24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemburu Kembali ke Rumah

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
June 2, 2019
in Esai
Para Pemburu Kembali ke Rumah

Foto ilustrasi: FB/Polsek Kawasan Laut Gilimanuk

Pada masa pra-agrikultur, manusia mungkin tak mengenal istilah “pulang”, sesuatu yang berlalu sebagai sesuatu yang telah hilang. Tak ada tradisi untuk kembali. Barangkali mereka juga tak benar-benar memiliki masa lalu.

Dan, dengan tak memiliki masa lalu itu, mereka menjadi begitu tangguh. Tak ada tempat yang menyimpan kenangan. Tak ada tempat yang menyisakan romantika untuk diratapi kembali. Tak ada ruang sebagai sesuatu yang lampau dan membayang.

Satu tempat tak lebih sebagai batu loncatan ke tempat yang lain. Atau barangkali yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu banyak tempat, terlalu banyak masa lalu, tetapi jiwa petualang mereka enggan untuk berjalan kembali ke belakang, ke sebuah ruang yang bernama “pulang”.

Manusia berpindah dari satu tempat ke lain tempat, sesuai kondisi alam dan ketersediaan bahan pangan. Hidup berburu dan menjadi makhluk nomaden. Apa yang dimilikinya, benda-bendadari alam yang mungkin dianggapnya cukup berharga, sesekali ditinggalkan begitu saja bersamaan dengan ditinggalkannya tempat itu.

Tapi bukan sebagai penanda untuk tempat itu sendiri dan kelak akan dicarinya dan ditempatinya lagi, melainkan sebagai kenang-kenangan untuk yang datang ke tempat itu di hari kemudian. Untuk ditafsirnya akan jejak siapakah kiranya.

Atau, yang secara instingtif mulai sadar estetika, mereka membuat kenang-kenangan melalui susunan batu sehingga menimbulkan keindahan tertentu. Dekorasi alam, penyusunan tulangbelulang, senjata yang begitu sederhana, coretan-coretan di dinding gua berupa gambar mirip binatang atau gambar tangan sebagaimana yang ditinggalkan manusia dari Gua Lascaux. Itulah manusiadari zaman Paleolitikum yang sudah mengenal estetika. Salah satunya dari kebudayaan Abris sous roche. 

Meskipun sudahsadar estetika sebagaimana manusia dari kebudayaan Abris sous rochemereka tetaplah manusia nomaden, manusia yang berpindah-pindah dan tak mengenal pulang. Mereka tinggal di gua-gua untuk sementara waktu, untuk berlindung dari ganasnya musim atau hewan liar yang mungkin sulit ditaklukkan dan punya potensi membahayakan diri mereka.

Mereka tetap pergi, bukan pulang. Tapi dari persinggahan-persinggahan sementara, rumah hasil buatan alam yang dijadikan tempat temporer itu kesadaran manusia pada estetika mulai terbentuk, secara lebih praktis di kemudian waktu dikenal sebagai seni. Mulanya kesadaran itu hadir untuk mengisi waktu senggang dari aktivitas berburu, saat istirahat di gua-gua.

Dan, meskipun sudah sadar estetika—dalam bentuknya yang paling sederhana dan fungsinya sebagai pengisi waktu semata—mereka masih sebagaimana para pendahulunya sesama zaman batu yang belum sadar estetika, yaitu belum sadar “tradisi berumah”. Mereka pergi lagi ke lain tempat, selain meninggalkan kenang-kenangan estetik, juga meninggalkan sampah dapur atau kjokkenmoddingeruntuk yang datang belakangan.

Tapi waktu tak membiarkan semuanya tetap. Kawanan nomaden-pemburu dari era neolitikum, megalitikum,zaman logam, berevolusi menjadi manusia agrikultur setelah melewati waktu ribuan tahun. Seiring perjalanan waktu yang panjang itu pula mereka mulai mengenal peralatan yang lebih baik dari sebelumnya untuk menunjang tradisi dan cara hidup yang lebih baru, yaitu bertani.

Prinsip manusia pun kemudian berubah secara fundamental. Dari kaki-kaki petualang liar menjadi kaki-kaki jinak rumahan. Mereka berdiam di rumah karena ada hal yang mengikat, yaitu ladang dan tumbuhan-tumbuhan yang telah mereka tanam. Ataupun kalau mereka pergi kini mengenal istilah “pulang”. Sejauh bagaimanapun mereka beranjak, ada tempat yang selalu meminta untuk ditengok kembali.

Mereka terikat tempat yang dianggap sebagai masa lalu sekaligus masa depan. Tidak hanya secara fisik, jiwa manusia agrikultur menjadi berbeda dengan pendahulunya. Mereka terkekang dan mereka menjadi melankoli. Mereka bergantung pada musim dan berharap kebaikan alam. Bukan menghindariatau menantang alam, atau mencari alam yang lebih menguntungkan. 

