25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Komang Ari by Komang Ari
March 14, 2026
in Khas
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Foto: Made Lungsur saat memperlihatkan ‘senjata’ melautnya.

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)–yang diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pertanyaan itu bergumul: Kira-kira sampai kapan kita perlu membicarakan isu perempuan? Setidaknya menyoal puan-puan yang tidak jauh dari pelupuk mata, entah kepada mereka yang getol bersuara, atau mereka yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar bersuara.

***

Konon katanya, tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan tangguh di Bali. Meminjam ungkapan penulis perempuan kawakan asal Bali, Oka Rusmini dalam bukunya Tarian Bumi:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup,”.

Ingatan saya melambat, menyusuri jejak ingatan tempo hari ketika saya tanpa sengaja menemui sosok persis seperti apa yang tertulis di atas–Made Lungsur (53) namanya, nelayan perempuan paruh baya di Pesisir Serangan, Denpasar, Bali.

Saya menemuinya tanpa sengaja kala itu, bermula dari pertanyaan iseng saya kepada salah satu pedagang nasi goreng di dekat Pelabuhan Serangan, “Masih adakah nelayan perempuan saat ini?”. Ternyata ada, dan kini, Made Lungsur merupakan satu-satunya nelayan perempuan di Banjar Ponjok, Serangan.

Perempuan Bali dalam Tiga Ruang Kehidupan

Katanya, perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) dalam hidupnya, ketiganya meliputi peran di ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan  (Oktarina & Komalasari, 2022). Jika benar demikian, maka Lungsur, dan banyak perempuan Bali lainnya tentu tidak absen dari pandangan tersebut.

Jika alarm saya sering berdering berkali-kali di pagi hari, Lungsur sudah lebih dulu merayu Dewa Segara (dan tentu, saya kalah telak.) Berbekalkan alat selam seadanya, ia biasanya berburu rumput laut sejak pukul 06.00 Wita hingga kembali sekitar pukul 10.00 Wita, itupun tidak menentu tergantung cuaca serta hasil rumput laut yang diperoleh hari itu. Kadang hasilnya melimpah, tapi bisa juga pulang dengan tangan kosong.

Foto: Made Lungsur dan alat selam andalannya.

Perempuan ini tidak mengingat secara pasti kapan siklus itu bermula, yang ia tahu, aktivitas serupa telah dilakoni sejak remaja “Saya tidak ingat kapan tepatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut hemat saya, tentu tidak berlebihan jika menyebut Lungsur sebagai sosok yang tangguh. Sebagai nelayan, ia terbiasa melaut seorang diri, meskipun tak jarang suaminya juga menemani. Saya tertegun betul dengan apa yang tengah dilakukan Lungsur untuk melawan dunia, memastikan asap dapur mengepul agar ia dapat menghidupi keluarganya.

Namun lagi-lagi, penghasilannya tidak pernah pasti. Jika mujur, satu orang nelayan bisa membawa pulang hingga sekitar 50 kilogram rumput laut. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat dan ketersediaan rumput laut di laut menipis, bukan tidak mungkin ia pulang tanpa membawa apa-apa. Lungsur tidak setiap hari melaut, ada kalanya ia tidak bisa bekerja–entah karena cuaca yang memihak, kegiatan-kegiatan adat dan urusan menyama braya. “Kadang tujuh bulan tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Dengan demikian, Lungsur tidak hanya berdiri sebagai perempuan, tetapi juga lakonnya yang beragam: dalam ranah domestik, pekerjaan, hingga adat.

Kerentanan Nelayan Perempuan

Kerentanan tiap individu tentu tak sama, meminjam kerangka analisis interseksionalitas milik Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal, namun saling berkelindan dengan banyak hal–pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya. Bayangkan, jika ada perempuan yang tidak hanya  berada dalam lingkaran kemiskinan, tapi juga akses pendidikan yang terbatas, maka, kerentanan yang dipikulnya juga berlapis.

Foto: Perahu para nelayan di Pesisir Serangan.

