30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

4:20 Hanya untuk “Chill” pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
April 22, 2025
in Panggung
4:20 Hanya untuk “Chill” pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

SEBUAH lagu reggae dari King Masmus itu terdengar di meja DJ sedang diremix oleh 444 Kaum dalam acara “Ceng-Cet Riddim” yang diagendakan oleh Kolektif Gegap Gemilang di Kedai Kopi DeKakiang, Minggu, 20 April 2025.

420 adalah kode Hari Ganja Internasional. 4 (empat) diambil dari bulan April dan 20 diambil dari tanggal di bulan itu. Ada banyak versi yang dikaitkan dengan angka 420—yang konotasinya merujuk pada tokoh politik, lagu, dan atau penggunanaan cannabis sativa tadi.

Semisal, ada yang mengatakan jika 420 adalah diambil dari tanggal kelahirannya Adolf Hitler. Ada juga yang mengaitkannya dengan lagu Bob Dylan berjudul “Rainy Day Women #12 & 35”, yang mana jika 12 dikalikan dengan 5 akan menghasilkan 420.

Tapi yang lebih populer secara cerita, juga mendekati, kode 420 itu di dasari oleh kisah Geng Waldos yang beranggotakan 5 orang remaja dari SMA San Rafael di California pada kisaran tahun 1971. Kelima remaja itu adalah Steve Rafel, Dave Reddix, Jaffrey Noel, Larry Schwartz, dan Mark Gravich.

Suasana pada Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Untuk menghisap ganja atawa nyimeng itu, 420 diambil dari jam 16.20 sore, sebagai waktu berkumpul mereka. Kelimanya bertemu di sebuah patung ahli mikrobiologi Prancis Louis Pasteur sepulang sekolah. Kebiasaannya menghisap mariyuana di patung itu, berawal ketika suatu waktu mereka mendengar kabar ada ladang ganja terbengkalai di Point Reyes milik seorang penjaga pantai.

Dan akhirnya sebuah petualangan mencari kebun itu pun direncanakan mereka. Sebelum pergi, menghisap ganja seperti sudah menjadi ritual yang menyenangkan. Pencarian kebun itu tak pernah sukses walaupun sudah berminggu-mingu dilakukan.

Tapi kebiasaan mereka bertemu di patung di jam yang sama, masih terus dilakukan hanya untuk menghisap daun itu. Alhasil, kode 420 dikenali sebagai waktu yang asik untuk nyimeng. Dan bagaimana kode itu hingga merebak ke seluruh dunia—hingga saat ini, adalah berkat kakak dari Dave ketika mengenalkannya ke Phil Lesh, yaitu basis Grateful Dead.

Dan Band itu kemudian menggunakan 420—sebagai kode ajakan nyimeng berjama’ah kepada penggemarnya di seantero dunia. Kabar 420 itu akhirnya menyeruak lebih serius, setelah salah satu wartawan dari majalah AS High Times tahu dan menyiarkannya lebih luas lagu dalam bentuk berita. Hingga kemudian meresmikan 20 April sebagai Hari Ganja Internasional.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Dan Putu Mahardika sebagai ketua pelaksana acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang itu, menjelaskan akhirnya 4:20 identik dengan waktu sore-sore nyimeng ganja. Tapi dalam acara “Ceng-Cet Riddim” yang digagasnya itu—jangan salah—bukanlah acara untuk nyimeng.Tetapi hanya sekadar menikmati musik reggaenya saja di waktu sore.

“Menggunakan jam 4:20 sore itu sebenarnya hanya untuk gimmick saja, kami rayainnya dengan musik reggae yang dimixing DJ, ya, untuk chill saja,” kata Putu Mahardika yang di acara itu juga ia menjajakan beberapa botol arak dan menyediakan beberapa jajanan gratis.

