15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

I Gede Tilem Pastika by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
in Esai
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Ilustrasi Suasana Pentas Wayang dan Peenonton sibuk dengan Smartphonya (Sumber: AI Generator, 2026)

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman saya tadi pagi, kala turut serta mengikuti sahabat, Sang Nyoman Gede Adhi Santika, dalam pementasan wayang di sebuah rumah di Denpasar mengungkap ironis yang mencolok.

Di antara puluhan hadirin ritual tersebut, hanya empat individu yang sungguh-sungguh fokus menyaksikan sepenuhnya. Sementara sebagian lagi disibukkan oleh tugas-tugas ritus seperti menyusun banten atau mempersiapkan upakara lainnya, dan yang tidak sedikit justru terpaku pada layar smartphone mereka; di tengah kepulan asap dupa dan denting gender yang mengisi narasi kuno, seharusnya tercipta jeda reflektif untuk lepas dari hiruk-pikuk duniawi, tetapi realitasnya.

Jeda tersebut kerap terganggu oleh getaran notifikasi di saku celana. Tarikan tak terelakkan menuju panggung bayang digital modern yang ironisnya mengalahkan daya tarik ritual sakral berbasis wali ini, mencerminkan hegemoni digital yang telah meresap dalam budaya kontemporer Bali, mengubah yang suci menjadi latar belakang semata di tengah dinamika urbanisasi.

Gambar 1: Pertunjukan Wayang Lemah dalam Sangoman
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Kita sedang hidup di era di mana “kelir” atau layar wayang sebagai simbol tradisional pemisah antara dunia fana dan transenden dalam pertunjukan wayang Kulit Bali telah berpindah secara radikal ke genggaman tangan setiap individu. Jika dahulu kelir berfungsi sebagai ruang sakral untuk mencari tuntunan moral, hikmah filosofis, dan harmoni kosmik melalui narasi dalang yang menjembatani bebali yang suci, kini layar digital smartphone telah berevolusi menjadi medan tempur egois, panggung pamer virtual yang tak kenal lelah, serta gudang prasangka yang mereproduksi polarisasi sosial tanpa henti.

Fenomena sosial kontemporer di Bali menunjukkan pergeseran paradigmatik yang mengkhawatirkan ini: identitas budaya adiluhung, yang selama ini diwujudkan melalui ritual Tumpek Wayang dan pementasan wali, kini tergerus secara bertahap oleh perilaku toksik yang lahir dari rahim media sosial, seperti kecanduan notifikasi yang menginterupsi jeda reflektif, performativitas selfie di tengah upakara sakral, serta hegemoni konten instan yang mengkomodifikasi nilai-nilai purba menjadi sekadar latar belakang estetis.

Pergeseran ini bukan sekadar anomali teknologi, melainkan cerminan transformasi makna dalam kerangka Gramsci: di mana hegemoni digital meresap ke dalam struktur budaya Bali urban, mengubah wayang dari medium resistensi spiritual menjadi korban urbanisasi yang pasif, sehingga mengundang urgensi rekonstruksi identitas melalui pendekatan fenomenologis yang kritis terhadap dualitas sakral-profan di era hiperkonektivitas.

Makna Tumpek Wayang perlu kita bedah kembali dengan kacamata yang lebih tajam. I Gusti Putu Ngurah Angga Divayana, atau yang akrab disapa Rah Ucil, seorang dalang muda berbakat, memberikan perspektif yang sangat dalam. Menurutnya, Tumpek itu sejatinya dimaknai sebagai tampak (terlihat) dan tampek (dekat), sementara Wayang adalah bayang-bayang. Maka, dalam momentum Tumpek Wayang, setiap individu seharusnya mampu “dekat dan melihat” ke dalam bayangan dirinya sendiri sebagai bentuk introspeksi atau mulat sarira (wawancara, 13 Maret 2026).

Perspektif ini diperkuat oleh Sang Nyoman Gede Adhi Santika, seorang akademisi dan praktisi seni, yang melihat wayang dengan kacamata yang sangat kekinian. Adhi Santika meyakini bahwa keberadaan wayang sebagai ruang bertutur sejatinya adalah salah satu bentuk “media sosial” yang paling awal. Baginya, bentangan kelir dengan visual sinematiknya adalah “YouTube” bagi kakek-kakek kita dulu sebagai sebuah ruang di mana informasi, hiburan, dan nilai moral disebarluaskan (wawancara, 14 Maret 2026).

