26 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gagasan Terpinggir Siwaratrikalpa

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
January 23, 2020
in Esai
Gagasan Terpinggir Siwaratrikalpa

Foto ilustrasi diambil dari https://heuristplus.sydney.edu.au/

Tiada terkira bingungnya Yama, sang dewa penghakim. Tanpa diduga, Bhatara Siwa yang agung menurunkan sekompi Gana Bala untuk menjemput roh Lubdaka untuk diantarkan ke Siwaloka. Atas perintah Siwa, Lubdaka yang pembunuh itu berhak menghuni Siwalaya karena pernah berbuat pahala mulia pada suatu malam tergelap.

Yama tak terima. Sembari memerintahkan para Kingkara membuat pagar betis, ia mengecek catatan hidup-mati yang dicatat secara teliti oleh sekretaris Yamaloka, Suratma. Berulang kali dibulak-balik lontar usang itu, guratnya tiada menunjukkan kebohongan. Dalam catatannya Lubdaka adalah pendosa. Dia seorang pembunuh! Sebagai pemburu, ia telah memotong ribuan nafas mahkluk hutan para abdi Pasupati.

***

Demikian kisah yang tersurat dalam Kakawin Siwaratrikalpa karya Mpu Tanakung. Kisahnya lebih lanjut tak perlu saya ceritakan kembali. Intelektual yang sekiranya membaca catatan ini saya yakini telah mengetahui akar-tunas dari kisah Lubdaka. Tak perlu diuraikan bagaimana gemuruh para Ganabala menghujam Kingkarabala. Mari berimajinasi latar perangnya. Meskipun saya yakin dan percaya, peperangan antara bala tentara Siwa dan bala tentara Yama tidak lebih kejam dari kedua perang dunia atau gerakan-gerakan genosida yang didasari hanya karena perbedaan pandangan, bangsa, apalagi agama.

Tampaknya kita tidak perlu juga mendiskusikan hal-hal yang terjadi setelah “tabungan pahala” Lubdaka habis di Siwaloka. Akan perlu waktu yang lama jua jika kita bersikeras berdebat soal sebab-musabab Lubdaka begitu beruntung. Ketidaksengajaannya begadang di malam yang sama sekali tidak ia ketahui sebagai yoga Siwa membuatnya terhindar [untuk sementara?] dari siksa api neraka yang konon begitu panas.

Intinya, para pembaca barangkali sepakat, Lubdaka adalah seorang nisada tercela yang beruntung. Ketidaktahuannya tentang sastra dan upacara ini dan itu, termasuk waktu baik-buruk dapat membuatnya tidur nyenyak di keraton Siwa. Lalu, apa gunanya pembacaan dan laku-laku yang selama ini kita lakukan? Berdebat soal ideologi, sastra, agama ini dan itu. Kita telah beribadah dan mengasah ritus begini dan begitu, namun tiada sekali pun pernah bertemu Siwa. Termasuk ketika saya menulis atau pun pembaca membaca tulisan ini. Tidak ada janji dan jaminan Siwa akan nyekala. Jatuh dari langit sebagaimana ikonografi arca-arca yang terabadikan di Candi Siwa Prambanan.

Kita hanya mencoba mendiskusikan catatan-catatan terpinggirkan dari Siwaratrikalpa. Siapa tahu bisa digunakan sebagai “camilan” melakoni Siwaratri. Semoga tiada picik yang menyelimuti.

“Kadewan-dewan”

Istilah kadewan–dewan lumrah di Bali. Frasa ini merujuk pada orang atau prilaku yang terlalu berlebihan berhubungan dengan alam niskala yang abstrak. Hobinya tirta yatra, sedikit-sedikit karauhan, penampangnya berambut panjang atau maprucut. Berpakaian poleng atau keseluruhan putih, lengkap dengan kalung dan gelang rudraksa aneka mukhi melilit di leher dan tangan kanan-kirinya. Sekarang, banyak pula golongan ini yang ke sana-sini membawa tongkat komando. Entah apa wujud pasukan yang dipimpinnya.

