24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 14, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu hari yang unik—bahkan sedikit “misterius”—adalah Tumpek Wayang. Hari ini datang setiap enam bulan dalam perhitungan Kalender Pawukon, tepat pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, hari ini memiliki kaitan khusus dengan dunia pewayangan—sebuah dunia simbolik yang sejak lama dipahami sebagai cermin perjalanan hidup manusia.

Bagi masyarakat Bali tempo dulu, Tumpek Wayang sering dipandang sebagai hari yang memiliki aura spiritual yang kuat. Anak yang lahir pada wuku Wayang dipercaya memiliki keterkaitan kosmis dengan dunia wayang, sehingga perlu menjalani ritual penyucian yang dikenal sebagai Sapuh Leger. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Dalang, yang dalam tradisi Bali tidak hanya berperan sebagai seniman pertunjukan, tetapi juga sebagai pemimpin ritual spiritual.

Dalam upacara Sapuh Leger, dalang memainkan wayang sambil melantunkan mantra-mantra tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari proses penyucian. Melalui simbol-simbol wayang, manusia diingatkan bahwa hidup selalu berada di antara kekuatan baik dan buruk, antara dharma dan adharma.

Namun, jika kita melihat praktik Tumpek Wayang di Bali masa kini, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: griya-griya para sulinggih dipenuhi umat yang datang untuk melakukan pelukatan. Di antara mereka, cukup banyak pula perempuan yang sedang mengandung.

Pada hari ini, tidak sedikit wanita hamil datang ke griya untuk melakukan ritual pelukatan, memohon tirta penyucian dari Sulinggih. Doa yang mereka panjatkan sederhana tetapi sangat mendalam: agar bayi yang sedang dikandung memperoleh perlindungan lahir batin dan tumbuh dalam keadaan selaras dengan alam semesta.

Akibatnya, suasana griya pada Tumpek Wayang sering kali sangat sibuk. Sejak pagi, umat datang bergiliran membawa banten dan perlengkapan upacara. Sang sulinggih hampir tidak memiliki jeda. Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, dari satu pelukatan ke pelukatan lain.

Jika dipandang dengan sedikit humor khas Bali, hari itu mungkin menjadi salah satu hari kerja paling padat bagi para sulinggih. Antreannya kadang lebih panjang daripada antrean di kantor pelayanan publik. Bedanya, yang dibagikan di griya bukan nomor antrian elektronik, melainkan tirta suci yang dipercikkan dengan doa.

Selain wanita hamil, pelukatan juga sering dilakukan oleh orang-orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan tradisional Bali, kelahiran pada wuku Wayang diyakini memiliki hubungan simbolik dengan kisah-kisah dalam dunia pewayangan yang sarat konflik kosmis. Oleh karena itu, pelukatan dilakukan sebagai bentuk penyucian dan penyeimbangan energi spiritual.

Filosofinya sebenarnya cukup indah. Dalam pandangan kosmologi Bali, manusia lahir tidak hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa berbagai kemungkinan nasib. Kelahiran pada hari tertentu dianggap memiliki resonansi simbolik dengan energi alam semesta.

Melalui pelukatan, manusia diajak untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara dirinya dengan alam, dengan para dewa, dan dengan dimensi niskala. Air suci yang dipercikkan bukan sekadar simbol pembersihan, tetapi juga lambang aliran kehidupan yang terus bergerak.

Air dalam tradisi Hindu Bali selalu memiliki makna kosmis. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari hulu ke hilir, dari sumber kehidupan menuju samudra. Manusia yang menerima tirta seakan diingatkan bahwa hidup pun seharusnya mengalir dengan kesadaran yang bersih.

Bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang, pelukatan bukanlah tanda bahwa hidupnya “bermasalah”. Sebaliknya, ia justru menjadi momentum refleksi bahwa setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang unik. Ritual ini adalah cara budaya Bali untuk mengatakan bahwa hidup perlu dimulai dan dijaga dengan kesadaran akan keseimbangan.

Di tengah dunia modern, praktik-praktik ini tetap bertahan dengan cara yang menarik. Banyak orang Bali yang kini hidup dalam ritme kehidupan yang cepat: bekerja di kota, berkutat dengan teknologi, atau menghabiskan waktu di depan layar ponsel. Namun ketika Tumpek Wayang tiba, mereka masih menyempatkan diri datang ke griya.

Kadang pemandangannya terasa kontras sekaligus lucu. Seorang ibu hamil duduk khusyuk menunggu giliran melukat, sementara di tangannya ponsel sesekali bergetar menerima pesan dari grup keluarga. Dunia sekala dan niskala tampak berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Di sisi lain, generasi muda Bali mulai melihat Tumpek Wayang dengan cara yang lebih reflektif. Mereka tidak lagi selalu memandangnya dengan rasa takut seperti dalam cerita lama. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup manusia memang seperti wayang—penuh peran, penuh konflik, tetapi juga penuh makna.

Jika dulu bayangan wayang bergerak di balik kelir, kini kehidupan manusia juga seakan diproyeksikan di balik layar—layar ponsel, layar komputer, layar televisi. Kita memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pekerja, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai “tokoh” kecil di media sosial.

Mungkin karena itulah Tumpek Wayang tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik semua peran itu, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri—secara simbolik maupun spiritual.

Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki perjalanan. Ada yang menjadi ksatria, ada yang menjadi raksasa, ada pula yang menjadi punakawan yang lucu tetapi bijaksana. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan besar. Kadang cukup menjadi manusia yang sadar akan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tumpek Wayang di Bali masa kini bukan sekadar ritual lama yang dipertahankan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Bali berdialog dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Di halaman griya yang ramai, di antara percikan tirta, doa-doa yang lirih dan iringan suara bajra yang menambah hening suasana, manusia Bali seolah diingatkan bahwa hidup ini—seperti cerita wayang—adalah perjalanan panjang yang penuh simbol. Kadang dramatis, kadang lucu, tetapi selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk oleh notifikasi dan sinyal internet, percikan air suci pada Tumpek Wayang tetap menjadi pengingat sederhana: bahwa jiwa manusia, seperti tubuhnya, sesekali memang perlu dimandikan. Bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balitumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Next Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co