25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesugihan Menelan Korban

Chusmeru by Chusmeru
April 2, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEBERAPA bulan setelah pemutusan hubungan kerja (PHK), nasib Sugiyatno tak menentu. Uang pesangon dari perusahaannya perlahan habis buat biaya hidup sehari-hari bersama istri dan ketiga anaknya. Sudah pasti Sugiyatno pusing untuk menutupi kekurangan kebutuhan keluarganya.

Istrinya setiap hari mengomel, harga sayuran dan sembako setiap hari mengalami kenaikan. Ada saja yang dikeluhkan. Harga cabai naik, ia mengeluh. Harga minyak goreng melonjak, ia cemberut. Harga gula pasir melonjak, ia berteriak. Sugiyatno tak dapat berkomentar. Paling ia mengumpat pemerintah dan para menteri yang tak mampu mengendalikan harga sembako.

Belum lagi kebutuhan bagi ketiga anaknya yang masih sekolah. Anak pertama masih duduk di bangku SMP, yang kedua dan ketiga masih SD. Bekal sekolah setiap hari buat mereka tidak terlalu banyak, namun tetap saja menguras kantong Sugiyatno. Apalagi ketiga anaknya memiliki telepon genggam yang harus diisi pulsa jika kuotanya habis untuk bermain game online.

Pernah Sugiyatno mencoba menjadi makelar jual beli sepeda motor. Namun hasilnya tidak seberapa. Tidak setiap minggu ada orang yang menjual dan membeli sepeda motor. Sekarang orang juga dipermudah dengan perkembangan teknologi dan transportasi. Kalau pun tidak memiliki kendaraan bermotor, orang dapat pergi kemana pun setiap saat dengan memesan transportasi secara daring.

Maryati, istri Sugiyatno pernah menyarankan agar suaminya menjadi petani saja. Orang tua Maryati memiliki sawah yang luas di desanya. Sugiyatno dapat menggarap sawah itu dengan berbagai tanaman yang punya nilai ekonomis. Namun Sugiyatno tak begitu tertarik. Selain ia tak menguasai ilmu bercocok-tanam, menurutnya bertani di zaman sekarang penuh risiko. Saat ini banyak sekali hama tanaman dan musim yang tidak jelas, yang membuat produksi pertanian sering gagal.

Sugiyatno ingin bekerja yang tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, namun banyak orang yang membutuhkan. Tercetus keinginannya untuk membuka warung sembako dengan modal sisa-sisa pesangon dari perusahaannya. Membuka warung sembako tidak perlu berpanas-panas di terik matahari. Tidak perlu berpikir keras mengatasi hama penyakit tanaman. Setiap orang pasti memerlukan kebutuhan pokok setiap harinya.

Gayung bersambut. Keinginan Sugiyatno didukung istrinya. Di desanya memang sudah ada beberapa warung yang menjual sembako. Namun Maryati dan Sugiyatno percaya, bahwa rizki orang berbeda-beda. Meski sudah ada warung sembako, jika memang rizki mereka pasti ada saja orang yang akan belanja di warungnya.

***

Sudah hampir satu tahun Sugiyatno berjualan sembako di warungnya. Awalnya lancar dan banyak pembeli. Apalagi Sugiyatno berani menjual dengan harga yang lebih murah dibanding warung lain, walau hanya mencari keuntungan sedikit. Sikap Maryati yang ramah dan murah senyum juga menjadi daya tarik orang untuk berbelanja ke warung mereka.

Namun bisnis warung sembako ternyata tak selamanya mulus. Batu sandungan perlahan mulai muncul. Minimarket yang buka 24 jam mulai bermunculan di kampung Sugiyatno. Harga barang memang lebih mahal dibanding warung Sugiyatno. Namun entah kenapa, tetangganya lebih memilih belanja di minimarket. Barangkali mereka sudah tertular gaya hidup orang-orang di kota besar.

 Bukan hanya harus bersaing dengan minimarket, warung Sugiyatno juga mulai mengalami kebangkrutan. Para tetangga mulai berutang ketika belanja. Mereka mengambil dulu barang-barang dan sembako di warung Sugiyatno, lantas membayarnya pada bulan berikutnya. Itu pun tidak semua utang dibayar lunas. Padahal Sugiyatno perlu modal untuk memasok dagangannya.

Akhirnya Sugiyatno benar-benar bangkrut. Ia limbung. Bingung. Tiba-tiba Sugiyatno kehilangan akal sehatnya. Muncul di benaknya untuk mencari pesugihan agar warungnya kembali bangkit dan banyak pembeli. Ia tonton di media online banyak cara untuk mendapat pesugihan. Niat itu disampaikannya kepada Maryati, istrinya.

