24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Komang Ari by Komang Ari
March 14, 2026
in Khas
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Foto: Made Lungsur saat memperlihatkan ‘senjata’ melautnya.

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)–yang diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pertanyaan itu bergumul: Kira-kira sampai kapan kita perlu membicarakan isu perempuan? Setidaknya menyoal puan-puan yang tidak jauh dari pelupuk mata, entah kepada mereka yang getol bersuara, atau mereka yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar bersuara.

***

Konon katanya, tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan tangguh di Bali. Meminjam ungkapan penulis perempuan kawakan asal Bali, Oka Rusmini dalam bukunya Tarian Bumi:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup,”.

Ingatan saya melambat, menyusuri jejak ingatan tempo hari ketika saya tanpa sengaja menemui sosok persis seperti apa yang tertulis di atas–Made Lungsur (53) namanya, nelayan perempuan paruh baya di Pesisir Serangan, Denpasar, Bali.

Saya menemuinya tanpa sengaja kala itu, bermula dari pertanyaan iseng saya kepada salah satu pedagang nasi goreng di dekat Pelabuhan Serangan, “Masih adakah nelayan perempuan saat ini?”. Ternyata ada, dan kini, Made Lungsur merupakan satu-satunya nelayan perempuan di Banjar Ponjok, Serangan.

Perempuan Bali dalam Tiga Ruang Kehidupan

Katanya, perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) dalam hidupnya, ketiganya meliputi peran di ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan  (Oktarina & Komalasari, 2022). Jika benar demikian, maka Lungsur, dan banyak perempuan Bali lainnya tentu tidak absen dari pandangan tersebut.

Jika alarm saya sering berdering berkali-kali di pagi hari, Lungsur sudah lebih dulu merayu Dewa Segara (dan tentu, saya kalah telak.) Berbekalkan alat selam seadanya, ia biasanya berburu rumput laut sejak pukul 06.00 Wita hingga kembali sekitar pukul 10.00 Wita, itupun tidak menentu tergantung cuaca serta hasil rumput laut yang diperoleh hari itu. Kadang hasilnya melimpah, tapi bisa juga pulang dengan tangan kosong.

Foto: Made Lungsur dan alat selam andalannya.

Perempuan ini tidak mengingat secara pasti kapan siklus itu bermula, yang ia tahu, aktivitas serupa telah dilakoni sejak remaja “Saya tidak ingat kapan tepatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut hemat saya, tentu tidak berlebihan jika menyebut Lungsur sebagai sosok yang tangguh. Sebagai nelayan, ia terbiasa melaut seorang diri, meskipun tak jarang suaminya juga menemani. Saya tertegun betul dengan apa yang tengah dilakukan Lungsur untuk melawan dunia, memastikan asap dapur mengepul agar ia dapat menghidupi keluarganya.

Namun lagi-lagi, penghasilannya tidak pernah pasti. Jika mujur, satu orang nelayan bisa membawa pulang hingga sekitar 50 kilogram rumput laut. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat dan ketersediaan rumput laut di laut menipis, bukan tidak mungkin ia pulang tanpa membawa apa-apa. Lungsur tidak setiap hari melaut, ada kalanya ia tidak bisa bekerja–entah karena cuaca yang memihak, kegiatan-kegiatan adat dan urusan menyama braya. “Kadang tujuh bulan tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Dengan demikian, Lungsur tidak hanya berdiri sebagai perempuan, tetapi juga lakonnya yang beragam: dalam ranah domestik, pekerjaan, hingga adat.

Kerentanan Nelayan Perempuan

Kerentanan tiap individu tentu tak sama, meminjam kerangka analisis interseksionalitas milik Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal, namun saling berkelindan dengan banyak hal–pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya. Bayangkan, jika ada perempuan yang tidak hanya  berada dalam lingkaran kemiskinan, tapi juga akses pendidikan yang terbatas, maka, kerentanan yang dipikulnya juga berlapis.

Foto: Perahu para nelayan di Pesisir Serangan.

