5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pesugihan Menelan Korban

Chusmeru by Chusmeru
April 2, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

BEBERAPA bulan setelah pemutusan hubungan kerja (PHK), nasib Sugiyatno tak menentu. Uang pesangon dari perusahaannya perlahan habis buat biaya hidup sehari-hari bersama istri dan ketiga anaknya. Sudah pasti Sugiyatno pusing untuk menutupi kekurangan kebutuhan keluarganya.

Istrinya setiap hari mengomel, harga sayuran dan sembako setiap hari mengalami kenaikan. Ada saja yang dikeluhkan. Harga cabai naik, ia mengeluh. Harga minyak goreng melonjak, ia cemberut. Harga gula pasir melonjak, ia berteriak. Sugiyatno tak dapat berkomentar. Paling ia mengumpat pemerintah dan para menteri yang tak mampu mengendalikan harga sembako.

Belum lagi kebutuhan bagi ketiga anaknya yang masih sekolah. Anak pertama masih duduk di bangku SMP, yang kedua dan ketiga masih SD. Bekal sekolah setiap hari buat mereka tidak terlalu banyak, namun tetap saja menguras kantong Sugiyatno. Apalagi ketiga anaknya memiliki telepon genggam yang harus diisi pulsa jika kuotanya habis untuk bermain game online.

Pernah Sugiyatno mencoba menjadi makelar jual beli sepeda motor. Namun hasilnya tidak seberapa. Tidak setiap minggu ada orang yang menjual dan membeli sepeda motor. Sekarang orang juga dipermudah dengan perkembangan teknologi dan transportasi. Kalau pun tidak memiliki kendaraan bermotor, orang dapat pergi kemana pun setiap saat dengan memesan transportasi secara daring.

Maryati, istri Sugiyatno pernah menyarankan agar suaminya menjadi petani saja. Orang tua Maryati memiliki sawah yang luas di desanya. Sugiyatno dapat menggarap sawah itu dengan berbagai tanaman yang punya nilai ekonomis. Namun Sugiyatno tak begitu tertarik. Selain ia tak menguasai ilmu bercocok-tanam, menurutnya bertani di zaman sekarang penuh risiko. Saat ini banyak sekali hama tanaman dan musim yang tidak jelas, yang membuat produksi pertanian sering gagal.

Sugiyatno ingin bekerja yang tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, namun banyak orang yang membutuhkan. Tercetus keinginannya untuk membuka warung sembako dengan modal sisa-sisa pesangon dari perusahaannya. Membuka warung sembako tidak perlu berpanas-panas di terik matahari. Tidak perlu berpikir keras mengatasi hama penyakit tanaman. Setiap orang pasti memerlukan kebutuhan pokok setiap harinya.

Gayung bersambut. Keinginan Sugiyatno didukung istrinya. Di desanya memang sudah ada beberapa warung yang menjual sembako. Namun Maryati dan Sugiyatno percaya, bahwa rizki orang berbeda-beda. Meski sudah ada warung sembako, jika memang rizki mereka pasti ada saja orang yang akan belanja di warungnya.

***

Sudah hampir satu tahun Sugiyatno berjualan sembako di warungnya. Awalnya lancar dan banyak pembeli. Apalagi Sugiyatno berani menjual dengan harga yang lebih murah dibanding warung lain, walau hanya mencari keuntungan sedikit. Sikap Maryati yang ramah dan murah senyum juga menjadi daya tarik orang untuk berbelanja ke warung mereka.

Namun bisnis warung sembako ternyata tak selamanya mulus. Batu sandungan perlahan mulai muncul. Minimarket yang buka 24 jam mulai bermunculan di kampung Sugiyatno. Harga barang memang lebih mahal dibanding warung Sugiyatno. Namun entah kenapa, tetangganya lebih memilih belanja di minimarket. Barangkali mereka sudah tertular gaya hidup orang-orang di kota besar.

 Bukan hanya harus bersaing dengan minimarket, warung Sugiyatno juga mulai mengalami kebangkrutan. Para tetangga mulai berutang ketika belanja. Mereka mengambil dulu barang-barang dan sembako di warung Sugiyatno, lantas membayarnya pada bulan berikutnya. Itu pun tidak semua utang dibayar lunas. Padahal Sugiyatno perlu modal untuk memasok dagangannya.

Akhirnya Sugiyatno benar-benar bangkrut. Ia limbung. Bingung. Tiba-tiba Sugiyatno kehilangan akal sehatnya. Muncul di benaknya untuk mencari pesugihan agar warungnya kembali bangkit dan banyak pembeli. Ia tonton di media online banyak cara untuk mendapat pesugihan. Niat itu disampaikannya kepada Maryati, istrinya.

