25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Hidayat by Hidayat
May 31, 2019
in Esai
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Ist

~Aku ditempatkan di pelosok desa, tapi aku lebih suka menempatkan diriku di gawai dan sosial media~  — Mahasiswa KKN


KKN itu biasa saja. KKN (Kuliah Kerja Nyata), yang telah terpropaganda dalam “tri dharma perguruan tinggi”, pengabdian kepada masyarakat, yang sejatinya dilaksanakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya satu bulan alih-alih hanya untuk memberi kesan bahwa kuliah tidak pernah berjarak dengan masyarakat dan desa. Ah, itu biasa saja.

Dan kita (meski sebagian besar berasal dari desa) sebenarnya sangat berjarak dengan desa. Respon dan kesan pertama ketika menginjakkan kaki (observasi di desa) sebagian besar sangat negatif, bahkan kecewa.

Yang kita pertanyakan bukan bukan kekaguman atas desa dan kondisi masyarakat di sana, melainkan akses jalan, jarak dengan kota yang lengkap dengan persediaan kebutuhan isi perut, dan bagaimana kita mengandaikan hidup dengan keterbatasan dan persiapan-persiapan yang serba ribet.

Dan yang tak kalah hebatnya, serba-serbi KKN begitu riuh seperti perayaan apa saja. Lihat bagaimana tingkah kita dan teman-teman semua yang mengimani akun (katakanlah Instagram) sebelum KKN benar-benar dimulai, misalnya: “#kkndesa……”, #kknuniversitas…..”, yang mendadak ramai dengan unggahan foto-foto anggota dengan desain yang sedemikian ciamik.

Hadirnya fenomena tersebut hampir rata di seluruh Indonesia. Seolah itu adalah lomba menuju kebaikan demi memajukan nama unversitas. Di sana, pertanyaan-pertanyaan atas eksistensi mahasiswa KKN terjawab dengan tampilan-tampilan foto kegiatan yang manis dan menggugah semangat yang sama (saling adu unggah foto antar sesama mahasiswa KKN). Respon atas foto yang kemudian terunggah di media sosial merangsang hal yang sama.

Lihat bagaimana dan berapa banyak foto dan video yang muncul di feed/instastory, atau media sosial lainnya? Berapa banyak feed foto dan/atau video yang menampilkan hal-hal baik, membantu orang desa yang dibingkai dengan kata-kata yang menyentuh? Berapa banyak pemandangan ala desa yang telah kita lihat? Berapa banyak potret dan video senyum lebar bersama anak-anak kecil desa nan polos dan riang?

Hal-hal yang kemudian membuat kita menjadi makin mekanis, yang senyata-nyatanya kita amini sebagai hal yang wajar. Potret dalam gawai yang kemudian ditampilkan lewat media sosial menjadi suguhan wajib untuk sekedar mengabadikan moment, juga sebagai keharusan untuk terlihat ada. Kebersamaan terpampang di media sosial, mesra, lalu menguap setelahnya. Keberadaan dalam layar foto adalah pertanyaan bagi kita, sebenarnya kita mengabdikan diri untuk masyarakat desa atau gawai dan media sosial?

Dan KKN tak lebih dari sekedar persiapan hidup baru yang singkat dan biasa saja. Begitu mati-matian kita mempersiapkan hal-hal untuk memperlancar hal-hal yang sudah kita andaikan. Mempersiapkan mental baja bertemu orang baru, menguatkan hati berpisah dengan kekasih, ganti kartu perdana untuk kelancaran akses internet dan chating dengan kekasih, dan yang lebih parah, kita menganggap desa dengan sinisme berlebih. Menganggap desa dengan ketakwajaran.

Perilaku manja dan tidak biasa atas kehidupan di desa, biasa kita jumpai di ruang (Posko KKN) masing-masing. Keluhan demi keluhan adalah kawajaran bagi kita semua, karena di desa tidak semua bisa terpenuhi. Dan kemudian, demi kelancaran dan anggapan hidup yang normal sebagaimana di kota, semua harus terlihat sama. Sama, normal.

Dan KKN tak lebih sekedar pindah tempat tanpa perenungan yang dalam, pikiran kita masih terbelunggu oleh pikiran-pikiran khas ke-kota-kotaan yang hampir rata. Lihat bagaimana perilaku tingkah kawan kita mempertanyakan akses ke kota, mencari-cari supermarket, francais, toko-toko besar untuk memenuhi kebutuhan atas perut yang mengidam-idamkan snack dan berdamai dengan sepi dan segala keterbatasan di desa. Manja memang. Dan itu adalah sebenar-benarnya cerminan atas hidup kita semua.