Kadewan-dewan menjadi [hanya] salah satu ciri teks sastra tradisional. Entah ideologi pengarangnya yang sedemikian rupa, atau pembacanya yang salah membaca. Atau jangan-jangan, kita yang selama ini salah menafsir simbol? Entahlah, yang jelas hal-hal rohaniah seringkali menjadi sajian utama teks tradisional, termasuk dalam Kakawin Siwaratrikalpa.

Kakawin Siwaratrikalpa di Bali [dan Indonesia] dijadikan rujukan utama pelaksanaan Hari Suci Siwaratri yang diperingati umat Hindu setiap panglong ping 14 Sasih Kapitu dalam penanggalan Saka. Konon, malam itu adalah malam Siwa, sehingga umat Hindu patut melaksanakan jagra (tidak tidur) untuk mendapat anugerah Siwa yang murni.

Dalam panggung sastra Jawa Kuno, Kakawin Siwaratrikalpa menjadi pusat perhatian sejumlah peneliti tersohor. Saking menariknya, diskusi panjang telah dibangun hanya terkait masa penulisannya. Krom berpendapat karya sastra ini ditulis pada masa Singasari, sebab ditemukan nama Girindrawangśaja dalam manggala Siwaratrikalpa. Poerbatjaraka sepakat, ia menduga kakawin ini diadakan sebagai upaya menyenangkan hati Ken Arok. Di sisi lain, R. Friederich yang melandasi dirinya dengan tradisi kesastraan Bali berpendapat teks ini sebagai hasil gubahan zaman Kediri. Menurutnya, Tanakung adalah putra Mpu Rajakusuma.

Sementara itu, A. Teeuw dan P.J. Zoetmulder berpendapat bahwa Kakawin  Siwaratrikalpa ditulis pada masa Majapahit akhir. Landasan Zoetmulder adalah Prasasti Waringin Pitu  (1447 Masehi) dan Prasasti Pamintihan (1473 Masehi) yang dikeluarkan Singha Wikrama atau Suraprabhawa, yang namanya disebut dalam manggala Śiwaratrikalpa. Sejalan dengan itu, A. Teeuw yang mengamati bahasa kakawin tersebut dan menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa antara tahun 1466-1478 Masehi (lihat Agastia, 2002).

Jika perdebatan panjang tersulut hanya karena tahun penggubahannya, maka bukan hal yang mengagetkan  jika tafsir-tafsir terhadap isi teks hadir sangat beragam. Teks adalah simbol-simbol kata, ia tidak akan habis untuk dikupas dan dikupas kembali. Setiap orang pun berhak atas tafsir-tafsirnya, termasuk melihat sisi-sisi lebih realistis yang disajikan Siwaratrikalpa.

Gagasan Terpinggir

Jika membaca Kakawin Siwaratrikalpa secara “lugu”, kita akan menemukan sejumlah bahasan yang sangat realistis. Gagasan-gagasan pendobrakan atas tradisi feodal dan kepekaan terhadap lingkungan menjadi dua gagasan yang cukup kentara. Selama ini keduanya tampak terpinggir, sebab kalah tenar dengan gagasan religius yang lebih besar tentang Siwaratri.

Kakawin Siwaratrikalpa adalah mahakarya unik. Jalan kreatif yang ditempuh Tanakung adalah pendobrakan atas kebiasaan kesastraan pada zamannya. Entah ia lahir di zaman Kediri, Singasari, maupun Majapahit akhir, karya sastra yang berlatar tokoh luar istana sangat sedikit ditemukan.

