25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog Pemabuk

Eka Prasetya by Eka Prasetya
March 16, 2020
in Cerpen
Monolog Pemabuk

Cerpen: Eka Prasetya

HARI beranjak malam. Waktunya sudah tiba. Aku segera beranjak ke kulkas di sudut kamar. Membukanya. Kosong. Tidak ada minuman yang tersisa.

Aku tahu. Ini pasti ulah istriku. Arak yang kemarin aku simpan di kulkas, sudah tak berbekas.

“Di mana arak yang kemarin itu Luh?” tanyaku.

“Sudah habis. Dipakai metabuh tadi. Itu minuman bhutakala,” jawab istriku.

Aku memilih tak menjawab. Urusannya bisa panjang dan berakhir pada pertengkaran. Salah-salah, ada piring terbang yang mengenai kepalaku.

Motor segera aku geber menuju warung milik Wawan, rekanku sesama alkoholik. Sebenarnya dia berjualan bakso. Tapi sembunyi-sembunyi, Wawan juga menjual arak. Wawan tahu minuman seperti apa yang aku butuhkan. Seperti apa campurannya. Aku cukup mengacungkan jari, tanda berapa banyak aku memesan.

Malam itu, Wawan memintaku minum di warungnya. Sebenarnya aku tak pernah nyaman minum di keramaian, terlebih dengan orang yang tak terlalu aku kenal. Tapi suasana di rumah sedang tidak kondusif.

Apalagi Wawan melontarkan kalimat yang tak bisa kutolak. “Minumlah di sini. Berapa pun yang kau minta, aku berikan. Gratis,” katanya.

Aku segera duduk di depan Wawan. Ia menyodorkan sebotol arak. Dia juga mengenalkan aku pada teman-temannya. Baru sekali ini aku lihat mereka belanja di sana.

Gelas pertama disodorkan. Ini minuman penyambutan. Tak patut ditolak. Meski porsinya agak berlebihan. Segera aku tenggak hingga tandas.

Otakku yang tadinya mumet, kini jadi rileks. Ternyata nikmat betul minuman ini. Rasa penat dan gelisah di tubuhku langsung menguar. Hilang entah ke mana.

Wawan kembali menyodorkan gelas. Ini putaran kedua. Konon gelas kedua akan memberikan kebahagiaan. Memang seperti itu yang aku rusakan. Bisa menenggak alkohol tiap hari, sudah jadi kebahagiaan. Apalagi bisa mendapat arak gratis.

Putaran ketiga datang. Katanya gelas ketiga akan membuat aku seperti raja. Tapi entahlah, aku tak merasa begitu. Bila pulang, aku akan merasa seperti bidak raja pada permainan catur. Langkahnya serba terbatas. Ah, peduli apa. Toh aku dapat minuman gratis. Bagiku, itu lebih penting.

Gelas keempat aku ambil. Mulutku mulai meracau. Orang-orang mulai terheran-heran. Sebab dari tadi aku hanya terdiam. Tersenyum pun sekenanya.

Aku mulai meracau soal kebiasaanku minum sendirian hingga tertidur di teras rumah. Mengeluh soal omelan istriku tiap kali aku menenggak minuman beralkohol.

“Padahal dari sebelum kawin, dia sudah tahu aku suka mabuk. Tapi sekarang dia sering marah-marah. Tiap aku beli minuman, tidak pernah aku pakai uang dapur,” kataku.

Wawan hanya tertawa mendengar keluhanku. “Kalau tidak sanggup dengar omelan istri, kawin saja lagi,” katanya.

“Mendengar omelan satu istri saja aku tidak kuat. Apalagi dua istri. Bisa mati berdiri aku,” kataku lagi.

Gelas kelima disodorkan padaku. Langsung saja kutenggak hingga tandas. Sejujurnya aku tak ingat apalagi yang kami bicarakan. Aku lebih fokus pada pramuria di warung milik Wawan yang mondar-mandir membawa mangkok bakso. Sesekali aku colek pinggulnya. Pramuria itu membalasku dengan senyuman genit.

“Katanya satu istri saja tidak sanggup. Mau tambah lagi? Pelayanku masih lajang,” goda Wawan.

Ah, lebih baik aku menjauhi masalah. Aku raih segelas minuman lagi. Badanku mulai merasa tidak nyaman. Sepertinya aku mau muntah. Mungkin aku sudah mabuk. Tapi aku belum mau pulang. Lebih baik aku bertahan sebentar lagi.

Kepala mulai kusandarkan di sofa. Rasanya sungguh berat. Tapi meninggalkan Wawan dan teman-temannya yang sedang bersukaria, rasanya sungguh tak pantas. Mungkin aku harus bertahan, barang segelas atau dua gelas lagi.

Segelas arak kembali disodorkan. Aku sebenarnya ragu menenggaknya. Rasanya sudah terlalu banyak. Tapi, aku tak bisa mengecewakan teman-teman satu botol yang baru aku kenal. Aku harus bertahan.

Arak itu segera aku tenggak hingga tandas. Kepalaku makin berputar. Perutku mulai bergejolak. Rasanya ada yang ingin keluar. Aku berlari keluar. Aku tak mau muntah di hadapan sesama peminum. Itu aib yang sangat memalukan.

Aku harus segera pulang ke rumah. Tiba-tiba aku kangen istri. Istriku bisa memijat kepalaku. Pijatannya sangat ampuh menghilangkan pengar. Meski biasanya dia memijat sambil mulutnya terus berbunyi. Marah-marah. Tak masalah, toh aku sudah mabuk. Aku tak akan ingat apa yang dia bicarakan.

Aku segera menggeber motor ke rumah. Tiba-tiba kepalaku terasa ringan. Ringan sekali.

“Istriku, istriku…!” Aku menyebut nama istriku berkali-kali.  Ia harus memberikan pijatan.

Tubuhku makin ringan. Aku menerobos lampu merah di perempatan pertama. Lalu seseorang kudengar berteriak, memaki. Tampaknya aku salah jalur. Di perempatan berikutnya, tak kulihat lagi, apakah lampu pengatur jalan itu merah, hijau atau kuning, kutererobos saja.  

Sedetik kemudian kudengar orang berteriak-teriak. Tubuhku yang terlentang di jalan dikerumuni banyak orang. Kulihat satu per satu.

Istriku, istriku, di mana istriku. Aku perlu pijatan… [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Etika Batuk, Cegah Penyakit Menular

Next Post

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Bibir yang Diciptakan untuk Melahap Hidupku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co