24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Hidayat by Hidayat
May 31, 2019
in Esai
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Ist

~Aku ditempatkan di pelosok desa, tapi aku lebih suka menempatkan diriku di gawai dan sosial media~  — Mahasiswa KKN


KKN itu biasa saja. KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang telah terpropaganda dalam “tri dharma perguruan tinggi”, pengabdian kepada masyarakat, yang sejatinya dilaksanakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya satu bulan alih-alih hanya untuk memberi kesan bahwa kuliah tidak pernah berjarak dengan masyarakat dan desa. Ah, itu biasa saja.

Dan kita (meski sebagian besar berasal dari desa) sebenarnya sangat berjarak dengan desa. Respon dan kesan pertama ketika menginjakkan kaki (observasi di desa) sebagian besar sangat negatif, bahkan kecewa.

Yang kita pertanyakan bukan bukan kekaguman atas desa dan kondisi masyarakat di sana, melainkan akses jalan, jarak dengan kota yang lengkap dengan persediaan kebutuhan isi perut, dan bagaimana kita mengandaikan hidup dengan keterbatasan dan persiapan-persiapan yang serba ribet.

Dan yang tak kalah hebatnya, serba-serbi KKN begitu riuh seperti perayaan apa saja. Lihat bagaimana tingkah kita dan teman-teman semua yang mengimani akun (katakanlah Instagram) sebelum KKN benar-benar dimulai, misalnya: “#kkndesa……”, #kknuniversitas…..”, yang mendadak ramai dengan unggahan foto-foto anggota dengan desain yang sedemikian ciamik.

Hadirnya fenomena tersebut hampir rata di seluruh Indonesia. Seolah itu adalah lomba menuju kebaikan demi memajukan nama unversitas. Di sana, pertanyaan-pertanyaan atas eksistensi mahasiswa KKN terjawab dengan tampilan-tampilan foto kegiatan yang manis dan menggugah semangat yang sama (saling adu unggah foto antar sesama mahasiswa KKN). Respon atas foto yang kemudian terunggah di media sosial merangsang hal yang sama.

Lihat bagaimana dan berapa banyak foto dan video yang muncul di feed/instastory, atau media sosial lainnya? Berapa banyak feed foto dan/atau video yang menampilkan hal-hal baik, membantu orang desa yang dibingkai dengan kata-kata yang menyentuh? Berapa banyak pemandangan ala desa yang telah kita lihat? Berapa banyak potret dan video senyum lebar bersama anak-anak kecil desa nan polos dan riang?

Hal-hal yang kemudian membuat kita menjadi makin mekanis, yang senyata-nyatanya kita amini sebagai hal yang wajar. Potret dalam gawai yang kemudian ditampilkan lewat media sosial menjadi suguhan wajib untuk sekedar mengabadikan moment, juga sebagai keharusan untuk terlihat ada. Kebersamaan terpampang di media sosial, mesra, lalu menguap setelahnya. Keberadaan dalam layar foto adalah pertanyaan bagi kita, sebenarnya kita mengabdikan diri untuk masyarakat desa atau gawai dan media sosial?

Dan KKN tak lebih dari sekedar persiapan hidup baru yang singkat dan biasa saja. Begitu mati-matian kita mempersiapkan hal-hal untuk memperlancar hal-hal yang sudah kita andaikan. Mempersiapkan mental baja bertemu orang baru, menguatkan hati berpisah dengan kekasih, ganti kartu perdana untuk kelancaran akses internet dan chating dengan kekasih, dan yang lebih parah, kita menganggap desa dengan sinisme berlebih. Menganggap desa dengan ketakwajaran.

Perilaku manja dan tidak biasa atas kehidupan di desa, biasa kita jumpai di ruang (Posko KKN) masing-masing. Keluhan demi keluhan adalah kawajaran bagi kita semua, karena di desa tidak semua bisa terpenuhi. Dan kemudian, demi kelancaran dan anggapan hidup yang normal sebagaimana di kota, semua harus terlihat sama. Sama, normal.

Dan KKN tak lebih sekedar pindah tempat tanpa perenungan yang dalam, pikiran kita masih terbelunggu oleh pikiran-pikiran khas ke-kota-kotaan yang hampir rata. Lihat bagaimana perilaku tingkah kawan kita mempertanyakan akses ke kota, mencari-cari supermarket, francais, toko-toko besar untuk memenuhi kebutuhan atas perut yang mengidam-idamkan snack dan berdamai dengan sepi dan segala keterbatasan di desa. Manja memang. Dan itu adalah sebenar-benarnya cerminan atas hidup kita semua.