Bagi Lungsur, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan pilihan terakhir. Sekalipun ingin, tidak mudah baginya meninggalkan pekerjaan yang telah berpuluh tahun dilakoni untuk beralih ke profesi lain. “Soalnya ibu (Lungsur, red) itu kan tidak tamat sekolah apa-apa. Disamping itu, karena biaya menjadi nelayan tidak seberapa cuma perlu perahu, dan alat-alat seperti tampus,” sambungnya.

Namun, kerentanan Lungsur dan perempuan nelayan lain tidak hanya soal ekonomi atau pendidikan. Riset Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan Sajogyo Institute, yang dikutip Mongabay, menunjukkan bahwa perempuan nelayan menghadapi risiko tinggi karena beban kerja berat sekaligus minimnya perlindungan melalui kebijakan.

UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan memang menyebut “setiap orang yang melakukan penangkapan ikan,” tampak netral gender, tetapi dalam praktik pengakuan nelayan lebih diarahkan pada laki-laki. Sementara itu, kata ‘perempuan’ hanya muncul pada pasal 45 yang membahas pemberdayaan, sehingga ketimpangan dan kesenjangan akses tetap terjadi.

Suara Perempuan dalam Ruang Kebijakan

Sesaat ketika mengagumi betapa tangguhnya perempuan nelayan di Pesisir Serangan, jangan lupa bahwa lokasi yang sama–tempat Lungsur melaut, kini tengah diwarnai wacana pembangunan proyek Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek anyar ini cukup kontroversial, meski telah diklaim sebagai energi bersih yang minim risiko. Namun, yang tak kalah penting adalah mempertanyakan peran dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menentukan suaranya.

Seingat Lungsur, hingga kini belum ada sosialisasi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) terkait proyek anyar tersebut. Padahal, nelayan adalah profesi yang paling merasakan dampak dari setiap aktivitas, sekecil apapun, di laut.

“Ibu belum pernah tahu tentang itu, harapannya sih LNG ini agar tidak dibangun di sini,” katanya.

Meminjam ungkapan Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha Jesica Solomasi Mendrofa, dalam agenda transisi energi yang berkeadilan, perempuan sebagai kelompok rentan harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.

“Perempuan perlu terlibat dalam seluruh rantai proses pengembangan infrastruktur energi, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring,” ujarnya.

Keterlibatan ini penting, tentu untuk memastikan partisipasi perempuan sejak tahap awal, mulai dari analisis kebutuhan energi, konsultasi publik, hingga penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan. Pada tahap ini, keamanan perempuan dalam menyampaikan pendapat, akses informasi yang setara, serta mekanisme representasi yang memperhatikan keberagaman perempuan perlu dijamin.

Dari Rahim Nelayan, Lahir ‘Harapan Lain’

Meski sudah bertahun-tahun mengakrabkan diri dengan laut, Lungsur berharap anak-anaknya tidak bernasib sama. Julukan nelayan sebagai penopang ketahanan pangan laut mungkin terdengar begitu romantis sampai akhirnya kita dapat dengan jujur melihat tantangan yang mereka alami; risiko pekerjaan yang tinggi, jaminan pekerjaan, hingga penghasilan yang tidak menentu. “Biar saya saja nelayan” ucap Lungsur.

Foto: Rumput laut, hasil melaut Made Lungsur.

Kembali lagi pada perayaan Hari Perempuan Sedunia, tahun ini tema yang digaungkan adalah Give to Gain sederhananya kalau dialihbahasakan ‘memberil untuk mendapatkan’, tentu saya sepakat jika ini lahir dengan banyak harapan; memberikan dukungan untuk mendapatkan kesetaraan, berbagi pengalaman untuk memperkuat gerakan, hingga memberi kontribusi kecil untuk perubahan besar.

Namun, berkaca dari Lungsur dan (mungkin) suara-suara yang tidak bersuara lainnya, jangan-jangan ada banyak perempuan yang justru lebih banyak memberi tanpa pernah (kita izinka) untuk menerima? Entahlah.[T]

Tags: hari perempuannelayanPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Next Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Komang Ari

Komang Ari

Gen Z random yang kadang-kadang pengen nulis. Instagram: @kmg.arii

Related Posts

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co