24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Komang Ari by Komang Ari
March 14, 2026
in Khas
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Foto: Made Lungsur saat memperlihatkan ‘senjata’ melautnya.

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)–yang diperingati pada 8 Maret tiap tahunnya. Pertanyaan itu bergumul: Kira-kira sampai kapan kita perlu membicarakan isu perempuan? Setidaknya menyoal puan-puan yang tidak jauh dari pelupuk mata, entah kepada mereka yang getol bersuara, atau mereka yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar bersuara.

***

Konon katanya, tak sulit untuk menemukan perempuan-perempuan tangguh di Bali. Meminjam ungkapan penulis perempuan kawakan asal Bali, Oka Rusmini dalam bukunya Tarian Bumi:

“Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup,”.

Ingatan saya melambat, menyusuri jejak ingatan tempo hari ketika saya tanpa sengaja menemui sosok persis seperti apa yang tertulis di atas–Made Lungsur (53) namanya, nelayan perempuan paruh baya di Pesisir Serangan, Denpasar, Bali.

Saya menemuinya tanpa sengaja kala itu, bermula dari pertanyaan iseng saya kepada salah satu pedagang nasi goreng di dekat Pelabuhan Serangan, “Masih adakah nelayan perempuan saat ini?”. Ternyata ada, dan kini, Made Lungsur merupakan satu-satunya nelayan perempuan di Banjar Ponjok, Serangan.

Perempuan Bali dalam Tiga Ruang Kehidupan

Katanya, perempuan Bali yang telah menikah memiliki paling tidak tiga peran (triple roles) dalam hidupnya, ketiganya meliputi peran di ranah keluarga, ekonomi, serta adat-keagamaan  (Oktarina & Komalasari, 2022). Jika benar demikian, maka Lungsur, dan banyak perempuan Bali lainnya tentu tidak absen dari pandangan tersebut.

Jika alarm saya sering berdering berkali-kali di pagi hari, Lungsur sudah lebih dulu merayu Dewa Segara (dan tentu, saya kalah telak.) Berbekalkan alat selam seadanya, ia biasanya berburu rumput laut sejak pukul 06.00 Wita hingga kembali sekitar pukul 10.00 Wita, itupun tidak menentu tergantung cuaca serta hasil rumput laut yang diperoleh hari itu. Kadang hasilnya melimpah, tapi bisa juga pulang dengan tangan kosong.

Foto: Made Lungsur dan alat selam andalannya.

Perempuan ini tidak mengingat secara pasti kapan siklus itu bermula, yang ia tahu, aktivitas serupa telah dilakoni sejak remaja “Saya tidak ingat kapan tepatnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurut hemat saya, tentu tidak berlebihan jika menyebut Lungsur sebagai sosok yang tangguh. Sebagai nelayan, ia terbiasa melaut seorang diri, meskipun tak jarang suaminya juga menemani. Saya tertegun betul dengan apa yang tengah dilakukan Lungsur untuk melawan dunia, memastikan asap dapur mengepul agar ia dapat menghidupi keluarganya.

Namun lagi-lagi, penghasilannya tidak pernah pasti. Jika mujur, satu orang nelayan bisa membawa pulang hingga sekitar 50 kilogram rumput laut. Tetapi ketika cuaca tidak bersahabat dan ketersediaan rumput laut di laut menipis, bukan tidak mungkin ia pulang tanpa membawa apa-apa. Lungsur tidak setiap hari melaut, ada kalanya ia tidak bisa bekerja–entah karena cuaca yang memihak, kegiatan-kegiatan adat dan urusan menyama braya. “Kadang tujuh bulan tidak ada pemasukan,” ucapnya.

Dengan demikian, Lungsur tidak hanya berdiri sebagai perempuan, tetapi juga lakonnya yang beragam: dalam ranah domestik, pekerjaan, hingga adat.

Kerentanan Nelayan Perempuan

Kerentanan tiap individu tentu tak sama, meminjam kerangka analisis interseksionalitas milik Kimberlé Crenshaw, kekerasan digambarkan sebagai persoalan yang tidak berdiri tunggal, namun saling berkelindan dengan banyak hal–pendidikan, kondisi ekonomi, status sosial, hingga adat dan budaya. Bayangkan, jika ada perempuan yang tidak hanya  berada dalam lingkaran kemiskinan, tapi juga akses pendidikan yang terbatas, maka, kerentanan yang dipikulnya juga berlapis.

Foto: Perahu para nelayan di Pesisir Serangan.

