25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Perintis Pers Bali & Kaum Intelek Bali Utara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Mursal Buyung

TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954).

Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha).

Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah.

Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali”

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra.

Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.”

Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar” intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955).

Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan.

Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng. (T)

*Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post

Tags: bulelengpersPolitik
Share168TweetSendShareSend
Previous Post

“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit

Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co