25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesugihan Menelan Korban

Chusmeru by Chusmeru
April 2, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

BEBERAPA bulan setelah pemutusan hubungan kerja (PHK), nasib Sugiyatno tak menentu. Uang pesangon dari perusahaannya perlahan habis buat biaya hidup sehari-hari bersama istri dan ketiga anaknya. Sudah pasti Sugiyatno pusing untuk menutupi kekurangan kebutuhan keluarganya.

Istrinya setiap hari mengomel, harga sayuran dan sembako setiap hari mengalami kenaikan. Ada saja yang dikeluhkan. Harga cabai naik, ia mengeluh. Harga minyak goreng melonjak, ia cemberut. Harga gula pasir melonjak, ia berteriak. Sugiyatno tak dapat berkomentar. Paling ia mengumpat pemerintah dan para menteri yang tak mampu mengendalikan harga sembako.

Belum lagi kebutuhan bagi ketiga anaknya yang masih sekolah. Anak pertama masih duduk di bangku SMP, yang kedua dan ketiga masih SD. Bekal sekolah setiap hari buat mereka tidak terlalu banyak, namun tetap saja menguras kantong Sugiyatno. Apalagi ketiga anaknya memiliki telepon genggam yang harus diisi pulsa jika kuotanya habis untuk bermain game online.

Pernah Sugiyatno mencoba menjadi makelar jual beli sepeda motor. Namun hasilnya tidak seberapa. Tidak setiap minggu ada orang yang menjual dan membeli sepeda motor. Sekarang orang juga dipermudah dengan perkembangan teknologi dan transportasi. Kalau pun tidak memiliki kendaraan bermotor, orang dapat pergi kemana pun setiap saat dengan memesan transportasi secara daring.

Maryati, istri Sugiyatno pernah menyarankan agar suaminya menjadi petani saja. Orang tua Maryati memiliki sawah yang luas di desanya. Sugiyatno dapat menggarap sawah itu dengan berbagai tanaman yang punya nilai ekonomis. Namun Sugiyatno tak begitu tertarik. Selain ia tak menguasai ilmu bercocok-tanam, menurutnya bertani di zaman sekarang penuh risiko. Saat ini banyak sekali hama tanaman dan musim yang tidak jelas, yang membuat produksi pertanian sering gagal.

Sugiyatno ingin bekerja yang tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, namun banyak orang yang membutuhkan. Tercetus keinginannya untuk membuka warung sembako dengan modal sisa-sisa pesangon dari perusahaannya. Membuka warung sembako tidak perlu berpanas-panas di terik matahari. Tidak perlu berpikir keras mengatasi hama penyakit tanaman. Setiap orang pasti memerlukan kebutuhan pokok setiap harinya.

Gayung bersambut. Keinginan Sugiyatno didukung istrinya. Di desanya memang sudah ada beberapa warung yang menjual sembako. Namun Maryati dan Sugiyatno percaya, bahwa rizki orang berbeda-beda. Meski sudah ada warung sembako, jika memang rizki mereka pasti ada saja orang yang akan belanja di warungnya.

***

Sudah hampir satu tahun Sugiyatno berjualan sembako di warungnya. Awalnya lancar dan banyak pembeli. Apalagi Sugiyatno berani menjual dengan harga yang lebih murah dibanding warung lain, walau hanya mencari keuntungan sedikit. Sikap Maryati yang ramah dan murah senyum juga menjadi daya tarik orang untuk berbelanja ke warung mereka.

Namun bisnis warung sembako ternyata tak selamanya mulus. Batu sandungan perlahan mulai muncul. Minimarket yang buka 24 jam mulai bermunculan di kampung Sugiyatno. Harga barang memang lebih mahal dibanding warung Sugiyatno. Namun entah kenapa, tetangganya lebih memilih belanja di minimarket. Barangkali mereka sudah tertular gaya hidup orang-orang di kota besar.

 Bukan hanya harus bersaing dengan minimarket, warung Sugiyatno juga mulai mengalami kebangkrutan. Para tetangga mulai berutang ketika belanja. Mereka mengambil dulu barang-barang dan sembako di warung Sugiyatno, lantas membayarnya pada bulan berikutnya. Itu pun tidak semua utang dibayar lunas. Padahal Sugiyatno perlu modal untuk memasok dagangannya.

Akhirnya Sugiyatno benar-benar bangkrut. Ia limbung. Bingung. Tiba-tiba Sugiyatno kehilangan akal sehatnya. Muncul di benaknya untuk mencari pesugihan agar warungnya kembali bangkit dan banyak pembeli. Ia tonton di media online banyak cara untuk mendapat pesugihan. Niat itu disampaikannya kepada Maryati, istrinya.

