24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Rupa untuk Menyembuhkan Derita Bangsa

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
July 16, 2019
in Ulasan
Seni Rupa untuk Menyembuhkan Derita Bangsa

Cinta ibarat anggur.

Barang siapa meneguknya,

ia akan merasa semakin dahaga

– Jalaluddin Rumi


Kita baru saja melangsungkan bulan-bulan politik yang penuh dengan persaingan dan perseteruan antar kelompok. Tak jarang, perseteruan tersebut dibawa ke wilayah pribadi hingga memisahkan silaturahmi kita dengan kerabat, sahabat dan tetangga. Akibatnya, kita mengalami kebingungan karena tak adanya pedoman moral yang dapat dipercaya serta terluka secara mental akibat pertikaian yang dihayati terlalu dalam.

Keadaan tersebut memerlukan usaha mediasi secara politik di level elite, rekonsiliasi di level sosial, dan efisasi atau penyembuhan di level mental. Dalam rangka hal itu, sejumlah seniman mengajak masyarakat luas, baik profesional seni maupun masyarakat umum, untuk berpartisipasi dalam pameran seni rupa bertajuk Tanda Cinta yang akan diselengarakan di Parak Seni, Yogyakarta—sebuah ruang persemaian kultural yang dididirikan oleh pematung monumental Basrizal Albara. 

Pameran tersebut akan diikuti oleh para seniman berpengalaman yang memiliki keragaman teknik dan tematik, yaitu Basrizal Albara, Robert Nasrullah, Laksmi Shitaresmi, Ahmad Sobirin, Rismanto, Ampun Sutrisno, Nugroho, Watie Respati, Yaksa Agus dan Purwanto. Pameran akan dikuratori oleh penyair Faisal Kamandobat yang sehari-hari bekerja sebagai peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta. Pameran akan dibuka oleh pendiri dan direktur ArtJog, Heri Pemad dan dimeriahkan oleh pertunjukan musik dari Ikhlas Experience dan art performer Yakob Varame.

Di mata para seniman, cinta dapat menjadi wahana untuk menyembuhkan luka-luka batin bangsa akibat pertikaian yang tak berkesudahan. Tentu saja cinta tersebut bukan cinta layaknya di masa remaja, melainkan cinta yang telah digali lewat renungan yang mendalam serta dikembangkan secara kreatif ke dalam berbagai dimensi dan material artistik. Hasilnya adalah cinta yang memiliki makna kemanusiaan dan spiritual, melampaui perbedaan pilihan politik, kelompok sosial, ideologi dan agama.


Patung dari batu andesit karya Nugroho, Dancing

Di samping alasan kontekstual, tema cinta dipilih oleh para seniman karena memiliki kandungan pemikiran yang kaya dan dalam. Dalam sejarah seni, mungkin tak ada tema yang lebih populer dan langgeng sebagaimana cinta. Ia selalu menggoda para seniman dengan misteri yang tak habis-habis diurai, digambarkan dan diciptakan secara berkelanjutan. Ia ibarat buku yang tak habis dibaca karena selalu memberi makna sebanyak yang kita minta.

Dapat dikatakan bahwa misteri dan energi cinta adalah misteri dan energi umat manusia sendiri dengan wajah kehidupan yang dijalani—sebagaimana pernyataan sebagian mistikus dan filsuf. Jejaknya tak hanya ditemukan pada buku-buku, lukisan-lukisan, komposisi musik dan drama, melainkan juga pada batin setiap insan pada bentang berbagai peradaban.

Adam dan Hawa berani memakan buah terlarang mungkin karena mereka tahu buah itu merupakan kunci yang harus diambil untuk menemukan cinta. Dengan kata lain, demi cinta mereka rela kehilangan surga. Maka terjadilah: perkenalan mereka yang menggetarkan dengan nama-nama sebagai layar untuk mengenal dunia, perjumpaan kembali Adam dengan Hawa yang menggetarkan, tragedi perkawian anak-anak mereka sebagai muasal lahirnya konsep baik dan buruk, serta butiran keringat yang mengucur sebagai mata uang untuk ditukar kembali dengan firdaus yang hilang serta kesucian insani yang telah pudar.

