4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Satria Aditya by Satria Aditya
March 14, 2026
in Panggung
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Ogoh-ogoh Barbar karya STT Suta Dharma Kerti, Banjar Banyubiru Kauh, Desa Adat Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton yang beridiri di sepanjang jalan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyrakat berkumpul untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi pada acara Masikian Festival. Namun, di antara puluhan karya terbaik yang diarak, satu ogoh-ogoh menarik perhatian karena tema yang tidak biasa, bullying.

Ogoh-ogoh itu diberi judul Barbar, karya STT Suta Dharma Kerti, Banjar Banyubiru Kauh, Desa Adat Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Sejak pertama kali diperlihatkan, bentuknya langsung memancing rasa penasaran. Tidak sekedar menampilak sosok raksasa seperti ogoh-ogoh pada umumnya, karya ini menghadirkan sebuah adegan sosial. Seorang figure korban tampak tertekan, dikelilingi figure-figur lain yang merepresentasikan pelaku kekerasan. Ekspresi wajahnyakeras, gesturnya agresif, seolah memperlihatkan tekanan yang sering dialami korban perundungan.

Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh bisanya menjadi symbol bhuta kala, kekuatan negative yang harus dinetralkan saat nyepi. Namun dalam karya ini, Bhuta tidak lagi hanya hadir dalam bentuk raksasa mitologis. Ia menjelma menjadi sifat manusia, kekerasan, penghinaan dan tekanan sosial yang terjadi di tengah kehidupan sehari-hari.

 Teman bullying yang diangkat oleh STT Suta Dharma Kerti ini tidak muncul tanpa alasan. Dalam kehidupan manusia hari ini, perundungan menjadi masalah yang sering dibicarkan, baik di sekolah maupun di media sosial. Kekerasan tidak lagi hanya berbentuk fisik, tetapi juga merambat ke ranah verbal dan digital.

Melalui ogoh-ogoh ini, para pemuda STT Suta Dharma Kerti mencoba menerjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa virtual tradisi. Mereka tidak hanya membuat patung raksasa untuk dipamerkan, tetapi juga menciptakan narasi sosial yang bisa dibaca oleh masyrakat luas. Pada akhirnya, di sinilah ogoh-ogoh menjadi lebih dari sekedar karya seni. Ia berubah menjadi medium komunkasi budaya.

Ogoh-ogoh Barbar karya STT Suta Dharma Kerti, Banjar Banyubiru Kauh, Desa Adat Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

Karya ini tak lepas dari dua konseptor yang berperan penting pada proses kreatif ogoh-ogoh Barbar. Mereka adalah Dananjaya Mahendra dan Reka Biambara, pemuda Negara yang memang aktif sejak lama di dunia Seni Rupa. Tak lepas juga karya ini terbentuk karena semangat pemuda dari STT Suta Dharma Kerti itu sendiri.

“Barbar bukan sekedar nama, ia adalah symbol perilaku menyimpang dan ketidakberadaban yang tumbuh di masyarakat modern”, ucap Danan. 

Ketika ogoh-ogoh Barbar mulai diparadekan di Kota Negara, perhatian penonton tampak tertuju pada detail visual yang ditampilkan. Beberapa orang terlihat mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka, sementara yang lain berdiskusi tentang makna di balik karya tersebut.

Sebagian pononton mengganggap tema ini segar dan relevan dengan kehidupan generasi muda. Namun tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai bentuk penyimpangan dari pakem ogoh-ogoh yang seharusnya lebih menonjolkan unsur mitologis.

Perdebatan semacam ini sebenarnya mencerminkan dinamika budaya Bali sendiri. Tradisi tidak pernah sepenuhnya statis. Ia selalu bergerak mengikuti zaman, dipengaruhi oleh kreatifitas generasi yang menjalankannya. Dalam konteks ini, ogoh-ogoh Barbar menunjukkan bagaimana pemuda Bali menggunakan tradisi sebagai ruang kritik sosial. Mereka memanfaatkan momentum budaya yang besar—malam pengerupukan—untuk menyampaikan pesan tentang persoalan yang mereka hadapi sendiri.

Bullying, yang sering dianggap masalah pribadi atau kasus kecil, tiba-tiba menjadi tema yang dipertontonkan di ruang publik. Ia diangkat ke tengah keramaian kota, dipertanyakan bersama-sama oleh masyarakat.

Jika ditarik lebih jauh, karya ini mengandung refleksi filosofis yang menarik. Dalam ajaran Hindu Bali, bhuta kala tidak selalu dimaknai sebagai makhluk gaib semata. Ia juga dapat dipahami sebagai sifat negatif yang ada dalam diri manusia, amarah, keserakahan, kekerasan, dan kebencian.

“Point yang kami ingin tonjolkan sebenarnya adalah raksasa dengan enam wajah, Dimana konsep ini merepresentasikan Sad Ripu,” tambahnya.

Dalam perspektif ini, bullying dapat dibaca sebagai manifestasi bhuta kala pada zaman modern. Ia muncul dalam bentuk ejekan, pengucilan, atau tekanan kelompok yang sering dialami oleh anak muda. Dengan menampilkan tema tersebut dalam ogoh-ogoh, para kreatornya seakan mengingatkan bahwa yang harus dinetralisir menjelang Nyepi bukan hanya makhluk simbolik, tetapi juga perilaku buruk manusia sendiri. Nyepi, pada akhirnya, bukan hanya tentang sunyi dari suara dan aktivitas. Ia juga menjadi momen refleksi untuk menenangkan sisi gelap dalam diri.

Ogoh-ogoh Barbar karya STT Suta Dharma Kerti, Banjar Banyubiru Kauh, Desa Adat Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana

“Wujud fisik ogoh-ogoh ini berbentuk sungsang dengan posisi kepala di bawah dan kedua kakinya di atas. Tokoh korban digambarkan sebagai penyandang disabilitas, sementara pelaku direpresentasikan sebagai figus superior,” pungkasnya ketika dihubungi melalui pesan Whatsapp.

Saat ogoh-ogoh Barbar akhirnya bergerak di tengah parade Kota Negara, iringan baleganjur menggema kuat. Patung raksasa itu diangkat dan digoyang oleh para pemuda yang membawanya, menciptakan kesan hidup dan dramatis.

Sorak penonton terdengar setiap kali ogoh-ogoh itu diputar di Catus Pata Kota Negara. Di bawah cahaya matahari yang menerpa kulit para pembawa ogoh-ogoh, ekspresi wajah figur-figur pada patung tersebut terlihat semakin tajam—seolah benar-benar menggambarkan konflik sosial yang ingin disampaikan.

Sore hingga menjelang malam hari, ogoh-ogoh bukan hanya menjadi tontonan menjelang Nyepi. Ia berubah menjadi cerita tentang kehidupan remaja, tentang kekerasan yang sering tersembunyi di balik pergaulan, dan tentang harapan agar masyarakat lebih peka terhadap luka sosial yang sering dianggap sepele. Di tengah hiruk-pikuk parade, pesan itu perlahan mengendap, bahwa bhuta kala tidak selalu datang dari dunia gaib. Kadang ia hadir di antara manusia. Dalam kata-kata yang melukai, dalam tawa yang mengejek, dan dalam diamnya orang-orang yang memilih untuk tidak peduli. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jembranaogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

Next Post

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co