14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Rupa untuk Menyembuhkan Derita Bangsa

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
July 16, 2019
in Ulasan
Seni Rupa untuk Menyembuhkan Derita Bangsa

Cinta ibarat anggur.

Barang siapa meneguknya,

ia akan merasa semakin dahaga

– Jalaluddin Rumi


Kita baru saja melangsungkan bulan-bulan politik yang penuh dengan persaingan dan perseteruan antar kelompok. Tak jarang, perseteruan tersebut dibawa ke wilayah pribadi hingga memisahkan silaturahmi kita dengan kerabat, sahabat dan tetangga. Akibatnya, kita mengalami kebingungan karena tak adanya pedoman moral yang dapat dipercaya serta terluka secara mental akibat pertikaian yang dihayati terlalu dalam.

Keadaan tersebut memerlukan usaha mediasi secara politik di level elite, rekonsiliasi di level sosial, dan efisasi atau penyembuhan di level mental. Dalam rangka hal itu, sejumlah seniman mengajak masyarakat luas, baik profesional seni maupun masyarakat umum, untuk berpartisipasi dalam pameran seni rupa bertajuk Tanda Cinta yang akan diselengarakan di Parak Seni, Yogyakarta—sebuah ruang persemaian kultural yang dididirikan oleh pematung monumental Basrizal Albara. 

Pameran tersebut akan diikuti oleh para seniman berpengalaman yang memiliki keragaman teknik dan tematik, yaitu Basrizal Albara, Robert Nasrullah, Laksmi Shitaresmi, Ahmad Sobirin, Rismanto, Ampun Sutrisno, Nugroho, Watie Respati, Yaksa Agus dan Purwanto. Pameran akan dikuratori oleh penyair Faisal Kamandobat yang sehari-hari bekerja sebagai peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta. Pameran akan dibuka oleh pendiri dan direktur ArtJog, Heri Pemad dan dimeriahkan oleh pertunjukan musik dari Ikhlas Experience dan art performer Yakob Varame.

Di mata para seniman, cinta dapat menjadi wahana untuk menyembuhkan luka-luka batin bangsa akibat pertikaian yang tak berkesudahan. Tentu saja cinta tersebut bukan cinta layaknya di masa remaja, melainkan cinta yang telah digali lewat renungan yang mendalam serta dikembangkan secara kreatif ke dalam berbagai dimensi dan material artistik. Hasilnya adalah cinta yang memiliki makna kemanusiaan dan spiritual, melampaui perbedaan pilihan politik, kelompok sosial, ideologi dan agama.


Patung dari batu andesit karya Nugroho, Dancing

Di samping alasan kontekstual, tema cinta dipilih oleh para seniman karena memiliki kandungan pemikiran yang kaya dan dalam. Dalam sejarah seni, mungkin tak ada tema yang lebih populer dan langgeng sebagaimana cinta. Ia selalu menggoda para seniman dengan misteri yang tak habis-habis diurai, digambarkan dan diciptakan secara berkelanjutan. Ia ibarat buku yang tak habis dibaca karena selalu memberi makna sebanyak yang kita minta.

Dapat dikatakan bahwa misteri dan energi cinta adalah misteri dan energi umat manusia sendiri dengan wajah kehidupan yang dijalani—sebagaimana pernyataan sebagian mistikus dan filsuf. Jejaknya tak hanya ditemukan pada buku-buku, lukisan-lukisan, komposisi musik dan drama, melainkan juga pada batin setiap insan pada bentang berbagai peradaban.

Adam dan Hawa berani memakan buah terlarang mungkin karena mereka tahu buah itu merupakan kunci yang harus diambil untuk menemukan cinta. Dengan kata lain, demi cinta mereka rela kehilangan surga. Maka terjadilah: perkenalan mereka yang menggetarkan dengan nama-nama sebagai layar untuk mengenal dunia, perjumpaan kembali Adam dengan Hawa yang menggetarkan, tragedi perkawian anak-anak mereka sebagai muasal lahirnya konsep baik dan buruk, serta butiran keringat yang mengucur sebagai mata uang untuk ditukar kembali dengan firdaus yang hilang serta kesucian insani yang telah pudar.

