23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjuangan Kecil Mahasiswa Bali Pindahkan Hak Pilih ke Jakarta – Cerita Telat Pemilu 2019

Ni Nyoman Sekarini by Ni Nyoman Sekarini
April 27, 2019
in Khas
Perjuangan Kecil Mahasiswa Bali Pindahkan Hak Pilih ke Jakarta – Cerita Telat Pemilu 2019

Penulis (paling kiri) usai mencoblos pada Pemilu 2019

Sejak pagi pukul setengah 6 pagi keriuhan sudah mulai terdengar di halaman di bawah kamar kost saya. Bukannya riuh karena apa, tapi itu adalah suara petugas-petugas KPPS yang tengah mempersiapkan pencoblosan pukul 7 pagi.  Itu memang terjadi di hari pencoblosan Pemilu 17 April 2019.

Di bawah naungan tenda besi para petugas sibuk mengecek-ngecek segala sesuatunya agar tidak ada yang kurang. Pukul 7 kurang lima, ketua KPPS sudah mengambil alih pengeras suara untuk mengajak warga sekitar agar segera datang ke TPS.

Sebagai orang yang pertama kali menggunakan hak suara, saya sangat antusias kala itu. Pagi-pagi sekali saya sudah mandi, bersiap-siap akan memilih pemimpin bangsa untuk 5 tahun ke depan.

Sedikit informasi, saya orang Bali yang merantau untuk kuliah di Jakarta. Harusnya saya memilih di Desa Tista, Busungbiu, Buleleng. Tapi karena tak ingin menyia-nyiakan hak perdana untuk memilih pemimpin, jauh-jauh hari saya berupaya memmindahkan hak pilih saya demi bisa ikut dalam pesta demokrasi 2019 ini. Walaupun hanya bisa digunakan untuk memilih presiden dan wakil presiden, saya sudah cukup bahagia. Urusan memilih caleg dari kampung saya di Busungbiu mungkin bisa saya lakukan pada Pemilu 5 tahun lagi.

Saya ingat betul bagaimana perjuangan saya ketika memindahkan hak pilih. Walaupun tidak sedramatis memperjuangkan Kemerdekan RI, namun saya rasa masih layak saya ceritakan. Sejak 36 hari menjelang pencoblosan saya sudah ke KPU terdekat untuk megurus hak pilih. Awalnya ditawari teman, ketika itu niat saya masih setengah-setengah. Kemudian saya pikir-pikir kembali kenapa saya tidak gunakan saja hak pilih saya? Saya juga ingin ikut serta  menentukan pemimpin bangsa 5 tahun ke depan.

Akhirnya berangkatlah saya dan teman-teman ke KPU tujuan. Jaraknya tidak begitu jauh, apalagi naik ojek online pakai kode promo sehingga lumayan menghemat uang saku. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri berfoto bersama agar bisa diunggah di instagram. Tidak lupa saya selipkan kata-kata mutiara di unggahan agar teman-teman lain termotivasi untuk memindahkan hak pilih.

Sudah saya pilah-pilah hari saya ke KPU agar di tempat tujuan tidak usah mengantre. Namun tampaknya di pemilu 2019 ini masyarakat sudah semakin banyak yang sadar politik. Hal ini terlihat dari panjang antrean di KPU tujuan saya. Nomor antrean yang saya dapat angkanya mencapai tiga digit. Tidak diragukan lagi penantian ini akan panjang. Sampai lapar pun tiba saya masih menunggu di KPU. Namun saya masih bisa bersyukur karena walaupun harus menunggu lama setidaknya masih dapat nomor antrean.

Mendekati jarum angka satu akhirnya giliran saya tiba. Betapa senangnya hati ini. Tidak begitu sulit mengurusnya. Petugas hanya meminta beberapa informasi, kemudian memberi beberapa instruksi. Singkat cerita dapatlah saya formulir A5 yang saya idam-idamkan. Tapi masih belum selesai sampai di situ. Formulir A5 yang saya dapat masih harus saya serahkan ke kantor kelurahan terdekat agar saya tahu TPS mana yang akan saya datangai di hari pemilu.

Sewaktu menyerahkan formulir ke kantor kelurahan sempat membuat saya berfikir untuk golput saja. Bagaimana tidak, mungkin karena sibuk, Pak Lurah agak-agak susah ditemui untuk mengurus formulir saya. Mula-mula janjinya pagi, kemudian berubah siang, sampai akhirnya ganti waktu pertemuan. Masih cukup sabar saya, dan tetap berpikir untuk tidak golput.  