Alternatif—Kreatif

Dan penampil dalam acara itu tidak hanya datang dari 444 Kaum, tetapi juga ada Nend, Ekaput, Irama Utara, dan Devs menjadi penampil pada malam itu. Mereka dari Buleleng. Acara ini dimulai pada kisaran jam 5 sorean dari yang direncanakan di jam 4:20 itu, diulur karena ditimpa hujan. Tidak apa, katanya. Musik terus berlanjut dimulai setelah hujan reda.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

Di meja DJ yang di depannya beberapa orang sedang berjoget, terbentang bendera Jamaica di meja itu. Dan beberapa orang itu terus berjoget seakan mengikuti tempo musiknya yang slow, menikmati lagu Vegan Vegetarian yang di mixing dj itu seakan sedang terbang—alias fly. Ya, arak membuatnya mabuk. Dan musik dj itu agaknya berhasil membuat siapa saja yang hadir dan larut kedalamnya—enjoy.

Acara merayakan 4:20 semacam ini sepoertinya baru kali pertama dilakukan oleh Kolektif Gegap Gemilang. Antusiasme orang-orang untuk hadir mendengarkan lagu reggae dengan space kedai yang sejuk di bawah pohon mangga rindang daun-daunnya itu, membuat suasana pengunjung terasa intim dan betul-betul dirasakan tambah chill ketika musik diperdengarkan.

Orang-orang hadir memesan kopi, lalu duduk. Orang-orang saling duduk berhadapan dengan teman sebaya atau pacarnya masing-masing. Mereka mengobrol sambil sesekali meliukan tubuhnya. Sebagaimana genre reaggae dengan rhythm musiknya yang khas, yang mendamaikan dan menjogetkan bahu seseorang.

“Ya, ini untuk mempertemukan orang-orang untuk bertemu dan ngobrol juga sih,” kata Putu Mahardika.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: tatkala.co/Son

Musik asal Pulau Karibia, Jamaika, ini dapat dibilang banyak pemianatnya bukan hanya karena musiknya yang enak didengar, tetapi wacana kedamaiannya juga terasa menyecap di jiwa. Musiknya bisa dinikmati secara musik dan liriknya. Hal itu bisa dilihat dari makna mendalam dari warna benderanya, seperti warna hijau, emas, dan hitam.

Negara ini barangkali satu-satunya negara yang tidak mengandalkan warna merah untuk mempresentasikan jiwa semangat dan optimis. Warna hitam dilambangkan sebagai kekuatan dan kreativitas rakyat Jamaika, sedang emas melambangkan sinar matahari dan kekayaan alam, dan warna hijau melambangkan harapan dan kekayaan pertanian mereka.

“Ganja itu kan tumbuhan. Banyak pula manfaatnya, tapi karena dilarang di negara kita, alternatifnya kita gunakan arak atau kopi untuk enjoy, yang penting sensasinya adalah reggae, kedamaian,” kata Putu Mahardika.

“Tidak lebih dari itu, hanya untuk chill. Acara ini betul-betul hanya sekadar untuk mendengar musik, dan bagaimana orang-orang datang dan mengobrol. Itu saja.” lanjut lelaki itu di sela gulung kabel selesai acara.

Acara “Ceng-Cet Riddim” di Kedai Kopi DeKakiang, Singaraja-Bali | Foto: Saka

Bagi Kolektif Gegap Gemilang, acara semacam itu pula dijadikannya sebagai bentuk latihan diri membuat event kreatif tanpa mesti menyentuh pelanggaran hukum. Dan mencari alternatif adalah kreatif.

Kolektif ini baru dibentuk oleh Putu Mahardika sendiri. Dan tidak hanya untuk menyoal acara reggae dalam merayakan 4:20—kecil-kecilan, katanya. Kolektif atau komunitas ini juga membuka diri untuk kolaborasi dengan komunitas lain dalam hal membuat event yang lain, semacam menjadi Event Organization (EO). [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Sawig, Album “Lakuta”, dan Lakuta Bali Tour di Singaraja
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara
Tags: kedai kopimusikSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menghidupkan Warisan Leluhur, I Gusti Anom Gumanti Pimpin Tradisi Ngelawar di Banjar Temacun Kuta

Next Post

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails
Next Post
Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Menjernihkan ‘Bias Citra’ Antara Dewi Danu, Jaya Pangus, dan Putri Cina

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co