23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
June 2, 2019
in Esai
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Foto ilustrasi: FB/Polsek Kawasan Laut Gilimanuk

Pada masa pra-agrikultur, manusia mungkin tak mengenal istilah “pulang”, sesuatu yang berlalu sebagai sesuatu yang telah hilang. Tak ada tradisi untuk kembali. Barangkali mereka juga tak benar-benar memiliki masa lalu.

Dan, dengan tak memiliki masa lalu itu, mereka menjadi begitu tangguh. Tak ada tempat yang menyimpan kenangan. Tak ada tempat yang menyisakan romantika untuk diratapi kembali. Tak ada ruang sebagai sesuatu yang lampau dan membayang.

Satu tempat tak lebih sebagai batu loncatan ke tempat yang lain. Atau barangkali yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu banyak tempat, terlalu banyak masa lalu, tetapi jiwa petualang mereka enggan untuk berjalan kembali ke belakang, ke sebuah ruang yang bernama “pulang”.

Manusia berpindah dari satu tempat ke lain tempat, sesuai kondisi alam dan ketersediaan bahan pangan. Hidup berburu dan menjadi makhluk nomaden. Apa yang dimilikinya, benda-bendadari alam yang mungkin dianggapnya cukup berharga, sesekali ditinggalkan begitu saja bersamaan dengan ditinggalkannya tempat itu.

Tapi bukan sebagai penanda untuk tempat itu sendiri dan kelak akan dicarinya dan ditempatinya lagi, melainkan sebagai kenang-kenangan untuk yang datang ke tempat itu di hari kemudian. Untuk ditafsirnya akan jejak siapakah kiranya.

Atau, yang secara instingtif mulai sadar estetika, mereka membuat kenang-kenangan melalui susunan batu sehingga menimbulkan keindahan tertentu. Dekorasi alam, penyusunan tulangbelulang, senjata yang begitu sederhana, coretan-coretan di dinding gua berupa gambar mirip binatang atau gambar tangan sebagaimana yang ditinggalkan manusia dari Gua Lascaux. Itulah manusiadari zaman Paleolitikum yang sudah mengenal estetika. Salah satunya dari kebudayaan Abris sous roche. 

Meskipun sudahsadar estetika sebagaimana manusia dari kebudayaan Abris sous rochemereka tetaplah manusia nomaden, manusia yang berpindah-pindah dan tak mengenal pulang. Mereka tinggal di gua-gua untuk sementara waktu, untuk berlindung dari ganasnya musim atau hewan liar yang mungkin sulit ditaklukkan dan punya potensi membahayakan diri mereka.

Mereka tetap pergi, bukan pulang. Tapi dari persinggahan-persinggahan sementara, rumah hasil buatan alam yang dijadikan tempat temporer itu kesadaran manusia pada estetika mulai terbentuk, secara lebih praktis di kemudian waktu dikenal sebagai seni. Mulanya kesadaran itu hadir untuk mengisi waktu senggang dari aktivitas berburu, saat istirahat di gua-gua.

Dan, meskipun sudah sadar estetika—dalam bentuknya yang paling sederhana dan fungsinya sebagai pengisi waktu semata—mereka masih sebagaimana para pendahulunya sesama zaman batu yang belum sadar estetika, yaitu belum sadar “tradisi berumah”. Mereka pergi lagi ke lain tempat, selain meninggalkan kenang-kenangan estetik, juga meninggalkan sampah dapur atau kjokkenmoddingeruntuk yang datang belakangan.

Tapi waktu tak membiarkan semuanya tetap. Kawanan nomaden-pemburu dari era neolitikum, megalitikum,zaman logam, berevolusi menjadi manusia agrikultur setelah melewati waktu ribuan tahun. Seiring perjalanan waktu yang panjang itu pula mereka mulai mengenal peralatan yang lebih baik dari sebelumnya untuk menunjang tradisi dan cara hidup yang lebih baru, yaitu bertani.

Prinsip manusia pun kemudian berubah secara fundamental. Dari kaki-kaki petualang liar menjadi kaki-kaki jinak rumahan. Mereka berdiam di rumah karena ada hal yang mengikat, yaitu ladang dan tumbuhan-tumbuhan yang telah mereka tanam. Ataupun kalau mereka pergi kini mengenal istilah “pulang”. Sejauh bagaimanapun mereka beranjak, ada tempat yang selalu meminta untuk ditengok kembali.

Mereka terikat tempat yang dianggap sebagai masa lalu sekaligus masa depan. Tidak hanya secara fisik, jiwa manusia agrikultur menjadi berbeda dengan pendahulunya. Mereka terkekang dan mereka menjadi melankoli. Mereka bergantung pada musim dan berharap kebaikan alam. Bukan menghindariatau menantang alam, atau mencari alam yang lebih menguntungkan. 

