3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Perintis Pers Bali & Kaum Intelek Bali Utara

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Mursal Buyung

TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai jurnal kebudayaan, yaitu: Shanti Adnyana (1923), Bali Adnyana (1924-1929), Surya Kanta(1925-1927), Bhawanagara (1931-1935), Djatajoe (1936-1941), dan Bhakti (1952-1954).

Penerbitan tersebut adalah cikal-bakal pers di Bali. Isi dan pergolakan pemikiran yang termuat dalam jurnal dan majalah tersebut yang menunjukkan visi kebudayaan mereka sangat reformis dan meloncat jauh ke depan.

Tweede Klasse School, cikal bakal pemikir Buleleng

Kalau kita cermati, cikal bakal kelahiran para intelektual Buleleng adalah Tweede Klasse School. Sekolah dasar ini didirikan tanggal 1 Agustus 1875, merupakan sekolah pertama di pulau Bali. Selanjutnya Pemerintah Belanda mendirikan juga mendirikan Erste Inlandsche School pada tahun 1913, dan diikuti dengan pembukaan sekolah Belanda bernama Hollandsche Inlandsche School (HIS). Ketiganya di Singaraja, Buleleng.

Setelah berselang 10 tahun dari pendirian Erste Inlandsche School, atau 48 tahun setelah pendirian Tweede Klasse School, tumbuh cukup banyak intelektual di Buleleng. Ini terbukti dengan munculnya organisasi modern yang beranggotakan kaum terpelajar yang aktif melakukan gerakan sosial.

Shanti dan Shanti Adnyana, organisasi modern dan newsletter Buleleng 1923

Pada tahun 1923, lahir organisasi itu bernama Shanti. Sebuah organisasi yang beranggotakan intelektual Buleleng yang menerbitkan kalawarta (newsletter) bernamaShanti Adnyana, terbit bulanan memuat masalah pendidikan dan Agama Hindu Bali (Agama Tirtha).

Terbitan ini disebarkan terutama di kalangan pegawai dan guru.  Shanti bukan hanya menerbitkan majalah, tapi juga merupakan sebuah organisasi pergerakan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan, yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Pengurusnya antara lain: Ketut Nasa, Nyoman Kajeng, I Gusti Putu Jlantik, dan I Gusti Putu Tjakra Tenaja. Ketika Ketut Nasa mengundurkan diri dari Shanti Adnyana,kalawatra ini berhenti terbit.

Tidak lama berselang, tanggal 1 Januari 1924, Shanti Adnyana berubah menjadi Bali Adnyana, sebuah majalah yang terbit tiga kali sebulan yaitu tiap tanggal 1, 10, dan 20, diasuh I Gusti Tjakratanaya dan I Gusti Ketut Putra.

Ketut Nasa yang berhenti dari Shanti Adnyana menghimpun kawan-kawannya yang kebanyakan berprofesi sebagai guru dan tanggal 1 Oktober 1925 mendirikan Surya Kanta, menerbitkan majalah bulanan yang juga bernama Surya Kanta,  yang selanjutnya bersaing panas dengan majalah Bali Adnyana.

Bali Adnyana berpikir feodal, sementara Surya Kanta memperjuangkan persamaan hak dan menentang feodalisme, mendukung sistem pendidikan Barat, mengetengahkan reformasi adat dan upacara agama, membincangkan persoalan koperasi dan kesejahteraan rakyat jelatah.

Mereka menentang kepemimpinan yang elitis dan feodal. Mereka menyambut ide pembaharuan di Jawa dan para pemuda Indonesia di negeri Belanda, yang mengutamakan lahirnya “bangsawan pikir” (menjadi terhormat dengan pendidikan dan pemikiran), bukan sekedar “bangsawan darah” (minta dihormati dan menjabat karena faktor kelahiran semata).

Kemajuan berpikir dan pergolakan kebudayaan Buleleng periode 1924-1927

Majalah Bali Adnyana mewarnai wajah Singaraja dengan pemihakannya pada feodalisme dari tahun 1924 hingga tahun 1929. Majalah Surya Kanta eksis menentang feodalisme dan menyajikan pemikiran reformis, terbit dari Oktober 1925 sampai September 1927.