“Hahhh…!!?? Apa..?? Pesugihan..?? Astaga, Pak. Dosa itu, Pak..!!!” ucap Maryati kaget dan marah atas rencana Sugiyatno.

“Tapi kita membutuhkan biaya hidup banyak, Bu. Warung kita bangkrut,” kata Sugiyatno mencoba mencari pembenaran.

“Pesugihan apa, Pak. Biasanya pesugihan harus ada tumbal. Aku tak mau jadi tumbal pesugihan,” ujar Maryati bersikukuh tak mau suaminya pakai pesugihan.

“Kita cari pesugihan yang tidak pakai tumbal, Bu,” kata Sugiyatno ngotot.

“Pesugihan mana yang nggak pakai tumbal?” tanya Maryati.

Sugiyatno terdiam. Ia mencari informasi di media sosial tempat-tempat yang sering dikunjungi orang untuk mencari pesugihan. Sebagian besar lokasinya jauh dari tempat tinggalnya. Syarat untuk mendapatkan pesugihan pun cukup berat.

Ada tempat pesugihan yang mengharuskan orang untuk berhubungan badan dengan orang lain. Sugiyatno tak mau itu, karena ia harus berselingkuh. Ada pula pesugihan yang mengharuskan ia berubah wujud menjadi binatang. Sugiyatno takut untuk itu. Ada pula pesugihan tuyul. Namun Sugiyatno tak mau, karena malu jika ketahuan tetangganya ia memelihara tuyul.

Tiba-tiba ia menemukan lokasi pesugihan yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Watu Bondo namanya. Watu artinya batu, Bondo berarti harta benda. Tempat itu berupa batu besar yang konon dihuni makhluk halus sejenis jin. Menurut informasi yang ia baca, Watu Bondo sering didatangi oleh para pedagang. Batu besar itu dapat membawa keberuntungan dalam berdagang.

“Ini ada, Bu. Namanya Watu Bondo, dekat dari rumah kita” kata Sugiyatno.

“Syaratnya berat nggak, Pak?” tanya Maryati.

“Nanti kita tanyakan kepada juru kuncinya,” jawab Sugiyatno.

Maryati termenung sejenak. Tampak ia berpikir. Ada sedikit keraguan, hingga akhirnya ia menyetujui saja usulan suaminya. Sugiyatno dan Maryati telah goyah iman. Kebutuhan ekonomi membuat mereka tak kuat menahan godaan. Terutup mata dan hati mereka untuk menempuh jalan pintas, mencari pesugihan.

***

Sore hari, Kamis Wage menjelang malam Jumat Kliwon Sugiyatno dan Maryati mendatangi Watu Bondo yang tidak begitu jauh dari rumah. Mereka disambut oleh Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo yang usianya sudah hampir 70 tahun. Batu besar yang terletak di tengah bebukitan itu tampak angker. Sugiyatno dan Maryati sempat merinding ketika mendekati batu besar yang konon dihuni jin itu.

“Setiap malam Jumat Kliwon harus membawa ingkung ayam walik ke sini,” ujar Mbah Sunu menjelaskan syarat pesugihan yang diminta.

“Inggih, Mbah,” Sugiyatno menyanggupi syarat itu dengan cepat.

“Kalau kami melanggar syarat itu apa akan ada tumbal, Mbah?” tanya Maryati dengan nada cemas.

“Wahh.. saya tidak tahu itu, selama ini belum pernah ada yang melanggar syarat itu,” jawab Mbah Sunu.

Sugiyatno dan Maryati menyanggupi saja syarat yang disebutkan Mbah Sunu juru kunci Watu Bondo. Malam Jumat Kliwon berikutnya mereka membawa ingkung ayam walik. Tidak sulit mencari ayam walik di pasar hewan. Ayam walik adalah ayam lokal Indonesia yang langka dengan bulu yang tumbuh terbalik sehingga kulitnya terlihat jelas. Suara kokoknya berbeda dengan ayam kampung lainnya. Secara mitos ayam ini dipercaya mendatangkan rizki.

Begitulah. Setiap malam Jumat Kliwon Sugiyatno mendatangi Watu Bondo sambil membawa ayam walik yang sudah dimasak menjadi ingkung. Sejak sering ke Watu Bondo warung dagangan Sugiyatno mulai bangkit kembali. Entah karena usaha keras Sugiyatno dan istrinya yang membuka warung lebih pagi dan tutup lebih malam, atau karena sugesti Watu Bondo itu. Sugiyatno juga tidak lagi mengizinkan orang untuk berutang di warungnya.

