2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Hidayat by Hidayat
May 31, 2019
in Esai
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Ist

~Aku ditempatkan di pelosok desa, tapi aku lebih suka menempatkan diriku di gawai dan sosial media~  — Mahasiswa KKN


KKN itu biasa saja. KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang telah terpropaganda dalam “tri dharma perguruan tinggi”, pengabdian kepada masyarakat, yang sejatinya dilaksanakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya satu bulan alih-alih hanya untuk memberi kesan bahwa kuliah tidak pernah berjarak dengan masyarakat dan desa. Ah, itu biasa saja.

Dan kita (meski sebagian besar berasal dari desa) sebenarnya sangat berjarak dengan desa. Respon dan kesan pertama ketika menginjakkan kaki (observasi di desa) sebagian besar sangat negatif, bahkan kecewa.

Yang kita pertanyakan bukan bukan kekaguman atas desa dan kondisi masyarakat di sana, melainkan akses jalan, jarak dengan kota yang lengkap dengan persediaan kebutuhan isi perut, dan bagaimana kita mengandaikan hidup dengan keterbatasan dan persiapan-persiapan yang serba ribet.

Dan yang tak kalah hebatnya, serba-serbi KKN begitu riuh seperti perayaan apa saja. Lihat bagaimana tingkah kita dan teman-teman semua yang mengimani akun (katakanlah Instagram) sebelum KKN benar-benar dimulai, misalnya: “#kkndesa……”, #kknuniversitas…..”, yang mendadak ramai dengan unggahan foto-foto anggota dengan desain yang sedemikian ciamik.

Hadirnya fenomena tersebut hampir rata di seluruh Indonesia. Seolah itu adalah lomba menuju kebaikan demi memajukan nama unversitas. Di sana, pertanyaan-pertanyaan atas eksistensi mahasiswa KKN terjawab dengan tampilan-tampilan foto kegiatan yang manis dan menggugah semangat yang sama (saling adu unggah foto antar sesama mahasiswa KKN). Respon atas foto yang kemudian terunggah di media sosial merangsang hal yang sama.

Lihat bagaimana dan berapa banyak foto dan video yang muncul di feed/instastory, atau media sosial lainnya? Berapa banyak feed foto dan/atau video yang menampilkan hal-hal baik, membantu orang desa yang dibingkai dengan kata-kata yang menyentuh? Berapa banyak pemandangan ala desa yang telah kita lihat? Berapa banyak potret dan video senyum lebar bersama anak-anak kecil desa nan polos dan riang?

Hal-hal yang kemudian membuat kita menjadi makin mekanis, yang senyata-nyatanya kita amini sebagai hal yang wajar. Potret dalam gawai yang kemudian ditampilkan lewat media sosial menjadi suguhan wajib untuk sekedar mengabadikan moment, juga sebagai keharusan untuk terlihat ada. Kebersamaan terpampang di media sosial, mesra, lalu menguap setelahnya. Keberadaan dalam layar foto adalah pertanyaan bagi kita, sebenarnya kita mengabdikan diri untuk masyarakat desa atau gawai dan media sosial?

Dan KKN tak lebih dari sekedar persiapan hidup baru yang singkat dan biasa saja. Begitu mati-matian kita mempersiapkan hal-hal untuk memperlancar hal-hal yang sudah kita andaikan. Mempersiapkan mental baja bertemu orang baru, menguatkan hati berpisah dengan kekasih, ganti kartu perdana untuk kelancaran akses internet dan chating dengan kekasih, dan yang lebih parah, kita menganggap desa dengan sinisme berlebih. Menganggap desa dengan ketakwajaran.

Perilaku manja dan tidak biasa atas kehidupan di desa, biasa kita jumpai di ruang (Posko KKN) masing-masing. Keluhan demi keluhan adalah kawajaran bagi kita semua, karena di desa tidak semua bisa terpenuhi. Dan kemudian, demi kelancaran dan anggapan hidup yang normal sebagaimana di kota, semua harus terlihat sama. Sama, normal.

Dan KKN tak lebih sekedar pindah tempat tanpa perenungan yang dalam, pikiran kita masih terbelunggu oleh pikiran-pikiran khas ke-kota-kotaan yang hampir rata. Lihat bagaimana perilaku tingkah kawan kita mempertanyakan akses ke kota, mencari-cari supermarket, francais, toko-toko besar untuk memenuhi kebutuhan atas perut yang mengidam-idamkan snack dan berdamai dengan sepi dan segala keterbatasan di desa. Manja memang. Dan itu adalah sebenar-benarnya cerminan atas hidup kita semua.