Ketika masyarakat agrikultur semakin mapan—atau mungkin sampai puncaknya—sebagai ‘pencarian’ cara hidup manusia selama berabad-abad, ternyata agrikultur bukanlah pencarian terakhir manusia terhadap cara hidup itu sendiri. Usai melewati revolusi kognitif yang dimulai ribuan tahun sebelumnya, sampailah manusia pada revolusi industri sebagai imbas dari minat besar manusia pada sains yang terus mengalami perkembangan dan kemajuan dari abad ke abad.

Cara hidup pun ikut berubah. Lebih kompleks dan lebih menggelisahkan ketimbang manusia pemburu yang cara hidupnya begitu sederhana dan tingkat kegelisahannya hanya datang saat-saat mendengarkan auman harimau atau melihat tanda-tanda badai besar akan terjadi.

Era agrikultur posisinya mulai berada di belakang. Industri yang terus tumbuh semakin hari semakin pesat membutuhkan banyak tenaga. Begitu banyak tenaga manusia yang diperlukan. Manusia berubah orientasi dari sektor pertanian ke industri—dalam masa yang tak terlalu jauh juga ke sektor jasa. Manusia menjual tenaga mereka, jasa mereka, menjadi buruh, menjadi kuli, menjadi pekerja.

Mereka berduyun-duyun dari kampung ke kota, dari satu kota ke kota lainnya. Mereka terpanggil oleh “cara hidup” zamannya. Mereka meninggalkan rumah, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan pertanian mereka, menjual kota-kota pertanian mereka ke mahkluk raksasa yang bernama industri. Mereka mengembara ke wilayah-wilayah lain. Menetap dan tidak lagi nomaden seperti leluhurnya di zaman megalitikum, karena ada satu mangsa yang diburu dan tak ada habis-habisnya.

Hal ini berbeda berbeda dengan para nomaden-pemburu di zaman batu yang mangsa-buruannya lebih bersifat dinamis. Di satu tempat kijang bisa saja semakin mengecil populasinya atau tingkat bahaya suatu daerah begitu tinggi, mereka harus mencari tempat lain yang lebih memungkinkan.

Sedangkan model perburuan masyarakat industri tidak lagi demikian. Mereka tidak lagi memburu binatang yang melata dan berjalan di bumi, atau berenang di air dan terbang di udara—yang seiringnya waktu bisa saja punah karena terus dibunuh—melainkan memburu “cara hidup” itu sendiri.

Meskipun sama-sama pemburu, manusia zaman industri sama sekali berbeda dengan manusia zaman batu. Tapi tak benar-benar berbeda dengan manusia zaman agrikultur. Kota, desa, kampung halaman, rumah, yang sudah mereka tinggalkan demi sebuah “panggilan” cara hidup, ternyata tak benar-benar mereka tinggalkan.

Ritme kerja para pemburu di zaman industri yang begitu tinggi, kompleksitas hidup yang terus bertambah, perubahan-perubahan yang bersifat artifisial dan fundamental terjadi hampir setiap hari membuat mereka jengah karena watak mereka yang masih agrikultur, watak manusia rumahan yang begitu ramah.Mereka seperti tercerabut dari akarnya, dari sifat fundamentalnya manusia rumahan sebagaimana para leluhurnya yang masih murni berada di tradisi agrikultur.

Klimaksnya mereka mengalami alienasi dengan “cara hidup” yang ditemukan oleh zamannya. Seperti para leluhurnya di zaman agrikultur murni, mereka begitu melankoli dan romantik atas suatu tempat yang mereka sebut “tempat pertama.” Mereka selalu merasa terpanggil untuk kembali ke sana, untuk pulang, meski suara yang memanggilnya tak lebih berasal dari sesuatu yang ilusif sebagai efek dari alienasi itu sendiri.

Mereka masih mewarisi gen manusia agrikultur, yang selanjutnya tetap selalu merasa tak bersahabat dengan kehidupan yang dijalaninya beserta cara hidup itu sendiri. Lalu timbulpemberontakan terhadap realitas. Mereka membesar-besarkan masa lalu, kenangan dan tempat pertama. Lantas mereka melanjutkan tradisi pulang. Meski kepulangannya (sebagaimana kepergiannya) hanya demi menjalanisatu perasaan asing ke perasaan asing lainnya dalam dirinya.

Mereka merasa diri mereka berada di persimpangan “cara hidup” antara sebagai pemburu yang berpindah tempat dan menetap sementara di satu tempat sebagaimana leluhurnya di era Batu, dengan sebagai orang rumah yang selalu mengenal istilah pulang sebagaimana leluhurnya di era agrikultur. Mereka pulang dan pergi, antara berburu dan kembali ke tempat pertama, meskipun pada akhirnya dua aktivitas itu menjadi sesuatu yang sama-sama asing.

Selamat Mudik. Kembali ke udik, ke sisa reruntuhan eraagrikultur. [T]

Tags: desaIndustriLebaranmasyarakatmudik
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Next Post

Mbah

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Mbah

Mbah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co