24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
May 31, 2019
in Esai
Rupa-rupa Perjalanan Hidup: Berkeluarga Memang Bukan Bercanda

Foto: Dok Penulis

Muda, bebas, dan penuh ambisi, mungkin demikian saya menggambarkan diri ketika mengenyam pendidikan baik di bangku sarjana dan setelahnya.


Seperti umumnya seorang muda lainnya, saya selalu membayangkan akan sukses dahulu, menikah kemudian setelah mapan, kemudian membina rumah tangga kecil nan bahagia. Dalam benak, ambisi utama sebagai seorang yang suka bepergian tentu mengunjungi tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Cara-cara berpikir seperti itu yang kemudian membawa saya memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi keluar daerah, wara-wiri di dalam dan luar negeri, keluar masuk kota dan desa hingga beberapa daerah yang susah terjamah, memiliki banyak cita-cita jangka panjang, hingga akhirnya memutuskan untuk bekerja mengabdikan diri dan mencari pengalaman baru di bagian Indonesia timur. Hingga saat itu jalan pikiran saya masih sama.

Waktu terus berjalan, umur tak bisa disangkal. Saya menyadari diri kian beranjak dewasa. Berpikir bebas tak lagi sebebas biasanya. Pun usia juga yang akhirnya membuat saya sadar bahwa kebebasan bukan hanya milik saya sendiri. Hidup memang tak bisa seperti matematika, rasa bebas itu yang kemudian yang menjadi poin perubahan. Kebebasan yang saya rasa pada titik tertentu membuat saya merasa bahwa saya belum mencapai apapun dalam hidup ini.

Ambisi saya seketika berubah, dari yang rasanya tinggi nan muluk-muluk menjadi sangat realistis. Cita-cita kemudian tidak jauh dari membahagiakan orang tua. Caranya? Rawat mereka, mulai pikul beban keluarga selayaknya pria dewasa. Pada akhirnya, berpikir untuk menikah dengan kekasih mulai muncul ke permukaan. Dengan cara demikian, saya tidak perlu jauh dari orang tua dan kekasih lagi.

Saya yang kemudian memutuskan menikah tahun 2018 memang merasa telah siap. Saya memulai menapak dan membuat jejak baru dalam hidup, yang kini tak sendiri lagi. Saya memang terhitung belum lama menikah, pun demikian perubahan yang kami berdua rasakan memang jauh. Awal mula menjalani kehidupan berdua masih terasa seperti sejoli yang berbulan madu, seakan belum menikah.

Selang bulan kedua, kami pun kembali menjalankan kehidupan dan pekerjaan kami sehari-hari untuk menyambung hidup. Istri saya merupakan seorang tenaga medis yang tak jelas kapan libur dan waktu pulangnya. Saya, yang memutuskan berhenti bekerja di Indonesia bagian timur, mendapatkan pekerjaan untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bali. Setelah hampir lima tahun menjalin hubungan jarak jauh, saya tidak ingin hidup terpisah lagi. Banyak hal yang harus saya ketahui dari dirinya, pun dia dari saya.

Memiliki kesempatan untuk berkarir yang baru membuat saya memiliki cita cita dan pengharapan tinggi kembali. Saya mulai memiliki banyak kolega, bekerja disana dan disini. Menikmati kesibukan sebagai seorang professional. Berbeda dengan istri, jadwal saya sedikit lebih teratur, pergi jam 7 pagi, pulang jam 10 malam paling cepat.

Tuntutan hidup membuat kami merasa tak ada bedanya dengan ketika berhubungan jarak jauh yang dulu kami jalani. Kami hanya bercengkrama saat malam menjelang tidur. Tidak  jarang kami tidak bertemu hingga dua tiga hari karena pekerjaan masing-masing. Walaupun perjalanan karir masih jauh, kami merasa berada dipuncak karir masing-masing terhitung hingga saat itu.

Tuhan memang maha baik, Ia dengan segala rahmatNya kemudian menganugerahi kami seorang keturunan, seorang bidadari kecil datang dalam hidup kami. Datangnya pun mengalir saja. Kami merasa berdoa biasa saja dengan panjatan pada umumnya. Tepat 12 Desember 2018, kami menjadi sepasang ayah dan ibu. Rupa anak menurut orang orang sangat mirip dengan ayahnya, terutama bagian alis, mata, hingga bibir.

