10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nyoman Sukaya Sukawati # Di Kafe Tebing Sungai

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 4, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Nyoman Sukaya Sukawati # Di Kafe Tebing Sungai

Salah satu karya dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha 29 November 2019 [Foto: Mursal Buyung]


KATA-KATAKU


Kata-kataku adalah angin luka di dinding-dinding bukit


Jeritan burung-burung patah sayap terjerat musim di lembah-lembah


Kata-kataku derap kaki-kaki kuda pemburu

Atau risau sungai tak putus-putus mengejar muara


Kata-kataku adalah bait-bait lagu

Nyanyian pejalan yang tersesat di negeri asing

Lagu rindu kepada tanah asal


KUTULIS PUISI


Kutulis puisi seperti benih ikan di paruh burung laut

Yang terbang mencari sarangnya di pulau sunyi.


Aku tak yakin apa yang akan sampai padamu

Jeritan burung-burung kelaparan ataukah benih suara rinduku?:


Benih yang tumbuh jadi matahari pagi yang selalu membangunkan perahu-perahu di pantai agar segera bangkit dari mimpi dan selekasnya berlayar memburu rindunya yang bertebaran di horizon namun nasibnya sepenuhnya bergantung pada selembar layar yang hidupnya telah ditentukan hanya untuk mengikuti arah angin.


Benih yang tumbuh jadi angin laut yang bertugas menyemangati ombak agar tak pernah putus asa memburu rindunya di pantai namun nasibnya sepenuhnya ditentukan pasir yang ditakdirkan selalu menghisap habis segala yang sampai padanya hingga semuanya kembali sunyi.


SUARA PEDALAMAN


kau dengarkah suara-suara pedalaman itu?


dalam puisi suara-suara itu tumbuh

menjadi pohon-pohon keheningan

pohon dengan daun-daun melambai

selembut sungai mengalir menuju senja


kau dengarkah erangan angin

di puncak musim badai

atau tangisan binatang malam memenuhi kegelapan rimba?


tapi adakah kau dengar suara-suara di belakangnya

sehalus kabut merayap dari pohon ke pohon?


di pedalaman kata-kata, pohon-pohon sedang merayakan puisi

setiap kata bergerak dengan suara keheningan


di jalan tak berujung kita melacak jejak keindahan tanpa akhir

dan kita di sini merayakan puisi

seperti pohon-pohon mencintai sungai


dan kita mencintai pohon-pohon puisi

ketika keheningannya menggubah suara-suara

menjadi sungai senja di pedalaman hatimu


DI KAFE TEBING SUNGAI


Malam menciptakan kenangan melalui kerlip bintang di aliran sungai

dalam nada samar suara gitar dan bayang-bayang lampu yang berayun


Inikah waktunya mengingat kembali rumah ibu?

Rumah yang terlupakan di desa sunyi?


Di sudut bar, seseorang menyanyikan syair memuja negeri asing


Di dahan tanpa daun, burung-burung terisak, meratapi cuaca yang berubah cepat.


Warna-warni lampu tak dapat menghapus bayangan muram lantai

Ketika orang-orang menatap hampa ke dalam gelas yang kosong

Setiap orang seperti menunggui nisannya sendiri


Busa wiski terakhir pecah di sudut bibir

Jadi tiruan gapura puri yang runtuh dalam bayangan gelap arca Dewi Padi

Mengingatkan pada kisah tanah leluhur yang telah menjadi arang

dibakar di punggung lembu pada upacara pengantar ke alam kematian


Musik kafe terus menyamarkan kabut dingin yang datang ke halaman

Menyamarkan hening malam dengan menirukan kerumunan siang hari


Tapi itu tidak juga membuat rasa kesepian pergi

Di tengah hilir-mudik para pelancong


Di antara kehangatan alkohol dan lagu-lagu asing

Patung-patung batu menjadi monumen kemurungan

Lagu anak-anak desa menjadi suara kebisuan

Lukisan dinding adalah masa lalu yang hilang


Tetapi seluruh kata-kata tak kuasa menerjemahkan tanda-tanda ini


Di jendela, angin bergerak menjauh dengan sisa gerimis dan hawa pegunungan

Lalu sebuah kenangan tersampaikan lewat segelas minuman

namun tak jua menghangatkan perasaan hampa

serta sebait puisi tak kuasa merangkum kegelisahan ini


Di tebing ini entah berapa waktu dibutuhkan 

musim untuk mampir dan berlalu

Seperti hidup dan kematian yang datang berulang

dengan meninggalkan jejak retakan di dinding cadas


Seperti wajah ibu. Batu-batu ini perlahan-lahan lapuk menjadi serbuk

lalu hanyut bersama sungai yang mengering


ABSTRAKSI MATA


Tiba di ujung teluk ia berpendar di tiang dermaga

Jadi penanda bagi kapal berlabuh di malam hari


Dia berkedip seperti rambu lalu lintas 

Dari hijau ke kuning lalu pindah ke merah

Memberi waktu pada sekelompok pemabuk 


Menyeberang di jalan ramai


Lalu menjelma lampu merkuri

Membawa kota keluar dari kegelapan

Menyalakan cahaya di kepala mereka

Yang tersesat dalam bayangan muram gedung-gedung


Mata itu menggerakkan tanganku

Menggali sumur kata-kata di kedalaman hati

Menimba bahasa rindu yang tak mampu diucapkan oleh suaraku


Mata itu juga yang meredupkan senja

Memanggil burung-burung pulang ke sarang

Bernyanyi riang untuk jiwa-jiwa 

yang terperangkap kabut kesedihan


Sekali waktu ia menderas bersama sungai

Membawaku berziarah kembali ke masa silam

Lalu hanyut memburu batas samudera terjauh


Bila gunung menaburkan letusannya di lembah

Mata itu jadi batu pertapa di dasar kali

Mengajariku bertahan dengan rasa perih 

Yang menjalar sepanas lahar di aliran darah


Seperti sayap burung, mata itu selalu terbuka

Melayang dan berjaga-jaga di antara rasi bintang

Bersinar meliputi sudut-sudut paling gelap di langit sunyimu


BAYANG-BAYANG


Bayang-bayang itu

Datang serupa lintasan cuaca

Dan pasang surut sungai


Tapi sungguh dia sangat samar

Sesamar suara di pedalaman hutan gema


Di belakang derai yang bergerak perlahan

Dia menjauh lalu menghilang

ke dalam bayangan langit muram


Seluruh kata-katamu tak kuasa mengenalinya

Tak dapat menyentuh dan mencatatnya


Sampai engkau merasakan 

Sesaat ia tiba-tiba mendekat selembut warna senja

Bergerak sehalus kabut mengikuti irama mantra 

di puncak hening puisimu

Tags: Puisi
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Rehat : Single Perdana Bligungyudha saat Pandemi

Next Post

Rinduku dalam Angan

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Rinduku dalam Angan

Rinduku dalam Angan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co