6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Hidayat by Hidayat
May 31, 2019
in Esai
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Ist

~Aku ditempatkan di pelosok desa, tapi aku lebih suka menempatkan diriku di gawai dan sosial media~  — Mahasiswa KKN


KKN itu biasa saja. KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang telah terpropaganda dalam “tri dharma perguruan tinggi”, pengabdian kepada masyarakat, yang sejatinya dilaksanakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya satu bulan alih-alih hanya untuk memberi kesan bahwa kuliah tidak pernah berjarak dengan masyarakat dan desa. Ah, itu biasa saja.

Dan kita (meski sebagian besar berasal dari desa) sebenarnya sangat berjarak dengan desa. Respon dan kesan pertama ketika menginjakkan kaki (observasi di desa) sebagian besar sangat negatif, bahkan kecewa.

Yang kita pertanyakan bukan bukan kekaguman atas desa dan kondisi masyarakat di sana, melainkan akses jalan, jarak dengan kota yang lengkap dengan persediaan kebutuhan isi perut, dan bagaimana kita mengandaikan hidup dengan keterbatasan dan persiapan-persiapan yang serba ribet.

Dan yang tak kalah hebatnya, serba-serbi KKN begitu riuh seperti perayaan apa saja. Lihat bagaimana tingkah kita dan teman-teman semua yang mengimani akun (katakanlah Instagram) sebelum KKN benar-benar dimulai, misalnya: “#kkndesa……”, #kknuniversitas…..”, yang mendadak ramai dengan unggahan foto-foto anggota dengan desain yang sedemikian ciamik.

Hadirnya fenomena tersebut hampir rata di seluruh Indonesia. Seolah itu adalah lomba menuju kebaikan demi memajukan nama unversitas. Di sana, pertanyaan-pertanyaan atas eksistensi mahasiswa KKN terjawab dengan tampilan-tampilan foto kegiatan yang manis dan menggugah semangat yang sama (saling adu unggah foto antar sesama mahasiswa KKN). Respon atas foto yang kemudian terunggah di media sosial merangsang hal yang sama.

Lihat bagaimana dan berapa banyak foto dan video yang muncul di feed/instastory, atau media sosial lainnya? Berapa banyak feed foto dan/atau video yang menampilkan hal-hal baik, membantu orang desa yang dibingkai dengan kata-kata yang menyentuh? Berapa banyak pemandangan ala desa yang telah kita lihat? Berapa banyak potret dan video senyum lebar bersama anak-anak kecil desa nan polos dan riang?

Hal-hal yang kemudian membuat kita menjadi makin mekanis, yang senyata-nyatanya kita amini sebagai hal yang wajar. Potret dalam gawai yang kemudian ditampilkan lewat media sosial menjadi suguhan wajib untuk sekedar mengabadikan moment, juga sebagai keharusan untuk terlihat ada. Kebersamaan terpampang di media sosial, mesra, lalu menguap setelahnya. Keberadaan dalam layar foto adalah pertanyaan bagi kita, sebenarnya kita mengabdikan diri untuk masyarakat desa atau gawai dan media sosial?

Dan KKN tak lebih dari sekedar persiapan hidup baru yang singkat dan biasa saja. Begitu mati-matian kita mempersiapkan hal-hal untuk memperlancar hal-hal yang sudah kita andaikan. Mempersiapkan mental baja bertemu orang baru, menguatkan hati berpisah dengan kekasih, ganti kartu perdana untuk kelancaran akses internet dan chating dengan kekasih, dan yang lebih parah, kita menganggap desa dengan sinisme berlebih. Menganggap desa dengan ketakwajaran.

Perilaku manja dan tidak biasa atas kehidupan di desa, biasa kita jumpai di ruang (Posko KKN) masing-masing. Keluhan demi keluhan adalah kawajaran bagi kita semua, karena di desa tidak semua bisa terpenuhi. Dan kemudian, demi kelancaran dan anggapan hidup yang normal sebagaimana di kota, semua harus terlihat sama. Sama, normal.

Dan KKN tak lebih sekedar pindah tempat tanpa perenungan yang dalam, pikiran kita masih terbelunggu oleh pikiran-pikiran khas ke-kota-kotaan yang hampir rata. Lihat bagaimana perilaku tingkah kawan kita mempertanyakan akses ke kota, mencari-cari supermarket, francais, toko-toko besar untuk memenuhi kebutuhan atas perut yang mengidam-idamkan snack dan berdamai dengan sepi dan segala keterbatasan di desa. Manja memang. Dan itu adalah sebenar-benarnya cerminan atas hidup kita semua.

