25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 14, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu hari yang unik—bahkan sedikit “misterius”—adalah Tumpek Wayang. Hari ini datang setiap enam bulan dalam perhitungan Kalender Pawukon, tepat pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, hari ini memiliki kaitan khusus dengan dunia pewayangan—sebuah dunia simbolik yang sejak lama dipahami sebagai cermin perjalanan hidup manusia.

Bagi masyarakat Bali tempo dulu, Tumpek Wayang sering dipandang sebagai hari yang memiliki aura spiritual yang kuat. Anak yang lahir pada wuku Wayang dipercaya memiliki keterkaitan kosmis dengan dunia wayang, sehingga perlu menjalani ritual penyucian yang dikenal sebagai Sapuh Leger. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Dalang, yang dalam tradisi Bali tidak hanya berperan sebagai seniman pertunjukan, tetapi juga sebagai pemimpin ritual spiritual.

Dalam upacara Sapuh Leger, dalang memainkan wayang sambil melantunkan mantra-mantra tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari proses penyucian. Melalui simbol-simbol wayang, manusia diingatkan bahwa hidup selalu berada di antara kekuatan baik dan buruk, antara dharma dan adharma.

Namun, jika kita melihat praktik Tumpek Wayang di Bali masa kini, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: griya-griya para sulinggih dipenuhi umat yang datang untuk melakukan pelukatan. Di antara mereka, cukup banyak pula perempuan yang sedang mengandung.

Pada hari ini, tidak sedikit wanita hamil datang ke griya untuk melakukan ritual pelukatan, memohon tirta penyucian dari Sulinggih. Doa yang mereka panjatkan sederhana tetapi sangat mendalam: agar bayi yang sedang dikandung memperoleh perlindungan lahir batin dan tumbuh dalam keadaan selaras dengan alam semesta.

Akibatnya, suasana griya pada Tumpek Wayang sering kali sangat sibuk. Sejak pagi, umat datang bergiliran membawa banten dan perlengkapan upacara. Sang sulinggih hampir tidak memiliki jeda. Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, dari satu pelukatan ke pelukatan lain.

Jika dipandang dengan sedikit humor khas Bali, hari itu mungkin menjadi salah satu hari kerja paling padat bagi para sulinggih. Antreannya kadang lebih panjang daripada antrean di kantor pelayanan publik. Bedanya, yang dibagikan di griya bukan nomor antrian elektronik, melainkan tirta suci yang dipercikkan dengan doa.

Selain wanita hamil, pelukatan juga sering dilakukan oleh orang-orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan tradisional Bali, kelahiran pada wuku Wayang diyakini memiliki hubungan simbolik dengan kisah-kisah dalam dunia pewayangan yang sarat konflik kosmis. Oleh karena itu, pelukatan dilakukan sebagai bentuk penyucian dan penyeimbangan energi spiritual.

Filosofinya sebenarnya cukup indah. Dalam pandangan kosmologi Bali, manusia lahir tidak hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa berbagai kemungkinan nasib. Kelahiran pada hari tertentu dianggap memiliki resonansi simbolik dengan energi alam semesta.

Melalui pelukatan, manusia diajak untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara dirinya dengan alam, dengan para dewa, dan dengan dimensi niskala. Air suci yang dipercikkan bukan sekadar simbol pembersihan, tetapi juga lambang aliran kehidupan yang terus bergerak.

Air dalam tradisi Hindu Bali selalu memiliki makna kosmis. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari hulu ke hilir, dari sumber kehidupan menuju samudra. Manusia yang menerima tirta seakan diingatkan bahwa hidup pun seharusnya mengalir dengan kesadaran yang bersih.

Bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang, pelukatan bukanlah tanda bahwa hidupnya “bermasalah”. Sebaliknya, ia justru menjadi momentum refleksi bahwa setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang unik. Ritual ini adalah cara budaya Bali untuk mengatakan bahwa hidup perlu dimulai dan dijaga dengan kesadaran akan keseimbangan.

Di tengah dunia modern, praktik-praktik ini tetap bertahan dengan cara yang menarik. Banyak orang Bali yang kini hidup dalam ritme kehidupan yang cepat: bekerja di kota, berkutat dengan teknologi, atau menghabiskan waktu di depan layar ponsel. Namun ketika Tumpek Wayang tiba, mereka masih menyempatkan diri datang ke griya.

Kadang pemandangannya terasa kontras sekaligus lucu. Seorang ibu hamil duduk khusyuk menunggu giliran melukat, sementara di tangannya ponsel sesekali bergetar menerima pesan dari grup keluarga. Dunia sekala dan niskala tampak berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Di sisi lain, generasi muda Bali mulai melihat Tumpek Wayang dengan cara yang lebih reflektif. Mereka tidak lagi selalu memandangnya dengan rasa takut seperti dalam cerita lama. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup manusia memang seperti wayang—penuh peran, penuh konflik, tetapi juga penuh makna.

Jika dulu bayangan wayang bergerak di balik kelir, kini kehidupan manusia juga seakan diproyeksikan di balik layar—layar ponsel, layar komputer, layar televisi. Kita memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pekerja, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai “tokoh” kecil di media sosial.

Mungkin karena itulah Tumpek Wayang tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik semua peran itu, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri—secara simbolik maupun spiritual.

Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki perjalanan. Ada yang menjadi ksatria, ada yang menjadi raksasa, ada pula yang menjadi punakawan yang lucu tetapi bijaksana. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan besar. Kadang cukup menjadi manusia yang sadar akan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tumpek Wayang di Bali masa kini bukan sekadar ritual lama yang dipertahankan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Bali berdialog dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Di halaman griya yang ramai, di antara percikan tirta, doa-doa yang lirih dan iringan suara bajra yang menambah hening suasana, manusia Bali seolah diingatkan bahwa hidup ini—seperti cerita wayang—adalah perjalanan panjang yang penuh simbol. Kadang dramatis, kadang lucu, tetapi selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk oleh notifikasi dan sinyal internet, percikan air suci pada Tumpek Wayang tetap menjadi pengingat sederhana: bahwa jiwa manusia, seperti tubuhnya, sesekali memang perlu dimandikan. Bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balitumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Next Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co