“Hahhh…!!?? Apa..?? Pesugihan..?? Astaga, Pak. Dosa itu, Pak..!!!” ucap Maryati kaget dan marah atas rencana Sugiyatno.

“Tapi kita membutuhkan biaya hidup banyak, Bu. Warung kita bangkrut,” kata Sugiyatno mencoba mencari pembenaran.

“Pesugihan apa, Pak. Biasanya pesugihan harus ada tumbal. Aku tak mau jadi tumbal pesugihan,” ujar Maryati bersikukuh tak mau suaminya pakai pesugihan.

“Kita cari pesugihan yang tidak pakai tumbal, Bu,” kata Sugiyatno ngotot.

“Pesugihan mana yang nggak pakai tumbal?” tanya Maryati.

Sugiyatno terdiam. Ia mencari informasi di media sosial tempat-tempat yang sering dikunjungi orang untuk mencari pesugihan. Sebagian besar lokasinya jauh dari tempat tinggalnya. Syarat untuk mendapatkan pesugihan pun cukup berat.

Ada tempat pesugihan yang mengharuskan orang untuk berhubungan badan dengan orang lain. Sugiyatno tak mau itu, karena ia harus berselingkuh. Ada pula pesugihan yang mengharuskan ia berubah wujud menjadi binatang. Sugiyatno takut untuk itu. Ada pula pesugihan tuyul. Namun Sugiyatno tak mau, karena malu jika ketahuan tetangganya ia memelihara tuyul.

Tiba-tiba ia menemukan lokasi pesugihan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Watu Bondo namanya. Watu artinya batu, Bondo berarti harta benda. Tempat itu berupa batu besar yang konon dihuni makhluk halus sejenis jin. Menurut informasi yang ia baca, Watu Bondo sering didatangi oleh para pedagang. Batu besar itu dapat membawa keberuntungan dalam berdagang.

“Ini ada, Bu. Namanya Watu Bondo, dekat dari rumah kita” kata Sugiyatno.

“Syaratnya berat nggak, Pak?” tanya Maryati.

“Nanti kita tanyakan kepada juru kuncinya,” jawab Sugiyatno.

Maryati termenung sejenak. Tampak ia berpikir. Ada sedikit keraguan, hingga akhirnya ia menyetujui saja usulan suaminya. Sugiyatno dan Maryati telah goyah iman. Kebutuhan ekonomi membuat mereka tak kuat menahan godaan. Terutup mata dan hati mereka untuk menempuh jalan pintas, mencari pesugihan.

***

Sore hari, Kamis Wage menjelang malam Jumat Kliwon Sugiyatno dan Maryati mendatangi Watu Bondo yang tidak begitu jauh dari rumah. Mereka disambut oleh Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo yang usianya sudah hampir 70 tahun. Batu besar yang terletak di tengah bebukitan itu tampak angker. Sugiyatno dan Maryati sempat merinding ketika mendekati batu besar yang konon dihuni jin itu.

“Setiap malam Jumat Kliwon harus membawa ingkung ayam walik ke sini,” ujar Mbah Sunu menjelaskan syarat pesugihan yang diminta.

“Inggih, Mbah,” Sugiyatno menyanggupi syarat itu dengan cepat.

“Kalau kami melanggar syarat itu apa akan ada tumbal, Mbah?” tanya Maryati dengan nada cemas.

“Wahh.. saya tidak tahu itu, selama ini belum pernah ada yang melanggar syarat itu,” jawab Mbah Sunu.

Sugiyatno dan Maryati menyanggupi saja syarat yang disebutkan Mbah Sunu juru kunci Watu Bondo. Malam Jumat Kliwon berikutnya mereka membawa ingkung ayam walik. Tidak sulit mencari ayam walik di pasar hewan. Ayam walik adalah ayam lokal Indonesia yang langka dengan bulu yang tumbuh terbalik sehingga kulitnya terlihat jelas. Suara kokoknya berbeda dengan ayam kampung lainnya. Secara mitos ayam ini dipercaya mendatangkan rizki.

Begitulah. Setiap malam Jumat Kliwon Sugiyatno mendatangi Watu Bondo sambil membawa ayam walik yang sudah dimasak menjadi ingkung. Sejak sering ke Watu Bondo warung dagangan Sugiyatno mulai bangkit kembali. Entah karena usaha keras Sugiyatno dan istrinya yang membuka warung lebih pagi dan tutup lebih malam, atau karena sugesti Watu Bondo itu. Sugiyatno juga tidak lagi mengizinkan orang untuk berutang di warungnya.