Bagi Lungsur, menjadi nelayan bukan sekadar pekerjaan, melainkan pilihan terakhir. Sekalipun ingin, tidak mudah baginya meninggalkan pekerjaan yang telah berpuluh tahun dilakoni untuk beralih ke profesi lain. “Soalnya ibu (Lungsur, red) itu kan tidak tamat sekolah apa-apa. Disamping itu, karena biaya menjadi nelayan tidak seberapa cuma perlu perahu, dan alat-alat seperti tampus,” sambungnya.

Namun, kerentanan Lungsur dan perempuan nelayan lain tidak hanya soal ekonomi atau pendidikan. Riset Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) dan Sajogyo Institute, yang dikutip Mongabay, menunjukkan bahwa perempuan nelayan menghadapi risiko tinggi karena beban kerja berat sekaligus minimnya perlindungan melalui kebijakan.

UU Nomor 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan memang menyebut “setiap orang yang melakukan penangkapan ikan,” tampak netral gender, tetapi dalam praktik pengakuan nelayan lebih diarahkan pada laki-laki. Sementara itu, kata ‘perempuan’ hanya muncul pada pasal 45 yang membahas pemberdayaan, sehingga ketimpangan dan kesenjangan akses tetap terjadi.

Suara Perempuan dalam Ruang Kebijakan

Sesaat ketika mengagumi betapa tangguhnya perempuan nelayan di Pesisir Serangan, jangan lupa bahwa lokasi yang sama–tempat Lungsur melaut, kini tengah diwarnai wacana pembangunan proyek Liquefied Natural Gas (LNG). Proyek anyar ini cukup kontroversial, meski telah diklaim sebagai energi bersih yang minim risiko. Namun, yang tak kalah penting adalah mempertanyakan peran dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menentukan suaranya.

Seingat Lungsur, hingga kini belum ada sosialisasi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) terkait proyek anyar tersebut. Padahal, nelayan adalah profesi yang paling merasakan dampak dari setiap aktivitas, sekecil apapun, di laut.

“Ibu belum pernah tahu tentang itu, harapannya sih LNG ini agar tidak dibangun di sini,” katanya.

Meminjam ungkapan Koordinator Riset Sosial, Kebijakan, dan Ekonomi Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha Jesica Solomasi Mendrofa, dalam agenda transisi energi yang berkeadilan, perempuan sebagai kelompok rentan harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penerima dampak.

“Perempuan perlu terlibat dalam seluruh rantai proses pengembangan infrastruktur energi, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga monitoring,” ujarnya.

Keterlibatan ini penting, tentu untuk memastikan partisipasi perempuan sejak tahap awal, mulai dari analisis kebutuhan energi, konsultasi publik, hingga penyusunan analisis dampak sosial dan lingkungan. Pada tahap ini, keamanan perempuan dalam menyampaikan pendapat, akses informasi yang setara, serta mekanisme representasi yang memperhatikan keberagaman perempuan perlu dijamin.

Dari Rahim Nelayan, Lahir ‘Harapan Lain’

Meski sudah bertahun-tahun mengakrabkan diri dengan laut, Lungsur berharap anak-anaknya tidak bernasib sama. Julukan nelayan sebagai penopang ketahanan pangan laut mungkin terdengar begitu romantis sampai akhirnya kita dapat dengan jujur melihat tantangan yang mereka alami; risiko pekerjaan yang tinggi, jaminan pekerjaan, hingga penghasilan yang tidak menentu. “Biar saya saja nelayan” ucap Lungsur.

Foto: Rumput laut, hasil melaut Made Lungsur.

Kembali lagi pada perayaan Hari Perempuan Sedunia, tahun ini tema yang digaungkan adalah Give to Gain sederhananya kalau dialihbahasakan ‘memberil untuk mendapatkan’, tentu saya sepakat jika ini lahir dengan banyak harapan; memberikan dukungan untuk mendapatkan kesetaraan, berbagi pengalaman untuk memperkuat gerakan, hingga memberi kontribusi kecil untuk perubahan besar.

Namun, berkaca dari Lungsur dan (mungkin) suara-suara yang tidak bersuara lainnya, jangan-jangan ada banyak perempuan yang justru lebih banyak memberi tanpa pernah (kita izinka) untuk menerima? Entahlah.[T]

Tags: hari perempuannelayanPerempuanPerempuan Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Next Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Komang Ari

Komang Ari

Gen Z random yang kadang-kadang pengen nulis. Instagram: @kmg.arii

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co