“Hahhh…!!?? Apa..?? Pesugihan..?? Astaga, Pak. Dosa itu, Pak..!!!” ucap Maryati kaget dan marah atas rencana Sugiyatno.

“Tapi kita membutuhkan biaya hidup banyak, Bu. Warung kita bangkrut,” kata Sugiyatno mencoba mencari pembenaran.

“Pesugihan apa, Pak. Biasanya pesugihan harus ada tumbal. Aku tak mau jadi tumbal pesugihan,” ujar Maryati bersikukuh tak mau suaminya pakai pesugihan.

“Kita cari pesugihan yang tidak pakai tumbal, Bu,” kata Sugiyatno ngotot.

“Pesugihan mana yang nggak pakai tumbal?” tanya Maryati.

Sugiyatno terdiam. Ia mencari informasi di media sosial tempat-tempat yang sering dikunjungi orang untuk mencari pesugihan. Sebagian besar lokasinya jauh dari tempat tinggalnya. Syarat untuk mendapatkan pesugihan pun cukup berat.

Ada tempat pesugihan yang mengharuskan orang untuk berhubungan badan dengan orang lain. Sugiyatno tak mau itu, karena ia harus berselingkuh. Ada pula pesugihan yang mengharuskan ia berubah wujud menjadi binatang. Sugiyatno takut untuk itu. Ada pula pesugihan tuyul. Namun Sugiyatno tak mau, karena malu jika ketahuan tetangganya ia memelihara tuyul.

Tiba-tiba ia menemukan lokasi pesugihan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Watu Bondo namanya. Watu artinya batu, Bondo berarti harta benda. Tempat itu berupa batu besar yang konon dihuni makhluk halus sejenis jin. Menurut informasi yang ia baca, Watu Bondo sering didatangi oleh para pedagang. Batu besar itu dapat membawa keberuntungan dalam berdagang.

“Ini ada, Bu. Namanya Watu Bondo, dekat dari rumah kita” kata Sugiyatno.

“Syaratnya berat nggak, Pak?” tanya Maryati.

“Nanti kita tanyakan kepada juru kuncinya,” jawab Sugiyatno.

Maryati termenung sejenak. Tampak ia berpikir. Ada sedikit keraguan, hingga akhirnya ia menyetujui saja usulan suaminya. Sugiyatno dan Maryati telah goyah iman. Kebutuhan ekonomi membuat mereka tak kuat menahan godaan. Terutup mata dan hati mereka untuk menempuh jalan pintas, mencari pesugihan.

***

Sore hari, Kamis Wage menjelang malam Jumat Kliwon Sugiyatno dan Maryati mendatangi Watu Bondo yang tidak begitu jauh dari rumah. Mereka disambut oleh Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo yang usianya sudah hampir 70 tahun. Batu besar yang terletak di tengah bebukitan itu tampak angker. Sugiyatno dan Maryati sempat merinding ketika mendekati batu besar yang konon dihuni jin itu.

“Setiap malam Jumat Kliwon harus membawa ingkung ayam walik ke sini,” ujar Mbah Sunu menjelaskan syarat pesugihan yang diminta.

“Inggih, Mbah,” Sugiyatno menyanggupi syarat itu dengan cepat.

“Kalau kami melanggar syarat itu apa akan ada tumbal, Mbah?” tanya Maryati dengan nada cemas.

“Wahh.. saya tidak tahu itu, selama ini belum pernah ada yang melanggar syarat itu,” jawab Mbah Sunu.

Sugiyatno dan Maryati menyanggupi saja syarat yang disebutkan Mbah Sunu juru kunci Watu Bondo. Malam Jumat Kliwon berikutnya mereka membawa ingkung ayam walik. Tidak sulit mencari ayam walik di pasar hewan. Ayam walik adalah ayam lokal Indonesia yang langka dengan bulu yang tumbuh terbalik sehingga kulitnya terlihat jelas. Suara kokoknya berbeda dengan ayam kampung lainnya. Secara mitos ayam ini dipercaya mendatangkan rizki.

Begitulah. Setiap malam Jumat Kliwon Sugiyatno mendatangi Watu Bondo sambil membawa ayam walik yang sudah dimasak menjadi ingkung. Sejak sering ke Watu Bondo warung dagangan Sugiyatno mulai bangkit kembali. Entah karena usaha keras Sugiyatno dan istrinya yang membuka warung lebih pagi dan tutup lebih malam, atau karena sugesti Watu Bondo itu. Sugiyatno juga tidak lagi mengizinkan orang untuk berutang di warungnya.