Namun, Adhi Santika juga menangkap sebuah ironi dalam perkembangan zaman. Ia sering tersenyum melihat wayang direkam dan muncul di reels YouTube atau feed Instagram; sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “bingkai yang berbingkai”. Wayang yang tadinya adalah realitas spiritual, kini diringkas menjadi konten digital demi mengejar branding dan popularitas. Di sini, kesucian ritual sering kali beradu dengan syahwat digital.

Lebih jauh lagi, Adhi Santika menganalisis bahwa peringai Dalang sejatinya adalah seorang “konten kreator” pada masanya. Para dalang dahulu juga berkontestasi untuk membangun citra diri agar memiliki “subscriber” (penggemar) dan mengejar “jumlah jam tayang” (jadwal panggung). Bahkan, ada sisi pragmatis atau monetisasi dalam tradisi, seperti sebuah ungkapan dalang kuno: “yen kal nyemak wayang sapuh leger, disubane ngewayang pang satus“—sebuah simbol target atau pencapaian tertentu dalam melaksanakan tugas sucinya (wawancara, 14 Maret 2026).

Pesan kritis dari Adhi Santika adalah sebuah pengingat bagi kita semua: hari ini “dalang” sudah menjamur, dan “kelir” digital selalu ada di depan mata kita setiap saat. Namun, baik atau buruknya konten yang kita saksikan dan kita bagikan di media sosial, sangat bergantung pada seberapa dalam kita sebagai “dalang digital” mengisi diri dengan ilmu dan kebijaksanaan. Tanpa ilmu, kita hanya akan memproduksi sampah visual dan polusi informasi.

Sayangnya, apa yang kita lihat saat ini sering kali jauh dari kata introspeksi. Alih-alih melihat ke dalam diri, masyarakat kita lebih sering melihat “keluar”, memantau hidup orang lain melalui lensa kamera yang penuh filter. Yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa banyak dari kita menjadi “dalang” yang kosong. Alih-alih mengisi diri dengan ilmu, kita justru terjebak dalam lingkaran setan flexing atau pamer kemewahan.

Pamer bukan lagi soal prestasi, tapi soal validasi semu yang justru memicu rasa iri hati di kalangan teman sejawat atau sesama warga net. Kita melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman, bukan inspirasi. Pamer bukan lagi soal prestasi, tapi soal validasi semu yang justru memicu rasa iri hati di kalangan teman sejawat atau sesama warga net. Rasa iri ini bukanlah persoalan sepele.

Di balik layar, rasa iri berubah menjadi amunisi untuk saling menjatuhkan. Ketika seseorang memposting keberhasilannya, ada ribuan mata yang menonton dengan rasa tidak nyaman, memicu perbandingan sosial yang merusak mental. Kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur atas apa yang kita miliki, karena standar kebahagiaan kita ditentukan oleh algoritma media sosial yang tidak punya nurani.

Hal ini berkaitan dengan apa yang diungkapkan oleh Foster (2022, hlm. 2009) dalam analisisnya mengenai kebenaran sebagai praktik sosial di era digital. Foster berargumen bahwa dalam landscape algoritma saat ini, kebenaran sering kali bersifat performatif. Orang tidak lagi peduli pada apa yang benar, melainkan pada apa yang terlihat “wah” dan mendapatkan banyak engagement. Di Bali, hal ini mewujud pada konten-konten ritual yang kadang mengabaikan kesucian demi sekadar mendapatkan ribuan likes.

Masalah tidak berhenti pada rasa iri dan pamer. “Bayangan” gelap media sosial juga melahirkan monster bernama hoaks. Masyarakat kita, yang secara tradisional sangat kolektif, kini menjadi sangat rentan terhadap informasi yang tidak terkonfirmasi. Berita-berita bohong atau hoaks diterima mentah-mentah tanpa filter, lalu disebarkan dengan kecepatan cahaya melalui grup-grup WhatsApp keluarga atau komunitas.

