25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
April 21, 2020
in Esai
Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

Ilustrasi foto: penulis

Hari-hari berlalu hidup ditengah wabah Corona yang kian berpandemi. Aku tak melihat ada kekhawatiran akut di lingkungan ku. Jika setiap pagi aku melihat ramai orang belanja sayur, dan membeli bubur ayam buat sarapan. Ya pagi ini juga tak ada beda. Sama seperti hari hari biasa.

Angka pasien yang terjangkit diberitakan selalu bertambah, angka kematian yang terus disiarkan, bahkan peta sebaran Covid-19 juga semakin jelas memerahkan Jakarta seperti hanya tulisan di poster, yang dibaca lalu diabaikan. Mereka di lingkunganku justru seperti tak pernah ambil pusing.

Mereka tetap hidup seperti biasa, beraktivitas di luar rumah seperti biasa, dan tak di rumah saja. Apa mereka tak tau atau tak mau tau dengan peraturan pemerintah? Mereka sepertinya tidak takut. Seharusnya mereka takut. Setakut istriku, yang takut aku membawa virus ke rumah dan menulari seisi rumah.

Kekhawatiran mereka justru menjelang bantuan yang mulai didengungkan dan disebar oleh pemerintah. Mereka khawatir tak mendapat jatah. Bahkan, belum dibagikan saja sudah banyak yang mengoreksi. Pesimis, dan merasa tak akan mencukupi. Omongan tak puas sering didengar istri, dari ibu-ibu sekitar saat berbelanja sayur di warung.

Ya di kalangan bapak-bapak juga sama, di grup whatsapp RT tiap hari mereka menertawakan isi dompet, dan terus memantau sejauh mana pendistribusian sembako oleh pemerintah.

Mereka justru marah jika mereka tak kebagian atau kemahalan untuk membeli kebutuhan pokok. Apalagi sampai tak kebagian bantuan sembako. Yang sudah dapat pun masih protes, karena tak ada uang tunai di paket yang sudah di dapat. Mereka merasa pemerintah sok tahu, dan menyamaratakan. Satu keluarga yang isinya 10 orang justru beda kebutuhan dengan yang isinya hanya 4 orang. Tak bisa sama-sama menerima sekantong beras. Mereka sangat takut kelaparan dari pada harus terpapar virus yang mematikan seperti Corona.

Tak bisa disalahkan memang, jika mereka tetap berada di luar. Mereka tak bisa berdiam diri di rumah tanpa penghasilan. Saat dirumahkan mereka bingung besok mau makan apa.

Bagiku, analisaku, mungkin analisa banyak orang. Ini sebagai wujud ketidaksiapan kita menghadapi Corona. Mulai dari Pemerintah dan rakyat semua tidak siap. Semua sama-sama menganggap enteng. Wajar kalau masyarakat tak mengindahkan, sama halnya waktu Negara kita di warning negara luar. Pemerintah juga tak mengindahkan, bahkan ada pejabat pemerintah yang menganggap sepele. Salah satunya yang melucu waktu itu positif Covid-19.

Pandemi Corona, membuka tabir Pandemi kesenjangan sosial. Kebijakan yang dibuat tak siap untuk melindungi mereka yang terhimpit kesulitan ekonomi. Aku tak terlalu ambil pusing ekonomi global merosot karena Corona, harga minyak mentah anjlok, atau banyak perusahaan yang akhirnya terpukul imbas Corona. Karena mereka tetap punya banker uang buat bertahan. Ribuan di PHK tak masalah. Ribuan mantan karyawannya kehilangan arah hidup karena tak bekerja tak dirisaukan.

Semua kebijakan dibuat agar mereka tetap bertahan. Mereka yang selalu di level terendah ya harus menerima. Toh urusan kesejahteraan masyarakat ada di tangan pemerintah. Sementara, pemerintah juga tak siap menghadapi gelombang pemerosotan ekonomi yang bertubi-tubi.

Jelas Corona membuka tabir, tabir dimana kesenjangan sosial terlalu curam. Ini harus segera disadari. Karena Corona, tak mengenal kaya dan miskin. Bedanya yang kaya sudah siap dengan tembok tebal finansial, sehingga mereka bisa hibernasi di rumah sambil menunggu musim semi berakhirnya Corona. Si miskin tetap harus berjalan walau tertatih dan sulit mengais rezeki, karena si kaya sudah tak lagi menyisihkan uangnya untuk membantu si miskin. Mereka takut kehabisan uang dan temboknya runtuh hingga terpapar Corona. Lucunya logika yang begitu sebenarnya kesalahan terbesar.

Mereka tak belajar dari film Residen Evil. Saat seisi kota menjadi zombie sudah tak bisa dibedakan mana yang kaya mana yang miskin. Isinya semua mahluk tak berjiwa, yang haus untuk memakan siapa saja yang sehat.

Pemerintah harus sadar. Jangan seperti si kaya yang membangun tembok dengan dalih menstabilkan ekonomi. Ekonomi tak akan stabil jika pandemi kesenjangan sosial ini belum dibenahi. Amankan hidup mereka, lakukan dengan total. Kuras pikiran tenaga untuk membuat mereka tak pusing jika dipaksakan untuk tetap di rumah. Jangan tunggu mereka berteriak-teriak kelaparan baru tergerak melihat stok beras dan keuangan negara.

Jangan anggap pembagian sembako satu-satunya cara yang paling benar. Amankan mereka dengan memagari pengeluaran mereka. Buat mereka tak pusing dengan tagihan, buat mereka bisa menyimpan uangnya untuk bertahan. Kompak untuk tak membangun tembok, tapi bangun pundi pundi pertolongan. Jangan tarik uang mereka, tapi berikan mereka waktu untuk bisa bertahan. Setelah itu jika ada yang ingin diberikan dalam bentuk sembako, itu baru bisa dilakukan.

Semuanya akan di rumah saja, jika beras cukup, susu anak cukup, dan ada lauk pauk yang segar dan meningkatkan imun tubuh. Semua akan bekerja dari rumah, jika memang bisa mendapatkan uang hanya dengan menggunakan jempol di handphone. Semua anak-anak akan belajar dan bermain di rumah saja, jika para orang tua memang sudah berada di rumah.

Jangan membangun tembok dan memaksa semua orang tinggal di rumah. Menegur mereka yang tak nurut, mengusir dan membubarkan mereka yang mengerumuni sumber rejeki. Karena itu sama saja abai dan membunuh diri sendiri. [T]

Tags: covid 19DKI Jakartakesenjangan sosialvirus corona
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

Next Post

Kusamba dan Lain-lain

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kekuasaan

Kusamba dan Lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co