25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 14, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu hari yang unik—bahkan sedikit “misterius”—adalah Tumpek Wayang. Hari ini datang setiap enam bulan dalam perhitungan Kalender Pawukon, tepat pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, hari ini memiliki kaitan khusus dengan dunia pewayangan—sebuah dunia simbolik yang sejak lama dipahami sebagai cermin perjalanan hidup manusia.

Bagi masyarakat Bali tempo dulu, Tumpek Wayang sering dipandang sebagai hari yang memiliki aura spiritual yang kuat. Anak yang lahir pada wuku Wayang dipercaya memiliki keterkaitan kosmis dengan dunia wayang, sehingga perlu menjalani ritual penyucian yang dikenal sebagai Sapuh Leger. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Dalang, yang dalam tradisi Bali tidak hanya berperan sebagai seniman pertunjukan, tetapi juga sebagai pemimpin ritual spiritual.

Dalam upacara Sapuh Leger, dalang memainkan wayang sambil melantunkan mantra-mantra tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari proses penyucian. Melalui simbol-simbol wayang, manusia diingatkan bahwa hidup selalu berada di antara kekuatan baik dan buruk, antara dharma dan adharma.

Namun, jika kita melihat praktik Tumpek Wayang di Bali masa kini, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: griya-griya para sulinggih dipenuhi umat yang datang untuk melakukan pelukatan. Di antara mereka, cukup banyak pula perempuan yang sedang mengandung.

Pada hari ini, tidak sedikit wanita hamil datang ke griya untuk melakukan ritual pelukatan, memohon tirta penyucian dari Sulinggih. Doa yang mereka panjatkan sederhana tetapi sangat mendalam: agar bayi yang sedang dikandung memperoleh perlindungan lahir batin dan tumbuh dalam keadaan selaras dengan alam semesta.

Akibatnya, suasana griya pada Tumpek Wayang sering kali sangat sibuk. Sejak pagi, umat datang bergiliran membawa banten dan perlengkapan upacara. Sang sulinggih hampir tidak memiliki jeda. Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, dari satu pelukatan ke pelukatan lain.

Jika dipandang dengan sedikit humor khas Bali, hari itu mungkin menjadi salah satu hari kerja paling padat bagi para sulinggih. Antreannya kadang lebih panjang daripada antrean di kantor pelayanan publik. Bedanya, yang dibagikan di griya bukan nomor antrian elektronik, melainkan tirta suci yang dipercikkan dengan doa.

Selain wanita hamil, pelukatan juga sering dilakukan oleh orang-orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan tradisional Bali, kelahiran pada wuku Wayang diyakini memiliki hubungan simbolik dengan kisah-kisah dalam dunia pewayangan yang sarat konflik kosmis. Oleh karena itu, pelukatan dilakukan sebagai bentuk penyucian dan penyeimbangan energi spiritual.

Filosofinya sebenarnya cukup indah. Dalam pandangan kosmologi Bali, manusia lahir tidak hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa berbagai kemungkinan nasib. Kelahiran pada hari tertentu dianggap memiliki resonansi simbolik dengan energi alam semesta.

Melalui pelukatan, manusia diajak untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara dirinya dengan alam, dengan para dewa, dan dengan dimensi niskala. Air suci yang dipercikkan bukan sekadar simbol pembersihan, tetapi juga lambang aliran kehidupan yang terus bergerak.

Air dalam tradisi Hindu Bali selalu memiliki makna kosmis. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari hulu ke hilir, dari sumber kehidupan menuju samudra. Manusia yang menerima tirta seakan diingatkan bahwa hidup pun seharusnya mengalir dengan kesadaran yang bersih.

Bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang, pelukatan bukanlah tanda bahwa hidupnya “bermasalah”. Sebaliknya, ia justru menjadi momentum refleksi bahwa setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang unik. Ritual ini adalah cara budaya Bali untuk mengatakan bahwa hidup perlu dimulai dan dijaga dengan kesadaran akan keseimbangan.

Di tengah dunia modern, praktik-praktik ini tetap bertahan dengan cara yang menarik. Banyak orang Bali yang kini hidup dalam ritme kehidupan yang cepat: bekerja di kota, berkutat dengan teknologi, atau menghabiskan waktu di depan layar ponsel. Namun ketika Tumpek Wayang tiba, mereka masih menyempatkan diri datang ke griya.

Kadang pemandangannya terasa kontras sekaligus lucu. Seorang ibu hamil duduk khusyuk menunggu giliran melukat, sementara di tangannya ponsel sesekali bergetar menerima pesan dari grup keluarga. Dunia sekala dan niskala tampak berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Di sisi lain, generasi muda Bali mulai melihat Tumpek Wayang dengan cara yang lebih reflektif. Mereka tidak lagi selalu memandangnya dengan rasa takut seperti dalam cerita lama. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup manusia memang seperti wayang—penuh peran, penuh konflik, tetapi juga penuh makna.

Jika dulu bayangan wayang bergerak di balik kelir, kini kehidupan manusia juga seakan diproyeksikan di balik layar—layar ponsel, layar komputer, layar televisi. Kita memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pekerja, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai “tokoh” kecil di media sosial.

Mungkin karena itulah Tumpek Wayang tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik semua peran itu, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri—secara simbolik maupun spiritual.

Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki perjalanan. Ada yang menjadi ksatria, ada yang menjadi raksasa, ada pula yang menjadi punakawan yang lucu tetapi bijaksana. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan besar. Kadang cukup menjadi manusia yang sadar akan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tumpek Wayang di Bali masa kini bukan sekadar ritual lama yang dipertahankan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Bali berdialog dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Di halaman griya yang ramai, di antara percikan tirta, doa-doa yang lirih dan iringan suara bajra yang menambah hening suasana, manusia Bali seolah diingatkan bahwa hidup ini—seperti cerita wayang—adalah perjalanan panjang yang penuh simbol. Kadang dramatis, kadang lucu, tetapi selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk oleh notifikasi dan sinyal internet, percikan air suci pada Tumpek Wayang tetap menjadi pengingat sederhana: bahwa jiwa manusia, seperti tubuhnya, sesekali memang perlu dimandikan. Bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balitumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Next Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co