2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
May 31, 2019
in Esai
Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Foto: Dok Penulis

Muda, bebas, dan penuh ambisi, mungkin demikian saya menggambarkan diri ketika mengenyam pendidikan baik di bangku sarjana dan setelahnya.


Seperti umumnya seorang muda lainnya, saya selalu membayangkan akan sukses dahulu, menikah kemudian setelah mapan, kemudian membina rumah tangga kecil nan bahagia. Dalam benak, ambisi utama sebagai seorang yang suka bepergian tentu mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Cara-cara berpikir seperti itu yang kemudian membawa saya memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi keluar daerah, wara-wiri di dalam dan luar negeri, keluar masuk kota dan desa hingga beberapa daerah yang susah terjamah, memiliki banyak cita-cita jangka panjang, hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja mengabdikan diri dan mencari pengalaman baru di bagian Indonesia timur. Hingga saat itu jalan pikiran saya masih sama.

Waktu terus berjalan, umur tak bisa disangkal. Saya menyadari diri kian beranjak dewasa. Berpikir bebas tak lagi sebebas biasanya. Pun usia juga yang akhirnya membuat saya sadar bahwa kebebasan bukan hanya milik saya sendiri. Hidup memang tak bisa seperti matematika, rasa bebas itu yang kemudian yang menjadi poin perubahan. Kebebasan yang saya rasa pada titik tertentu membuat saya merasa bahwa saya belum mencapai apapun dalam hidup ini.

Ambisi saya seketika berubah, dari yang rasanya tinggi nan muluk-muluk menjadi sangat realistis. Cita-cita kemudian tidak jauh dari membahagiakan orang tua. Caranya? Rawat mereka, mulai pikul beban keluarga selayaknya pria dewasa. Pada akhirnya, berpikir untuk menikah dengan kekasih mulai muncul ke permukaan. Dengan cara demikian, saya tidak perlu jauh dari orang tua dan kekasih lagi.

Saya yang kemudian memutuskan menikah tahun 2018 memang merasa telah siap. Saya memulai menapak dan membuat jejak baru dalam hidup, yang kini tak sendiri lagi. Saya memang terhitung belum lama menikah, pun demikian perubahan yang kami berdua rasakan memang jauh. Awal mula menjalani kehidupan berdua masih terasa seperti sejoli yang berbulan madu, seakan belum menikah.

Selang bulan kedua, kami pun kembali menjalankan kehidupan dan pekerjaan kami sehari-hari untuk menyambung hidup. Istri saya merupakan seorang tenaga medis yang tak jelas kapan libur dan waktu pulangnya. Saya, yang memutuskan berhenti bekerja di Indonesia bagian timur, mendapatkan pekerjaan untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bali. Setelah hampir lima tahun menjalin hubungan jarak jauh, saya tidak ingin hidup terpisah lagi. Banyak hal yang harus saya ketahui dari dirinya, pun dia dari saya.

Memiliki kesempatan untuk berkarir yang baru membuat saya memiliki cita cita dan pengharapan tinggi kembali. Saya mulai memiliki banyak kolega, bekerja disana dan disini. Menikmati kesibukan sebagai seorang professional. Berbeda dengan istri, jadwal saya sedikit lebih teratur, pergi jam 7 pagi, pulang jam 10 malam paling cepat.

Tuntutan hidup membuat kami merasa tak ada bedanya dengan ketika berhubungan jarak jauh yang dulu kami jalani. Kami hanya bercengkrama saat malam menjelang tidur. Tidak  jarang kami tidak bertemu hingga dua tiga hari karena pekerjaan masing-masing. Walaupun perjalanan karir masih jauh, kami merasa berada dipuncak karir masing-masing terhitung hingga saat itu.

Tuhan memang maha baik, Ia dengan segala rahmatNya kemudian menganugerahi kami seorang keturunan, seorang bidadari kecil datang dalam hidup kami. Datangnya pun mengalir saja. Kami merasa berdoa biasa saja dengan panjatan pada umumnya. Tepat 12 Desember 2018, kami menjadi sepasang ayah dan ibu. Rupa anak menurut orang orang sangat mirip dengan ayahnya, terutama bagian alis, mata, hingga bibir.

