4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Komang Ari by Komang Ari
March 14, 2026
in Khas
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Foto: Made Lungsur saat memperlihatkan ‘senjata’ melautnya.

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)–yang diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pertanyaan itu bergumul: Kira-kira sampai kapan kita perlu membicarakan isu perempuan? Setidaknya menyoal puan-puan yang tidak jauh dari pelupuk mata, entah kepada mereka yang getol bersuara, atau mereka yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar bersuara.

***

Konon katanya, tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan tangguh di Bali. Meminjam ungkapan penulis perempuan kawakan asal Bali, Oka Rusmini dalam bukunya Tarian Bumi:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup,”.

Ingatan saya melambat, menyusuri jejak ingatan tempo hari ketika saya tanpa sengaja menemui sosok persis seperti apa yang tertulis di atas–Made Lungsur (53) namanya, nelayan perempuan paruh baya di Pesisir Serangan, Denpasar, Bali.

Saya menemuinya tanpa sengaja kala itu, bermula dari pertanyaan iseng saya kepada salah satu pedagang nasi goreng di dekat Pelabuhan Serangan, “Masih adakah nelayan perempuan saat ini?”. Ternyata ada, dan kini, Made Lungsur merupakan satu-satunya nelayan perempuan di Banjar Ponjok, Serangan.

Perempuan Bali dalam Tiga Ruang Kehidupan

Katanya, perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) dalam hidupnya, ketiganya meliputi peran di ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan  (Oktarina & Komalasari, 2022). Jika benar demikian, maka Lungsur, dan banyak perempuan Bali lainnya tentu tidak absen dari pandangan tersebut.

Jika alarm saya sering berdering berkali-kali di pagi hari, Lungsur sudah lebih dulu merayu Dewa Segara (dan tentu, saya kalah telak.) Berbekalkan alat selam seadanya, ia biasanya berburu rumput laut sejak pukul 06.00 Wita hingga kembali sekitar pukul 10.00 Wita, itupun tidak menentu tergantung cuaca serta hasil rumput laut yang diperoleh hari itu. Kadang hasilnya melimpah, tapi bisa juga pulang dengan tangan kosong.

Foto: Made Lungsur dan alat selam andalannya.

Perempuan ini tidak mengingat secara pasti kapan siklus itu bermula, yang ia tahu, aktivitas serupa telah dilakoni sejak remaja “Saya tidak ingat kapan tepatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut hemat saya, tentu tidak berlebihan jika menyebut Lungsur sebagai sosok yang tangguh. Sebagai nelayan, ia terbiasa melaut seorang diri, meskipun tak jarang suaminya juga menemani. Saya tertegun betul dengan apa yang tengah dilakukan Lungsur untuk melawan dunia, memastikan asap dapur mengepul agar ia dapat menghidupi keluarganya.

Namun lagi-lagi, penghasilannya tidak pernah pasti. Jika mujur, satu orang nelayan bisa membawa pulang hingga sekitar 50 kilogram rumput laut. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat dan ketersediaan rumput laut di laut menipis, bukan tidak mungkin ia pulang tanpa membawa apa-apa. Lungsur tidak setiap hari melaut, ada kalanya ia tidak bisa bekerja–entah karena cuaca yang memihak, kegiatan-kegiatan adat dan urusan menyama braya. “Kadang tujuh bulan tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Dengan demikian, Lungsur tidak hanya berdiri sebagai perempuan, tetapi juga lakonnya yang beragam: dalam ranah domestik, pekerjaan, hingga adat.

Kerentanan Nelayan Perempuan

Kerentanan tiap individu tentu tak sama, meminjam kerangka analisis interseksionalitas milik Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal, namun saling berkelindan dengan banyak hal–pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya. Bayangkan, jika ada perempuan yang tidak hanya  berada dalam lingkaran kemiskinan, tapi juga akses pendidikan yang terbatas, maka, kerentanan yang dipikulnya juga berlapis.

Foto: Perahu para nelayan di Pesisir Serangan.