Bahayanya, hoaks ini sering kali menyentuh isu-isu sensitif seperti perbedaan etnis dan agama. Di Bali yang sangat plural, satu unggahan provokatif yang tidak jelas sumbernya bisa menyulut perdebatan panas lintas etnis. Kita melihat bagaimana masalah kecil di jalan raya atau kesalahpahaman antarpribadi bisa dibesar-besarkan hingga menjadi konflik komunal digital yang memperburuk keadaan dan mengancam kerukunan yang sudah dibangun berabad-abad.

Setiap perdebatan digital ini seolah-olah menjadi pertunjukan wayang di mana dalangnya adalah amarah dan egoisme. Kita tidak lagi menjadi manusia yang berpikir jernih, melainkan menjadi “beburon” yang digerakkan oleh jempol. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin melalui musyawarah, justru diperparah dengan saling lapor, saling caci di kolom komentar, hingga menciptakan polarisasi yang tajam di tengah masyarakat. Dampak dari tekanan digital ini mulai menyentuh titik paling tragis: kesehatan mental.

Fenomena depresi akibat perundungan siber (cyber-bullying) atau tekanan sosial dari dunia maya telah menyebabkan beberapa kasus bunuh diri di Bali yang sangat menyayat hati. Kita kehilangan nyawa-nyawa berharga hanya karena mereka merasa tidak sanggup lagi menanggung beban “bayangan” negatif yang diproyeksikan oleh lingkungan sekitarnya di dunia digital.

Kondisi ini menunjukkan betapa minimnya tingkat digital mindfulness dalam kehidupan sehari-hari kita, di mana kesadaran penuh terhadap momen saat ini terkikis oleh desain teknologi yang sengaja memikat perhatian secara kompulsif, sebagaimana ditekankan oleh Bin Zhu dkk. (2016, hlm. 1) bahwa arsitektur digital melalui algoritma notifikasi dan loop dopamin yang tak berkesudahan sering kali mendistraksi kita dari kehadiran autentik, mengubah ritual sakral seperti Tumpek Wayang menjadi sekadar latar belakang estetis di tengah hiruk-pikuk layar smartphone.

Kita terlalu sibuk mengejar statistik pengikut, validasi like, dan lonjakan notifikasi instan hingga lalai untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan nyata—entah itu menyaksikan denting gender wayang wali atau menyusun banten dengan fokus batin—sehingga ketidakhadiran mental ini tidak hanya memutus jeda reflektif yang esensial bagi harmoni kosmik Bali, tetapi juga membuat kita rentan terseret dalam arus emosi negatif yang merusak, seperti kemarahan toksik dari komentar media sosial, kecemasan FOMO (fear of missing out), dan fragmentasi identitas budaya yang menggerus nilai adiluhung wali menjadi korban hegemoni digital kontemporer.

Di sinilah peran ritual Sapuh Leger dalam Tumpek Wayang menemukan relevansi barunya. Secara tradisional, ritual ini adalah sarana penyucian atau ruwatan bagi mereka yang lahir dalam wuku wayang agar terhindar dari gangguan Bhatara Kala (Wicaksana & Wicaksandita, 2023, hlm. 1).

Jika kita tarik ke masa kini, “Bhatara Kala” adalah simbol dari waktu yang habis termakan oleh kecanduan digital dan perilaku buruk di dunia maya. Kita butuh sebuah “Ruwatan Digital”. Sebuah proses pembersihan mental di mana kita secara sadar mengakui bahwa pikiran kita telah terpolusi oleh kebisingan informasi. Pembersihan ini bukan lagi soal memercikkan air suci ke perangkat keras kita, melainkan memercikkan kesadaran ke dalam logika berpikir kita agar mampu membedakan mana yang merupakan tuntunan dan mana yang hanya tontonan sampah.