Dari bulan ke bulan warung Sugiyatno semakin ramai. Ia kini merombak warungnya menjadi toko sembako. Barang dagangannya semakin lengkap. Sugiyatno tidak lagi takut bersaing dengan minimarket. Bahkan tokonya kini banyak dijadikan sumber kulakan bagi pembeli untuk dijual kembali di warung-warung kecil.

Sugiyatno dan Maryati sudah kecukupan secara materi, bahkan boleh dikata hidup berlebih dibanding saat Sugiyatno kerja di perusahaan. Kini mereka sudah memiliki mobil bagus. Rumahnya juga sudah direnovasi menjadi lebih mewah.

Meski sudah hidup kecukupan, tidak membuat Sugiyatno hidup sombong. Ia berbuat baik kepada sesama. Setiap ada permintaan sumbangan dari warga atau desa untuk kegiatan sosial maupun agustusan, Sugiyatno pasti membantunya. Bahkan ia mengangkat keponakannya menjadi anak asuhnya untuk dirawat dan dibiayai sekolahnya.

Hingga tiba suatu hari, Sugiyatno tidak menemukan ayam walik di pasar hewan. Ia mencari ke beberapa pasar tradisional di berbagai desa, tidak ditemukan juga. Para pedagang ayam mengatakan sedang ada hama penyakit ayam, sehingga banyak ayak kampung yang sakit dan mati. Termasuk ayam walik yang biasanya mudah di dapatkan di pasar.

Sugiyatno panik. Ketakutan mulai ia rasakan. Ia tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo pada malam Jumat Kliwon. Sugiyatno tak tahu apa yang akan terjadi jika ia tak memenuhi syarat pesugihan itu. Yang pasti ia merasa cemas. Begitu pun dengan Maryati. Ia takut terjadi sesuatu jika tidak menyerahkan ayam walik ke Watu Bondo.

Saat Sugiyatno dan Maryati didera ketakutan, mendadak mereka mendengar kabar yang mengejutkan. Keponakannya yang telah menjadi anak angkatnya tenggelam di sungai ketika bermain bersama teman-temannya. Anak itu hanyut terbawa arus sungai yang tiba-tiba datang begitu deras. Tidak terselamatkan. Anak itu ditemukan sudah tak bernyawa di hilir sungai.

Sugiyatno dan Maryati terpukul. Keponakannya sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Mereka sangat sayang kepada anak itu. Air mata tak terbendung jatuh. Mereka sangat bersedih. Sugiyatno mencoba mengaitkan kematian keponakannya itu dengan ayam walik yang tidak dapat ia bawa ke Watu Bondo. Ia tanyakan hal itu kepada Mbah Sunu, juru kunci tempat pesugihan itu.

“Mungkin sudah takdirnya. Kita tidak tahu kapan musibah datang,” ucap Mbah Sunu.

Rupanya Mbah Sunu tidak ingin mengaitkan kematian keponakan Sugiyatno dengan ingkung ayam walik yang tidak dapat diserahkan. Meski demikian, Sugiyatno merasa tidak puas dengan jawaban Mbah Sunu. Ia tetap merasa ada hubungan antara kematian keponakannya dengan ayam walik.

***

Sudah dua bulan Sugiyatno tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo. Itu berarti sudah dua kali malam Jumat Kliwon ia tak berhasil menemukan ayak walik di pasar. Entah sudah berapa pasar yang ia datangi. Tidak ada satu pun pedagang ayam yang menjual ayam walik. Sugiyatno gusar. Walau tokonya tetap ramai pembeli, namun ia tak dapat menepati janji membawa ayam walik ke Watu Bondo.

Belum hilang duka Sugiyatno atas kematian keponakaannya, kabar duka kembali mengagetkannya. Anak bungsunya yang sangat ia sayangi tertimbun tanah longsor di desanya saat sedang bermain di bebukitan. Sugiyatno terpukul. Istrinya menangis histeris. Anak yang masih duduk di bangku SD itu harus lebih cepat menghadap Tuhan.

Rumah tangga Sugiyatno kini mencekam. Kematian anak kesayangannya membuat Sugiyatno dan Maryati kehilangan gairah hidup. Apalah artinya punya toko yang ramai pembeli jika mereka harus kehilangan keponakan dan anak kesayangannya. Apalah artinya harta benda dan kekayaan jika harus ada korban.

