkan menjadi 12 % tetapi yang berobat hanya 9 % di masa normal, berarti bisa dibilang dari 10 orang pengidap depresi, 1 orang belum tentu mendapatkan pengobatan. Betapa luar biasa potensi masalah yang ada.

Apalagi di Bali, untuk gangguan jiwa berat atau skizofrenia angkanya menduduki peringkat pertama di Indonesia yakni 11 per 1000 rumah tangga mengalami skizofrenia. Tidak semuanya berobat, apalagi di saat wabah seperti sekarang. Kalau tidak kita tangani akan timbul masalah yang luar biasa besar di kemudian hari.

Kita bisa baca dan tonton pada berita-berita tentang bunuh diri, atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang menggelandang di jalan yang ditangkap dan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diobati. Cara terbaik mengatasi hal ini adalah mencegah, selalu seperti itu. Kita semua bisa belajar dari para leluhur orang Bali. Saya teringat pada sebuah lukisan karya klien saya, orang dengan skizofrenia yang kini telah pulih yang terpajang di tembok tempat praktik saya.

Belajar dari Sang Kresna

Lukisan itu menggambarkan sosok Arjuna yang dalam bahasa medis zaman sekarang mengalami psikosomatis, saat berada di medan Kuruksetra. Arjuna merasa berat sewaktu memegang busur panah, tangannya panas dan gemetar karena harus bertempur melawan keluarganya sendiri. Ia mengalami kegelisahan dan stres yang tinggi. Tapi yang dilakukan Kresna adalah menenangkan Arjuna.

Banyak orang lupa bahwa setengah dari percakapan antara Kresna dan Arjuna yang kemudian diabadikan dalam kitab Bhagavad-Gita adalah ‘curhat’-nya Arjuna yang didengarkan oleh Kresna. Sekali pun Kresna bicara, beliau memakai analogi-analogi dan cerita-cerita. Kresna jarang sekali memberikan instruksi, penghakiman, atau terlalu banyak menasihati.

Kita bisa belajar dari Kresna untuk kesehatan mental kita terutama di masa pandemi seperti saat ini kita. Marilah kita belajar mendengarkan, saat bertemu anggota keluarga atau kerabat lain kita menayakan kabar mereka: “Kengken asane?” (bagaimana kondisimu?) atau “Men kengken rencanane?” (lalu apa/bagaimana rencanamu?) daripada sekadar memberikan toxic positivity: “Nak harus bersyukur” (kamu harus bersyukur), atau “Harus begini, harus begitu”. Kesehatan mental tidak bisa dengan kata “harus” tapi mesti dirasakan. Maka itu, marilah kita mencontoh sosok Kresna.

Mendongeng

Untuk mencegah penurunan kesehatan mental terutama bagi anak-anak kita, yang paling baik yakni kita mulai kembali ke kearifan lokal Bali. Orang Bali  selalu suka memberikan tutur lewat dongeng. Sebelum tidur mari kita dongengkan anak-anak kita dengan berkhayal tentang fabel atau kehidupan hewan, bagaimana mereka misalnya saat menghadapi wabah, bagaimana kita perlu disiplin dan tetap berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, perlu untuk tetap hidup bersih.

Dan, tetap bisa bergembira di saat-saat terbatas seperti sekarang. Itu agak meresap di psikologis anak, dan nantinya kita akan mendapatkan manfaat dari mereka. Setelah masa pandemi usai, anak-anak kita akan tumbuh dengan fleksibel; mampu menghadapi semua keterbatasan, halangan, dan situasi yang sulit.

Mereka bukan saja memiliki kekebalan terhadap virus Corona, tapi juga ketahanan secara psikologis dalam menghadapi berbagai kesulitan. Itu adalah pertolongan pertama bagi psikologis kita. Dengan kita melakukan seperti itu saja pada lingkungan keluarga kita, akan mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental.

Apabila semua upaya mandiri itu gagal, tentu saja kita mesti mencari pertolongan medis atau terapi yang merupakan cara paling baik. Kini cukup banyak layanan hotline dukungan kesehatan mental dan psikososial yang dilakukan oleh profesional kehatan mental secara gratis atau cuma-cuma. Bahkan, kini konseling psikiatri bisa dilakukan secara daring atau online.

Dan, dalam keadaan darurat untuk datang ke rumah sakit pun masih aman karena tenaga medis menggunakan alat pelindung diri. Mudah-mudahan kita semua dalam keadaan yang mantap jiwa dan mantap raga. [T}

Tags: covid 19KresnaMahabharatapandemi
Share76TweetSendShareSend
Previous Post

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Next Post

Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ

Psikiater di Klinik Utama Sudirman Medical Center (SMC) Denpasar, Founder Rumah Berdaya, Pegiat kesehatan jiwa di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali dan Komunitas Teman Baik

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

Kita Telah Melewati Waisak yang Berbeda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co