Dari bulan ke bulan warung Sugiyatno semakin ramai. Ia kini merombak warungnya menjadi toko sembako. Barang dagangannya semakin lengkap. Sugiyatno tidak lagi takut bersaing dengan minimarket. Bahkan tokonya kini banyak dijadikan sumber kulakan bagi pembeli untuk dijual kembali di warung-warung kecil.

Sugiyatno dan Maryati sudah kecukupan secara materi, bahkan boleh dikata hidup berlebih dibanding saat Sugiyatno kerja di perusahaan. Kini mereka sudah memiliki mobil bagus. Rumahnya juga sudah direnovasi menjadi lebih mewah.

Meski sudah hidup kecukupan, tidak membuat Sugiyatno hidup sombong. Ia berbuat baik kepada sesama. Setiap ada permintaan sumbangan dari warga atau desa untuk kegiatan sosial maupun agustusan, Sugiyatno pasti membantunya. Bahkan ia mengangkat keponakannya menjadi anak asuhnya untuk dirawat dan dibiayai sekolahnya.

Hingga tiba suatu hari, Sugiyatno tidak menemukan ayam walik di pasar hewan. Ia mencari ke beberapa pasar tradisional di berbagai desa, tidak ditemukan juga. Para pedagang ayam mengatakan sedang ada hama penyakit ayam, sehingga banyak ayak kampung yang sakit dan mati. Termasuk ayam walik yang biasanya mudah di dapatkan di pasar.

Sugiyatno panik. Ketakutan mulai ia rasakan. Ia tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo pada malam Jumat Kliwon. Sugiyatno tak tahu apa yang akan terjadi jika ia tak memenuhi syarat pesugihan itu. Yang pasti ia merasa cemas. Begitu pun dengan Maryati. Ia takut terjadi sesuatu jika tidak menyerahkan ayam walik ke Watu Bondo.

Saat Sugiyatno dan Maryati didera ketakutan, mendadak mereka mendengar kabar yang mengejutkan. Keponakannya yang telah menjadi anak angkatnya tenggelam di sungai ketika bermain bersama teman-temannya. Anak itu hanyut terbawa arus sungai yang tiba-tiba datang begitu deras. Tidak terselamatkan. Anak itu ditemukan sudah tak bernyawa di hilir sungai.

Sugiyatno dan Maryati terpukul. Keponakannya sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Mereka sangat sayang kepada anak itu. Air mata tak terbendung jatuh. Mereka sangat bersedih. Sugiyatno mencoba mengaitkan kematian keponakannya itu dengan ayam walik yang tidak dapat ia bawa ke Watu Bondo. Ia tanyakan hal itu kepada Mbah Sunu, juru kunci tempat pesugihan itu.

“Mungkin sudah takdirnya. Kita tidak tahu kapan musibah datang,” ucap Mbah Sunu.

Rupanya Mbah Sunu tidak ingin mengaitkan kematian keponakan Sugiyatno dengan ingkung ayam walik yang tidak dapat diserahkan. Meski demikian, Sugiyatno merasa tidak puas dengan jawaban Mbah Sunu. Ia tetap merasa ada hubungan antara kematian keponakannya dengan ayam walik.

***

Sudah dua bulan Sugiyatno tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo. Itu berarti sudah dua kali malam Jumat Kliwon ia tak berhasil menemukan ayak walik di pasar. Entah sudah berapa pasar yang ia datangi. Tidak ada satu pun pedagang ayam yang menjual ayam walik. Sugiyatno gusar. Walau tokonya tetap ramai pembeli, namun ia tak dapat menepati janji membawa ayam walik ke Watu Bondo.

Belum hilang duka Sugiyatno atas kematian keponakaannya, kabar duka kembali mengagetkannya. Anak bungsunya yang sangat ia sayangi tertimbun tanah longsor di desanya saat sedang bermain di bebukitan. Sugiyatno terpukul. Istrinya menangis histeris. Anak yang masih duduk di bangku SD itu harus lebih cepat menghadap Tuhan.

Rumah tangga Sugiyatno kini mencekam. Kematian anak kesayangannya membuat Sugiyatno dan Maryati kehilangan gairah hidup. Apalah artinya punya toko yang ramai pembeli jika mereka harus kehilangan keponakan dan anak kesayangannya. Apalah artinya harta benda dan kekayaan jika harus ada korban.

