24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
August 16, 2021
in Esai
Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sampai kapan kita terkarantina karena situasi ini? Bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Berbagai perasaan muncul dalam sebulan ini. Hari-hari pertama, mungkin banyak yang merasa senang. Murid-murid dan para pekerja menikmati libur terselubung di balik istilah WfH dan SfH, setelah sekian lama terkungkung dalam aktivitas monoton yang terjebak menjadi rutinitas memuakkan.

Seminggu, sebulan, setahun, berlalu, yang sebelumnya menikmati indahnya hari-hari di rumah mulai merasakan bosan. Terlebih, tidak semua bisa menjalankan WfH dan SfH ini dengan ideal. Ada berbagai kendala dalam menjalankannya. Sebut saja koneksi internet yang tidak merata sampai ke pelosok desa, mahalnya paket internet, atau mungkin tidak adanya fasilitas pendukung untuk mengakses internet. Tidak bisa dipungkiri, bekerja dan belajar dari rumah sangat erat kaitannya dengan internet.

Lebih menyakitkannya, ada banyak saudara kita yang akhirnya dirumahkan secara permanen, atau di PHK. Ini merupakan sebuah keputusan pahit, baik bagi yang diPHK, ataupun bagi perusahaan yang akhirnya harus memPHK. Kita tidak bisa menuntut perusahaan mempekerjakan dan menggaji semua karyawannya, sementara perusahaan tidak bisa menghasilkan pemasukan.

Di tengah perkembangan situasi ini, semua pihak tentunya berjuang untuk dapat bertahan. Kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan membuat pola kerja dari rumah seefisien mungkin. Sekolah-sekolah mulai memperkuat Learning Management System secara daring untuk dapat memastikan pembelajaran tetap berlangsung. Pihak-pihak lainpun mulai mendukung kegiatan ini. RRI dan TVRI mengeluarkan terobosan dengan membuat siaran belajar bersama dari rumah. Komunitas-komunita membuat acara secara daring untuk membuat orang semakin betah di rumah. Ini merupakan sebuah perkembangan positif yang perlu kita catat.

Lalu bagaimana jika akhirnya kita nyaman dengan situasi ini?

Bagaimana jika akhirnya para orang tua yang sebelumnya merasa tertekan saat mendampingi anak-anak mereka mengerjakan tugas, sekarang mulai mendapati bahwa mereka tak usah mencemaskan masalah jawaban dari tugas anaknya. Mereka mulai fokus pada pembinaan karakternya, mengajari mereka cara belajar, cara mencari informasi dari berbagai sumber. Tentu, internet salah satunya.

Para orang tua ini akan mulai bersyukur, melihat perkembangan anaknya secara penuh. Bagaimana saat dia baru bangun, bagaimana saat dia bermain, saat belajar, saat marah, atau saat mengantuk. Tidak sedikit orang tua yang melewati masa ini karena sebelumnya harus meninggalakan rumah pagi hari untuk bekerja dan baru bisa pulang saat malam hari.

Anak-anak usia sekolah mulai menemukan bahwa sumber belajar tidak hanya buku paket, dan tulisan guru di papan tulis. Mereka mulai terbiasa menemukan informasi di internet dengan browsing pada berbagai situs untuk mendapatkan suatu informasi. Para siswa ini mulai merasa senang, karena bisa memutuskan sendiri waktu belajar mereka. Mungkin pagi hari bisa bersepeda dulu di halaman rumah sampai pukul 9. Setelah mandi, baru bersiap untuk belajar. Oya, nonton TVRI juga salah satunya.

Sore hari mereka masih punya cukup energi untuk menjelajah area rumah. Menemukan tunas pohon silik di pojokan taman, atau sekadar mengetahui bahwa di samping pelinggih tunggun karang ada sebuah benda berwarna biru yang berisi angka-angka penunjuk penggunaan air di rumah. “Eh, ini seperti yang ada di buku paket IPA.” Begitu kira-kira pikiran mereka.