Dari bulan ke bulan warung Sugiyatno semakin ramai. Ia kini merombak warungnya menjadi toko sembako. Barang dagangannya semakin lengkap. Sugiyatno tidak lagi takut bersaing dengan minimarket. Bahkan tokonya kini banyak dijadikan sumber kulakan bagi pembeli untuk dijual kembali di warung-warung kecil.

Sugiyatno dan Maryati sudah kecukupan secara materi, bahkan boleh dikata hidup berlebih dibanding saat Sugiyatno kerja di perusahaan. Kini mereka sudah memiliki mobil bagus. Rumahnya juga sudah direnovasi menjadi lebih mewah.

Meski sudah hidup kecukupan, tidak membuat Sugiyatno hidup sombong. Ia berbuat baik kepada sesama. Setiap ada permintaan sumbangan dari warga atau desa untuk kegiatan sosial maupun agustusan, Sugiyatno pasti membantunya. Bahkan ia mengangkat keponakannya menjadi anak asuhnya untuk dirawat dan dibiayai sekolahnya.

Hingga tiba suatu hari, Sugiyatno tidak menemukan ayam walik di pasar hewan. Ia mencari ke beberapa pasar tradisional di berbagai desa, tidak ditemukan juga. Para pedagang ayam mengatakan sedang ada hama penyakit ayam, sehingga banyak ayak kampung yang sakit dan mati. Termasuk ayam walik yang biasanya mudah di dapatkan di pasar.

Sugiyatno panik. Ketakutan mulai ia rasakan. Ia tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo pada malam Jumat Kliwon. Sugiyatno tak tahu apa yang akan terjadi jika ia tak memenuhi syarat pesugihan itu. Yang pasti ia merasa cemas. Begitu pun dengan Maryati. Ia takut terjadi sesuatu jika tidak menyerahkan ayam walik ke Watu Bondo.

Saat Sugiyatno dan Maryati didera ketakutan, mendadak mereka mendengar kabar yang mengejutkan. Keponakannya yang telah menjadi anak angkatnya tenggelam di sungai ketika bermain bersama teman-temannya. Anak itu hanyut terbawa arus sungai yang tiba-tiba datang begitu deras. Tidak terselamatkan. Anak itu ditemukan sudah tak bernyawa di hilir sungai.

Sugiyatno dan Maryati terpukul. Keponakannya sudah mereka anggap sebagai anak sendiri. Mereka sangat sayang kepada anak itu. Air mata tak terbendung jatuh. Mereka sangat bersedih. Sugiyatno mencoba mengaitkan kematian keponakannya itu dengan ayam walik yang tidak dapat ia bawa ke Watu Bondo. Ia tanyakan hal itu kepada Mbah Sunu, juru kunci tempat pesugihan itu.

“Mungkin sudah takdirnya. Kita tidak tahu kapan musibah datang,” ucap Mbah Sunu.

Rupanya Mbah Sunu tidak ingin mengaitkan kematian keponakan Sugiyatno dengan ingkung ayam walik yang tidak dapat diserahkan. Meski demikian, Sugiyatno merasa tidak puas dengan jawaban Mbah Sunu. Ia tetap merasa ada hubungan antara kematian keponakannya dengan ayam walik.

***

Sudah dua bulan Sugiyatno tidak dapat membawa ingkung ayam walik ke Watu Bondo. Itu berarti sudah dua kali malam Jumat Kliwon ia tak berhasil menemukan ayak walik di pasar. Entah sudah berapa pasar yang ia datangi. Tidak ada satu pun pedagang ayam yang menjual ayam walik. Sugiyatno gusar. Walau tokonya tetap ramai pembeli, namun ia tak dapat menepati janji membawa ayam walik ke Watu Bondo.

Belum hilang duka Sugiyatno atas kematian keponakaannya, kabar duka kembali mengagetkannya. Anak bungsunya yang sangat ia sayangi tertimbun tanah longsor di desanya saat sedang bermain di bebukitan. Sugiyatno terpukul. Istrinya menangis histeris. Anak yang masih duduk di bangku SD itu harus lebih cepat menghadap Tuhan.

Rumah tangga Sugiyatno kini mencekam. Kematian anak kesayangannya membuat Sugiyatno dan Maryati kehilangan gairah hidup. Apalah artinya punya toko yang ramai pembeli jika mereka harus kehilangan keponakan dan anak kesayangannya. Apalah artinya harta benda dan kekayaan jika harus ada korban.