Bukan hanya mencekam. Rumah tempat tinggal Sugiyatno juga mulai terasa aura mistis. Ia sering merasa merinding bila tengah malam berada di teras rumah. Seolah ia melihat berkelebat sosok makhluk tinggi besar bertelanjang dada. Saat ia mencoba menghampiri makhluk itu menghilang. Kadang juga tercium aroma busuk di dalam tokonya. Ia mengira ada tikus yang mati di dalam toko. Namun berkali-kali dicari, ia tak menemukan bangkai tikus itu. Sugiyatno merasa mendapat teror menyeramkan.

“Bagaimana kalau kita hentikan pesugihan kita, Pak,” usul Maryati suatu malam.

Sugiyatno terdiam. Ia merenungi semua yang telah terjadi. Ada benarnya juga usulan istrinya untuk berhenti mencari rizki dengan cara pesugihan di Watu Bondo. Pesugihan itu telah menelan korban keponakan dan anak kesayangannya. Sugiyatno tak ingin akan ada korban lagi.

Belum sempat memutuskan untuk menghentikan pesugihannya, kabar mengejutkan kembali datang. Maryati mengalami kecelakaan saat berkendaraan sepeda motor di jalan. Ia ditabrak truk tronton yang melintas oleng di depannya. Maryati terkapar. Ia dilarikan ke rumah sakit. Beruntung nyawanya dapat tertolong. Namun Maryati mengalami cedera serius.

Kecelakaan yang menimpa Maryati membuat Sugiyatno semakin ketakutan. Bisa jadi suatu saat dirinya yang akan menjadi korban. Sementara di pasar semakin sulit mendapatkan ayam walik yang harus ia bawa ke Watu Bondo. Dengan penuh kecemasan Sugiyatno segera menemui Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo.

“Saya mau berhenti mencari pesugihan, Mbah. Sudah terjadi korban jiwa dan celaka yang menimpa keluarga saya gara-gara tidak dapat membawa ingkung ayam walik,” tutur Sugiyatno dengan wajah sedih diselimuti kecemasan.

“Saya tidak menolak atau setuju. Semua terserah Pak Sugiyatno. Saya juga tidak mengira akan terjadi korban,” kata Mbah Sunu.

“Bagaimana agar saya tidak lagi berhubungan dengan Watu Bondo, Mbah?” tanya Sugiyatno.

“Ada awal, tentu ada akhir. Kalau pak Sugiyatno di awal meminta pesugihan dengan keharusan membawa ingkung ayam walik, maka jika ingin mengakhiri pesugihan harus membawa ingkung ayam tulak,” jawab Mbah Sunu.

Dijelaskan Mbah Sunu, ayam tulak memiliki bulu berwarna putih pada bagian tubuh dan hitam di punggungnya. Ayam tulak termasuk jenis ayam yang langka, dan sering digunakan dalam ritual adat dan kepercayaan Jawa untuk menolak bala serta mengusir energi negatif.

Malam Jumat Kliwon berikutnya Sugiyatno bersama istrinya yang mulai pulih dari cedera mendatangi Watu Bondo. Sugiyatno berhasil membeli ayam tulak dari tetangganya yang kebetulan memelihara ayam itu, meskipun harus dibayar dengan harga yang mahal. Mereka membawa ingkung ayam tulak itu dan diserahkan kepada Mbah Sunu.

Ritual untuk mengakhiri pesugihan Sugiyatno dimulai. Mbah Sunu membakar kemenyan di Watu Bondo. Kemudian ia letakkan ingkung ayam tulak. Suasana terasa mistis dan mencekam. Suara gemuruh terdengar di dalam batu besar itu. Asap hitam tebal menggelayut di langit yang tiba-tiba mendung. Mbah Sunu mencoba berkomunikasi dengan penghuni Watu Bondo. Sugiyatno dan Maryati merinding. Tak berapa lama, asap putih keluar dari Watu Bondo, dan langit pun menjadi cerah.

“Syukurlah.. Permintaan Pak Sugiyatno dan Ibu diterima. Semoga bisa menjalani kehidupan seperti semula, dan selalu dalam keadaan sehat, selamat, dan dimudahkan rizkinya,” kata Mbah Sunu sambil menjelaskan bahwa permintaan berhenti mencari pesugihan diterima oleh penghuni Watu Bondo.

Sugiyatno dan Maryati lega. Sugiyatno tidak lagi berpikir tentang toko sembako, tak tertarik lagi dengan pesugihan. Rizki bisa datang dari mana saja. Ia memutuskan untuk bertani di lahan persawahan warisan keluarga istrinya. Bercengkerama dengan alam, tumbuhan, pepohonan, dan satwa burung yang berkicau di dahan. Dan kehidupan harus terus diperjuangkan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Next Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co