Sekali lagi jalan hidup kami berubah. Kami yang semula sangat getol mengejar karir, mulai teralihkan pada anak. Kami berbagi tugas. Pada awal kelahiran anak kami, istri yang masih dalam masa cuti dari pekerjaannya mengembil alih tugas merawat buah hati. Saya tetap menjalankan rutinitas yang saya sebutkan di atas tadi, penuh tanggung jawab. Sesampai rumah pun susah sekali menghabiskan waktu dengan anak. Tidak jarang harus sering tidur lebih larut karena mengerjakan pekerjaan kantor, pun ketika pulang tepat pukul 10 malam saya merasa sangat lelah dan harus istirahat.

Anak kami semakin bertumbuh, matanya mulai melihat sosok orang tuanya, mulai mendengar bisikan-bisikan kami dan merespon dengan gerakan. Sebagaimana bayi pada umumnya, ia akan menangis ketika lapar maupun mengantuk, tertawa saat bercanda, dan tidur saat selesai minum susu. Akan tetapi, anak selalu menangis ketika saya mengajaknya bercanda, ataupun ketika saya gendong. Nangisnya bukan main. Tangannya akan selalu bergetar seakan marah, menolak memandang saya, hingga berontak. Alhasil, istri harus berusaha lebih untuk menenangkan keadaan anak.

Kejadian ini terus berulang, hingga pada satu titik, saya merasa harus bisa lebih dekat dengan anak. Saya dan istri berdiskusi beberapa kali. Saya kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan utama karena berbagai alasan. Pertama, masa cuti istri segera berakhir. Ini berarti kami harus berpikir bagaimana mengasuh anak kami. Mencari perawat maupun pengasuh bayi sempat menjadi opsi. Namun kami merasa anak adalah tanggung jawab kami. Segala tumbuh kembangnya sangat bergantung pada kami. Maka jadilah keputusan kami untuk bertukar peran, hingga saat ini.

Berhenti dari pekerjaan anda, terutama ketika kita memiliki cita cita besar memang terasa rumit. Belum lagi jika anda memikirkan aspek sosial dimana anda sebagai laki-laki (mungkin) dianggap kurang bertanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Tidak jarang anda akan ditanya, saat ini sibuk ngapain? Pekerjaan bagaimana? Anda kan memiliki pendidikan yang mumpuni, kenapa di rumah? Akan selalu ada anggapan-anggapan berbeda dari orang disekitar anda. Kami terus terang kurang peduli dengan hal semacam itu. Kami sebagai sebuah keluarga kecil sadar betul bahwa anak adalah asset utama yang tidak akan terbeli dengan apapun.

Maka jadilah kami bertukar peran, setidaknya hingga saat ini. Kendati saya tidak sepenuhnya berhenti dari bekerja, secara finansial memang sangat terasa bedanya. Pendapatan kami memang menurun drastis. Istri saya memang bekerja kembali, tetapi dia pun tetap harus  membagi waktunya bekerja agar juga bisa bersama dengan anak, yang juga berarti pendapatannya juga menurun.

Pertanyaannya kemudian, apakah itu setimpal? Saya katakan tidak. Kami mulai merasa bahwa karir merupakan segelintir kebahagiaan, sama sekali tidak setimpal dengan kebahagiaan yang kemudian kami dapatkan bersama anak. Harga sebuah rasa bahagia jauh dari setimpal jika kami bandingkan dengan karir.

Saya harus bersyukur pada Tuhan, yang memberikan jalan rasa bahagia disegala keterbatasan. Berkat keputusan tersebut, saya beserta istri mempu memperhatikan tumbuh kembang anak setiap hari dan akan terus demikian setidaknya hingga ia sedikit lebih besar.

Stigma sosial lain yang datang kami lupakan dengan melihat senyum di wajah anak kami. Dia yang dulu selalu menangis ketika saya gendong, kini tidak lagi. Malah lebih sering tidur dalam pangkuan ayahnya. Dia yang selalu berontak ketika saya ajak bercanda, kini berlaku sebaliknya.

Tangan dan mimik wajahnya lebih sering mengajak bercanda daripada berontak menolak. Elena Dharmesta, begitu kami menamai putri kami. Namanya memiliki arti cahaya terang dari semesta alam. Sesuai namanya, Ia membawa rasa cerah dalam kehidupan kami. Ia merupakan anugerah alam semesta agar kami mampu berbuat lebih sungguh demi keluarga.

Terdengar aneh mungkin, tapi memang seperti kata sepotong bait lagu,

harta yang paling berharga adalah keluarga,

istana yang paling indah adalah keluarga,

puisi yang paling bermakna adalah keluarga,

mutiara tiada tara adalah keluarga. [T]

Tags: anak-anakKeluargapemudaprofesiRumah Tangga
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Titip Rindu untuk Pengantin Generasi Muda Hindu

Next Post

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Tak Usah Gawat-gawat, KKN itu Biasa Saja…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co