Ketika masyarakat agrikultur semakin mapan—atau mungkin sampai puncaknya—sebagai ‘pencarian’ cara hidup manusia selama berabad-abad, ternyata agrikultur bukanlah pencarian terakhir manusia terhadap cara hidup itu sendiri. Usai melewati revolusi kognitif yang dimulai ribuan tahun sebelumnya, sampailah manusia pada revolusi industri sebagai imbas dari minat besar manusia pada sains yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan dari abad ke abad.

Cara hidup pun ikut berubah. Lebih kompleks dan lebih menggelisahkan ketimbang manusia pemburu yang cara hidupnya begitu sederhana dan tingkat kegelisahannya hanya datang saat-saat mendengarkan auman harimau atau melihat tanda-tanda badai besar akan terjadi.

Era agrikultur posisinya mulai berada di belakang. Industri yang terus tumbuh semakin hari semakin pesat membutuhkan banyak tenaga. Begitu banyak tenaga manusia yang diperlukan. Manusia berubah orientasi dari sektor pertanian ke industri—dalam masa yang tak terlalu jauh juga ke sektor jasa. Manusia menjual tenaga mereka, jasa mereka, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi pekerja.

Mereka berduyun-duyun dari kampung ke kota, dari satu kota ke kota lainnya. Mereka terpanggil oleh “cara hidup” zamannya. Mereka meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan pertanian mereka, menjual kota-kota pertanian mereka ke mahkluk raksasa yang bernama industri. Mereka mengembara ke wilayah-wilayah lain. Menetap dan tidak lagi nomaden seperti leluhurnya di zaman megalitikum, karena ada satu mangsa yang diburu dan tak ada habis-habisnya.

Hal ini berbeda berbeda dengan para nomaden-pemburu di zaman batu yang mangsa-buruannya lebih bersifat dinamis. Di satu tempat kijang bisa saja semakin mengecil populasinya atau tingkat bahaya suatu daerah begitu tinggi, mereka harus mencari tempat lain yang lebih memungkinkan.

Sedangkan model perburuan masyarakat industri tidak lagi demikian. Mereka tidak lagi memburu binatang yang melata dan berjalan di bumi, atau berenang di air dan terbang di udara—yang seiringnya waktu bisa saja punah karena terus dibunuh—melainkan memburu “cara hidup” itu sendiri.

Meskipun sama-sama pemburu, manusia zaman industri sama sekali berbeda dengan manusia zaman batu. Tapi tak benar-benar berbeda dengan manusia zaman agrikultur. Kota, desa, kampung halaman, rumah, yang sudah mereka tinggalkan demi sebuah “panggilan” cara hidup, ternyata tak benar-benar mereka tinggalkan.

Ritme kerja para pemburu di zaman industri yang begitu tinggi, kompleksitas hidup yang terus bertambah, perubahan-perubahan yang bersifat artifisial dan fundamental terjadi hampir setiap hari membuat mereka jengah karena watak mereka yang masih agrikultur, watak manusia rumahan yang begitu ramah.Mereka seperti tercerabut dari akarnya, dari sifat fundamentalnya manusia rumahan sebagaimana para leluhurnya yang masih murni berada di tradisi agrikultur.

Klimaksnya mereka mengalami alienasi dengan “cara hidup” yang ditemukan oleh zamannya. Seperti para leluhurnya di zaman agrikultur murni, mereka begitu melankoli dan romantik atas suatu tempat yang mereka sebut “tempat pertama.” Mereka selalu merasa terpanggil untuk kembali ke sana, untuk pulang, meski suara yang memanggilnya tak lebih berasal dari sesuatu yang ilusif sebagai efek dari alienasi itu sendiri.

Mereka masih mewarisi gen manusia agrikultur, yang selanjutnya tetap selalu merasa tak bersahabat dengan kehidupan yang dijalaninya beserta cara hidup itu sendiri. Lalu timbulpemberontakan terhadap realitas. Mereka membesar-besarkan masa lalu, kenangan dan tempat pertama. Lantas mereka melanjutkan tradisi pulang. Meski kepulangannya (sebagaimana kepergiannya) hanya demi menjalanisatu perasaan asing ke perasaan asing lainnya dalam dirinya.

Mereka merasa diri mereka berada di persimpangan “cara hidup” antara sebagai pemburu yang berpindah tempat dan menetap sementara di satu tempat sebagaimana leluhurnya di era Batu, dengan sebagai orang rumah yang selalu mengenal istilah pulang sebagaimana leluhurnya di era agrikultur. Mereka pulang dan pergi, antara berburu dan kembali ke tempat pertama, meskipun pada akhirnya dua aktivitas itu menjadi sesuatu yang sama-sama asing.

Selamat Mudik. Kembali ke udik, ke sisa reruntuhan eraagrikultur. [T]

Tags: desaIndustriLebaranmasyarakatmudik
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Next Post

Mbah

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Mbah

Mbah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co