24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Nyoman Sukaya Sukawati # Di Kafe Tebing Sungai

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
April 4, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Nyoman Sukaya Sukawati # Di Kafe Tebing Sungai

Salah satu karya dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha 29 November 2019 [Foto: Mursal Buyung]


KATA-KATAKU


Kata-kataku adalah angin luka di dinding-dinding bukit


Jeritan burung-burung patah sayap terjerat musim di lembah-lembah


Kata-kataku derap kaki-kaki kuda pemburu

Atau risau sungai tak putus-putus mengejar muara


Kata-kataku adalah bait-bait lagu

Nyanyian pejalan yang tersesat di negeri asing

Lagu rindu kepada tanah asal


KUTULIS PUISI


Kutulis puisi seperti benih ikan di paruh burung laut

Yang terbang mencari sarangnya di pulau sunyi.


Aku tak yakin apa yang akan sampai padamu

Jeritan burung-burung kelaparan ataukah benih suara rinduku?:


Benih yang tumbuh jadi matahari pagi yang selalu membangunkan perahu-perahu di pantai agar segera bangkit dari mimpi dan selekasnya berlayar memburu rindunya yang bertebaran di horizon namun nasibnya sepenuhnya bergantung pada selembar layar yang hidupnya telah ditentukan hanya untuk mengikuti arah angin.


Benih yang tumbuh jadi angin laut yang bertugas menyemangati ombak agar tak pernah putus asa memburu rindunya di pantai namun nasibnya sepenuhnya ditentukan pasir yang ditakdirkan selalu menghisap habis segala yang sampai padanya hingga semuanya kembali sunyi.


SUARA PEDALAMAN


kau dengarkah suara-suara pedalaman itu?


dalam puisi suara-suara itu tumbuh

menjadi pohon-pohon keheningan

pohon dengan daun-daun melambai

selembut sungai mengalir menuju senja


kau dengarkah erangan angin

di puncak musim badai

atau tangisan binatang malam memenuhi kegelapan rimba?


tapi adakah kau dengar suara-suara di belakangnya

sehalus kabut merayap dari pohon ke pohon?


di pedalaman kata-kata, pohon-pohon sedang merayakan puisi

setiap kata bergerak dengan suara keheningan


di jalan tak berujung kita melacak jejak keindahan tanpa akhir

dan kita di sini merayakan puisi

seperti pohon-pohon mencintai sungai


dan kita mencintai pohon-pohon puisi

ketika keheningannya menggubah suara-suara

menjadi sungai senja di pedalaman hatimu


DI KAFE TEBING SUNGAI


Malam menciptakan kenangan melalui kerlip bintang di aliran sungai

dalam nada samar suara gitar dan bayang-bayang lampu yang berayun


Inikah waktunya mengingat kembali rumah ibu?

Rumah yang terlupakan di desa sunyi?


Di sudut bar, seseorang menyanyikan syair memuja negeri asing


Di dahan tanpa daun, burung-burung terisak, meratapi cuaca yang berubah cepat.