Kita memang tak dapat memastikan apakah Siwaratrikalpa terinspirasi dari suatu teks lain yang lebih tua atau jangan-jangan ada teks sejenis yang hidup di masa itu, namun tidak sampai kepada kita. Namun, yang pasti, teks ini sangat berbeda dari pilihan tokohnya. Rata-rata, teks di zamannya berlatar pada tokoh-tokoh istana –ksatria, brahmana, dan orang terpandang lainnya. Sebagian teks yang kita warisi menyajikan gerak-gerik tokoh yang eksis dalam perut epos agung Mahabarata dan Ramayana. Pun ada kisah-kisah lain, rata-rata mengisahkan petualangan raja-raja di zamannya atau kisah para dewa.

Tanakung, seorang kawi tanpa cinta, tampak hadir melampaui masanya. Ia menerobos ruang feodal yang sampai sekarang –di zaman penghormatan humanisme di atas segala-galanya— masih dianut dan dibangga-banggakan sejumlah orang. Jika Tanakung masih hidup di tahun 2020, dia mungkin akan tertawa cekikikan melihat fenomena dan klaim Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, Majapahit Cabang Bali, atau Majapahit yang terpusat di Bungkulan.

Pada bilah lainnya, Tanakung tampaknya adalah pemerhati lingkungan yang peka. Cobalah perhatikan bait-bait awal kakawin yang dibangun 231 bait dalam 39 wirama itu. Antara wirama II dan III misalnya, tepatnya ketika Tanakung menggambarkan perjalanan Lubdaka masuk hutan. Di sana kita akan disajikan berbagai pemandangan alam yang tak lagi harmonis.

Pada bait-bait itu ia menyebut ada balai-balai yang tampak asri, namun atapnya telah lapuk (nyāśanyārja tinon hatêp rahab i raŋkaŋnyālamuk katruhan—Wirama II.5). Penggambaran ini disajikan bersanding dengan keindahan alam yang mungkin jika dibayangkan di era ini sangat menggugah rasa.

Tanakung semakin tegas menyampaikan kondisi lingkungan yang tak harmonis pada bait selanjutnya. Pada wirama III.4 ia menyatakan banyaknya bangunan yang telah rusak, saluran air yang telah tersumbat, tanaman yang tak lagi asri, termasuk keberingasan kumbang yang merusak dan menggugurkan bunga kemuning (akweh nyāśa huwus rusak sahananiŋ katutupan ndatan hili, maŋkāŋ bwat rawi sopacāra nika purwaka sama-sama tan kadiŋ lagi, tistis tan hana wurya-wuryaniŋ umampira ri nata-natar nikāsamun, kĕmbaŋ niŋ kemuniŋ ruru manarasah sumawur inupĕtiŋ madhubrata).

Mengapa kondisi-kondisi itu digambarkan Tanakung di dalam mahakaryanya yang konon ditujukan untuk sarana pemujaan pada Siwa? Memang, Zoetmulder (1985) pernah menyatakan bahwa dalam khazanah teks Jawa Kuno penggambaran alam ada kalanya didasari kemiripan alam dengan sifat manusiawi, sehingga mungkin saja penggambaran itu adalah simbol bagi manusia itu sendiri. Di sisi lain, kita tampaknya juga tak adil jika melupakan kodrat dasar manusia sebagai bagian dari ekosistem. Sehingga, dalam ranah kesastraan turut merekam kondisi lingkungan.

Sampai di sini, saya tak lagi dapat membaca, apalagi menafsir. Apakah kita terlampau senang beromantisme dengan hal abstrak hingga melupakan realitas? Masih pantaskah kita melakukan pemujaan ini dan itu sembari abai terhadap realitas lingkungan yang semakin rapuh? Danau yang tercemar, laut penuh sampah, hutan yang terbabat, dan kebakaran di sana-sini cukup bagi kita mengetuk kembali sisi kealaman manusia. Mungkin saya gagal menafsir, atau jangan-jangan saya gagal membaca. Semoga demikian. [T]

Tags: balihinduSiwaratri
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Next Post

Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Galungan Ngelawang Barong Bangkung, Imlek Ngelawang Barongsai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co