Gambar 2. Panglukatan Tumpek Wayang
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah memberikan payung hukum untuk menjaga kearifan ini melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Wayang. Instruksi ini mengajak kita merayakan Jagat Kerthi sebagai upaya menjaga keharmonisan alam, manusia, dan budaya. Namun, apakah instruksi ini sudah menyentuh aspek “Alam Digital” kita? Kebijakan tersebut menekankan pada kegiatan sakala seperti resik sampah plastik. Ini sangat baik, namun kita juga butuh “resik sampah digital”. Sampah-sampah berupa komentar kebencian, foto-foto pamer yang tidak perlu, dan narasi-narasi provokatif harus dibersihkan dari ruang publik kita jika kita benar-benar ingin mewujudkan harmoni di Bali era baru ini.

Tradisi wayang kulit Bali sendiri sebenarnya sangat adaptif. Sudana (2020, hlm. 14) mencatat bahwa para seniman muda Bali terus melakukan inovasi teknik pakeliran untuk merespons perkembangan zaman. Artinya, seni tradisional kita tidak kaku. Wayang seharusnya bisa menjadi media literasi digital yang kuat, di mana tokoh-tokohnya bisa digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya hoaks dan pentingnya etika berkomunikasi.

Internalisasi nilai-nilai luhur melalui karakter pewayangan, seperti Pandawa, harus kembali digalakkan. Wicaksandita dkk. (2023, hlm. 1) menyebutkan bahwa karakter-karakter ini adalah representasi ideal manusia unggul. Jika generasi muda Bali lebih mengenal karakter Pandawa dan nilai-nilai ksatria mereka daripada sekadar mengikuti tren selebgram yang tidak jelas arahnya, maka fondasi mental kita akan jauh lebih kuat.

Kita harus menyadari bahwa panggung digital adalah panggung bayangan yang penuh tipu daya. Apa yang terlihat indah di layar sering kali hanyalah konstruksi dari rasa tidak aman pemiliknya. Tumpek Wayang mengajarkan kita untuk tidak takut pada bayangan, tetapi untuk memahaminya. Dengan memahami “bayangan” diri kita yang senang dipuji atau mudah marah, kita bisa mulai mengendalikannya.

Gambar 2. Panglukatan Tumpek Wayang
(Sumber: Dok. Penulis, 2026)

Tatanan nilai dalam pagelaran wayang, menurut Dwipayana dkk. (2024, hlm. 116), memiliki tingkatan dari nilai kenikmatan hingga nilai kerohanian. Problem sosial kita di Bali saat ini adalah kita terlalu terpaku pada “nilai kenikmatan” instan di media sosial. Kita mengabaikan nilai kerohanian yang seharusnya menjadi kompas dalam bertindak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Krisis identitas yang dialami krama Bali di tengah gempuran globalisasi digital hanya bisa diatasi dengan kembali ke akar filosofi. Tumpek Wayang adalah momen untuk “log-out” sejenak dari kebisingan dunia luar dan melakukan “log-in” ke dalam kesadaran terdalam. Seperti kata Rah Ucil, kita harus berani tampek atau dekat dengan diri sendiri agar bisa melihat dengan jernih bayangan apa yang sebenarnya sedang kita proyeksikan ke dunia.

Setiap unggahan kita di media sosial adalah bentuk “Yadnya” digital. Pertanyaannya, apakah Yadnya itu membawa kedamaian atau justru menimbulkan keresahan? Jika Tumpek Wayang dimaknai sebagai upaya memuliakan kesenian, maka cara kita “bermain” di media sosial juga harus artistik dan penuh estetika moral, bukan sekadar membuang sampah emosi yang memperburuk keadaan.

Dalam konteks masa depan Bali di tahun 2026 dan seterusnya, tantangan digital akan semakin berat dengan adanya kecerdasan buatan (AI) yang bisa menciptakan “bayangan” yang lebih nyata dari aslinya. Jika kita tidak memiliki dasar filosofi yang kuat seperti Tumpek Wayang, kita akan semakin mudah tersesat dalam simulasi yang diciptakan oleh orang lain untuk kepentingan mereka sendiri.

Gambar 4. Ruwatan Sapuh Leger oleh Mangku Dalang
(Dok. Putu Ari, 2025)

Kesadaran bahwa kita adalah “dalang” atas hidup kita sendiri adalah kunci. Seorang dalang yang baik tahu kapan harus memulai narasi, kapan harus memberikan humor, dan kapan harus mengakhiri pertunjukan dengan damai. Kita harus menjadi dalang bagi akun media sosial kita sendiri, yang bertanggung jawab atas setiap narasi yang kita bangun dan setiap bayangan yang kita sebarkan.

