23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Perintis Pers Bali & Kaum Intelek Bali Utara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Mursal Buyung

TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954).

Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha).

Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah.

Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali”

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra.

Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.”

Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar” intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955).

Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan.

Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng. (T)

*Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post

Tags: bulelengpersPolitik
Share168TweetSendShareSend
Previous Post

“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit

Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co