Dan yang kemudian kita syukuri adalah kerja bersama yang dijalani lewat proker maupun ajakan dari perangkat dan atau masyarakat desa. Namun, kita kadang kurang ikhlas, alih-alih untuk mengisi waktu luang agar terlihat tidak berjarak dengan masyarakat desa. Menjalani program kerja tak lebih hanya sekedar formalitas belaka.

Ajaran serba instan yang dianut manusia kekinian adalah kewajaran yang diyakini sebagai iman kolektif. Kesepakatan dibangun atas dasar yang sama. Yang berbeda dan tidak meyakini iman kolektif dianggap tak wajar, tak normal. Dan semua kegiatan harus dilakukan bersama, alih-alih untuk menutupi malu dan dianggap kompak. Sehingga masyarakat desa tak seluruhnya tersentuh atas keberadaan mahasiswa KKN.

Yang tak kalah menarik adalah bagaimana teman-teman kita merespon hal-hal seksis sebagai kewajaran dan hiburan belaka. Wajar, setiap manusia memiliki hasrat atas seks. Adalah bagaimana teman laki-laki kita merayu perempuan atas dasar kesepian karena jauh dari kekasihnya, adalah bagaimana kawan laki-laki kita meminta perempuan untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman seks, dan sekali lagi, untuk bahan hiburan dan tertawa kolektif. Dan ini tentu masalah serius, tentang tumbuh suburnya budaya patriarki di tengah-tengah kaum inteltual sekalipun.

Kita, sebagaimana manusia normal mencemaskan hal-hal yang dirasa tidak normal. Adalah bagaimana respon kita terhadap kebiasan-kebiasan normal yang kita jalani. Misalnya mandi. Kita tidak mengingkari mandi, tapi kita ketakutan mandi dengan air yang agak keruh. Makan yang dijalani pada hidup sehari-hari di kota akan berbeda dengan kebiasaan makan di KKN. Kita tetap butuh tambahan makan karena KKN hanya menjamin sedikitnya 3 kali makan atas kesepakatan bersama. Lalu kita mencari-cari makanan tambahan tanpa perenungan panjang akan keuangan.

Dan kita seoalah tidak dapat mengenali tubuh atas bagaimana menempatkan diri pada ruang baru bernama desa. Adaptasi demi adaptasi menjadi perenungan yang biasa. Tak ada perenungan yang mendalam atas sakit yang menimpa, tak ada obrolan serius tentang bagaimana kondisi desa dan cara-cara paling efektif membangun.

KKN itu biasa saja. Adalah hal wajar bagaimana teman-teman KKN tidak menjamin pemikiran yang akrab dan sama. Lalu kemudian yang terjadi adalah bagaimana salah seorang dari kelompok KKN mencoba keluar dan mencari teman-teman baru yang lebih mendukung atas pemikiran yang akrab dengan keseharian dan hobi yang sama.

Dan kemudian yang kita pikirkan adalah fokus bagaimana KKN cepat selesai sesegera mungkin, tanpa mempertimbangkan bagaimana mengakrabkan diri dengan masyarakat. Dan pikiran-pikiran yang serba cepat itu adalah hasil konsumsi instan atas kemampuan berfikir yang pendek.

Kemudian yang ditakutkan adalah bagaimana KKN menjelma menjadi Kuliah Kerja Nyata yang mekanis. Dan pencapaian-pencapaian yang selama ini diharapkan dan dikerjakan senyata-nyatanya hanya sekedar pemuas agenda akademik. Dan ini tentu akan menjadi kekhawatiran bagaimana KKN kemudian tidak mencapai atas apa yang menjadi pengharapan propaganda tri dharma perguruan tinggi.

Atas waktu KKN yang singkat (katakanlah 1 bulan), apakah bisa menjamin kerja yang sadar? Nyatanya, KKN itu biasa saja. Atas hal-hal yang kita alami, kita tidak mengingkari apa-apa, selain menggerutu dan sinis. [T]

Tags: desakampusKKNmahasiswa
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Next Post

Satu Juni & Misteri Waktu

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Satu Juni & Misteri Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co