Melalui ruwatan kesadaran ini, kita berharap Bali tidak hanya dikenal karena keindahan alam dan ritualnya yang megah, tetapi juga karena kualitas manusianya yang bijak dalam teknologi. Manusia Bali yang sudamala adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi untuk memperluas kasih sayang (Tat Twam Asi), bukan untuk memperlebar jurang kebencian. Pembersihan mental di hari Tumpek Wayang ini harus menjadi kebiasaan baru.

Setiap kali kita merasa iri, ingin pamer, atau ingin marah di media sosial, ingatlah bahwa itu adalah “Kala” yang sedang mencoba memangsa kesadaran kita. Ambillah nafas dalam, letakkan telepon genggam, dan lihatlah ke dalam diri. Itulah esensi dari tampak dan tampek yang sesungguhnya. Maka dari itu, marilah kita jadikan Tumpek Wayang bukan hanya sebagai seremonial administratif atau adat semata. Jadikan ini sebagai momentum revolusi mental pribadi untuk keluar dari jeratan problem sosial digital yang merusak. Mari kita hapus bayangan-bayangan gelap kebencian dan kita ganti dengan cahaya kebijaksanaan yang jernih.

Semoga dengan semangat Tumpek Wayang, krama Bali tetap bisa berdiri tegak di tengah arus digital tanpa kehilangan jati diri. Mari kita rayakan hari ini dengan membersihkan pikiran, menjernihkan hati, dan menjaga kedamaian di pulau dewata tercinta ini. Selamat merayakan ruwat kesadaran, selamat menjadi manusia Bali yang berintegritas dan sudamala.[T]

Sumber Buku & Jurnal:

Dwipayana, A. A. P., Paramita, I. G. A., & Jayakumara, I. G. (2024). Tatanan Nilai Pagelaran Wayang Sapuh Leger dalam Kebudayaan Bali menurut Aksiologi Max Scheler. Vidya Wertta, 7(1), 105-118.

Foster, C. L. E. (2022). Truth as Social Practice in a Digital Era: Iteration as Persuasion. AI & Society, 38, 2009–2023. https://doi.org/10.1007/s00146-021-01306-w

Gubernur Bali. (2022). Instruksi Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina Tumpek Wayang dengan Upacara Jagat Kerthi sebagai Pelaksanaan Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.

Sudana, I. M. (2020). Melacak Perkembangan Wayang Kulit Bali sebagai Pakeliran Inovatif. Paraguna: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Pemikiran, dan Kajian Tentang Seni Karawitan, 7(1), 14-24.

Wicaksana, I. D. K., & Wicaksandita, I. D. K. (2023). Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali. Jurnal Penelitian Agama Hindu, 7(1), 1-17.

Wicaksandita, I. D. K., Santika, S. N. G. A., Wicaksana, I. D. K., & Putra, I. G. M. D. (2023). Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana Kerthi melalui Karakter Tokoh Pandawa, sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul. Proseding Seminar Nasional Bali Sangga Dwipantara III.

Zhu, B., Hedman, A., & Li, H. (2016). Design Digital Mindfulness for Personal Wellbeing. OzCHI ’16: Proceedings of the 28th Australian Conference on Computer-Human Interaction, 1-5. https://doi.org/10.1145/3010915.3011841

Sumber Wawancara:

Adhi Santika, Sang Nyoman Gede. (2026, 14 Maret). Perspektif akademisi dan praktisi dalang tentang fenomena kekinian. Wawancara Pribadi

Divayana, I Gusti Putu Ngurah Angga (Rah Ucil). (2026, 13 Maret). Perspektif Dalang Muda tentang Filosofi Tumpek Wayang sebagai Momentum Introspeksi. Wawancara Pribadi.

Tags: algoritmaflexingmedia sosialsudamalatumpek wayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Next Post

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

I Gede Tilem Pastika

I Gede Tilem Pastika

Dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar, seniman, dan sekarang sedang menempuh pendidikan di UGM Yogyakarta

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co