Bukan hanya mencekam. Rumah tempat tinggal Sugiyatno juga mulai terasa aura mistis. Ia sering merasa merinding bila tengah malam berada di teras rumah. Seolah ia melihat berkelebat sosok makhluk tinggi besar bertelanjang dada. Saat ia mencoba menghampiri makhluk itu menghilang. Kadang juga tercium aroma busuk di dalam tokonya. Ia mengira ada tikus yang mati di dalam toko. Namun berkali-kali dicari, ia tak menemukan bangkai tikus itu. Sugiyatno merasa mendapat teror menyeramkan.

“Bagaimana kalau kita hentikan pesugihan kita, Pak,” usul Maryati suatu malam.

Sugiyatno terdiam. Ia merenungi semua yang telah terjadi. Ada benarnya juga usulan istrinya untuk berhenti mencari rizki dengan cara pesugihan di Watu Bondo. Pesugihan itu telah menelan korban keponakan dan anak kesayangannya. Sugiyatno tak ingin akan ada korban lagi.

Belum sempat memutuskan untuk menghentikan pesugihannya, kabar mengejutkan kembali datang. Maryati mengalami kecelakaan saat berkendaraan sepeda motor di jalan. Ia ditabrak truk tronton yang melintas oleng di depannya. Maryati terkapar. Ia dilarikan ke rumah sakit. Beruntung nyawanya dapat tertolong. Namun Maryati mengalami cedera serius.

Kecelakaan yang menimpa Maryati membuat Sugiyatno semakin ketakutan. Bisa jadi suatu saat dirinya yang akan menjadi korban. Sementara di pasar semakin sulit mendapatkan ayam walik yang harus ia bawa ke Watu Bondo. Dengan penuh kecemasan Sugiyatno segera menemui Mbah Sunu, juru kunci Watu Bondo.

“Saya mau berhenti mencari pesugihan, Mbah. Sudah terjadi korban jiwa dan celaka yang menimpa keluarga saya gara-gara tidak dapat membawa ingkung ayam walik,” tutur Sugiyatno dengan wajah sedih diselimuti kecemasan.

“Saya tidak menolak atau setuju. Semua terserah Pak Sugiyatno. Saya juga tidak mengira akan terjadi korban,” kata Mbah Sunu.

“Bagaimana agar saya tidak lagi berhubungan dengan Watu Bondo, Mbah?” tanya Sugiyatno.

“Ada awal, tentu ada akhir. Kalau pak Sugiyatno di awal meminta pesugihan dengan keharusan membawa ingkung ayam walik, maka jika ingin mengakhiri pesugihan harus membawa ingkung ayam tulak,” jawab Mbah Sunu.

Dijelaskan Mbah Sunu, ayam tulak memiliki bulu berwarna putih pada bagian tubuh dan hitam di punggungnya. Ayam tulak termasuk jenis ayam yang langka, dan sering digunakan dalam ritual adat dan kepercayaan Jawa untuk menolak bala serta mengusir energi negatif.

Malam Jumat Kliwon berikutnya Sugiyatno bersama istrinya yang mulai pulih dari cedera mendatangi Watu Bondo. Sugiyatno berhasil membeli ayam tulak dari tetangganya yang kebetulan memelihara ayam itu, meskipun harus dibayar dengan harga yang mahal. Mereka membawa ingkung ayam tulak itu dan diserahkan kepada Mbah Sunu.

Ritual untuk mengakhiri pesugihan Sugiyatno dimulai. Mbah Sunu membakar kemenyan di Watu Bondo. Kemudian ia letakkan ingkung ayam tulak. Suasana terasa mistis dan mencekam. Suara gemuruh terdengar di dalam batu besar itu. Asap hitam tebal menggelayut di langit yang tiba-tiba mendung. Mbah Sunu mencoba berkomunikasi dengan penghuni Watu Bondo. Sugiyatno dan Maryati merinding. Tak berapa lama, asap putih keluar dari Watu Bondo, dan langit pun menjadi cerah.

“Syukurlah.. Permintaan Pak Sugiyatno dan Ibu diterima. Semoga bisa menjalani kehidupan seperti semula, dan selalu dalam keadaan sehat, selamat, dan dimudahkan rizkinya,” kata Mbah Sunu sambil menjelaskan bahwa permintaan berhenti mencari pesugihan diterima oleh penghuni Watu Bondo.

Sugiyatno dan Maryati lega. Sugiyatno tidak lagi berpikir tentang toko sembako, tak tertarik lagi dengan pesugihan. Rizki bisa datang dari mana saja. Ia memutuskan untuk bertani di lahan persawahan warisan keluarga istrinya. Bercengkerama dengan alam, tumbuhan, pepohonan, dan satwa burung yang berkicau di dahan. Dan kehidupan harus terus diperjuangkan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

Next Post

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026:Ketika Tuhan Mengirimkan Gangga, Ia Sebenarnya Mengirimkan Sekolah Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co