Bukan hanya mencekam. Rumah tempat tinggal Sugiyatno juga mulai terasa aura mistis. Ia sering merasa merinding bila tengah malam berada di teras rumah. Seolah ia melihat berkelebat sosok makhluk tinggi besar bertelanjang dada. Saat ia mencoba menghampiri makhluk itu menghilang. Kadang juga tercium aroma busuk di dalam tokonya. Ia mengira ada tikus yang mati di dalam toko. Namun berkali-kali dicari, ia tak menemukan bangkai tikus itu. Sugiyatno merasa mendapat teror menyeramkan.

“Bagaimana kalau kita hentikan pesugihan kita, Pak,” usul Maryati suatu malam.

Sugiyatno terdiam. Ia merenungi semua yang telah terjadi. Ada benarnya juga usulan istrinya untuk berhenti mencari rizki dengan cara pesugihan di Watu Bondo. Pesugihan itu telah menelan korban keponakan dan anak kesayangannya. Sugiyatno tak ingin akan ada korban lagi.

Belum sempat memutuskan untuk menghentikan pesugihannya, kabar mengejutkan kembali datang. Maryati mengalami kecelakaan saat berkendaraan sepeda motor di jalan. Ia ditabrak truk tronton yang melintas oleng di depannya. Maryati terkapar. Ia dilarikan ke rumah sakit. Beruntung nyawanya dapat tertolong. Namun Maryati mengalami cedera serius.

Kecelakaan yang menimpa Maryati membuat Sugiyatno semakin ketakutan. Bisa jadi suatu saat dirinya yang akan menjadi korban. Sementara di pasar semakin sulit mendapatkan ayam walik yang harus ia bawa ke Watu Bondo. Dengan penuh kecemasan Sugiyatno segera menemui Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo.

“Saya mau berhenti mencari pesugihan, Mbah. Sudah terjadi korban jiwa dan celaka yang menimpa keluarga saya gara-gara tidak dapat membawa ingkung ayam walik,” tutur Sugiyatno dengan wajah sedih diselimuti kecemasan.

“Saya tidak menolak atau setuju. Semua terserah Pak Sugiyatno. Saya juga tidak mengira akan terjadi korban,” kata Mbah Sunu.

“Bagaimana agar saya tidak lagi berhubungan dengan Watu Bondo, Mbah?” tanya Sugiyatno.

“Ada awal, tentu ada akhir. Kalau pak Sugiyatno di awal meminta pesugihan dengan keharusan membawa ingkung ayam walik, maka jika ingin mengakhiri pesugihan harus membawa ingkung ayam tulak,” jawab Mbah Sunu.

Dijelaskan Mbah Sunu, ayam tulak memiliki bulu berwarna putih pada bagian tubuh dan hitam di punggungnya. Ayam tulak termasuk jenis ayam yang langka, dan sering digunakan dalam ritual adat dan kepercayaan Jawa untuk menolak bala serta mengusir energi negatif.

Malam Jumat Kliwon berikutnya Sugiyatno bersama istrinya yang mulai pulih dari cedera mendatangi Watu Bondo. Sugiyatno berhasil membeli ayam tulak dari tetangganya yang kebetulan memelihara ayam itu, meskipun harus dibayar dengan harga yang mahal. Mereka membawa ingkung ayam tulak itu dan diserahkan kepada Mbah Sunu.

Ritual untuk mengakhiri pesugihan Sugiyatno dimulai. Mbah Sunu membakar kemenyan di Watu Bondo. Kemudian ia letakkan ingkung ayam tulak. Suasana terasa mistis dan mencekam. Suara gemuruh terdengar di dalam batu besar itu. Asap hitam tebal menggelayut di langit yang tiba-tiba mendung. Mbah Sunu mencoba berkomunikasi dengan penghuni Watu Bondo. Sugiyatno dan Maryati merinding. Tak berapa lama, asap putih keluar dari Watu Bondo, dan langit pun menjadi cerah.

“Syukurlah.. Permintaan Pak Sugiyatno dan Ibu diterima. Semoga bisa menjalani kehidupan seperti semula, dan selalu dalam keadaan sehat, selamat, dan dimudahkan rizkinya,” kata Mbah Sunu sambil menjelaskan bahwa permintaan berhenti mencari pesugihan diterima oleh penghuni Watu Bondo.

Sugiyatno dan Maryati lega. Sugiyatno tidak lagi berpikir tentang toko sembako, tak tertarik lagi dengan pesugihan. Rizki bisa datang dari mana saja. Ia memutuskan untuk bertani di lahan persawahan warisan keluarga istrinya. Bercengkerama dengan alam, tumbuhan, pepohonan, dan satwa burung yang berkicau di dahan. Dan kehidupan harus terus diperjuangkan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Next Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co