Bagi Lungsur, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan pilihan terakhir. Sekalipun ingin, tidak mudah baginya meninggalkan pekerjaan yang telah berpuluh tahun dilakoni untuk beralih ke profesi lain. “Soalnya ibu (Lungsur, red) itu kan tidak tamat sekolah apa-apa. Disamping itu, karena biaya menjadi nelayan tidak seberapa cuma perlu perahu, dan alat-alat seperti tampus,” sambungnya.

Namun, kerentanan Lungsur dan perempuan nelayan lain tidak hanya soal ekonomi atau pendidikan. Riset Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan Sajogyo Institute, yang dikutip Mongabay, menunjukkan bahwa perempuan nelayan menghadapi risiko tinggi karena beban kerja berat sekaligus minimnya perlindungan melalui kebijakan.

UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan memang menyebut “setiap orang yang melakukan penangkapan ikan,” tampak netral gender, tetapi dalam praktik pengakuan nelayan lebih diarahkan pada laki-laki. Sementara itu, kata ‘perempuan’ hanya muncul pada pasal 45 yang membahas pemberdayaan, sehingga ketimpangan dan kesenjangan akses tetap terjadi.

Suara Perempuan dalam Ruang Kebijakan

Sesaat ketika mengagumi betapa tangguhnya perempuan nelayan di Pesisir Serangan, jangan lupa bahwa lokasi yang sama–tempat Lungsur melaut, kini tengah diwarnai wacana pembangunan proyek Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek anyar ini cukup kontroversial, meski telah diklaim sebagai energi bersih yang minim risiko. Namun, yang tak kalah penting adalah mempertanyakan peran dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menentukan suaranya.

Seingat Lungsur, hingga kini belum ada sosialisasi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) terkait proyek anyar tersebut. Padahal, nelayan adalah profesi yang paling merasakan dampak dari setiap aktivitas, sekecil apapun, di laut.

“Ibu belum pernah tahu tentang itu, harapannya sih LNG ini agar tidak dibangun di sini,” katanya.

Meminjam ungkapan Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha Jesica Solomasi Mendrofa, dalam agenda transisi energi yang berkeadilan, perempuan sebagai kelompok rentan harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.

“Perempuan perlu terlibat dalam seluruh rantai proses pengembangan infrastruktur energi, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring,” ujarnya.

Keterlibatan ini penting, tentu untuk memastikan partisipasi perempuan sejak tahap awal, mulai dari analisis kebutuhan energi, konsultasi publik, hingga penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan. Pada tahap ini, keamanan perempuan dalam menyampaikan pendapat, akses informasi yang setara, serta mekanisme representasi yang memperhatikan keberagaman perempuan perlu dijamin.

Dari Rahim Nelayan, Lahir ‘Harapan Lain’

Meski sudah bertahun-tahun mengakrabkan diri dengan laut, Lungsur berharap anak-anaknya tidak bernasib sama. Julukan nelayan sebagai penopang ketahanan pangan laut mungkin terdengar begitu romantis sampai akhirnya kita dapat dengan jujur melihat tantangan yang mereka alami; risiko pekerjaan yang tinggi, jaminan pekerjaan, hingga penghasilan yang tidak menentu. “Biar saya saja nelayan” ucap Lungsur.

Foto: Rumput laut, hasil melaut Made Lungsur.

Kembali lagi pada perayaan Hari Perempuan Sedunia, tahun ini tema yang digaungkan adalah Give to Gain sederhananya kalau dialihbahasakan ‘memberil untuk mendapatkan’, tentu saya sepakat jika ini lahir dengan banyak harapan; memberikan dukungan untuk mendapatkan kesetaraan, berbagi pengalaman untuk memperkuat gerakan, hingga memberi kontribusi kecil untuk perubahan besar.

Namun, berkaca dari Lungsur dan (mungkin) suara-suara yang tidak bersuara lainnya, jangan-jangan ada banyak perempuan yang justru lebih banyak memberi tanpa pernah (kita izinka) untuk menerima? Entahlah.[T]

Tags: hari perempuannelayanPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Next Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Komang Ari

Komang Ari

Gen Z random yang kadang-kadang pengen nulis. Instagram: @kmg.arii

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co