Sekali lagi jalan hidup kami berubah. Kami yang semula sangat getol mengejar karir, mulai teralihkan pada anak. Kami berbagi tugas. Pada awal kelahiran anak kami, istri yang masih dalam masa cuti dari pekerjaannya mengembil alih tugas merawat buah hati. Saya tetap menjalankan rutinitas yang saya sebutkan di atas tadi, penuh tanggung jawab. Sesampai rumah pun susah sekali menghabiskan waktu dengan anak. Tidak jarang harus sering tidur lebih larut karena mengerjakan pekerjaan kantor, pun ketika pulang tepat pukul 10 malam saya merasa sangat lelah dan harus istirahat.

Anak kami semakin bertumbuh, matanya mulai melihat sosok orang tuanya, mulai mendengar bisikan-bisikan kami dan merespon dengan gerakan. Sebagaimana bayi pada umumnya, ia akan menangis ketika lapar maupun mengantuk, tertawa saat bercanda, dan tidur saat selesai minum susu. Akan tetapi, anak selalu menangis ketika saya mengajaknya bercanda, ataupun ketika saya gendong. Nangisnya bukan main. Tangannya akan selalu bergetar seakan marah, menolak memandang saya, hingga berontak. Alhasil, istri harus berusaha lebih untuk menenangkan keadaan anak.

Kejadian ini terus berulang, hingga pada satu titik, saya merasa harus bisa lebih dekat dengan anak. Saya dan istri berdiskusi beberapa kali. Saya kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan utama karena berbagai alasan. Pertama, masa cuti istri segera berakhir. Ini berarti kami harus berpikir bagaimana mengasuh anak kami. Mencari perawat maupun pengasuh bayi sempat menjadi opsi. Namun kami merasa anak adalah tanggung jawab kami. Segala tumbuh kembangnya sangat bergantung pada kami. Maka jadilah keputusan kami untuk bertukar peran, hingga saat ini.

Berhenti dari pekerjaan anda, terutama ketika kita memiliki cita cita besar memang terasa rumit. Belum lagi jika anda memikirkan aspek sosial dimana anda sebagai laki-laki (mungkin) dianggap kurang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Tidak jarang anda akan ditanya, saat ini sibuk ngapain? Pekerjaan bagaimana? Anda kan memiliki pendidikan yang mumpuni, kenapa di rumah? Akan selalu ada anggapan-anggapan berbeda dari orang disekitar anda. Kami terus terang kurang peduli dengan hal semacam itu. Kami sebagai sebuah keluarga kecil sadar betul bahwa anak adalah asset utama yang tidak akan terbeli dengan apapun.

Maka jadilah kami bertukar peran, setidaknya hingga saat ini. Kendati saya tidak sepenuhnya berhenti dari bekerja, secara finansial memang sangat terasa bedanya. Pendapatan kami memang menurun drastis. Istri saya memang bekerja kembali, tetapi dia pun tetap harus  membagi waktunya bekerja agar juga bisa bersama dengan anak, yang juga berarti pendapatannya juga menurun.

Pertanyaannya kemudian, apakah itu setimpal? Saya katakan tidak. Kami mulai merasa bahwa karir merupakan segelintir kebahagiaan, sama sekali tidak setimpal dengan kebahagiaan yang kemudian kami dapatkan bersama anak. Harga sebuah rasa bahagia jauh dari setimpal jika kami bandingkan dengan karir.

Saya harus bersyukur pada Tuhan, yang memberikan jalan rasa bahagia disegala keterbatasan. Berkat keputusan tersebut, saya beserta istri mempu memperhatikan tumbuh kembang anak setiap hari dan akan terus demikian setidaknya hingga ia sedikit lebih besar.

Stigma sosial lain yang datang kami lupakan dengan melihat senyum di wajah anak kami. Dia yang dulu selalu menangis ketika saya gendong, kini tidak lagi. Malah lebih sering tidur dalam pangkuan ayahnya. Dia yang selalu berontak ketika saya ajak bercanda, kini berlaku sebaliknya.

Tangan dan mimik wajahnya lebih sering mengajak bercanda daripada berontak menolak. Elena Dharmesta, begitu kami menamai putri kami. Namanya memiliki arti cahaya terang dari semesta alam. Sesuai namanya, Ia membawa rasa cerah dalam kehidupan kami. Ia merupakan anugerah alam semesta agar kami mampu berbuat lebih sungguh demi keluarga.

Terdengar aneh mungkin, tapi memang seperti kata sepotong bait lagu,

harta yang paling berharga adalah keluarga,

istana yang paling indah adalah keluarga,

puisi yang paling bermakna adalah keluarga,

mutiara tiada tara adalah keluarga. [T]

Tags: anak-anakKeluargapemudaprofesiRumah Tangga
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Titip Rindu untuk Pengantin Generasi Muda Hindu

Next Post

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co