Bagi Lungsur, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan pilihan terakhir. Sekalipun ingin, tidak mudah baginya meninggalkan pekerjaan yang telah berpuluh tahun dilakoni untuk beralih ke profesi lain. “Soalnya ibu (Lungsur, red) itu kan tidak tamat sekolah apa-apa. Disamping itu, karena biaya menjadi nelayan tidak seberapa cuma perlu perahu, dan alat-alat seperti tampus,” sambungnya.

Namun, kerentanan Lungsur dan perempuan nelayan lain tidak hanya soal ekonomi atau pendidikan. Riset Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan Sajogyo Institute, yang dikutip Mongabay, menunjukkan bahwa perempuan nelayan menghadapi risiko tinggi karena beban kerja berat sekaligus minimnya perlindungan melalui kebijakan.

UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan memang menyebut “setiap orang yang melakukan penangkapan ikan,” tampak netral gender, tetapi dalam praktik pengakuan nelayan lebih diarahkan pada laki-laki. Sementara itu, kata ‘perempuan’ hanya muncul pada pasal 45 yang membahas pemberdayaan, sehingga ketimpangan dan kesenjangan akses tetap terjadi.

Suara Perempuan dalam Ruang Kebijakan

Sesaat ketika mengagumi betapa tangguhnya perempuan nelayan di Pesisir Serangan, jangan lupa bahwa lokasi yang sama–tempat Lungsur melaut, kini tengah diwarnai wacana pembangunan proyek Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek anyar ini cukup kontroversial, meski telah diklaim sebagai energi bersih yang minim risiko. Namun, yang tak kalah penting adalah mempertanyakan peran dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menentukan suaranya.

Seingat Lungsur, hingga kini belum ada sosialisasi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) terkait proyek anyar tersebut. Padahal, nelayan adalah profesi yang paling merasakan dampak dari setiap aktivitas, sekecil apapun, di laut.

“Ibu belum pernah tahu tentang itu, harapannya sih LNG ini agar tidak dibangun di sini,” katanya.

Meminjam ungkapan Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha Jesica Solomasi Mendrofa, dalam agenda transisi energi yang berkeadilan, perempuan sebagai kelompok rentan harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.

“Perempuan perlu terlibat dalam seluruh rantai proses pengembangan infrastruktur energi, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring,” ujarnya.

Keterlibatan ini penting, tentu untuk memastikan partisipasi perempuan sejak tahap awal, mulai dari analisis kebutuhan energi, konsultasi publik, hingga penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan. Pada tahap ini, keamanan perempuan dalam menyampaikan pendapat, akses informasi yang setara, serta mekanisme representasi yang memperhatikan keberagaman perempuan perlu dijamin.

Dari Rahim Nelayan, Lahir ‘Harapan Lain’

Meski sudah bertahun-tahun mengakrabkan diri dengan laut, Lungsur berharap anak-anaknya tidak bernasib sama. Julukan nelayan sebagai penopang ketahanan pangan laut mungkin terdengar begitu romantis sampai akhirnya kita dapat dengan jujur melihat tantangan yang mereka alami; risiko pekerjaan yang tinggi, jaminan pekerjaan, hingga penghasilan yang tidak menentu. “Biar saya saja nelayan” ucap Lungsur.

Foto: Rumput laut, hasil melaut Made Lungsur.

Kembali lagi pada perayaan Hari Perempuan Sedunia, tahun ini tema yang digaungkan adalah Give to Gain sederhananya kalau dialihbahasakan ‘memberil untuk mendapatkan’, tentu saya sepakat jika ini lahir dengan banyak harapan; memberikan dukungan untuk mendapatkan kesetaraan, berbagi pengalaman untuk memperkuat gerakan, hingga memberi kontribusi kecil untuk perubahan besar.

Namun, berkaca dari Lungsur dan (mungkin) suara-suara yang tidak bersuara lainnya, jangan-jangan ada banyak perempuan yang justru lebih banyak memberi tanpa pernah (kita izinka) untuk menerima? Entahlah.[T]

Tags: hari perempuannelayanPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Next Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Komang Ari

Komang Ari

Gen Z random yang kadang-kadang pengen nulis. Instagram: @kmg.arii

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co