Warna-warni lampu tak dapat menghapus bayangan muram lantai

Ketika orang-orang menatap hampa ke dalam gelas yang kosong

Setiap orang seperti menunggui nisannya sendiri


Busa wiski terakhir pecah di sudut bibir

Jadi tiruan gapura puri yang runtuh dalam bayangan gelap arca Dewi Padi

Mengingatkan pada kisah tanah leluhur yang telah menjadi arang

dibakar di punggung lembu pada upacara pengantar ke alam kematian


Musik kafe terus menyamarkan kabut dingin yang datang ke halaman

Menyamarkan hening malam dengan menirukan kerumunan siang hari


Tapi itu tidak juga membuat rasa kesepian pergi

Di tengah hilir-mudik para pelancong


Di antara kehangatan alkohol dan lagu-lagu asing

Patung-patung batu menjadi monumen kemurungan

Lagu anak-anak desa menjadi suara kebisuan

Lukisan dinding adalah masa lalu yang hilang


Tetapi seluruh kata-kata tak kuasa menerjemahkan tanda-tanda ini


Di jendela, angin bergerak menjauh dengan sisa gerimis dan hawa pegunungan

Lalu sebuah kenangan tersampaikan lewat segelas minuman

namun tak jua menghangatkan perasaan hampa

serta sebait puisi tak kuasa merangkum kegelisahan ini


Di tebing ini entah berapa waktu dibutuhkan 

musim untuk mampir dan berlalu

Seperti hidup dan kematian yang datang berulang

dengan meninggalkan jejak retakan di dinding cadas


Seperti wajah ibu. Batu-batu ini perlahan-lahan lapuk menjadi serbuk

lalu hanyut bersama sungai yang mengering


ABSTRAKSI MATA


Tiba di ujung teluk ia berpendar di tiang dermaga

Jadi penanda bagi kapal berlabuh di malam hari


Dia berkedip seperti rambu lalu lintas 

Dari hijau ke kuning lalu pindah ke merah

Memberi waktu pada sekelompok pemabuk 


Menyeberang di jalan ramai


Lalu menjelma lampu merkuri

Membawa kota keluar dari kegelapan

Menyalakan cahaya di kepala mereka

Yang tersesat dalam bayangan muram gedung-gedung


Mata itu menggerakkan tanganku

Menggali sumur kata-kata di kedalaman hati

Menimba bahasa rindu yang tak mampu diucapkan oleh suaraku


Mata itu juga yang meredupkan senja

Memanggil burung-burung pulang ke sarang

Bernyanyi riang untuk jiwa-jiwa 

yang terperangkap kabut kesedihan


Sekali waktu ia menderas bersama sungai

Membawaku berziarah kembali ke masa silam

Lalu hanyut memburu batas samudera terjauh


Bila gunung menaburkan letusannya di lembah

Mata itu jadi batu pertapa di dasar kali

Mengajariku bertahan dengan rasa perih 

Yang menjalar sepanas lahar di aliran darah


Seperti sayap burung, mata itu selalu terbuka

Melayang dan berjaga-jaga di antara rasi bintang

Bersinar meliputi sudut-sudut paling gelap di langit sunyimu


BAYANG-BAYANG


Bayang-bayang itu

Datang serupa lintasan cuaca

Dan pasang surut sungai


Tapi sungguh dia sangat samar

Sesamar suara di pedalaman hutan gema


Di belakang derai yang bergerak perlahan

Dia menjauh lalu menghilang

ke dalam bayangan langit muram


Seluruh kata-katamu tak kuasa mengenalinya

Tak dapat menyentuh dan mencatatnya


Sampai engkau merasakan 

Sesaat ia tiba-tiba mendekat selembut warna senja

Bergerak sehalus kabut mengikuti irama mantra 

di puncak hening puisimu

Tags: Puisi
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Rehat : Single Perdana Bligungyudha saat Pandemi

Next Post

Rinduku dalam Angan

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

by IBW Widiasa Keniten
April 5, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan

Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

by Made Bryan Mahararta
April 4, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Perang Teluk

Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

by Iwan Setiawan
March 28, 2026
0
Puisi-puisi Iwan Setiawan | Senja yang Tersesat di Rambut Seorang Perempuan

SENJA YANG TERSESAT DI RAMBUT SEORANG PEREMPUAN Puisi ini aku dedikasikan untuk Lea Kathe Ritonga di rambutnya, senja tersesat seperti...

Read moreDetails

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

by Alfiansyah Bayu Wardhana
March 27, 2026
0
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Taman yang Diam-diam Bersemi

Taman yang Diam-diam Bersemi Maka pada suatu pagi yang heningkutemukan namamu tumbuh di dalam hatiku,sebagaimana benih yang lama tersembunyitiba-tiba mengenal...

Read moreDetails
Next Post
Rinduku dalam Angan

Rinduku dalam Angan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co