Sejak itu, puisi-puisi ditulis dan dinyanyikan, kuil-kuil dibangun dan istana-istana didirikan sebagai pernyataan cinta. Manusia rindu pada surga yang telah hilang dan mencoba memperolehnya kembali lewat kerja keras sepanjang titian zaman. Bersama itu, lahir para seniman, pemikir, sultan dan ratu yang hidup sebagai bagian dari cinta. Kegelisaan mereka dalam mengalami cinta –perjumpaan dan perpisahan, kesetiaan dan pengkhianatan, kelahiran dan kematian—menjadi energi yang mendorong perkembangan sejarah manusia.


Lukisan karya Ahmad Sobirin, Mata Matahari

Pameran seni rupa Tanda Cinta merupakan usaha memenuhi panggilan arus kolosal di atas. Para seniman telah mengamati, menggambarkan dan mencipata ulang cinta; begitu dekat tetapi begitu gaib, begitu kuat tapi juga begitu lembut. Data-data objektif bisa ditemukan pada jutaan lembar mitologi dan etnografi, namun untuk menjadi daya kreatif, cinta tak cukup sekedar sebagai pemikiran atau hasil pengamatan, melainkan juga sebagai sebiah pengalaman, penghayatan dan pengorbanan. Hanya dengan itu cinta bisa menjadi jalan kembali menuju firdaus yang silam.

Dalam seni kontemporer—di mana butiran cahaya surga yang dipetik oleh para seniman tak hanya ditaruh di kuil dan museum—cinta telah menjelmakan dirinya ke dalam kreasi artistik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita tak perlu bersuci dan membayar tiket untuk mengenal aura lukisan-lukisan dan arca-arca; kisah cinta pun tak semata tentang roman para raja dan ratu serta brahmana dan kesatria, tetapi tentang cinta yang telah menjadi kebiasaan setiap insan—apapun latar belakang pekerjaan, jenis kelamin dan pendidikannya, masih-masing mendapat “jatah” cinta.

Dalam pameran ini, kita menemukan cinta yang purba pada paras bongkahan batu yang dipahat dengan teknik yang piawai, liukan pohon yang diserut demi menghasilkan unsur musikal, gambar perabot teknologi yang membawa gelombang hati pada getaran atom di udara, rumpun bunga yang menggeliat layaknya kobaran gairah, atau lambang tradisi yang mengajak kita mengingat kosmologi para moyang, serta wajah batu yang ditatah sebagai manifestasi pencarian spiritual. Begitulah cinta mengungkapkan dirinya pada beragam bentuk dan warna, rupa-rupa benda dan kandungan batinnya.


Lukisan karya Yaksa Agus, Great Memories

Dengan cara itulah cinta dalam seni kontemporer tak semata  wawasan yang dibayangkan layaknya karya seni di kuil-kuil dan museum-museum yang berisi kisah para dewa, melainkan cinta yang dapat dialami dan dihayati layaknya sepotong senyuman yang biasa kita jumpai namun tiba-tiba dapat menggetarkan hati. Para seniman telah mendedikasikan bakat, keringat dan waktunya untuk menebus surga yang jauh dan tinggi agar menjadi dekat dan membumi. Dan seperti yang kita saksikan, usaha yang mereka lakukan tidak sia-sia.

Demikian kami sampaikan gambaran dari pameran seni ripa Tanda Cinta. Sebuah kebahagiaan bagi kami atas partisipasi para sahabat media dan masyarakat secara umum sebagai usaha meningkatkan kesadaran kemanusiaan melalui medium seni dan kreativitas. [T]

Tags: PameranPameran Seni RupaSeniSeni RupaYogyakarta
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Desa Pujonkidul di Malang: Kembangkan Wisata Tani, Bumdes Kelola Kafe Sawah

Next Post

Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Buku “Suaka-Suaka Kearifan”, Terbit di Bali Menggugah Batin Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co