Tahun 1931 di Singaraja terbit majalah Bhawanagara. Majalah ini berbahasa Melayu, diterbitkan Yayasan Kirtija Liefrinck van der Tuuk. Majalah ini mendapat dukungan pemerintah kolonial, tahun 1931 terbit edisi perdana Bhawanagara, dengan tebal 40 halaman.  Dr. R. Goris bersama I Gusti Putu Djlantik, I Gusti Gde Djlantik, I Nyoman Kadjeng, dan I Wajan Ruma, menjadi redaktur majalah ini. Majalah ini punya tag-line: “soerat boelanan oentoek memperhatikan peradaban Bali”

Bhawanagara yang tutup pada tahun 1935 digantikan oleh kehadiran majalah kebudayaan bulanan Djatajoe. Mulai terbit 1936, diterbitkan oleh organisasi bernama Bali Darma Laksana. Kelahiran Djatajoe disebutkan dipengaruhi oleh majalah Poedjangga Baroe, penuh dengan nuansa kesastraan dan pemikiran kebudayaan yang lebih meng-indonesia. Pemimpin redaksi pertama Djatajoe adalah I Goesti Nyoman Pandji Tisna, kemudian dipimpin oleh Nyoman Kajeng dan Wayan Badra.

Majalah ini terbit sampai 1941. I Goesti Nyoman Pandji Tisna kini terkenal dengan novelnya Soekresni Gadis Bali; sampai kini terjemahan kitab Sarasamuscaya oleh Nyoman Kajeng beredar dengan puluhan kali cetak ulang; dan artikel-artikel Wayan Badra yang ditulis dalam bahasa Belanda dimuat di berbagai jurnal kebudayaan nasional dan international yang menunjukkan kaliber intelektualitasnya.

Buleleng periode 1950-an, periode multipartai

Pada periode tumbuhnya puluhan partai di Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, dua intelektual Singaraja, Putu Shanti dan Ketut Widjana menggagas menerbitkan majalahBhakti, dengan slogan: “Majalah untuk Umum-non-Partai berdasarkan Pancasila”. Putu Shanti sebagai penanggung jawab dan Ketut Widjana sebagai pemimpin umum.”

Majalah ini diterbitkan oleh Yayasan Kebhaktian Pejuang, terbit selama 2 tahun, dari tahun 1952 sampai 1954. Dalam kurun waktu yang bersamaan (1953 hingga 1955), I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh dan intelektual Bali asal Buleleng, menerbitkan Majalah Damai di Denpasar.

Kini jurnal kebudayaan semacam itu tidak ditemukan lagi di Buleleng. Semenjak kepindahan pusat pemerintahan Bali dari Singaraja ke Denpasar. Meredup pula “kadar” intelektualitas Buleleng.

Gedung Kirtya, saksi bisu meredupnya intelektualitas Buleleng

Yang masih tertinggal di jantung kota Singaraja adalah sebuah pusat naskah lontar dan buku-buku tua Bali bernama Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan tua yang didirikan tahun 1928, yang menyimpan ribuan halaman pemikiran para intelektual Bali dari berabad-abad lalu (kurang lebih bentuk 3.000 lontar), prasasti-prasasti Bali Kuno, manuskrip kertas dalam bahasa Bali dan huruf Romawi, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953), juga majalah dan jurnal yang terbit di Buleleng (1920-1955).

Perpustakaan ini vacuum aktivitas kreatif dan terseok rawan bangkrut. Banyak salinan lontar dan lontar asli yang dulu pernah tercatat ada di sana kini tak jelas rimbanya. Jurnal-jurnal kebudayaan itu lenyap dalam senyap.

Seiring dengan meredupnya “kadar intelektual” Buleleng, posisi strategis Gedong Kirtya sebagai pusat kebudayaan sudah terlupakan. Diabaikan.

Buleleng kini lebih riuh dengan urusan kekuasaan yang “sepi intelektualitas”, Pilkada dan kasak-kusuk politik internal pemerintahan di Buleleng tampaknya telah menyita perhatian dan menjadi kegandrungan kaum terpelajar Buleleng. Kejayaan intelektualitas Buleleng yang pernah terjadi tahun 1920-an hingga 1950-an hanyalah sebuah romantisme Buleleng. (T)

*Tulisan ini pernah dimuat di Bali Post

Tags: bulelengpersPolitik
Share168TweetSendShareSend
Previous Post

“Bullying” di Sekitar Kita – Menyakitkan atau Bikin Bangkit

Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co