Kemudian sepakatlah kami berdua untuk bertemu di hari Rabu. Dengan pakain rapi dan kemas saya datangi kantor kelurahan. Sesampainya saya di kantor kelurahan saya dibuat bingung, karena tiba-tiba si bapak membatalkan pertemuan dan meminta bertemu di hari Jumat.  Ketika itu saya putuskan jika pertemuannya dibatalkan lagi saya mau golput saja.

Untunglah si bapak tidak ingkar janji. Akhirnya saya resmi memindahkan hak pilih saya dari Buleleng, Bali, ke Jakarata Selatan.

Kembali lagi ke cerita di tanggal 17 April. Pukul 7 lewat 15 menit saya sudah ke TPS untuk menyerahkan  form A5 yang saya dapat sewaktu memindahkan hak pilih. Sesampainya di sana petugas KPPS memberi arahan untuk datang pukul 12 siang. Saya agak ragu, tapi saya iyakan saja. Sekembalinya saya ke kost saya mengecek handphone, siapa tahu informasi bapak- bapak yang di TPS tadi salah.

Benar saja, setelah saya cek ternyata pelayanan A5 dimulai dari pukul 7 sampai pukul 13. Berbekal bukti yang saya dapat di internet, saya kembali datang ke TPS. Saya kira bakal cekcok, tapi untung saja tidak. Usut punya usut, bapak-bapak tersebut salah memberikan informasi. Dengan muka tanpa bersalah, si bapak-bapak berkata, “Memang sudah bisa mencoblos dari jam 7 kok, Mbak”.

Demi menenangkan diri saya ambil kesimpulan, mungkin si bapak itu lelah karena sudah mempersiapkan TPS sedari pagi. Bahkan mungkin dari kemarin-kemarin.

Ketika nama saya dipanggil saya maju sembari berpikir, hari ini negara Indonesia tengah mencetak sejarah yaitu untuk pertama kalinya melaksanakan pemilu serentak untuk dewan eksekutif dan legislatif. Terngiang di kepala saya, mungkin hari ini akan tertulis di buku-buku PKN siswa SD ataupun SMP. Setelah menggunakan hak suara, saya keluar dari areal TPS  dan tidak lupa mencelupkan kelingking ke tinta agar dapat saya pamerkan di Instagram maupun Whatapps.

Sekitar pukul 1 lewat 15 menit penghitungan suara mulai dilakukan. Setiap kali nama pasangan calon disebut selalu diikuti sorak gembira masing-masing pendukung. Dalam hati saya berharap semoga pasangan calon yang saya pilihlah yang menang. Mula-mula suara bapak-bapak yang menghitung sangat bersemangat sampai akhirnya lesu karena memang sudah larut malam. Belakangan saya mencari tahu, penghitungan suaradi TPS tersebut masih berlangsung hingga pukul 2 dinihari. Tampaknya para petugas TPS tersebut sudah bekerja keras.

Tidak berselang beberapa lama setalah penghitungan suara dilakukan,  drama-drama usai pemilu mulai bermunculan. Bahkan sejak quick count disiarkan pada pukul 3 sore keadaan sudah seakan memanas. Ini meleset dari perkiraan saya yang saya pikir baru dimulai besok paginya. Maklum saya baru pertama kali ikut pesta demokrasi.

Drama yang paling seru bagi saya adalah kisah salah satu pasangan calon yang mengklaim kemenangan pilpres 2019. Berita semakin simpang siur, apalagi apa yang diklaim oleh pasangan calon tersebut berbanding terbalik dengan quick count yang saya saksikan di Youtube.

Sebagai orang yang pertama kali menggunakan hak pilih saya hanya bisa menghela nafas  melihat drama yang menggelikan ini. Saya merasa dikecewakan, usaha saya memindahkan hak pilih tempo hari terasa sia-sia. Usaha-usaha proklamasi kemenangan itu bagi saya adalah suatu bentuk ketidakpercyaan terhadap rakyat. Semoga saja pilpres ini tidak berujung  konflik, agar tidak semakin terluka hati saya ini. [T]

Tags: baliDKI JakartamahasiswapemiluPilpres
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Jebakan Zaman

Next Post

Sri, Kekasihku

Ni Nyoman Sekarini

Ni Nyoman Sekarini

Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng, 09 Februari 2000. Mahasiswa Sampoerna University. Tertarik dengan bidang seni suara dan suka menonton film petualangan.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Sri, Kekasihku

Sri, Kekasihku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co