Dan yang kemudian kita syukuri adalah kerja bersama yang dijalani lewat proker maupun ajakan dari perangkat dan atau masyarakat desa. Namun, kita kadang kurang ikhlas, alih-alih untuk mengisi waktu luang agar terlihat tidak berjarak dengan masyarakat desa. Menjalani program kerja tak lebih hanya sekedar formalitas belaka.

Ajaran serba instan yang dianut manusia kekinian adalah kewajaran yang diyakini sebagai iman kolektif. Kesepakatan dibangun atas dasar yang sama. Yang berbeda dan tidak meyakini iman kolektif dianggap tak wajar, tak normal. Dan semua kegiatan harus dilakukan bersama, alih-alih untuk menutupi malu dan dianggap kompak. Sehingga masyarakat desa tak seluruhnya tersentuh atas keberadaan mahasiswa KKN.

Yang tak kalah menarik adalah bagaimana teman-teman kita merespon hal-hal seksis sebagai kewajaran dan hiburan belaka. Wajar, setiap manusia memiliki hasrat atas seks. Adalah bagaimana teman laki-laki kita merayu perempuan atas dasar kesepian karena jauh dari kekasihnya, adalah bagaimana kawan laki-laki kita meminta perempuan untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman seks, dan sekali lagi, untuk bahan hiburan dan tertawa kolektif. Dan ini tentu masalah serius, tentang tumbuh suburnya budaya patriarki di tengah-tengah kaum inteltual sekalipun.

Kita, sebagaimana manusia normal mencemaskan hal-hal yang dirasa tidak normal. Adalah bagaimana respon kita terhadap kebiasan-kebiasan normal yang kita jalani. Misalnya mandi. Kita tidak mengingkari mandi, tapi kita ketakutan mandi dengan air yang agak keruh. Makan yang dijalani pada hidup sehari-hari di kota akan berbeda dengan kebiasaan makan di KKN. Kita tetap butuh tambahan makan karena KKN hanya menjamin sedikitnya 3 kali makan atas kesepakatan bersama. Lalu kita mencari-cari makanan tambahan tanpa perenungan panjang akan keuangan.

Dan kita seoalah tidak dapat mengenali tubuh atas bagaimana menempatkan diri pada ruang baru bernama desa. Adaptasi demi adaptasi menjadi perenungan yang biasa. Tak ada perenungan yang mendalam atas sakit yang menimpa, tak ada obrolan serius tentang bagaimana kondisi desa dan cara-cara paling efektif membangun.

KKN itu biasa saja. Adalah hal wajar bagaimana teman-teman KKN tidak menjamin pemikiran yang akrab dan sama. Lalu kemudian yang terjadi adalah bagaimana salah seorang dari kelompok KKN mencoba keluar dan mencari teman-teman baru yang lebih mendukung atas pemikiran yang akrab dengan keseharian dan hobi yang sama.

Dan kemudian yang kita pikirkan adalah fokus bagaimana KKN cepat selesai sesegera mungkin, tanpa mempertimbangkan bagaimana mengakrabkan diri dengan masyarakat. Dan pikiran-pikiran yang serba cepat itu adalah hasil konsumsi instan atas kemampuan berfikir yang pendek.

Kemudian yang ditakutkan adalah bagaimana KKN menjelma menjadi Kuliah Kerja Nyata yang mekanis. Dan pencapaian-pencapaian yang selama ini diharapkan dan dikerjakan senyata-nyatanya hanya sekedar pemuas agenda akademik. Dan ini tentu akan menjadi kekhawatiran bagaimana KKN kemudian tidak mencapai atas apa yang menjadi pengharapan propaganda tri dharma perguruan tinggi.

Atas waktu KKN yang singkat (katakanlah 1 bulan), apakah bisa menjamin kerja yang sadar? Nyatanya, KKN itu biasa saja. Atas hal-hal yang kita alami, kita tidak mengingkari apa-apa, selain menggerutu dan sinis. [T]

Tags: desakampusKKNmahasiswa
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Next Post

Satu Juni & Misteri Waktu

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Satu Juni & Misteri Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co