14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 14, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu hari yang unik—bahkan sedikit “misterius”—adalah Tumpek Wayang. Hari ini datang setiap enam bulan dalam perhitungan Kalender Pawukon, tepat pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, hari ini memiliki kaitan khusus dengan dunia pewayangan—sebuah dunia simbolik yang sejak lama dipahami sebagai cermin perjalanan hidup manusia.

Bagi masyarakat Bali tempo dulu, Tumpek Wayang sering dipandang sebagai hari yang memiliki aura spiritual yang kuat. Anak yang lahir pada wuku Wayang dipercaya memiliki keterkaitan kosmis dengan dunia wayang, sehingga perlu menjalani ritual penyucian yang dikenal sebagai Sapuh Leger. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Dalang, yang dalam tradisi Bali tidak hanya berperan sebagai seniman pertunjukan, tetapi juga sebagai pemimpin ritual spiritual.

Dalam upacara Sapuh Leger, dalang memainkan wayang sambil melantunkan mantra-mantra tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari proses penyucian. Melalui simbol-simbol wayang, manusia diingatkan bahwa hidup selalu berada di antara kekuatan baik dan buruk, antara dharma dan adharma.

Namun, jika kita melihat praktik Tumpek Wayang di Bali masa kini, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: griya-griya para sulinggih dipenuhi umat yang datang untuk melakukan pelukatan. Di antara mereka, cukup banyak pula perempuan yang sedang mengandung.

Pada hari ini, tidak sedikit wanita hamil datang ke griya untuk melakukan ritual pelukatan, memohon tirta penyucian dari Sulinggih. Doa yang mereka panjatkan sederhana tetapi sangat mendalam: agar bayi yang sedang dikandung memperoleh perlindungan lahir batin dan tumbuh dalam keadaan selaras dengan alam semesta.

Akibatnya, suasana griya pada Tumpek Wayang sering kali sangat sibuk. Sejak pagi, umat datang bergiliran membawa banten dan perlengkapan upacara. Sang sulinggih hampir tidak memiliki jeda. Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, dari satu pelukatan ke pelukatan lain.

Jika dipandang dengan sedikit humor khas Bali, hari itu mungkin menjadi salah satu hari kerja paling padat bagi para sulinggih. Antreannya kadang lebih panjang daripada antrean di kantor pelayanan publik. Bedanya, yang dibagikan di griya bukan nomor antrian elektronik, melainkan tirta suci yang dipercikkan dengan doa.

Selain wanita hamil, pelukatan juga sering dilakukan oleh orang-orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan tradisional Bali, kelahiran pada wuku Wayang diyakini memiliki hubungan simbolik dengan kisah-kisah dalam dunia pewayangan yang sarat konflik kosmis. Oleh karena itu, pelukatan dilakukan sebagai bentuk penyucian dan penyeimbangan energi spiritual.

Filosofinya sebenarnya cukup indah. Dalam pandangan kosmologi Bali, manusia lahir tidak hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa berbagai kemungkinan nasib. Kelahiran pada hari tertentu dianggap memiliki resonansi simbolik dengan energi alam semesta.

Melalui pelukatan, manusia diajak untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara dirinya dengan alam, dengan para dewa, dan dengan dimensi niskala. Air suci yang dipercikkan bukan sekadar simbol pembersihan, tetapi juga lambang aliran kehidupan yang terus bergerak.

Air dalam tradisi Hindu Bali selalu memiliki makna kosmis. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari hulu ke hilir, dari sumber kehidupan menuju samudra. Manusia yang menerima tirta seakan diingatkan bahwa hidup pun seharusnya mengalir dengan kesadaran yang bersih.

Bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang, pelukatan bukanlah tanda bahwa hidupnya “bermasalah”. Sebaliknya, ia justru menjadi momentum refleksi bahwa setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang unik. Ritual ini adalah cara budaya Bali untuk mengatakan bahwa hidup perlu dimulai dan dijaga dengan kesadaran akan keseimbangan.

Di tengah dunia modern, praktik-praktik ini tetap bertahan dengan cara yang menarik. Banyak orang Bali yang kini hidup dalam ritme kehidupan yang cepat: bekerja di kota, berkutat dengan teknologi, atau menghabiskan waktu di depan layar ponsel. Namun ketika Tumpek Wayang tiba, mereka masih menyempatkan diri datang ke griya.

Kadang pemandangannya terasa kontras sekaligus lucu. Seorang ibu hamil duduk khusyuk menunggu giliran melukat, sementara di tangannya ponsel sesekali bergetar menerima pesan dari grup keluarga. Dunia sekala dan niskala tampak berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Di sisi lain, generasi muda Bali mulai melihat Tumpek Wayang dengan cara yang lebih reflektif. Mereka tidak lagi selalu memandangnya dengan rasa takut seperti dalam cerita lama. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup manusia memang seperti wayang—penuh peran, penuh konflik, tetapi juga penuh makna.

Jika dulu bayangan wayang bergerak di balik kelir, kini kehidupan manusia juga seakan diproyeksikan di balik layar—layar ponsel, layar komputer, layar televisi. Kita memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pekerja, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai “tokoh” kecil di media sosial.

Mungkin karena itulah Tumpek Wayang tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik semua peran itu, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri—secara simbolik maupun spiritual.

Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki perjalanan. Ada yang menjadi ksatria, ada yang menjadi raksasa, ada pula yang menjadi punakawan yang lucu tetapi bijaksana. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan besar. Kadang cukup menjadi manusia yang sadar akan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tumpek Wayang di Bali masa kini bukan sekadar ritual lama yang dipertahankan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Bali berdialog dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Di halaman griya yang ramai, di antara percikan tirta, doa-doa yang lirih dan iringan suara bajra yang menambah hening suasana, manusia Bali seolah diingatkan bahwa hidup ini—seperti cerita wayang—adalah perjalanan panjang yang penuh simbol. Kadang dramatis, kadang lucu, tetapi selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk oleh notifikasi dan sinyal internet, percikan air suci pada Tumpek Wayang tetap menjadi pengingat sederhana: bahwa jiwa manusia, seperti tubuhnya, sesekali memang perlu dimandikan. Bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balitumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Next Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co