4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
March 14, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu hari yang unik—bahkan sedikit “misterius”—adalah Tumpek Wayang. Hari ini datang setiap enam bulan dalam perhitungan Kalender Pawukon, tepat pada Wuku Wayang. Dalam tradisi Bali, hari ini memiliki kaitan khusus dengan dunia pewayangan—sebuah dunia simbolik yang sejak lama dipahami sebagai cermin perjalanan hidup manusia.

Bagi masyarakat Bali tempo dulu, Tumpek Wayang sering dipandang sebagai hari yang memiliki aura spiritual yang kuat. Anak yang lahir pada wuku Wayang dipercaya memiliki keterkaitan kosmis dengan dunia wayang, sehingga perlu menjalani ritual penyucian yang dikenal sebagai Sapuh Leger. Ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang Dalang, yang dalam tradisi Bali tidak hanya berperan sebagai seniman pertunjukan, tetapi juga sebagai pemimpin ritual spiritual.

Dalam upacara Sapuh Leger, dalang memainkan wayang sambil melantunkan mantra-mantra tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari proses penyucian. Melalui simbol-simbol wayang, manusia diingatkan bahwa hidup selalu berada di antara kekuatan baik dan buruk, antara dharma dan adharma.

Namun, jika kita melihat praktik Tumpek Wayang di Bali masa kini, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: griya-griya para sulinggih dipenuhi umat yang datang untuk melakukan pelukatan. Di antara mereka, cukup banyak pula perempuan yang sedang mengandung.

Pada hari ini, tidak sedikit wanita hamil datang ke griya untuk melakukan ritual pelukatan, memohon tirta penyucian dari Sulinggih. Doa yang mereka panjatkan sederhana tetapi sangat mendalam: agar bayi yang sedang dikandung memperoleh perlindungan lahir batin dan tumbuh dalam keadaan selaras dengan alam semesta.

Akibatnya, suasana griya pada Tumpek Wayang sering kali sangat sibuk. Sejak pagi, umat datang bergiliran membawa banten dan perlengkapan upacara. Sang sulinggih hampir tidak memiliki jeda. Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, dari satu pelukatan ke pelukatan lain.

Jika dipandang dengan sedikit humor khas Bali, hari itu mungkin menjadi salah satu hari kerja paling padat bagi para sulinggih. Antreannya kadang lebih panjang daripada antrean di kantor pelayanan publik. Bedanya, yang dibagikan di griya bukan nomor antrian elektronik, melainkan tirta suci yang dipercikkan dengan doa.

Selain wanita hamil, pelukatan juga sering dilakukan oleh orang-orang yang lahir tepat pada hari Tumpek Wayang. Dalam kepercayaan tradisional Bali, kelahiran pada wuku Wayang diyakini memiliki hubungan simbolik dengan kisah-kisah dalam dunia pewayangan yang sarat konflik kosmis. Oleh karena itu, pelukatan dilakukan sebagai bentuk penyucian dan penyeimbangan energi spiritual.

Filosofinya sebenarnya cukup indah. Dalam pandangan kosmologi Bali, manusia lahir tidak hanya membawa tubuh, tetapi juga membawa berbagai kemungkinan nasib. Kelahiran pada hari tertentu dianggap memiliki resonansi simbolik dengan energi alam semesta.

Melalui pelukatan, manusia diajak untuk menyeimbangkan kembali hubungan antara dirinya dengan alam, dengan para dewa, dan dengan dimensi niskala. Air suci yang dipercikkan bukan sekadar simbol pembersihan, tetapi juga lambang aliran kehidupan yang terus bergerak.

Air dalam tradisi Hindu Bali selalu memiliki makna kosmis. Ia mengalir dari gunung ke laut, dari hulu ke hilir, dari sumber kehidupan menuju samudra. Manusia yang menerima tirta seakan diingatkan bahwa hidup pun seharusnya mengalir dengan kesadaran yang bersih.

Bagi mereka yang lahir pada Tumpek Wayang, pelukatan bukanlah tanda bahwa hidupnya “bermasalah”. Sebaliknya, ia justru menjadi momentum refleksi bahwa setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang unik. Ritual ini adalah cara budaya Bali untuk mengatakan bahwa hidup perlu dimulai dan dijaga dengan kesadaran akan keseimbangan.

Di tengah dunia modern, praktik-praktik ini tetap bertahan dengan cara yang menarik. Banyak orang Bali yang kini hidup dalam ritme kehidupan yang cepat: bekerja di kota, berkutat dengan teknologi, atau menghabiskan waktu di depan layar ponsel. Namun ketika Tumpek Wayang tiba, mereka masih menyempatkan diri datang ke griya.

Kadang pemandangannya terasa kontras sekaligus lucu. Seorang ibu hamil duduk khusyuk menunggu giliran melukat, sementara di tangannya ponsel sesekali bergetar menerima pesan dari grup keluarga. Dunia sekala dan niskala tampak berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu.

Di sisi lain, generasi muda Bali mulai melihat Tumpek Wayang dengan cara yang lebih reflektif. Mereka tidak lagi selalu memandangnya dengan rasa takut seperti dalam cerita lama. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup manusia memang seperti wayang—penuh peran, penuh konflik, tetapi juga penuh makna.

Jika dulu bayangan wayang bergerak di balik kelir, kini kehidupan manusia juga seakan diproyeksikan di balik layar—layar ponsel, layar komputer, layar televisi. Kita memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pekerja, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, bahkan sebagai “tokoh” kecil di media sosial.

Mungkin karena itulah Tumpek Wayang tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik semua peran itu, manusia tetap perlu berhenti sejenak untuk membersihkan diri—secara simbolik maupun spiritual.

Wayang mengajarkan bahwa setiap tokoh memiliki perjalanan. Ada yang menjadi ksatria, ada yang menjadi raksasa, ada pula yang menjadi punakawan yang lucu tetapi bijaksana. Dalam kehidupan nyata pun demikian. Tidak semua orang harus menjadi pahlawan besar. Kadang cukup menjadi manusia yang sadar akan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, Tumpek Wayang di Bali masa kini bukan sekadar ritual lama yang dipertahankan. Ia adalah cermin bagaimana masyarakat Bali berdialog dengan tradisi di tengah perubahan zaman.

Di halaman griya yang ramai, di antara percikan tirta, doa-doa yang lirih dan iringan suara bajra yang menambah hening suasana, manusia Bali seolah diingatkan bahwa hidup ini—seperti cerita wayang—adalah perjalanan panjang yang penuh simbol. Kadang dramatis, kadang lucu, tetapi selalu menyimpan pelajaran tentang keseimbangan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk oleh notifikasi dan sinyal internet, percikan air suci pada Tumpek Wayang tetap menjadi pengingat sederhana: bahwa jiwa manusia, seperti tubuhnya, sesekali memang perlu dimandikan. Bukan hanya dengan air, tetapi juga dengan kesadaran. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hinduHindu Balitumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

Next Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co