Guru-guru mulai terbiasa membuat perencanaan pembelajaran jarak jauh yang lebih menekankan pembelajaran bermakna – tak sebatas megejar ketuntasan kurikulum. Toh UN sudah dihapuskan. Untuk apa lagi deret nilai itu? Yang penting anak-anak memahami bahwa belajar adalah kepentingan mereka.

Untuk mempertanggungjawabkan tugasnya, guru-guru membuat media pembelajaran online. Membuat chanel belajar di youtube, postingan materi pelajaran di sosmed mereka, dan mengembangkan blog sendiri terkait bidang studi mereka. Tanggung jawabnya tidak hanya pada siswa di sekolahnya, tetapi pada seluruh anak bangsa.

Media-media mulai mendukung proses ini. ada kolom-kolom belajar dari rumah di koran-koran, dengan narasumber guru-guru kreatif. Radio dan televisi berlomba-lomba membuat tayangan edukasi. Kta akan mengucapkan selamat tinggal pada acara kompetisi dangdut berdurasi enam jam. Atau sinetron geng motor remaja yang jatuh cinta saat tabrakan. Media-media elektonik akan berlimpah sumber-sumber pengetahuan.

Ibu-ibu rumah tangga mulai menikmati untuk menjalankan hobi mereka di dapur. Berbagai resep di internet mereka coba dengan antusias, kemudian berhasil, kemudian mereka foto, kemudian pamerkan di sosial media. Teman-temannya memberi jempol, jantung, dan memberi komentar pujian. Ibu-ibu ini menemukan kesujatian mereka sebagai seorang ibu. Penguasa dapur.

Tunggu, untuk urusan dapur, uangnya dari mana?

Ya, tentulah di balik hal-hal baik itu, ada hal yang tidak mengenakkan untuk kita. Terutama bagi yang akhirnya harus diPHK, atau bagi pekerja harian yang tidak bisa bekerja, karena harus di rumah. Dalam hal ini, para pekerja pariwisata salah satu yang paling terdampak.

Syukurnya, manusia adalah makhluk yang adaptif. Banyak teman-teman yang kita lihat mulai beradaptasi dengan situasi ini. Ada yang memulai berjualan dari rumah. Ada yang mulai belajar berkebun. Dan hal-hal lain yang bisa produktif di masa seperti ini. Beberapa pemerintah desa juga mulai merespon dengan menyediakan pekerjaan bagi warganya yang terdampak situasi ini.

Jika semua desa akhirnya mampu melaksanakan program serupa, orang-orang yang sebelumnya merantau akan mulai kembali pulang. Mereka menjalankan hidup di desa. Kemudian tersadar, hidup di desa tidak begitu menyeramkan. Juga tidak begitu memalukan – sebagaimana pandangan mereka saat menjadi orang kota.

Beberapa orang yang kreatif kemudian mencoba menerapkan cara bercocok tanam modern yang mereka temukan di internet. Anggaplah berhasil dan menghasilkan. Beberapa lagi membuat sebuah pola pemasaran online dari desa langsung ke konsumen, sehingga memutus jalur panjang barang dari produsen ke konsumen. Lagi pula, bukankah saat ini ke pasar adalah hal yang tidak mengasikkan? Lebih baik jika ada penjual yang mau membawakan ke rumah. Ya, semprot disinfektan sajalah dulu.

Akhirnya, orang-orang mulai menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang adaptif. Manusia adalah makhluk yang berevolusi. Makhluk yang bisa bertahan dalam segala keadaan. Situasi karena Covid ini bukan hal besar bagi ciptaan Tuhan maha sempurna ini. Kita mampu mengatasinya.

Dan nanti, ketika virus ini sudah pergi. Bagaimana jika kita tetapkan saja seperti ini? [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19pandemi
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kesetaraan Gender:  Evolusi Sebuah Ideologi

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co