Sejak itu, puisi-puisi ditulis dan dinyanyikan, kuil-kuil dibangun dan istana-istana didirikan sebagai pernyataan cinta. Manusia rindu pada surga yang telah hilang dan mencoba memperolehnya kembali lewat kerja keras sepanjang titian zaman. Bersama itu, lahir para seniman, pemikir, sultan dan ratu yang hidup sebagai bagian dari cinta. Kegelisaan mereka dalam mengalami cinta –perjumpaan dan perpisahan, kesetiaan dan pengkhianatan, kelahiran dan kematian—menjadi energi yang mendorong perkembangan sejarah manusia.


Lukisan karya Ahmad Sobirin, Mata Matahari

Pameran seni rupa Tanda Cinta merupakan usaha memenuhi panggilan arus kolosal di atas. Para seniman telah mengamati, menggambarkan dan mencipata ulang cinta; begitu dekat tetapi begitu gaib, begitu kuat tapi juga begitu lembut. Data-data objektif bisa ditemukan pada jutaan lembar mitologi dan etnografi, namun untuk menjadi daya kreatif, cinta tak cukup sekedar sebagai pemikiran atau hasil pengamatan, melainkan juga sebagai sebiah pengalaman, penghayatan dan pengorbanan. Hanya dengan itu cinta bisa menjadi jalan kembali menuju firdaus yang silam.

Dalam seni kontemporer—di mana butiran cahaya surga yang dipetik oleh para seniman tak hanya ditaruh di kuil dan museum—cinta telah menjelmakan dirinya ke dalam kreasi artistik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita tak perlu bersuci dan membayar tiket untuk mengenal aura lukisan-lukisan dan arca-arca; kisah cinta pun tak semata tentang roman para raja dan ratu serta brahmana dan kesatria, tetapi tentang cinta yang telah menjadi kebiasaan setiap insan—apapun latar belakang pekerjaan, jenis kelamin dan pendidikannya, masih-masing mendapat “jatah” cinta.

Dalam pameran ini, kita menemukan cinta yang purba pada paras bongkahan batu yang dipahat dengan teknik yang piawai, liukan pohon yang diserut demi menghasilkan unsur musikal, gambar perabot teknologi yang membawa gelombang hati pada getaran atom di udara, rumpun bunga yang menggeliat layaknya kobaran gairah, atau lambang tradisi yang mengajak kita mengingat kosmologi para moyang, serta wajah batu yang ditatah sebagai manifestasi pencarian spiritual. Begitulah cinta mengungkapkan dirinya pada beragam bentuk dan warna, rupa-rupa benda dan kandungan batinnya.


Lukisan karya Yaksa Agus, Great Memories

Dengan cara itulah cinta dalam seni kontemporer tak semata  wawasan yang dibayangkan layaknya karya seni di kuil-kuil dan museum-museum yang berisi kisah para dewa, melainkan cinta yang dapat dialami dan dihayati layaknya sepotong senyuman yang biasa kita jumpai namun tiba-tiba dapat menggetarkan hati. Para seniman telah mendedikasikan bakat, keringat dan waktunya untuk menebus surga yang jauh dan tinggi agar menjadi dekat dan membumi. Dan seperti yang kita saksikan, usaha yang mereka lakukan tidak sia-sia.

Demikian kami sampaikan gambaran dari pameran seni ripa Tanda Cinta. Sebuah kebahagiaan bagi kami atas partisipasi para sahabat media dan masyarakat secara umum sebagai usaha meningkatkan kesadaran kemanusiaan melalui medium seni dan kreativitas. [T]

Tags: PameranPameran Seni RupaSeniSeni RupaYogyakarta
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Desa Pujonkidul di Malang: Kembangkan Wisata Tani, Bumdes Kelola Kafe Sawah

Next Post

Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co