Dan yang kemudian kita syukuri adalah kerja bersama yang dijalani lewat proker maupun ajakan dari perangkat dan atau masyarakat desa. Namun, kita kadang kurang ikhlas, alih-alih untuk mengisi waktu luang agar terlihat tidak berjarak dengan masyarakat desa. Menjalani program kerja tak lebih hanya sekedar formalitas belaka.

Ajaran serba instan yang dianut manusia kekinian adalah kewajaran yang diyakini sebagai iman kolektif. Kesepakatan dibangun atas dasar yang sama. Yang berbeda dan tidak meyakini iman kolektif dianggap tak wajar, tak normal. Dan semua kegiatan harus dilakukan bersama, alih-alih untuk menutupi malu dan dianggap kompak. Sehingga masyarakat desa tak seluruhnya tersentuh atas keberadaan mahasiswa KKN.

Yang tak kalah menarik adalah bagaimana teman-teman kita merespon hal-hal seksis sebagai kewajaran dan hiburan belaka. Wajar, setiap manusia memiliki hasrat atas seks. Adalah bagaimana teman laki-laki kita merayu perempuan atas dasar kesepian karena jauh dari kekasihnya, adalah bagaimana kawan laki-laki kita meminta perempuan untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman seks, dan sekali lagi, untuk bahan hiburan dan tertawa kolektif. Dan ini tentu masalah serius, tentang tumbuh suburnya budaya patriarki di tengah-tengah kaum inteltual sekalipun.

Kita, sebagaimana manusia normal mencemaskan hal-hal yang dirasa tidak normal. Adalah bagaimana respon kita terhadap kebiasan-kebiasan normal yang kita jalani. Misalnya mandi. Kita tidak mengingkari mandi, tapi kita ketakutan mandi dengan air yang agak keruh. Makan yang dijalani pada hidup sehari-hari di kota akan berbeda dengan kebiasaan makan di KKN. Kita tetap butuh tambahan makan karena KKN hanya menjamin sedikitnya 3 kali makan atas kesepakatan bersama. Lalu kita mencari-cari makanan tambahan tanpa perenungan panjang akan keuangan.

Dan kita seoalah tidak dapat mengenali tubuh atas bagaimana menempatkan diri pada ruang baru bernama desa. Adaptasi demi adaptasi menjadi perenungan yang biasa. Tak ada perenungan yang mendalam atas sakit yang menimpa, tak ada obrolan serius tentang bagaimana kondisi desa dan cara-cara paling efektif membangun.

KKN itu biasa saja. Adalah hal wajar bagaimana teman-teman KKN tidak menjamin pemikiran yang akrab dan sama. Lalu kemudian yang terjadi adalah bagaimana salah seorang dari kelompok KKN mencoba keluar dan mencari teman-teman baru yang lebih mendukung atas pemikiran yang akrab dengan keseharian dan hobi yang sama.

Dan kemudian yang kita pikirkan adalah fokus bagaimana KKN cepat selesai sesegera mungkin, tanpa mempertimbangkan bagaimana mengakrabkan diri dengan masyarakat. Dan pikiran-pikiran yang serba cepat itu adalah hasil konsumsi instan atas kemampuan berfikir yang pendek.

Kemudian yang ditakutkan adalah bagaimana KKN menjelma menjadi Kuliah Kerja Nyata yang mekanis. Dan pencapaian-pencapaian yang selama ini diharapkan dan dikerjakan senyata-nyatanya hanya sekedar pemuas agenda akademik. Dan ini tentu akan menjadi kekhawatiran bagaimana KKN kemudian tidak mencapai atas apa yang menjadi pengharapan propaganda tri dharma perguruan tinggi.

Atas waktu KKN yang singkat (katakanlah 1 bulan), apakah bisa menjamin kerja yang sadar? Nyatanya, KKN itu biasa saja. Atas hal-hal yang kita alami, kita tidak mengingkari apa-apa, selain menggerutu dan sinis. [T]

Tags: desakampusKKNmahasiswa
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Next Post

Satu Juni & Misteri Waktu

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Satu Juni & Misteri Waktu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co