Dan yang kemudian kita syukuri adalah kerja bersama yang dijalani lewat proker maupun ajakan dari perangkat dan atau masyarakat desa. Namun, kita kadang kurang ikhlas, alih-alih untuk mengisi waktu luang agar terlihat tidak berjarak dengan masyarakat desa. Menjalani program kerja tak lebih hanya sekedar formalitas belaka.

Ajaran serba instan yang dianut manusia kekinian adalah kewajaran yang diyakini sebagai iman kolektif. Kesepakatan dibangun atas dasar yang sama. Yang berbeda dan tidak meyakini iman kolektif dianggap tak wajar, tak normal. Dan semua kegiatan harus dilakukan bersama, alih-alih untuk menutupi malu dan dianggap kompak. Sehingga masyarakat desa tak seluruhnya tersentuh atas keberadaan mahasiswa KKN.

Yang tak kalah menarik adalah bagaimana teman-teman kita merespon hal-hal seksis sebagai kewajaran dan hiburan belaka. Wajar, setiap manusia memiliki hasrat atas seks. Adalah bagaimana teman laki-laki kita merayu perempuan atas dasar kesepian karena jauh dari kekasihnya, adalah bagaimana kawan laki-laki kita meminta perempuan untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman seks, dan sekali lagi, untuk bahan hiburan dan tertawa kolektif. Dan ini tentu masalah serius, tentang tumbuh suburnya budaya patriarki di tengah-tengah kaum inteltual sekalipun.

Kita, sebagaimana manusia normal mencemaskan hal-hal yang dirasa tidak normal. Adalah bagaimana respon kita terhadap kebiasan-kebiasan normal yang kita jalani. Misalnya mandi. Kita tidak mengingkari mandi, tapi kita ketakutan mandi dengan air yang agak keruh. Makan yang dijalani pada hidup sehari-hari di kota akan berbeda dengan kebiasaan makan di KKN. Kita tetap butuh tambahan makan karena KKN hanya menjamin sedikitnya 3 kali makan atas kesepakatan bersama. Lalu kita mencari-cari makanan tambahan tanpa perenungan panjang akan keuangan.

Dan kita seoalah tidak dapat mengenali tubuh atas bagaimana menempatkan diri pada ruang baru bernama desa. Adaptasi demi adaptasi menjadi perenungan yang biasa. Tak ada perenungan yang mendalam atas sakit yang menimpa, tak ada obrolan serius tentang bagaimana kondisi desa dan cara-cara paling efektif membangun.

KKN itu biasa saja. Adalah hal wajar bagaimana teman-teman KKN tidak menjamin pemikiran yang akrab dan sama. Lalu kemudian yang terjadi adalah bagaimana salah seorang dari kelompok KKN mencoba keluar dan mencari teman-teman baru yang lebih mendukung atas pemikiran yang akrab dengan keseharian dan hobi yang sama.

Dan kemudian yang kita pikirkan adalah fokus bagaimana KKN cepat selesai sesegera mungkin, tanpa mempertimbangkan bagaimana mengakrabkan diri dengan masyarakat. Dan pikiran-pikiran yang serba cepat itu adalah hasil konsumsi instan atas kemampuan berfikir yang pendek.

Kemudian yang ditakutkan adalah bagaimana KKN menjelma menjadi Kuliah Kerja Nyata yang mekanis. Dan pencapaian-pencapaian yang selama ini diharapkan dan dikerjakan senyata-nyatanya hanya sekedar pemuas agenda akademik. Dan ini tentu akan menjadi kekhawatiran bagaimana KKN kemudian tidak mencapai atas apa yang menjadi pengharapan propaganda tri dharma perguruan tinggi.

Atas waktu KKN yang singkat (katakanlah 1 bulan), apakah bisa menjamin kerja yang sadar? Nyatanya, KKN itu biasa saja. Atas hal-hal yang kita alami, kita tidak mengingkari apa-apa, selain menggerutu dan sinis. [T]

Tags: desakampusKKNmahasiswa
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Next Post

Satu Juni & Misteri Waktu

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Satu Juni & Misteri Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co